Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 100


Anto melihat ke arah Papa Lala yang terlihat bingung dengan pertanyaan Anaknya yang sangat serius sekali. “Apa aku bantu saja?” Pikir Anto saat meihat Papa Lala yang terlihat kebingungan. Papa Lala mengeleng sekali sambil melirik ke arah Anto, Anto yang melihat itu tidak jadi bertindak. Lalu Papa Lala kembali memperbaiki kepalanya lagi sambil melihat ke arah anak nya.


“Tidak ku izinkan sama sekali.” Jawab Papa nya dengan begitu tenang pada Lala yang depannya terlihat masih biasa saja dengan jawaban Papa nya. “Jika Mama mu lemah.” Tambahnya dengan sedikit senyum pada Lala, yang membuatnya terlihat sedikit menyeramkan. Anto yang dari tadi memperhatikan, diam saja melihat reaksi yang terlihat biaa saja muncul dari wajah Lala yang sama seperti sebelumnya.


Lala melihat ke ara Anto “Hm… Bisa tambahkan Papa jadi Petualng baru?” Tanya Lala pada Anto sambil menunjuk ke arah Papanya. Anto diam saja dan belum menjawab. Anto tidak kagget dengan perkataan Lala, hanya saja dia merasa bingung maksud permintaan Lala.


“Apa maksudnya, aku harus membuat OrangTua ini jadi bagian Petualangku.” Anto yang tidak masih memikirkan apakah dia setuju atau tidak. “Tidak ada salahnya sih. Tapi, apa OrangTua ini mau?” Anto yang memperhatikan ke arah Papa Lala. “Mustahil.” Jawab Anto denga biasa saja. “Ini lebih baik.” Sambil melihat ke arah Lala yang sedikit kosong matanya saat Anto menjawabnya dengan  biasa saja.


“Kenapa?” Tanya Lala yang masih butuh penjelasan. Anto melihat ke arah Lala yang masih terlihat sama seperti sebelumnya. Anto yang menyadari maksud Lala, hanya diam saja mendengarkan singkat Lala. Anto cukup lama diam dan tidak menjawab Lala. "Ada apa?" Tanya Lala lagi pada Anto karena Anto terlalu lama diam.


“Bagiamana ya." Anto yag masih tidak tahu cara memulai bicara. "Gini. Aku kan orang membuat Istilah Petualang AntarBintang, jadi tidak bisa membuat keputusan secara langusng. Mereka yang ingin jadi Petulang AntarBintang harus melaui ujian yanh telah ku buat. Makanya ku bilang mustahil.” Anto menjelaskan dengan biasa saja hingga membuat Lala paham dengan maksudnya. Lala tida bisa berkata apa apa lagi dan hanya melihat ke arah Anto dengan masih kurang jelas. “Satu hal lagi. Hanya calon BIDADARI yang ku temukan secara pribadi yang bisa langusung jadi BIDADARI meski tanpa ujian.” Anto dengan santainya menmabahkan penjelasannya.


Setelah itu, Anto tidak bicara lebih jauh lagi dengan apa yang telah di buatnya. “Begitu ya.” Lala yang sudah paham maksud dari Anto. “Kalau gitu apa kami sudah dalam daptar BIDADARI mu?” Tanya Lala pada Anto yang melihat dengannya dengan penuh pengaharapan yang begitu jelas.


“Ya, kalian yang sekarang merupakan orang pertama… Bukan, kalian BIDADARI pertama yang ku pilih dan juga yang akan terus menemaniku hingga mati dan hidup lagi jika ada kehiduapn selanjutnya.” Dengan santainya Anto menjawab pertanyaan Lala dengan sedikit senyum yang membuat Lala kaget dengan perkataannya. Lala tidak bisa berkata apa-apa pada saat itu. Dia hanya diam saja dan yang lainnya juga seperti baru tau apa yang di bicarakan oleh Anto. “Bagaiaman apa kalian paham?” Tanya Anto pada semua Gadisnya.


Mereka tidak langusng menjawab, malah diam saja dan tidak berkata apa-apa pada Anto yang telah berhenti bicara. “Bagaiamana cara jadi Petualang AntarBintang?” Tanya Papa Lala yang dari tadi mendengarkan dan seperti terarik dengan maksud Anto. Anto yang menyadari kalau Papa lala tertarik ia sedikit tersenyum pada Papa Lala.


"Apa Pa... Kapten tertarik jadi Petualang AntarBintang ?" Tanya Anto pada Papa Lala yang terlihat mulai tertarik dengan maksud Anto. Papa Lala mengengguk pada Anto. Anto sediki tersenyum. "Kalua gitu, bisa dengarkan cerita ini. Mungkin ini hal yang bermanfaat." Setelah itu Anto mulai menceritakan tujuan dan  cita-cita dan tujuan yang ingin di capainya. Meski dari tadi pembicaraan itu melalui sedih, takut, menyeramkan, sedikit senang, tertarik, semua pembicaran itu saling mengaitan dengan hal yang di bahas oleh Anto. Mereka yang di ruangan tanpa mereka sadari telah terjebak di lingkungan ZERO, Petualang AntarBintang dan akan menjadi sahabat dan kekasih tanpa mereka sadari. (Untuk lebih detail lagi, tunggu di Novel selanjutnya).


