
Suci terus mencari tapu tidak menemukan siapapun. “Di mana dia?” Tanya Suci yang sama sekali tidak melihat malaikat itu. System malah diam dan melihat Suci yang terlihat seperti pura-pura dengan ektingnya.
-Hah… Kamu memang tidak sadar sama sekali ya. Lihat baik-baik- Suruh System pada Suci. Suci yang di suruh dengan sangat teliti meleihat ke belakangnya. Saat melihat dia melihat sesuatu terbang ke arahnya.
“Apa itu?” Tanya Suci dengan santainya.
-Jangan pura pura tidak tahu- Respon System dengan serius pada Suci. Suci yang medengar itu memgerti maksud System yang melihat malaikat itu jauh tertinggal di belakangnya. -Sebaikanya kamu kembali dan samakan kecepatan terbangmu- Suruh System yang melihat ke malaikat itu terlihat terbang dengan sekuat tenaganya. Tanpa merespon Suci langsung berbalik terbang ke malaikat itu.
Kuarang 10 detik, Suci tiba di samping malaikat itu. “Maaf.” Suci langsung meminta maaf pada malaikat itu dengan sopan dan langsung terbang di sampingnya dengan mengalihkan pangdangannya. Malaikat itu behti sebentar dan Suci juga ikut berhenti terbang mengikuti malaikat itu. Suasana jadi canggung karena Suci yang tidak tahu sama sekali kalau malaikat juga memiliki kekurangan.
“Jangan pikirkan itu. Aku baik-baik saja, hanya saja aku sedikit kaget dengan hal tadi. Aku kira manusia tidak bisa mencapai tingkat seperti ini.” Malaikat itu mengajak Suci bicara dengan terus terang dan tidak terlihat marah sama sekali dan halah terlihat penasaran sekali. Suci tidak langsung merespon dan diam saja dan tidak melihat ke malaikat itu.
Suci tidak bisa berkata apa pun pada apa yang di katakan malaikat itu dan hanya diam saja mendengar apa yang di katakannya. -Pakaia ini- Suruh System pada Suci dengan memberikan sebuah sarung tangan padanya. -Kulit tanganmu sangat sensitive sekali pada orang lain, tapi saat bersamanya kamu tidak merasakan sensitive. Entah apa yang ada dalam tubuhmu- Bicara System dengan santainya.
Malaiakat yang melihat sarung tangan itu muncul tidak mengatakan apa pun dan hanya melihat saja sambil memperhatikan Suci yang mengenakannya. “Pegang tanganku.” Ajak Suci pada malaikat itu setelah mengenakan sarung tangan itu samil mengulurkan tangannya tanpa melihat ke wajahnya sama sekali. Malaikat itu melihat ke Suci yang mengalihkan matanya saat melihat ke arah lain tidak berkata apa-apa. Hanya saja sedikit heran pa maksudnya melakukan itu. Tapi, malaikat itu langsung memegang tangan Suci yang di ulurkannya tanpa ragu. Suci yang merasakan tangannya di pegang langsung terbang dengan kecepatan lebih cepat dari sebelumnya dan tiba hanya dalam beberapa detik saja ke pintu yang di tunjuk oleh malaikat itu.
Malaikat itu melihat lagi ke Suci yang terbang meleihi kecepatannya dan tidak bisa merasakan apa pun saat terbang bersamanya. “Kamu memang cepat. Tadi saja aku sudah tertingal jauh.” Puji malaikat itu dengan sopan pada Suci yang masih memgang tangannya. Suci tidak merespon malah langsung melepas tangan malaikat itu dan tidak berkata apa-apa pada pujian yang di berikan padanya. “Mari ikut aku masuk.” Ajak malaikat itu dengan sopan saat mereka sudah ada di depan pintu meski di abaikan oleh Suci. Saat masuk, pintu bukannya langsung di buka, malah pintu tersebut langsung di tembus oleh malaikat itu dan suci sedikit takjub dengan hal itu. Suci menutup matanya saat melewati pintu itu.
Setelah merasa aman, Suci membuka matanya dan melihat sebuah ruangan istana yang sangat luas dan tinggi sekali, bahkan sangat kosong sekali. “Sangat luas. Apa yang ada disini?” Puji Suci sambil bertanya pada Systemnya. System yang ada di kepalanya melayang melihat sekitar dan menemukan banyak sekali orang yang sedang termasuk malaikat dengan senjata lengkap yang sedang mengelilingi Suci.
-Jangan lengah, kamu tidak bisa merasakannya, tapi aku bisa melihat ada berbagai kekuatan yang sedang melihat ke arahmu dengan tatapan sangat benci sekali- System memperingatkan dengan sangat serius sekali pada Suci yang masih melihat sana sini dengan santainya. Suci tetap tenang dan melihat sekitar meski hanya melihat sebuah ruangan kosong saja.
“Kenapa kamu masih diam di sana?” Tanya malaikat itu yang sudah jauh meninggalkan Suci. Suci yang di panggil jalan tanpa merespon dan tetap tenang tanpa memperdulikan malaikat itu dan terus memperhatikan yang di sekitarnya. “Kita sudah sampai.” Malaikat itu berhenti di sebuah tempat yang kosong di paling ujung. Setelah itu malaikat itu memberi hormat pada tempat kosong itu. “Saya membawa orang yang Anda bilang.” Bicara malaikat itu dengan sopan tembok yang cukup jauh. Suci melihat ke tempat kosong di depannya dengan aneh meski tahu apa yang di depannya itu.
