Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 146


Riana dan Sherly jadi diam sebentar karena Anto yang berwajah serius sekali saat mengatakannya. -Tanyakan Hero itu sudah menikan atau yang berkaitan dengan hal itu. Soalnya, Gadis yang ada di belakang itu punya garis kekuatan Hero dan aku bisa merasakan kekuatan Dewa yang pernah kamu gertak sebelumnya- Suruh NAVI dengan serius.


“Apa ketiga Hero yang di panggil itu sudah menikah sekarang?” Tanya Anto dengan seius setelah di suruh oleh NAVI. Sherly agak kaget dengan pertanyaan itu. “Hm! Ada apa?” Tanya Anto yang merasa ada yang janggal saat dia bertanya itu pada Sherly.


“Kenapa kamu Tanya itu, ku kira kamu akan membahas hal penting!” Tanya balik Sherly dengan wajah sedikit bingung.


“Yah... Itu penting kan, aku juga ingin mendapatkan beberapa Gadis Harem di Dunia ini. Mungkin saja ada beberapa info manarik yang aku tidak tahu saat mengetahui tentang ketiga Hero itu.” Dengan wajah serius Anto bebicara itu. Setelah itu Anto diam saja dan menunggu jawaban dari Sherly tetang pertanyaannya sebelumnya. Tapi, Sherly masih diam saja seperti tidak tahu apa pun tentang itu.


“Biar aku yang jawab.” Riana mengajukan diri dengan sopan. Anto agak kaget saat menengar itu. “Apa! Kamu tidak ingin mendengarnya dariku?” Tanya Riana dengan tajam pada Anto. Anto yang melihat itu dengan cepat menggeleng dan juga jadi kebingungan dngan sifatnya yang berubah dalam sekejap. Setelah itu, Riana bersiap sambil emngubah pandagannya ke Anto dengan sama seperti sebelumnya. “Hero yang kamu tanyakan itu ada 2 orang yang kembali setelah mengalahkan Raja iblis dan 1 satunya memilih tinggal karena ingin jadi Raja Harem di Dunia ini.” Jawab Riana dengan wajah bodoh pada Anto yang sepertinya berkeinginan sama degan orang itu. Selama beberapa saat, Riana menatap Anto dengan penuh tidak suka.


“Jangan menatapku seperti itu. Aku memang sudah punya keinginan seperti itu sejak umur 5 tahun. Jangan samakan aku dengan bocah yang kamu maksud.” Anto yang merasa tidak terima dengan dengan perkataan Riana yang sepertinya menganggap dirinya bodoh atau semacamnya. “Lagian juga, aku akan membuat Harem di Duniaku sendiri dan mengajak semua pasanganku ke Duniaku." Anto denga nada serius mengucapakannya. "Meski dia anak Raja, Budak, orang cacat, semua yang Gadis yang membuatku tertarik meski lebih tua dan meski lebih muda dariku, akan ku buat dia jadi Haremku dengan kedua tanganku ini.” Dengan sangat serius sekali Anto berbicara seperti itu.


Riana yang melihat Anto begiru serius, tidak bisa berkata apa-apa dengan wajahnya yang lebih terlihat sangat serius sekali dengan semua yang di katakakannya. “Aku mengerti, bisa jangan tunjukkan wajah itu.” Riana yang tidak tahan dengan keseriusan Anto saat mengucapkan itu. Anto mulai menenangkan diri dengan cepat dan tidak terlalu menunjukkan wajah seriusnya itu lagi. “Ehm! Saat ini Hero itu mempunyai 10 Istri dan 12 anak. Dari 10 Istrinya tinggal  1 yang masih hidup dan kebanyakan mati gara-gara mati di racuni dan itu bahkan tidak di ketahui siapa pun.” Anto yang paham dengan situasi di dalam Harem yang jadi perebutan kekuaasaan jika tidak di tangani dengan baik.


“Jika itu Haremku tidak akan seperti itu.” Anto yang masih ingin mendengar lanjutan cerita itu. "Mungkin malah jadi orang yang paling membuat laki-laki iri." Anto percaya diri dengan semua itu.


“Saat ini, di kerajaannya terdapat konflik yang besar untuk menentukan siapa yang akan jadi penerus wilayah itu. Tapi anehnya, Hero itu tidak terlihat begitu kuat dan seperti menyembunyikan sesuatu setiap kali ku lihat bahkan sejak pertama kali dia datang ke Dunia ini. Tapi, kakak bilang dia tidak menemukan apa pun dalam masa depannya, jadi aku hanya bisa diam menyaksikan semua yang terjadi.” Riana yang menceritkan dengan cukup jelas. “Cuma itu saja yang ku ketahui.” Setelah itu Riana diam dan tidak berkata apa-apa lagi. Saat mendengarkan itu, di belakang Gadis itu melepas semua penurup wajahnya dan membuat Anto dan NAVI melihat ke sana.


-Wah… Gadis itu lumayan cantik lo. Eh!- NAVI jadi sedikit kaget saat Gadis yang memperhatikanndari tadi kini membuka pakaiannya. Anto yang juga memperhatikan itu hanya bisa berpura-pura tidak melihat dan terus diam seperti memeikirkan sesuatu sebagai alasan. Tapi meski begitu, karena masih muda dan ingin mengetahui lebih banyak mengenai lawan jenis Anto melototinya dengan terus menerus.


