Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 33


Anto, Nina dan Lia, mereka bertiga tidur dengan nyaman di sopa, tidak menydari waktu yang telah lama berlalu di sofa mereka. “Mm..!” Anto yang memirngkan badannya, mengubah posisi tidurnya. 'DUK!!' Anto jatuh dari sofanya lagi. “Sakit!!” Anto sambil menahan sakitnya lagi karena jatuh. “Kenapa juga harus jatuh?” Tanya Anto pada dirinya dengan suara kecil karena kurang tenaganya. “NAVI bantulah?” Minta Anto yang masih menahan sakitnya.


“Ya ya.” NAVI mulai memberikan Anto energy. Setelah beberapa saat Anto segar lalu kembali duduk ke sofa dengan tenang. “Ini kedua kalinya kamu jatuh. Apa mungkin kamu tidak bisa tidur di sofa?” Tanya NAVI saat Anto yang sudah baikan dan juga meregangkan tubuhnya.


“Tidaklah. Mungkin." Jawab Anto dengan ragu-ragu setelh meregangkan tubuhnya. "Sebaiknya aku tidak akan pernah tidur lagi di sofa.” Gumanya sambil melihat Nina dan Lia yang masih tertidur. “Sudah berapa jam mereka tidur?” Tanya Anto pada NAVI sambil melihat Lia dan Nina yang belum bangun.


“Sekitar 2 jam lebih. Sebaik kita segera bergegas.” Ajak NAVI pada Anto yang akan melakukan sesuatu. "Kita terlalu lama menemani mereka, Lia juga bisa menjaga Nina. Sekarang kita harus melakukan hal yang kita inginkan." NAVI mengingtakan Anto yang masih melihat ke Nina dan Lia.


“Ya. Sudahnya saat kita untuk pergi dan menjelajah Dunia ini.” Anto mengubah pakaianya menjadi serba hitam dan topengnya sambil duduk. Saat Anto duduk, dia membuat sesuatu yang berbentuk bola putih di depannya lalu menekn sebuah tomnolhitan yang sangat jelas sekali. “Lia, Nina, dengarkan ini. Aku akan pergi sendiri berpertualang, selama beberapa tahun di Dunia ini. Tapi, aku akan mencari kalian sebelum kembali ke Bumi dan mengajak kalian. Saat ini jika aku mengajak kalian pasti cuma Lia yang akan mengikutiku." Anto terdiam sebenatar. "Jadi lebih baik seperti ini saja. Tenda ini telah aku program aka hancur sendiri saat kalian keluar dari tenda ini. Dan ini yang terakhir ini ku berikan pada kalian.” Anto yang sudah menaruh 2 bola putih seperti bola tenis. “Ini tenda sama seperti ini, tapi kalian bisa memilikinya secara pribadi dan mengaturnya secara bebas semau kalian. Satu hal lagi, meski kalian mencariku kalian tidak akan pernah menemukanku.”Setelah itu Anto menekan tombol hita yang ada di bola tenis itu.


“Ini rekaman yang tadi.” NAVI memutarkan vidionya yang sudah di rekam olehnya. "Nina yang sekarang belum bisa menerima kita, jadi hanya Lia yang bisa membujuknya. Oleh sebab itu kita harus melakukan hal yang kita tuju sekarang." NAVI mempergingtkan Anto. Setelah NAVI berkata itu, Anto berjalan keluar meinggalkan Nina dan Lia di sofa yang masih tidur.


Saat sampai luar tenda, Anto melihat Dunia yang begitu gelap dan tidak ada perubahan sama sekali, meski dia dia tahu Dunia bawah akan selalu gelap. Anto berjalan ke pinggir gua yang cukup tingga lalu melompat ke bawah tebing. Anto sangat gembira sekali  saat terjun di tebing itu. “NAVI, seberapa dalam tebing ini?” Tanya Anto saat masih terjun di udara.


“Aku tidak tau. Yang pasti tidak seperti seblum ya yang sangat panjang.” Jawab singa NAVI singkat dengan biasa saja dan juga senang. Anto melihat ke bawah yang sudah semakin dekat dengan tanah. Setelah sampai di tanah, Anto langsung berlari di anatar tanah dan rumput yang panjang-panjang.


