Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 76


Siska yang sudah selesai membaa surat dari Kakaknya, mulai merasa tenang dan juga tidak ragu dengan mahluk kecil yang sedang melayng di depannya. Siska bernajak keluar dari kamarya munju ke luar. Dengan pelan Siska membuka pintu kamarnya saa sampai di depan pintunya, katika membuka, Anto sudah menunggu di sana dengan sangat tenang sekali dan juga menggunkan pakaian biasa.


“Yo, Aku tidak bisa melihat begitu. Jadi aku mengikuti ke sini dan menunggu.” Ucap Anto dengan ramah pada Siska yang masih berdiri di depan pintunya yang terbuka “Entah apa yang kamu lakukan di dalam, hingga lama sekali.” Kata Anto dengan suara akrab pada Siska yang sedang diam saja melihat ke arahnya.


Siska yang masih menatap Anto, dengan jalan pelan melewati ANto kemudian berjalan pergi meninggalkannya.


“Hei!” Anto memanggil Siska yang meninggalakannya berjalan sendiri.


“Jangan Panggil Aku hei, namaku Siska. Panggil Aku Siska.” Sambil berbalik melihat ke arah Anto, Siska dengan ceria berkata pada Anto dan juga dengan senyum di wajahnya yang menunjukka dirinya sendiri normal kembali pada dirinya semula.


Anto yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi hanya diam bengong melihat Siska yang berubah sekali. Yang tadinya sangat sedih dan pasrah, sekarang malah menjadi ceria dan sangat senang sekali.


“Kenapa melihatku begitu?” Tanya Siska pada Anto yang melihatnya begtu tajam dan juga seperti memikirkan sesuatu yang aneh.


Anto yang tidak tau penyebab berubahnya Siska, hanya bisa menerima saja. Namun, Anto langsung berubah tatapan pada Siska dengan serius.


“Namamu Siska kan?” Tanya Anto dengan tegas pada Sisika yang terlihat bingung padanya.


“Ya.” Jawab singkat Siska dengan wajah ceria.


Sesaat Setelah Siska menjawab, Anto langsung terlihat menyeramkan.


“Siska, ini dunia apa?” Tanya Anto dengan sangat jelas dan juga tegas pada Siska dan juga sedikit senyum sambil melihat ke Siska.


“Oh, ini dunia ilusi yang di buat Kak…!!” Siska menyadari dirinya yang kalau terlalu ceria selelu lepas saat bicara mulai canggung pada Anto dan juga terdiam.


Siska diam saja dan tidak bicara lagi. Anto juga diam juga dan tidak berkata apa-apa pada Siska pada perkataan Siska. Beberapa lam wajtu berlalu, mereka berdua masih canggung untuk mulai berbicara lagi


“Bi… Bisa luapakan yang tadi kukatakan!!” Ucap Siska dengan tingkah yang mencurigakan sambil memalingkan wajahnya dari Anto.


Anto yang sudah tau itu hanya diam saja. Tapi, saat Siska memalinkan wajahnya, Siska tidak mengetahui bahwa Anto sedang merubah pakaiannya menjadi serba hitam.


‘Krakkkk…!!’sebuah suara retakan di dekat Anto.


“Apa!” Siska kaget saat mendengar sesuatu.


Siska yang mendengar itu sangat jelas, melihat ke arah suara itu datang. Saat melihat ternyata ada sebuah retakan di dekat Anto dan juga melihat Anto yang memakai pakaian serba hitamnya yang terlihat keren saat memakainya.


“Siska!” Anto memanggil Siska dengan sangat jelas sekali dan juga retakan yang semakin melebar dan membuat sebuah lubang di dekatnya “Pegang tanganku sekarang.” Dengan sangat tegas Anto memberi perintah pada Siska sambil mengulurkan tangannya.


Siska yang tidak mengerti dengan yang sedang terjadi hanya gemetar dan juga berusaah bersikap tenang di situasi yang berbahaya. Siska tidak merespon Anto, malah terus melihat ke arah retakan yang semakian dekat dengannya.


“Kenapa masih diam saja?” Tanya Anto dengan ramah kali ini yang terus mengulurkankan tangannya pada Siska.


“Apa yang sedang terjadi?” Siska yang memikirkan situasi yang tidak di ketahuinya sama sekali dan juga sangat tidak konsen pada Anto yang memanggilnya.


Anto yang merasa ada sesuatu terjadi pada Siska, memutukan mendekatinya. Saat di dekat Siska, Siska malah terus mengabaikannya, seperti melihat ke sesuatu yang lain.


