Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 280


Sementara itu Aria yang menonton jadi terdiam seperti mengerti maksud dari No 2. Setelah itu waktunya terhenti tiba-tiba kemudian di percerpat. Saat sudah berjalan normal No 1 menemukan dirinya sudah berada di depan gerbang rumahnya dengan Aria yang dalam kondisi sangat lemah dengan beberapa gadis lainnya yang di dekatnya juga dalam kondidi lemah. Bukan hanya itu saja, di sekelilingnya ada banyak sekali berbagai jenis monster dan juga semuanya dapat di lihat dari layar di langit. “Semuanya bertahan.” minta Aria yang terlihat lelah sekali. Mosnternya terus menyerang dengan Aria bersama lainnya yang terus bertahan melawan semua mosnter itu yang terlihat ganas.


Setelah itu layar di langit berubah menampilkan No 2 dan gadis itu yang sedang terlihat marah sekali. “KAKAK BANTU MEREKA!” teriak gadis itu pada No 2 yang hanya duduk di sopa tanpa melihat ke arahnya. “Ku mohon…” mintanya dengan lembut kali ini pada No 2. Tapi No 2 sama sekali tidak ada respon sama sekali dan hanya diam saja tanpa melihat padanya. Gadis itu terlihat semakin kesal lalu pergi dengan sedih, dan di saat itulah No 2 tersenyum sendiri dengan tenang meihat gadis itu pergi.


“Berjuanglah.” ucap No 2 dengan saja. Setelah itu layar kini menampilkan Aria dan lainnya yang sedang di kepung monster yang tidak terhitung jumlah. No 1 yang melihat itu sama sekali tidak mengerti yang terjadi dan di saat itulah tiba-tiba gerbang di rumah itu terbuka dan juga di saat itulah rumah itu menunjukkan bentuk aslinya yang terlihat indah sekali di dalamnya.


“Cepat masuk, jika kalian tidak ingin mati.” dengan senyum gadis itu meminta pada semua gadis yang sangat lelah dan juga banyak dari mereka. Semua gadis itu hanya melihat ke remaja yang tidak asing bagi mereka dengan terlihat canggung saja. “Mari masuk.” ajak lagi dengan sopan dan tenang. Para gadis melihat ke Aria yang sangat lelah sekali yang kemudian mengangguk. Semua gadis itu melangkah masuk ke halaman dan di saat itulah tiba-tiba langit bergemuruh kencang sekali lalu badai petir menyambar sana sini yang bisa di lihat di langit. Setelah tongkat yang di tancapkan No 2 itu tercabut lalu melayang dan menancap di depan gadis itu lalu perlahan tembok, gerbang rumah dan semua yang dekat rumah itu jadi menghilang perlahan. Gadis itu jadi kaget dan tidak mengerti sama sekali, lalu perlahan semua yang di sana jadi kosong dan tidak ada apa pun lagi kecuali 4 tongkat itu saja. Saat semuanya kosong No 2 perlahan terlihat yang berjalan ke Gadis itu dan yang lainnya yang perlahan meredup yang tandanya akan segera hilang.


Saat sampai di dekat gadis itu No 2 hanya tersenyum saja. “Selamat tinggal.” ucap No 2 yang bisa di dengar jelas oleh semua orang. Saat itulah No 2 secara perlahan menghilang di depan gadis itu. Gadis itu terdiam mebeku terlihat tidak mengerti sama sekali dengan apa yang terjadi itu. No 1 malah heran saja melihat semua itu sangat realistis sekali cara No 2 menghilangkan rumah itu ke dimensi lain yang hanya bisa di masuki oleh dirinya.


“Apa ini tidak berlebihan?” Tanya No 1 yang tahu ke mana arah tujuan No 2 melakukan.


“Kakak!” panggil gadis itu dengan masih normal pada kosongnya halaman di sana, yang tanpa ada kehidupan sama sekali. Tidak respon apa pun dan malah kebanyakan terdengar suara angin di sekitar mereka. Lalu tongkat tadi yang datang kini mengeluarkan cahaya dan memunculkan sebuah layar yang di sana sudah ada No 2 yang duduk dengan nyaman.


“Sepertinya tebakanku salah. Ku kira diriku akan diam saja dan tidak membei tahu tentang keberadaan dirinya.” pikir No 1 yang melihat waktunya masih tehenti. Setelah beberapa saat menunggu, sebuah layar muncul di depannya yang bertuliskan ‘5 Tahun Kemudian’ dengan jelas sekali di depannya. Lalu sekitarnya jadi gelap sekejap kemudian berubah lagi jadi terang yang di mana di sekitarnya cuma ada awan saja. “Awan, biasa kamar saja.” ucap No 1 lalu melihat bawahnya ternyata itu bukan No 2 melainkan gadis itu yang sudah dewasa dan terlihat lebih cantik lagi.


“Kakak, ini sudah 5 tahun. Kapan Kakak menemuiku?” Tanya gadis itu dengan suara sedih dan juga tanpa senyum sedikit pun. Di saat itulah beberapa orang bertopeng datang dengan telepostasi di dekatnya yang berpakaian sangat lengkap sekali dengan armor suit robot yang bagus sekali. “Bagaimana?” Tanya gadis itu pada beberapa orang bertpopeng. Sebelum menjawab mereka semua melepas topengnya dan ternyata itu adalah Aria yang masih terlihat muda dan tidak terlihat tua sama sekali.


“Semuanya sudah selesai. Jadi apa yang akan kamu lakukan?” Tanya Aria dengan tenang pada gadis itu. Gadis itu diam saja dan tidak merespon dengan melihat ke langit. “Sejujurnya ada yang aneh dari semua yang kamu lakukan itu, lebih tepatnya itu semua bukannya untuk membuatmu tambah cerdas saja.” tambah lagi Aria dengan tenang karena tidak di respon sama sekali.


Gadis itu tidak langsung menjawab dan diam sebentar. “Ya aku tahu itu.” respon Gadis itu dengan tenang. “Dia ingin aku memecah sesuatu, tapi aku tidak tahu sama sekali itu.” tambahnya lagi dengan tidak mengerti sama sekali. Aria tidak langsung merespon dia malah melihat ke rekannya yang masih memakai penutup kepalanya.


“Sepertinya kamu yang salah paham kayaknya. Dia bukan minta kamu, tapi yang dia inginkan itu kata kita.” timbal Aria dengan santai saja. “Tapi mungkin saja itulah yang di inginkannya.” dengan kurang yakin dengan pendapatnya itu. Gadis itu terdiam mendengar itu dari Aria. Aria dan lainnya ingin tahu apa yang di pikirkan gadis di depannya itu, tapi mereka hanya menunggu saja dan tidak bertanya.