"Ini sungguh menyenangkan." Anto yang terus berlari tanpa henti dengan kecepatan yang tidak di ketahuinya sendiri. Anto melihat ke sana kemari, menamukan banyak sekli binatang seperti Kucing yang besar, Harimau Yang besar. Burung aneh yang punya satu kaki dan banyak hal lainnya ynag hanya bisa di temukan di Planet itu. Anto yang sudah lama berlari berheni di sebuah jurang yang sangat dalam sekali dan tidak terlihat sama sekali ujungnya. Tanpa berkata apa-apa, Anto langsung melompat ke dalam jurang itu dengan rasa senang. Anto yang terjun dari jurang belum juga sampai setelah 1 jam belum juga sampai di dasar jurang. “NAVI, sudah 1 jam lebih! kenapa dasarnya jauh sekali?” Tanya Anto yang masih santai dengan situasinya.


“Percepat diri saja, kita tidak bisa menunggu lagi.” NAVI yang memberi saran Anto yang sangat karena tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Anto yang mendapat saran dari NAVI, melakukannya dengan menambah kecepatannya hingga maksimal. menunggu lagi. Setelah 1 jam lebih Anto juga belum sampai dasarnya.


“NAVI, sudah 1 jam lebih, apa masih jauh lagi.” Anto yang sudah bosan dan juga belum sampai dasar jurangnya “Berapa lama lagi kita harus nunggu?” Tanya Anto yang semakin bosan meski terjun dengan kecepatan tinggi


“Lihat!” NAVI memanggi Anto yang bosan sampai tidak memperhatikan. Anto melohat ke bawah melihat cahaya yang tidka di ketahui asalnya. Anto yang tadi bosan, merasa lega saat sudah sampai di bagian terdalam jurang. 'WUSH!!' Anto melayang beberapa senti setelah beberapa jam terjun dari tebing.


“Di sini sangat lembap sekali!” Anto mulai mendarat di bebatuan yang memancarkan  cahaya dengan alami “NAVI, mari kita pelajari semuanya!” Anto yang penuh semangat mulai mengambil batu di tanah yang sangat lembap. Beberapa menit Anto mengumpulkan barang dengan semangatnya, dai sama sekali tidak menydari banyak sekali monster yang memperhatikannya mengumpulkan barang.


“Sudah cukup, terlalu banyak barang yang sama.” Kata NAVI pada Anto karena sudah mempelajari semuanya saat Anto sedang mengumpulkan barang lainnya. Anto berhenti mengumpulkan barang dan melihat ke barang yang di kumpulkannya yang sudah sangat menumpuk. "Sepertinya kita tidak sendiri!" NAVI memeringati Anto yang sedang melihat barang yang di kumpulkannya. Setelah NAVI berkata begitu, berbagai macam Monster keluar dari balik batu. Tapi itu tidak membuat Anto takut melainkan semakin semangat.


Anto merasa senang saat berbagai Mosnter yang mendekat ke arahnya. “Mari berpesta.” Anto menyerang duluan ke Monster yang paing besar, dan dengan sekali puku Monster itu meledak menyisakan jarah yang seperti minya berjatuhan. Monster semkain waspada pada Anto yang memukul satu kali langsung mati. "Hm!" Anto melihat sebuah kawanan Monster yang tidak di ketahuinya muncul lagi dan llali ini lebih besar dari Monster yang sebelumnya di pukul. Anto memberntuk senapan penembak lalu bersiaga. 'AUUUU...!!' Lolongan seriga mirip seperti serigala Bumi membuat Monster di hadapan Anto terlihat semakin ganas.


"Kenapa ada serigala di kedalaman ini?" NAVI bertanya a\karenma bingung dengan apa yang terjadi. Anto diam saja dan tetap fokus dengan apa yang di sekitarnya yang sedang di kelilingi banyak Mosnter yang belum menyerangnya. Satu Monster tiba-tiba lompat dari arah yang tidak di duga Anto hingga membuatnya terpental ke keumunan Monster yanh sudah menunggu. Untungnya Anto masih memegang senjatanya dan langsung menebak dan memnubuh kerumunan Monster yang ke arahnya untuk menerkamnya. Monster terus berdatngan ke arahnya dengan sangat cepat. Saat dia hendak menembak, sebuah tembakan yang sama seperti peluru senapannya mengarah ke arahnya, Anto terkena dan sedikit kaget meski tidak terluka dan hanya terpental saja


