Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 49


“Tuan muda?” Panggil pelayan satunya yang melihat begitu banyak sekali makanan yang di buat.


Andri tidak menjawab pertanyaan pelayan itu melainkan, melihat sekeliling. Di sekeliling Anto ada ribuan makanan yang telah di buatnya selama beberapa saat.


“Hm!” Andri memegang kepalanya “Apa yang harus ku lakukan!” Ucapnya dengan jelas dan tenang “Apa aku makan saja semuanya?” Anto sambil meliaht sekeliling seperti mencari sesuatu “Ini!” Membawa sepiring ayam goreng di tangannya “Kalian bawa beberapa makanan ke ruang makan, mengerti?” Anto memberi perintah pada kedua pelayan itu untuk membawa makanan ke ruang makan.


“Baik tuan muda.” jawa kedua pelayan itu dengan suara kecil dan juga bingung dengan sekelilngnya yang ada beitu banyak makanan.


Setelah menyuruh kedua pelayan membawa makanan ke ruang makan, Anto meninggalkan mereka di dapur, kemudian Anto ke ruang makan untuk menunggu mereka membakan beberapa makanan. Setelah sampai di ruang makan, Anto langsung duduk di tempatnya semula.


“Apa itu barusan?” Anto sedang memikirkan apa yang telah di lakuakannya di dapur “Perasaan Akrab itu muncul dengan sendririnya. Apa sebenarnya yang telah aku lakukan selama hidupku ini?” Dengan duduk tenang sambil menikmati makanan yang di bawanya.


“Andri!” Sapa Siska dari jauh saat meliaat Andri yang sedang duduk dengan di temani Maria yang terlihat kesal pada Andri.


“Ada apa?” Tanya Andri sambil lanjut makan dengan santai.


Siska tidak menjawab perkataan Andri melainkan berlari ke salah satu kursi di meja makan. Setelah duduk, Siska menatap Andri yang sedang makan dengan santainya tanpa memperdulikan Andri yang merasa bingung. Sedangkan Maria menatapnya dengan sangat kesal dari jauh dan membuat Andri ketakutan sedikit.


“Maria, kenapa masih berdiri?” Tanya Andri dengan senyum pada Maria sekaligus menahan rasa takutnya.


Maria tidak menjawab Andri dan langsung berjalan menuju kursi meja makan dengan terus menatap Andri yang masih dengan santainya menikmati makanan di depannya. Maria melihat meja makan dengan sangat teliti dengan merilik kesana kemari.


“Apa yang di carinya?” pikir Andri yang masih takut sambil menahan rasa takunya pada Maria.


“Bibi, di mana makanan itu?” Tanya Maria dengan sopan dan tersenyum pada Bibi pelayan denagn suara menyeramkan dan tatapan mengancam.


Bibi pelayan melirik Andri dengan perasaan takut. Andri tersenyum pada Bibi pelayan dengan ramah untuk memberi kode tanda untuk memberi tau Maria.


“I… itu tuan muda!!” Jawab Bibi pelayan dengan sangat gugup demgan menundukkan kepalanya saat melihat tuan mudanya tersenyum.


Setelah Bibi pelayan menjawab Maria langsung melihat ke arah Andri yang sedang makan dengan santai.


“Ada apa?” Tanya Andri dengan senyum sedikit denga mengunyah makanan di mulutnya.


Maria hanya menatap Andri dengan sangat kesal sekali dan juga telihat marah.


“Maria! Apa kamu bisa memasak?” Tanya Andri pada Mari yang sedang menatapnya dengan serius.


Maria yang menatap Andri berhenti menatapnya kemudian memikirkan sesuatu.


“Sepertinya kamu belum pernah memasak. Bagaimana kalau aku ajari?” Tanya Andri pada Maria yang sedang memikirkan sesuatu.


“Aku mau belajar!” Jawab Siska denga tegas dan mata berbinar pada Andri.


Maria yang mau duluan menjawab menjadi sangat kesal pada Siska yang menjawabnya.


“kalau begitu kita makan dulu.” Kata Andri dengan santai untuk memperbaiki suasana di meja makan yang sangat suaram.


“Jadi apa yang akan kita makan?” Tanya Siska dengan bingung saat cuma melihat sepering ayam di meja makan yang telah di makan Andri.


“Tunggu sebentar!” Jawab Andri sambil makan sendiri.


