
“Tapi, apa yang akan terjadi jika ada dua orang melakukan kedua Skil ini secara bersamaan!” Anto langsung memberi gambaran maksud dari penjelasannya tadi pada mereka semua. Semua muridnya langsung saling lihat satu sama lain. “Seperti yang kalian pikirkan. Kalian ada mendapat pengalaman dari orang tersebut jika keduanya menggunakan Skil ini secara bersamaan. Tapi jika di lakukan pada benda, maka terjadi seperti barusan dan tentunya itu terbatas yang bisa di kombinasi.” Setelah mengatakan itu semua siswanya hanya terdiam saja tidak ada yang bertanya satu sama lain.
Anto tahu apa yang akan di lakukan oleh semua muridnya setelah pelajarannya selesai. Namun Anto akan diam saja, membiarkan mereka melakukan apa yang mereka mau. “Selanjutnya cara melihat straegi musuh atau lawan.” Semu siswa terlihat tenang dan tidak ada yang bicara sama sekali. “Dari pada strategi, ini lebih di sebut teknik analisa saat dalam medan pertemuran. Karena teknik ini bisa di lakukan oleh siapa pun.” Anto menjelaskan dengan singkat. “Misalnya Ras naga melawan Ras serigala.” Semua terdiam mendengarkan. “Umumnya saat bertarung yang menang adalah naga dalam kasus ini bila tidak punya pengalaman bertarung.”
“Tapi dalam kasus kali ini, yang punya pengalam bertarung akan mudah menang. Caranya itu sangat mudah. Pertama jadi penonton, pehatikan mereka yang sedang bertarung lalu analisa pergerakan mereka berdua. Cari kebiasan dari musuhmu sebelum mereka menyadarinya. Tapi jika musuh duluan yang menemukan kebiasaanmu, tinggal kamu serang lebih dahulu lalu perhitungkan sejauh mana lawanmu itu mengetahui kebiasaanmu. Jika semua itu di lakukan, kamu akan menemukan yang namanya arus pertempuran, yang di mana kamu bisa menebak apa yang akan di lakukan musuh dan mungkin bisa mencari jalan terbaik untuk di lakukan melawan balik.” Anto tediam setelah menjelaskan itu.
Para muridnya terlihat sangat paham sekali dengan yang di katakannya itu dan mereka semua langsung saling lihat lagi. “Semua pelajaran hari ini sudah sampai di sini saja. Lain kali Kakak ngajar lagi karena waktunya sudah habis, mari hentikan pelajaran hita hari ini.” Setelah itu Anto jalan ke papan dan menyobek kertas jadwal yang di tempelkannya tadi, lalu jaln keluar ke pintu kelas. "Jika kalian sering berlatih, suatu saat nanti kalian pasti melampui semua murid di sini dan akan menjadi yang terbaik." Anto memberi mereka nasihat saat masih di dekat pintu keluar. Setelah mengatakan itu, Anto keluar dengan di perhatikan oleh semua murid kelas itu. Saat sudah di luar kelas, Anto melihat ke jendela yang menunjukkan hampir siang hari. “Ternyata hari ini cukup lama juga.” Denga senyum mengatakannya lalu jalan di koridor yang sedang sepi.
***
Setelah beberapa lama jalan, Anto sama sekali tidak tahu di mana dia berada. Dia tersesat setelah jalan kesana kemari lewat koridor yang terhubung dengan tempat aneh. “Sudah berapa lama aku jalan sih?” Tanya pada dirinya sendiri yang sama sekali tidak tahu dirinya berada di mana. Anto melihat sana ini sudah menukan dirinya berada di belakang sebuah gedung yang tidak di ketahuinya dan juga sedang berada di tepi jurang, karena dirinya melewati koridor aneh yang membuatnya jalan tanpa arah. “Sekolah ini memang menakjubkan di bangun di tepi jurang seperti ini. Tapi kenapa aku bisa sampai di sini?” Tanya Anto yang sama sekali tidak mengerti. “Jalan yang gunakan tadi, hilang. Padahal masih di koridor sekoalh” Anta melihat ke jalan yang pernah di laluinya, namun koridor yang menghubungannya tidak ada.
Anto terus melihat ke jurang yang sangat tinggi itu dengan tenang dan tidak terganggu sama sekali. “Apa yang kamu lakukan di sini?” Tanya suara yang tidak asing sekali. Anto segera melihat ke sumber suara itu, dan melihat Gadis beastman keinci itu lagi yang masih dengan wajah dinginnya.
“Sepertinya... aku tersesat.” Jawab Anto dengan melihat sana sini karena sedikit malu dengan dirinya yang teresat seperti itu. Gadis kelinci itu tetap melihat dingin ke Anto tanpa satu patah kata pun padanya. “Apa dia akan percaya?” Tanya Anto pada dirinya sendiri yang masih ragu.