"Sepertinya, ada beberepa dari mereka yang cukup cerdas." Anto yang melihat Beastman (Manusia setegah binatang) yang membawa senapan yang sama persis sepertinya. Beasman itu tersenyum pada Anto sambil membidik ke Anto yang sudah jatuh. Beastman itu menembak ke arahnya, tapi Anto justrus suah di depan Beastan itu dan langsung memenggal kepalanya. "Sayang sekali, aku juga bisa bertarung jarak dekat." Anto yang sudah membunuh Beastman itu membuatnya semakin bersemanagat. "Keme...!!" Anto yang tiba-tiba berhenti bicara saat di hujani oleh peluru yang sama seperti seblumnya dan kali ini lebih banyak lagi. Anto bertelepoertasi beberapa kali, namun kali ini semua peluru itu mengejarnya. Anto yang kaget dengan itu langusng membuat tameng peling yang tidak terlihat. Namun itu sia-sia karna kekuatan perluru itu sama persis dengan penghancur yang membuat tamengnya hancur dalam lima tembakan saja dan lalu dia terpental ke tebing tempat dia mendarat.


"Astaga!" NAVI yang kagum saat melihat Monster mengelilingi dan Beastman membidik ke arah Anto yang sedang terjatuh namun tidak terluka sama sekali. Anto berdiri tegak, lalu melihat sekelilingnya yang sudah di kepung oleh banyak Monster dan Beastman dan cuma di belakangnya cuam ada dinding yang sangat tinggi sekali.


"Kecerdasan mereka sangat baik sekali." Anto yang merasa senang dengan apa yang di alaminya itu. Saat Anto sudah bersiap, mosnter menyerang ke arah Anto lalu di susul oleh tembakan senapan dari Beastman juga. Anto banyak membunuh Monster dan Beastman. Namun itu tidak berkahir begitu saja, monster yang seukuran manusia dewasa membawa senataj pedang tombak juga datang ke Anto dan menyerangnya. "Ini!" Anto yang bingung denga situasi yang di hadapinya itu. Anto yang bertarung tanpa mengathui apa pun membantai banyak sekali jenis Monster di bawah tebing itu hingga dia lupa tujuannya yang sebenarnya.


***


Waktu berlalu, Anto sudah tidak di serang lagi oleh mosnter dan tidak ada satu pun yang datnag ke arahnya. “Sudah berapa lama kita disini?” Tanya Anto pada NAVI yang sudah diam dan tidak bersuara saat dia bertarung. NAVI diam dan tidak mejawab seperti masih melakukan sesuatu.


"Eh?" Anto yang baru melihat tangannya sudah di lumuri darah warna hijau. 'HWEAK!!' Anto tiba-tiba merasa mual dan mengingat semua yang telah dia lakukan dan untungnya tidak muntah. "NAVI, apa yang ku bantai ini?" Tanya Anto yang sudah baikan dari rasa mualnya. NAVI terdiam dan tidak berkata apa-apa. “Apa semua Monster di bawah sini sudah habis?” Tanya Anto yang merubah pertanyaannya


“Ya. Semua sudah habis." Jawab NAVI pertanyaan yang terakhir. "Saat kamu membantai mereka, aku bisa merasakn kedihan mereka dan juga rasa senang mereka. Terutama, para Beastman yang kita hadapi itu. Sepertinya mereka sangat lega di bunuh." NAVI menjawab pertanyaan Anto yang kedua Anto. Sepertinya mereka adalah manusia yang hidup sudah sangat lama sekali dan sudah berevolusi dengan cara yang berbeda di kegelapan ini untuk mereka bertahan hidup. Namun sepertinya, mereka mulai lelah dan merasa inginmati, hinggat mereka butuh sebuah tempat untuk bunuh diri." NAVI menjelaskan lebih lama lagi.


"Apakah mereka memilih untuk lompat dari tebing itu?" Tanya Anto yang kurang yakin dengan tebakannya.


"Ya. Mereka memilih mengakhiri hidup mereka. Namun entah bagiamana, mereka tidak mati saat sampai di bawah. Saat sampai itu malah membuat mereka semakin lama hidup dan juga semakin menderita. Monster yang menyerang kita itu, mereka juga mulanya cuma hawan biasa yang terjauh hingga mereka berevolusi. cuma itu yang bisa ku katakan." NAVI yang sudah menjawab pertanyaan Anto. Anto meliha bawahnya yang banyak sekali mayat yang tidak di kenalnya sama sekali, dan itu membuatnya tidak mengeri dengan hal yang di lalui selama 2 bulan terkahir.