“Siska!” Panggil Anto sambil melihat ke arah Siska.


Anto tidak mendapat repon dari Siska. Malah Siska melihat ke langit. Tanpa Anto peduli lagi, Anto dengan memaksa menatik tangan Siska, kemudian memeluknya erat.


“Tenanglah.” Kata Anto dengan suara lembut pada Siska yang sedang di peluknya.


“Tapi…!!” Siska tidak melanjutkan perktaannya saat Anto memeluk dengan sangat lembut dan membuatnya merasa nyaman.


“Tenang.” Dengan suara lembut Anto menenangkan Siska yang sangat gemetar dan juga takut dengan situasi yang sedang terjadi.


Siska yang merasa nyaman dengan pelukan Anto melihat ke sekitarnya yang mulai tenang sambil melihat sekitanya yang berubah menjadi gelap dan tidak ada reuntuhan lagi.


“Ini sangat nyaman!” Pikir Siska yang sedang memeluk Anto dengan erat


Dengan menutup matanya, Siska memeluk Anto dengan sangat erat dan tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi. Dalam beberapa saat Siska berpikir akan mati, tapi dia merasa sesuatu yang dingin di seluruh tubuhnya. Dengan pelan, Siska membuka matanya. Saat Siska membuka matanya, dia melihat Kakaknya yang ada di depannya lagi.


“Kakak!” Panggil Siska pada Kakak di depannya.


“Hm!” Kakaknya sedikit kaget dengan ucapan Siska yang tiba-tiba.


Lala menatap Adiknya dengan penuh heran sekali padanya.


“Kenapa kamu tidak tidur?” Tanya Lala pada Adiknya yang diam saja sambil berdiri.


“Apa maksud Kakak? Bukannya Aku yang hatus bertanya.” Siska membalas perkataan Kakak dengan sangat tegas dan juga ketakutan di saat yang bersamaan.


Lala tidak mengerti dengan apa maksud Adiknya yang tiba-tiba bicara begitu padanya. Siska masih tetap gemetar dan juga sangat bingung sekali dengan situasi yang tiba-tiba berubah di depan matanya sendiri. Tadi ada di reruntuhan Planet Aqua, sekarang malah ada di depan Kakaknya. Siska yang tidak mengerti dengan situasi yang sedang tejadi langsung pingsan di tempat dia berdiri.


“Siska!” Kakaknya memanggil pada Siska yang diam saja Setelah mengatakan itu “Siska!” Panggil lagi Lala pada Adiknya yang hanya diam saja “Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Adikku tidak dapat menerima ingatan dari masa laluku?” Lala yang bingung dengan Adiknya sendiri dan juga heran pada Adiknya yang tidak mejawab saat dia Tanya.


Dengan rasa penasaran, Lala mendekati Adiknya dan menyentuhnya. Namun, saat Lala menyentuhnya sedikit, Adiknya tiba-tiba jatuh. Namun, dengan sigap Lala menangkap Adik yang jatuh dari pingsannya.


“Kak! Apa yang terjadi?” Tanya Marya pada Lala yang bingung dengan Adiknya sendiri.


“Bisa bantu?” Tanya Lala sebelum menjawab Marya.


Marya tanpa menjawab, medekati Lala dan membatunya  memegang Siska yang pingsan.


“Lala!” Panggil Momo yang dari tadi hanya melihat saja “Kenapa dengannya?” Tanya Momo yang juga sepertinya penasaran.


“Tidak tau. Tapi, Sepertinya dia sadar terlalu awal.” Jawan Lala yang sedikit bingung sambil memeberikan Siska pada Marya.


Marya membawa Siska ke kursinya, kemudian mendudukkan Siska yang pingsan di kursinya tempat ia duduk sebelumnya.


“Bisa sadarkan dia?” Tanya Nana yang dari tadi hanya memperhatikan saja apa yang di lakukan Lala.


Momo mengangguk pada Saudarinya. Momo dengan pelan berjalan ke kursi melayang milik Siska tempat dia di taruh.


“Kak!” Panggil Marya pada Momo “Apa yang terjai padanya?” Tanya Marya yang terlihat serius sekali.


“Entah lah.” Jawab Momo tanpa melihat ke arah Marya “Nanti Aku jelas kan apa yang terjadi.” Kata Momo pada Marya sambil melihat keadaan Siska yang pingsan dan juga dengan raut wajah yang sangat kebingungan sekali.


Next Chapter