***


“Kenapa mereka lama sekali!” Andri yang bingung sekali dengan kedua pelayan itu yang belum juga membawakan makanan ke meja makan setelah selesai menghabiskan semua ayam di piring.


“Sampai kapan kami harus menunggu?” Tanya Maria pada Andri dengan sangat kesal sekali dengan tatapan tajam dang mengancam.


“Tu… tunggu sebenatar biar aku lihat!” Kata Andri pada Mari dengan berusaha tersenyum tulus pada Andri.


"aku mau ikut?" Minta Siska yang masih tenang pada Andri dengan santai.


"Tidak usah biar aku saja. Tunggu aja disini temani Maria." Jawab Anto dengan senyum canggung sambil berusaha menutupi rasa takutunya pada Maria yang terus menatapnya.


Setelah itu, Andri meninggalkan mereka di meja makan dan menuju dapur. Andri yang bingung dengan kedua pelayan yang tidak datang membawa makanan pergi melihat mereka berdua ke dapur. Dengan sangat cepat, Andri bergegas ke dapur untuk melihat apa yang di lakukan para pelayan itu. Namu, saat sampai di sana, Anto terkejut dengan banyak piring yang sudah kotor berserakan di lantai. Ratusan piring makanan yang sudah habis bertumpuk, Andri mencari dimana kedua pelayan itu di antara piring kotor. Saat melihat kedua pelayan Andri kager dengan apa yang di lihatnya. Kesua pelayan itu ternyata sudah terbaring tidur dengan perut kenyang dengan beberapa sisa makanan yang masih tertinggal di mulut mereka.


“Jadi ini yang kalian lakukan!” Andri yang sangat marah dan kesal pada pelayan itu yang sedang tertidur “Nanti aku akan memanggil kalian.” Guman Andri sambil menahan amarahnya pada kedua pelayan itu.


Andri yang menahan Amarahnya, mengambil beberapa makanan yang tidak di sengtuh oleh kedua pelayan itu.


“Mmmm!” Salah satu pelayan mengusap matanya.


Andri yang melihat itu menunggu dengan sangati di depannya. Pelayan itu terus mengerjapkan matanya beberapa kali sambil memandang Andri dengan sangta teliti. Setelah penglihatan membaik, pelayan itu sangat kaget dengan Tuannya yang sudah berdiri di depannya dengan tersenyum mengancam. Pelayan itu melihat sekitarnya dengan sangat teliti beberapa kali. Setelah menyadari apa yang telah di lakukannya, pelayan itu langsung menundukkan kepalanya.


“Sekarang bisa kah kita muali?” Tanya Andri dengan suara mengancam.


Pelayan hanya mengangguk sebagai jawabannya.


“kalau begitu cepat bawa sisa makanan yang lain ke meja makan dan bangunkan dia, jika tidak!” Andri tidak melanjutkan kata-katanya dengan ancaman untuk menkuti pelayan itu.


Pelayan itu mengagguk lagi kemudian membangunkan pelyan yang sedang tidur di dekatnya. Setelah bangun oelayan tersebut langsung jaget dengan Andri yang terus tersenyum dengan sangat marah.


“Sekarang kalin bawa semua makanan ini ke ruang makan, paham?” ucapnya dengan sangat jelas sambil mengnancam kedua pelayan itu yang tidak bekerja.


“Baik tuan muda!” Jawab mereka dengan gemetar saat mendengar suara Andri yang sangat mengancam mereka.


Dengan begitu Andri membawa beberapa makanan di atas mapan melayan kemudian meninggalkan kedua pelayan itu yang sedang gemetar berdiri karena Andri.


“Haaah! ini sungguh tidak nyaman?” Pikir Andri sambil membawa makanan di mapan melayang dengan santai.


Kedua pelayan itu dengan sangat sigap menaruh makanan yang tidak di makan mereka pada mapan melayang yang tidak di gunakan Andri. Setelah beberapa menit semua makana sudah di taruh di atas mapan kemudian mereka mebawanya ke ruang makan dengan hati-hati.


***


Andri yang kembali ke meja makan sangat terkejut saat melihat ratusan orang sudah ada di meja makan yang sudah di perluas.


“Apa yang terjadi?” Andri yang sangat bingung saat melihat puluhan orang tua sedang menatapnya yang sedang  membawa makanan.


NEXT Chapter