"Sepertinya mereka, hanya menginginkan kematian, tapi apa penyebab mereka tidak mati?" Anto yang bertanya lagi dan juga penasaran penyebab mereka tidak mati meski sudah hidup sangat lama dan juga dengan kekuatan yang sangat rendah gitu.


"Jawabannya sederhana, ada satu lagi yang lebih besar dan mungkin sangat kuat dari Lia.” NAVI memberi tahu Anto. "Pancaran energi yang di keluarkannya itu sangat aneh dan juga sangat tidak nyaman sekali." NAVI yang bersuara dengan sangat serius sekali.


“Di mana?” Tanya Anto yang sudah sangat siap untuk bertarung dannjuag merasa sangat bersalah dan menyesal dengan apa yang telah di lakukannya yang tidak dia sadari sama sekali.


“Tapi sebelum itu, akan ku berutahu sesuatu terlbih dahlu." Kata NAVI yang sudah siap memberi tahu Anto. "Setelah mempelajari daerah, iklim, lingkungan dan habitat Monster di sini. Aku berhasil membuat sebuah Skil yang bisa membuatmu beradaptasi dengan sesuatu lingkungan. Untuk meningkatkan Skilnya ke tingkat yag lebih tiggi, kita perlu lebih jauh lagi mempelajari tentng dunia ini.” NAVI menjelaskan semua apa yang di dapatnya.


Tanpa menunggu Anto merespon, NAVI mentransfer Skil yang sudah siap di pelajar Anto. Saat menerima Skil itu, Anto tidak merasakn apa pun hanya hangat di kepalanya lalu muncul sumber dan cara penggunaannya, kelebihan dan kekuarangan, semuanya di transfer. "Skil adaptation. Skil ini sama saja dengan peningkatan indra Dunia." Anto yang sudah paham dengan Skilnya itu. Anto dusuk di atas tumpukan mayat itu. “Hah... Masih banyak waktu yang tersisa sebelum kembali." Anto melihat ke langit yang selalu gelap. "NAVI, di mana?" Tanya Anto yang sudah merasa baikan.


“Dia berada di 100 km di utara.” Jawab NAVI singkat.


“Hm! Bukannya itu tempat pertama kkali kita tiba!” Anto yang teringat dan juga penasaran.


“Ya. Aku baru tahu tidak lama ini." Timbal NAVI singkat. "Aku mengetahuinya setelah aku memperljari lingkungan dis ini.” NAVI menjelaskan semua yang dilakukannya pada. Anto yang dapat penjelasan terbang ke sana dengan cepat.


***


Kurang dari 40 menit, Anto sampai di mana dia tiba pertama kali. “Aku sampai.” ucap Anto saat di dekat batu dinding tempanya terjun. “Sudah lama sekali rasanya.” Anto yang melihat diding yang sangat kokoh. Anto terdiam beberapa saat, lalu melihat ke tebing itu. "Jadi di mana Mosternya?" Tanya Anto dengan jelas pada NAVI.


“Itu, tebing itu.” NAVI mengatakan dengan sangat jelas. Anto melihat ke tebing yang tinggi itu.


“Tebing? Ini kan sangat tinggi. Di mana jalan masuknya?” Tanya Anto dengan santai sambil melihat tebing itu. NAVI tidak merespon Anto, malah diam saja. “Hm... Ada apa?” Tanya Anto pada NAVI yang bersikap diam saja.


“Kamu juga manusia aku lupa.” ucap NAVI dengan suara mengejek Anto.


"...?" Anto yang sama sekali tidak mengerti apa maksud NAVI yang tiba-tiba bicara begitu. “Aku tidak tahu apa maksudmu, yang jelas aku bukan Monster.” Respon Anto yang tidak mengerti maksud NAVI. "Jadi di mana Monsternya?" Tanya Anto lagi mengulang pertanyaannya yang sama.


“Itu, kamu pukul saja tebing itu dengan sangat keras sampai membuat lubang besar.” Jawab NAVI sambil memberi tahu Anto. Anto melihat ke dinding lalu medengan fokus mengeluarkan kekuatannya ke tangan kanannya.


Next Chapter