
Fuka terdiam denganmarantanmelihat ke depan terus. “Kita hampir telat…!” ucap Fuka yang terlihat panik. No 2 hanya senyum saja melihat Fuka yang seperti itu di dekatnya. Setelah itu Anto tanpa sadar pakaian serba hitamnya langsung di kenakannya hingga Fuka dan kedua orang tuanya melihat ke arahnya lagi. Anto pun yang merasa ada perubahn melihat langsung ke dirinya.
“Pakaian ini masih ada!” No 2 yang bingung sendiri saat melihat pakaiannya sudah beruhah lagi. “Jangan pikirkan yang terjadi, ini hanya pakaian kebanggaan saja. Tidak lebih dari itu.” dengan tenag mengatakannya, meski dia ingin tahu juga kenapa pakaian itu bisa muncul lagi di era itu. “Sudah, Fuka mari siap-siap kita ke sekolah.” dengan bangun dari kursinya lalu membuka dimensi di dekat meja maka yang terlihat gelap sekali. Semua terdiam melihat apa yang di lakukan Anto di depan mereka itu. “Fuka sentuh lubang hitam itu dengan membayangkan gerbang sekolah, maka kita bisa ke sana langsung.” dengan tenang mengatakan itu pada Fuka. Fuka diam saja dan hanya melihat ke Anto yang tenang seperti itu. “Bisa tidak jangan liht aku seperti itu, aku itu hanya anak biasa saja jika tidak punya kekuatan ini.” dengan mengatakannya.
“Apa maksudmu?” Tanya Ayahnya yang ingin tahu lebih dari Anto. No 2 tidak langsung menjawab malah diam saja melihat ekpresi keluarganya yang ingin tahu.
“Sebelum itu, aku ingin Tanya, apa selama ini aku tidak pernah menggunakan kekuatanku?” Tanya Anto pada semua keluarganya yang di sana. Ayahnya hanya mengangguk sebagai jawaban. “Itu adalah diriku yang sebenarnya. Andaikan aku tidak punya kekuatan ini, aku cuma akan jadi anak biasa yang menikmati hidup damai.” dengan tenang mengatakannya. Di saat yang sama Anto mulai lemas badannya hingga duduk kembali ke kursi. “Ini sudah batasku, Fuka saranku tadi…” dengan suara kecil mengatakannya lalu Anto No 2 keluar dari tubuh utama. Setelah dalam bebeapa saat, Anto No 3 bangun dan melihat ke depannya yang masih banyak makanan.
Semua orang melihat ke Anto yang No 3 yang terlihat heran tingkahnya. “Ayah apa yang terjadi barusan, rasanya kepalaku sedikit sakit.” Tanya Anto No 3 sambil melihat ke Ayahnya yang menatap padanya.
“Tadi dirimu yang lain bangun dan membuka itu.” Tunjuk Ayahnya ke dimensi di dekatnya. No 3 melihat ke sana dengan sedikit tidak menduga. “Sepertinya kamu memiliki banyak kekuatan dalam dirimu, tapi karena kamu tidak tahu cara menggunakannya itu jadi sia-sia. Mungkin dirimu yang lain nanti akan muncul lagi dan memberikan cara menggunakan kekuatanmu, atau mungkin ada cara membangkitkan kekuatanmu.” dengan tenang Ayahnya menjelaskan padanya. No 3 yang mendengar itu terlihat diam saja, sedang No 2 dan No 1 yang bisa merasakan No 3 senang hanya diam saja memperhatikan.
“Sepertinya kedua diriku ini adalah penyebab diriku yang lain dari yang ke 3 masa depannya berubah. Tidak… mungkin memang ini seharusnya sudah di tentukan.” dengan tenang No 1 memikirkan System yang ada dalam dirinya. “Jika ku ingat-ingat lagi, saat masuk ke dalam inti jiwa waktu kecil memang terasa tidak asing bahkan seperti sudah biasa di dalamnya, ini mungkin karena diriku yang lain menemukan inti jiwa itu.” dengan yakin merasakan hal itu. Setelah itu No 1 terus melihat ke No 2 dan No 3 yang masih bisa saling tahu, meski tidak berdampingan.