Gadis itu diam saja melihat ke Anto tanpa berkata apa pun sama sekali. “Ikut aku!” Ajak lagi dengan dingin sambil meninggalkan Anto. Anto pun hanya bisa mengikuti dengan terpaksa Karena tidak tahu arah sama sekali, meski merasa akan terjadi sesuatu lagi pada dirinya. Anto melihat sana sini saat jalan karena tidak tahu cara bicara pada Gadis dingin seperti itu. “Bagaimana?” Tanya Beast kelinci itu pada Anto.
“Bagaimana anak-anak itu?” Tanya lagi gadis itu pada Anto dengan dingin. Anto langsung paham maksud dari pertanyaan Beastman kelinci itu.
“Kalau itu, ku rasa mereka baik dan mudah mengerti.” Jawab Anto dengan singkat sekali. “Tapi buku tebal itu sama sekali tidak berguna untuk di ajarkan pada mereka.” Anto menambahkan sambil mengingat dirinya membakar semua buku pelajaran besar itu. Beastman kelinci langsung berhenti lalu melihat ke Anto dengan dingin sekali. “Apa yang terjadi?” Tanya Anto yang terus di lihat dengan sangat dingin sekali dan merasa di marahi. Tapi Gadis itu langsung berbalik dengan ceoat setelah beberapa lama melihat padanya.
Gadis itu lalu jalan dan lagi tanpa berkata apa-apa. Anto juga mengikutinya dari belakang dengan sangat canggung sekali. Anto terhenti jalan saat melihat sekitarnya sudah ada tumbuhan di mana-mana, yang seharunya tadi berada di sebuah jurang ang terihat bahaya. Anto melihat ke belakangnya dan jalan ke jurang itu sudah tidak ada, dan hanya ada rerumputan saja. “Hm... Sepertinya ada siklus waktu. Mungkin!” Anto melihat sana sini lagi setelah melihat ke belakannya yang ada banyak rerumputan. Karena Anto tidak memperhatikan jalan, dia menabrak Gadis Beastman itu hingga dia jatuh sendiri. “Maaf!” Dengan cepat Anto meminta maaf, sambil berdiri.
Gadis itu diam saja tidak merespon sama sekali perminta maafan Anto. “Cepat berdiri!” Minta gadis Beastman itu dengan serius. Anto pun cepat berdirin lalu melihat ke Gadis itu yang perlahan menutup matanya. Anto yang terus memperhatikan Gadis Beastman itu seketika mendengar suara keramian banyak orang. Anto pun langusng melihat sana sini melihat sekitarnya yang sudah berada di sebuah stadium yang sangat luas dan besar sekali.
"Nah... kali ini aku di mana?" Tanya Anto yang melihat banyak sekali penonton sedang melihat ke arena yang masih kosong. Anto terus melihat sana ini dengan sangat ingin tahu di mana dirinya sekarang berada. Anto yang tidak memperhatikan melihat ke belakangnya kini melihat dan menemukan sudah ada kursi yang berjejer dan juga sudah di isi. “Haruna!” Anto langsung melihat Haruna di sana yang tidak terlalu jauh bersama Raja ibls dan dua Beastman lainnya yang sedang duduk di kursi dan juga ada kursi besar yang belum terisi yang berada di tengah-tengah.
“Kamu terlalu lama.” Bicara Raja Iblis pada Gadis Beastman kelinci itu. Beasrman kelinci itu malah tersenyum rian sekarang yang membuat Anto heran. “Mari mulai ujiannya.” Bicara lagi dengan tetap senyum dau kursinya. Sementara itu Haruna malah terlihat kesal sekali yang duduk di kursinya. “Oh ya, aku ingin minta batuan sama kamu!” Raja Iblis menunjuk ke arah Anto. Anto pun bingung maksud dari Raja Iblis itu. Haruna melihat ke arahnya dengan tajam sekali. Anto yang di situasi itu jadi tidak mengerti dan jadi bingung sendiri dan hanya diam saja.
“Pakai topeng!” Bicara Haruna dengan jelas dan kesal sambil melihat ke arahnya. Anto yang melihat tatapan Haruna hanya bisa menuruti permintaan Haruna itu. Anto kemudian mengenakan topengnya dengan paakian sudah serba hitam. Setelah itu Anto diam di tempatnya sementara Beasman kelimci itu duduk ke salah satu kuris yang kecil.
“Kemari!” Anto di panggil Raja Iblis yang duduk di kursi seperti yang lainnya. Anto jalan ke Raja Iblis tanpa ragu sama sekali meski tidak tahu tujuannya. Saat sudah di dekat Raja Iblis, dia masih tetap tersenyum pada Anto dengan cukup menyenangkan. “Kamu duduk di sana, gantikan aku.” Minta Raja iblis pada Anto.’Hah!’ Anto sedikit heran maksud dari Raja Iblis. “Aku tidak ingin di lihat lagi sebagai Raja Iblis, setidaknya ada yang menggatikan aku untuk semenara.” Raja Iblis menjelaskan dengan tenang dan mengharapkan dapat jawaban bagus dari Anto.