
Setelah semua BIDADARI nya dan semua Hero dari Dunia lain pulang, kini tinggal Anto sendiri yang belum masuk 2 lubang yang belum di pakainya. Semuanya jadi hening dan tidak ada yang bicara lagi. ‘WUSH…!’ Kini Anto melepaskan aura dengan terang-terangan kepada semua orang hingga mereka tidak ada yang berani berkata apa-apa. Anto menatap tajam ke Raja yang dulunya menatapnay dengan tatapan yang tidak di ketahui apa maksudnya, masih dengan tetap tegar menahan aura Anto yang sangat berat sekali meski sudah mengeluarkan darah dari mata, hidung, telinga dan mulutnya. -Berhenti!- Suruh NAVI pada Anto yang mengeluarkan auranya.
Anto tidak merespon dan masih saja terus menerus mengeluarkan auranya. “Maaf, sepertinya itu tidak mungkin.” Respon Anto yang berwajah dingin pada semua orang di dalam yang sudah tidak kuat lagi menahan auranya.
“Berheti!” Suara dengan lemah lembut menyuruh Anto berhenti. “Ku mohon, jangan lakukan ini.” Minta lagi dengan suara lembut, hingga membuat Anto sedikit tenang. Tapi, Anto yang menyadari itu hanya sebuah sugesti dari Dewi, dia tidak berhenti mengeluarkan aurannya. Malahan dia semakin menambahkan auranya hingga tidak bisa di tahan oleh semua orang dan kebanyak sudah tidak sadarkan diri.
“Belum, masih belum saatnya.” Respon Anto. Anto yang melihat Raja masih menahan auranya dengan berdiri tegak dan tidak runtuh dari tempatnya berdiri. Setelah itu, Anto menatap lagi setelah merespon Dewi yang bermaksud baik. “Oi, jatuhlah!” Suruh Anto pada Raja itu dengan tatapan tajam dan mengancam. Raja itu malah melihat ke arah Anto lalu tersenyum.
“Aku seorang Raja tidak akan pernah… UHUK! Tidak akan pernah tunduk.” Jawab Raja tersebut dengan tersenyum dan sombong pada Anto. Anto yang melihat betapa kerasa kepalanya Rja di depan itu mersa harus di tundukkan.
“Sepertinya kamu belum pernah tunduk pada OrangTua mu juga. Kamu tidak pantas jadi seorang Raja.” Anto menambah auranya lagi hingga membuat membuat kaki Raja itu gemetar. Tapi tidak cukup membuatnya tunduk. Mesi gemetar, dia masih tersenyum pada Anto yang masih melayang.
“Siapa juga yang mau tunduk sama OrangTua yang Hi…!” Anto langsung memukul Raja itu dengan sekuat tenaga hingga Raja terdiam di tempat, saat dirinya langsung sudah tertunduk akibat pukulan Anto. Dia malah kaget dirinya yang jatuh menahan dirinya dengan lututnya. “Kenapa aku tunduk seperti ini!” Raja itu bukannya takut, malah dia mengkhawatirkan dirinya yang tunduk pada Anto. “Bukannya seharusnya aku yang terkuat.” Raja itu mulai omong kosong dan terlihat berbeda dari sebelumnya. Raja itu malah menatap tajam ke Anto yang berdiri tepat di depannya. “BANGSATTT…!” Raja itu langsung berdiri mengeluarkan sihirnya pada Anto yang terlihat sudah sangat terlatih dan mahir. Tapi, belum sempat mengeluarkannya, malah sudah di hilangkan oleh Anto.
Anto menatap tajam pada Raja yang masih sangat keras kepala. “Oi, apa yang ingin kamu lakukan?” Tanya Anto sambil menambah auranya hingga Raja itu jatuh kali ini karena sudah tidak kuat lagi.
“HENTIKAN!” Sebuah teriakan juga cahaya datang dari atas dengan sangat terang mulai menghilangkan aura Anto yang berat. Tapi, Anto menambah lagi auranya hingga cahaya itu bahkan tidak sanggup membuatnya tenang. “Ku mohon berhenti!” Suara itu mulai terengar sedih. Tapi Anto masih menambah auranya hingga Raja jatuh ke tengkurap karena sudah tidak sanggup lagi menahan aura yang semakin besar.