“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Suci pada malaikat itu. Malaikat itu tidak merespon malah khawatir yang terlihat di wajahnya yang sangat serius meski tidak melihat ke Suci yang bertanya seperti itu padanya. Suci yang sama sekali tahu kenapa malaikat itu seperti itu hanya diam memperhatikan dan membiarkannya. Setelah beberapa saat, sebuah singgasana muncul di depannya dengan seorang anak muda yang seumuran dengannya sedang duduk di sana dengan terlihat sopan dan tidak sombong.
Remaja itu berdiri lalu mendekat ke Suci dan malaikat yang sedang memberi hormat. “Makasi Luna membawanya kemari.” Remaja itu bicara sopan pada malaikat itu. Sementara itu, Suci sedikit penasarn dengan orang yang di depannya itu.
“Siapa?” Tanya Suci terus terang tanpa memberi hormat. “Apa kamu raja di sini?” Tanya Suci dengan santainya. Malaikat di dekat Suci malah semakin khawatir tapi, Remaja di depannya mengangkat tangannya lalu menurunkannya lagi dengan cepat.
“Hm... Nggak mungkin. Wajahmu tidak sesuai untuk jadi seorang Dewa.” Komen Suci dengan santainya lagi dan membuat malaikat yang masih sopan padanya khawatir. Dewa yang medengar itu terlihat tidak mengerti sama sekali dengan perkataan Suci, tapi dalam beberapa saat terlihat memahami maksud Suci.
“Terus wajahku harusnya seperti apa?” Tanya Dewa itu dengan santai layaknya manusia. Suci memandang wajah Dewa itu yang remaja sekali dan tidak terlihat tua sekali.
“Yah… Seharusnya kamu punya wajah keriput tua dan berpakaian putih dan menyombongkan diri pada semua mahluk hidup dan tidak menganggap mereka berarti kecuali sebagai bidakmu.” Bicara Suci terus terang pada Dewa itu. Dewa itu malah menatap tajam, tapi Suci tidak bereaksi seperti tatapan itu bukan ke arahnya.
Setelah beberapa saat, dia memperbaiki tatapanya. “Hah… Apa kamu menganggap aku Iblis?” Tanya Dewa itu pada Suci yang di depannya masih biasa saja.
“Tidak juga, hanya saja terkadang Dewa juga bisa bersikap seperti Iblis tanpa mereka sadari dan membuat dirinya menjadi sombong dan mengingkan lebih.” Jawab Suci dengan santai dan sambil meliaht sekitar dan tidak melihat apa pun. Dewa itu terdiam dengan perkataan Suci yang terlihat terus terang sekali.
“Kalau gitu, menurutmu Iblis itu yang seperti apa?” Tanya Dewa itu pada Suci. Suci diam dan tidak langsung merespon malah melihat sekitarnya dengan cukup penasaran.
“Hm… Iblis ya.” Suci berpikir sebentar setelah melihat sana sini. “Menurutku Iblis itu yang tidak mempunyai hati yang tidak bisa mempertimbangkan sesuatu yang baik dan buruk dengan benar. Tapi, Karena semua mahluk hidup itu punya hati, terkadang mennggunakan hati mereka juga bisa salah. Aku sedikit penasaran dengan seseorang yang tidak punya hati yang membedakan kekuatan Iblis dengan kekuatan Cahaya yang saling bertentangan. Apa mereka itu hanya ingin membunuh mahluk hidup atau hanya ingin menjadi alasan supaya mereka bisa bertarung sama lain dan hanya ingin menonton saja. Jadi, menurutku sih, bukan orang yang memiliki kekuatan berbeda adalah Iblis. Yang iblis itu adalah hatinya sendiri yang tidak bisa membawa kekuatan itu dengan benar.” Jawab Suci dengan suara serius dan terkadang dengan penuh perhatian.
Malaikat di dekat Suci tanpak bingung dan tidak mengerti maksud Suci yang terdegar tidak masuk akal sekali. Dia melihat ke Suci yang masih tenang dan tidak tahu apa yang di lakukannya. “Ohh… Ternyata begitu!” Respon Dewa itu sambil menganggukkan kepalanya. “Aku sudah lama tidak mendengar perkataan bijak seperti itu. Entah bagaimana rasanya itu sangat menyentuh sekali.” Bicara Dewa itu dengan santai pada Suci.
Suci melihat Dewa itu dengan aneh. “Kamu aneh. Kenapa kamu bertingkah seperti manusia?” Tanya Suci pada orang di depannya itu. Dewa itu terdiam dan tidak menjawab malah tersenyum padanya dengan terlihat lembut.
“Aku juga memang seorang manusia dulunya, sebelum jadi Dewa.” Jawab Dewa di depannya itu dengan sopan.
“Tidak meyakinkan sama sekali.” Respon Suci dengan melihat ke seluruhh tubuh Dewa itu dengan cepat sekali, bahkan tanpa terlihat kaget atau termenung.
“Hahaha…” Dewa itu tertawa dengan sangat jelas sekali bahkan malaikat Luna di samping Suci tidak mengerti sama sekali dengan apa yang terjadi. Dewa itu terlihat sangat senang sekali dengan apa yang di katakan Suci padanya, hingga dia tertawa cukup lama.
Next Chapter