Waktu berlalu, pagi tiba di ruang keluarga dan tidak ada yang menydari berapa waktu yang mereka habiskan dari mendengar cerita Anto yang bahkan belum sama sekali selesai ceritanya. “Bagaiamana! Apa semuanya sudah paham kenapa aku bersikeras ingin pergi dan meninggalkan Planet ini secepat mungkin.” Anto yang sudah menceritakan semua apa yang telah di alaminya dan semua pertanyaan yang telah di ajukan semua di jawab oleh Anto yang sudah merasa lelah akibat begadang semalaman untuk bercerita tentang kehidupan pribadinya sendiri.


Mereka masih tidak bicara setelah Anto yangbselesai bicara. “Bisa cerita kah hal lain lagi?” Tanya Papa Lala yang masih belum puas dengan cerita dan pengalaman Anto yang sanat menarik dan jga sangat bagus sekali. Anto tidak langusng mejawab, dia malah diam saja sambil menunduk dan juga sudah lelah berdiri dari malam sampai pagi yang di temani para Maid nya dan juga semua BIDADARI nya berdiri semalaman tanpa ada rasa keluh dari mereka.


“Tidak ada sekarang. Selain itu, jika aku bercerita lagi, aku akan telat ke Planet itu.” Anto dengan tegasnya tanpa ada sedikitpun senyum terlihat dari bibirnya dengan terus menundukkan wajahnya. Semua orang yang tidak menydari waktu yang mereka habiskan, tidak percaya dengan pa yang di lihat mereka saat Anto yang terlihat kesal sekali dan juga tidak tau apa yang sedang di pikirkannya. “Ayolah sampai kapan kalian akan melihatku begitu. Ini sudah terlalu lama. Aku juga lelah berdiri semalaman lah” Anto yang tidak tau harus apa dengan tatapan semua orang yang masih ingin mendengar semua cerita yang lebih menarik dari nya. Anto hanya bisa mengeluh dalam hati karena tidak ada respon dan juga dia menydari kalau dirinya bisa membuat orang bisa betah dengan cerita yang di ceritakan pada semua orang dan ia baru menydarinya setelah bercerita seapnjang malam.


“Sudah, sudah. Pergilah.” Kata Mama nya sambil tersenyum pada Anto secara tiba-tiba dan tulus memberikan izin pada Anto. Anto yang mendengar suara itu langung melihat ke arah Mama nya.


“Mama.” Ucap Anto dengan suara kecil dan juga melihat ke arah Mama nya. “Kenapa Mama memberi ku izin?” Tanya Anto meski tau Mama nya dengan tulus mengucapkannya.


“karena Anak Mama yang minta dan itu bukan sesuatu yang Mama harus khwatirkan. Meski masih sedikit keberatan dengan Anak Mama yang sudah sedikit dewasa dengan di dampingin oleh anak-anak Gadis yang tumbuh dewasa dan juga pengertian." Mama nya sedikit diam sambil melihat ke arah Anto. "Apa yang ku katakan sih. Pokoknya Mama memberi izin pada kalian untk pergi dan juga, lain kali bawa Mama mu ini ke Planet kampung halamanmu.” Kata Mama nya dengan senyum dan juga terlihat sedikit bagaia dengan di iringi sedih yang terlihat jelas di wajahnya. Anto senyum sedikit pada Mama nya yang telah memberinya izin.


“Sebenarnya Mama bisa ikut sekarang jika mau. Tadi aku mau ajak Mama sih, tapi sepertinya Mama tidak tertarik buat ikut.” Anto yang membuat wajah ekpresi kecewa di wajahnya setelah mengatakan itu pada Mama nya. Mama nya yang tadi sedkiit senang kini terlihat sedih dan sedikit kaget dengan balasan perkataan anaknya yang tidak di sangka-sangka olehnya sendiri. “Baiklah, aku akan pergi ke Planet Icarus dengan yang lainnya dan Mama bisa tinggal mengurus apa yang penting buat Mama di sini.” Dengan santainya Anto masih dengan terus pura-pura merasa kecewa dengan perkataan Mama nya yang sebelumnya. “Untung saja Mama tidak minta di ajak. Nanti bakal nambah susah.” Anto yang merasa lega sekali saat Mama nya tidak meminta ikut padanya dan merasa senang dalam hati.


“…!” Marya yang ada di belakang Mama nya, yang melihat Anto berbohong dengan sangat jelas sekali, dan di sadari oleh semua Gadisnya dan tidak di sadari oleh ketiga OrangTua nya. merasa kasihan pada Mama nya yang telah di bohongi oleh Anto. “Hah!!” Marya yang sedikit kaget dengan reaksi Mama nya yang tidak terduga saat kaget dengan perkataan Anto yang akan mengejaknya ke Planet lain. Mama nya menjadi kaku sambil sedikit senyum pada Anto dan tidak tau harus berkata apa-apa dengan rasa kecewa yang telah di terimanya sendiri. “Maaf Ma, aku tidak tau kalau Mama ternyata ingin ikut.” Guman Marya dengan sangat kecil sekali yang merasa kasihan sama Mama nya yang terlihat kaku dan juga sedih yang bisa di lihat oleh banyak orang dan di sadari mereka dan hanya Anto saja yang tidak peka dengan reaksi Mama nya sendiri.


Next Chapter