Saat Anto melihat Raja yang sudah jatuh dan tidak bisa bangkit lagi, dia dengan cepat menghilangkan auranya. “Kurasa ini sudah cukup.” Bicara Anto dengan jelas sekali. “Dengarkan ini. Jika kalian ingin menikmati permainan, jangan pernah libatkan orang Dunia lain ikut dalam permainan kalian.” Anto yng sangat marah sekali pada Dewa Dunia itu yang hanya bisa menonton saja. Setelah berkata itu, Anto langsung mendekati lubang yang masih terbuka. Sebelum masuk, Anto melihat ke lubang. “Sangat lelah juga jadi actor yang hebat.” Anto yang bicara pada dirinya sendiri.
“Jika kita tidak memberinya pelajaran, entah apa yang akan terjadi dengan Dunia ini setelah kita pergi.” Respon Anto yang memilih jadi penjahat di Dunia itu. Setelah merespon itu, Anto membuat 1 Bunsin untuk membantu Hero yang sedang ada di lubang telepotasi. Setelah dia membuatnya, Anto dan Bunsinnya langusng melompat ke masing-masing lubang yang tersisa. Anto masuk ke dalam lubang yang mengarah ke rumah Remaja sebelumnya karena tida ada yang memilih itu.
Setelah Anto masuk, lubang besar itu mulai terutup dan pisah dari hubungan Dunia. -Sepertinya masalah ini akan selesai dalam waktu yang lama- Ajak NAVI bicara saat sudha berada di dalam portal teleportasi Antar Planet.
“Menurutku tidak! Raja itu sepertinya sangat sampah dan hanya memikirkan tentang Dunianya sendiri dan tidak memikirkan hal lain. Kamu bisa tahu sendiri kan. Dia hampir saja menghina OrangTuanya tadi.” Anto yang masih sedikit kesal dengan perkataan Raja yang di potongnya itu. NAVI tidak merespon dan paham maksud Anto yang kesal dan juga tidak terima dengan perkataan Raja yang mau menghina OrangTuanya sendiri.
NAVI yang paham, dia tidak protes, malah dia juga merasa akan melakukan hal yang sama jika seorang OrangTua di hina di depan matanya sendiri. -Lalu apa yang akan kita lakukan setelah ini?- Tanya NAVI pada Anto yang masih kepikiran dengan hal tadi.
Anto tidak langsung merespon, dia malah menambah kecepatannya di dalam loroang untuk mengejar Hero yang sudah duluan lompat yang mungkinsudah jauh di depannya. “ Aku ingin pergi ke Planet lain yang tidak ada BIDADARI nya sama sekali.” Jawab Anto singkat. “NAVI!” Panggil Anto lalu diam sebentar. “Jika kamu punya data Planet yang kamu dapat dari masa depan, cepat ubah kordinat teleportasi kita selanjutnya supaya kita tidak bertemu dengan mereka.
“Ya.” Jawab NAVI yang paham maksud Anto. Anto yang ingin berpetualang secara bebas dan tidak terikat untuk sekarang, merasa harus pergi dari Planet yang sudah ada di data yang telah terkumpuk dari masa depan, untuk mengindari bertemu dengan Para BIDADARI lainnya.
Setelah semua terencana Anto terus mempercepat dirinya yang masih di dalam Portal untuk mengejar Hero yang sudah duluan. Anto yang ada di dalam portal, merasa nostalgia dan sedikit demi sedikit mulai mengingat kembali ingatan yang dulunya hilang akibat kcerobohanya saat di dalam portal. Tapi, Anto tetap focus ke tujuannya dan berusaha tidak terlau meikirkan meski dia sangat rindu sekali masa-masa indahnya di Planet Bumi. Anto yang mempercepat diri dalam portal, sudah bisa melihat Hero yang sedang terbang seorang diri dengan memgikuti arus portal dan tidak pernah mempercepatnya. “Ku harap ini bisa selesai cepat.” Anto yang hampir tiba di dekat Hero itu.
Next Chapter