“FUKAAAA… SINI…!” panggil seorang yang ceria dari jauh pada Fuka yang di samping. Fuka pun langsung melihat ke teriakan yang memanggil itu.
“Pergilah… nanti kita ketemu di lokasi praktiknya.” dengan senyum pada Fuka yang melihat ke arahnya. Fuka membalas ceria lalu berlari meninggalkan Anto. No 3 hanya tersenyum melihat ke Fuka yang seperti itu. Di sisi lain dari penglihan No 1 dan No 2 yang menonton, dapat melihat kalau No 3 sangat di remehkan sekali teman sekelasnya yang dapat di lihat dari sebuah kapal yang tidak terlalu jauh darinya yang bersikan anak remaja laki-laki yang menatap remeh padanya. No 3 yang sudah di tinggal jalan ke kapal di dekatnya itu dengan tenang lalu masuk. Saat di dalam kapal, No 3 melihat sana sini yang banyak murid yang duduk berpasangan dan ada satu meja dan kursi yang tidak ada satu pun isinya. No 3 jalan ke sana dengan tenang dan mendengar banyak sekali ejekan dari semua orang di dalam kelasnya.
No 3 yang di ejek diam saja meski di anggap tidak berguna sekali di depan semua orang. Semua ejekan itu bahkan di lakukan dengan terang-terangan sekali, tapi No merasa tidak takut sama sekali dengan semua itu. “Jika aku yang dulu pasti masih akan mencari kekuatanku sendiri… tapi berkat portal dari diriku yang lain aku sadar ternyata dalam diriku ada kekuatan yang berbeda dari yang mereka miliki dan melebihi semua orang di sini.” pikir No 3 yang tenang sekali di dalam sana meski duduk sendiri. Sambil mendengar semua orang membicarakannya, No 3 diam saja merenungkan dan mendengarkan mereka yang hanya bicara saja. Di saat mereka sedang membicarakannya, kapalnya terbang dari gerbang sekolah dengan terus mendengar ocehan tentang dirinya yang di kira lemah.
Sementara itu dari penglihatan No 1 yang terus melihat semua kejadian yang di sana, sama sekali tidak peduli karena itu hanya sebatas ingatan saja. “Meski hanya sebatas ingatan saja, kehidupan ini berbeda sekali dengan yang ku jalani. Diriku yang pertama hingga diriku ini, menjalani kehidupan yang berbeda-beda dan tidak ada yang sama persis sama sekali. Itu yang ku rasakan.” pikir No 1 yang hanya melihat No 3 yang duduk memikirkan kekuatannya yang keluar akibat No 2. “Ini hanya keseimpulan semntara dari beberapa hal yang ku temukan, tapi bukan ini pasti yang ingin di tunjukkan oleh diriku yang lain. Sebaiknya ku lihat lagi saja.” dengan tenang No 1 melihat lagi ke No 3 yang masih diam di tempatnya.
Setelah cukup cepat terbang, kapal mereka berhenti lalu semua orang berhenti bicara. No 3 dan semua orang melihat dari kaca yang tembus ke luar dan berada di area reruntuhan. No 3 yang melihat ke luar merasa hatinya berdebar-debar melihat reruntuhan untuk pertama kalinya dan juga merasa nyaman, tapi sebenarnya itu perasaan lama dari No 2 yang dia tidak sadari. Semua orang turun termasuk No 3 yang ingin tahu perasaan apa yang di alaminya itu. Saat sudah di luar, semua orang remaja laki-laki sudah mengatur diri dengan kelompok masing-masing sedangkan No 3 hanya diam sendiri. “Baiklah karena semuanya sudah ada berkelompok, selanjutnya kalian akan di arahkan oleh instruktur untuk melawan monster apa di sini.” denga tegas seorang yang guru yang tiba-tiba muncul di tengah para murid.
Semua murid terdiam mendengar itu. “Pak guru, ada satu orang yang belum punya kolompok.” bicara seorang murid dengan suara serius. Semua orang melihat ke No 3 termasuk guru tadi, tapi dia tidak berkata apa pun dan hanya diam saja.