Sementara itu, Riana yang merasa ada sesuatu yang di tatap Anto, melihat ke pintu masuk tempat Anto menatap dengan tajam. Riana berjalan ke sana dengan pelan. Sherly yang melihat itu, jadi sedikit penasaran dan melihat apa yang ada di sana. Tapi, karena tidak melihat apa pun dia jadi sedikit penasaran pada Adiknya yang berjalan ke sana. “Riana!” Panggil Sherly saat Adiknya hampir sampai  di dekat Gadis itu. Riana mengamati ke sana dengan sangat tajam sekali. Gadis yang sedang setengah telanjang itu, menutup tubuhnya dengan penus waspada pada Riana


Gadis itu sedikit menjauh dari Riana yang menatap ke arahnya meski dia tidak di lihat, itu membuatnya jadi takut. “NAVI, apa memurutmu Riana tahu apa yang di depanya itu?” Tanya Anto yang senang dengan santainya sambil melihat ke Sherly yang terlihat penasaran dengan Adiknya.


“Bukannya kamu sama saja denganku.” Anto yang membalas balik NAVI yang seperti senagaj mengatakan itu padanya.


-Jangan pikirkan itu lagi. Lihat benda yang kamu minta sudah siap- NAVI memperingatkan saat cahaya di depannya mulai meredup. Anto melihat ke benda yang di buatnya itu, yang berbentuk bola kasti. Setelah semua hacaya itu menghilang, Anto menagkap bola itu. -Sepertinya Gadis itu masih tetap di sana, mungkin ada alasan lain dia di di sini. Aku juga tidak merasakan adanya tanda BIDADARI nya- Bicara NAVI dengan terus terang sambil melihat ke Gadis itu yang mengenakan pakaiannya kembali.


"Jangan bicarakan itu dulu. Lebih baik kita lihat apa yang akan kita lakukan dengan semua hal yang aan datang saja." Anto dengan santainya bicara seperti itu. NAVI tidak menanggapi dan malah diam saja. “Riana! Ini tangkap.” Anto melempar sebuah bola yang berbetuk seukuran kepalan tangan. Riana langsung melihat ke Bola yang di lempar Anto dan menangkpanya dengan cepat. “Lihat tombol di sana yang punya pola power. Bagi kalian itu bentuknya aneh mungkin, coba tekatnitu dan arahkan ke mana saja.” Anto dengan tenang menyuruh Riana yang sudah melihat tombol yang di maksudnya.


Tapi sepertinya Riana paham dengan tombol power yang di maksud Anto  dan dengan cepat menekan itu. Setelah itu Riana mengarahkannya ke berbagai arah dan tiba-tiba Riana merasakan ada sesuatu yang menarik dengan cepat. Setelah itu rasanya ada yang menyedot masuk dengan kekuatan sangat kuat. “Apa ini?” Tanya Riana yang sepertinya sudah terbiasa dengan Anto meski baru kenal beberapa saat saja.Dan tanpa ia sdari, Gadis yang tidak di lihatnya itu tersedot saat dia bertanya pada Anto. Dan di saat yang bersamaan Anto juga senang dengan kejadian itu.


“Itu adalah penangkap mahluk hidup. Semua mahluk hidup akan tertangkap di sana dan tentunya kamu bisa mengeluarkannya sesuka hati. Kamu paham maksudku kan.” Anto dengan singkat menjelaskan setelah itu dia diam dan tidak bicara lagi. Rian terdiam di tempatnya dan tida berkata apa-apa. “Selain itu, semua orang yang ada di dalam sana bisa melihat apa yang terjadi di luar sini, tapi kita tidak bisa mlihat ke dalam. Dengan kata lain, mereka bisa mendegar jelas apa yang kita bicarakan rencanakan.” Anto menambahkan lagi setelah diam beberapa saat dengan melihat ke tempat Gadis yang memperhatikan dari tadi.


-Tertangkap juga. Game menarik apa yang akan kamu lakukan kali ini?- Tanya NAVI pada Anto yang melihat Gadis itu tertangkap saat Riana mencoba alat itu untuk pertama kalinya.


"Tidak ada game, cuma aku ongon tahu apa yang di inginkan Gadis itu dan membiarkannya ikut bersama kita ke lokasi itu." Respon Anto dengan santainya. Setelah itu, NAVI tidak merespon dan melihat ke Riana yang memgang bola itu.


“Riana, bisa kamu kumpulkan semua orang sekarang?” Tanya Sherly yang sudah berdiri dari tadi di dekat kursi duduknya. Riana tersenyum singkat karena paham, dan lalu dia keluar dari kamar itu dengan cepat. Setelah itu tinggal mereka berdua saja yang ada di kamar itu. Sherly duduk kembali ke kursinya dan tidak melakukan apa pun lagi.


Anto meliahte ke Sherly yang sudah duduk di temptanya. “Sherly, kamu tahu Gadis tadi itu?” Tanya Anto dengan sopan pada Sherly yang diam di tempatnya.


Sherly tersenyum pada pertanyaan Anto. “Ya. Dia anak dari Hero yang di anggap tidak berguna sama sekali oleh para sudaranya.” Jawab Sherly singkat dan jelas.


Next Chapter