
Setelah beberapa lama Anto terhenti mengisi air pada bayangan itu. "Aku ini bukan penyiksa. Ini bukan tindakan yang tepat melakukan hal ini!" Anto yang hampir lupa kalau itu hanya untuk iseng saja. Anto pun berhenti sambil melihat ke bayangan itu. "Sia-sia saja jika ku isi lagi dan lubang ini hilang. Sebaiknya aku istirahat saja lah!" Anto mengatakan itu denga jelas lalu, masuk ke kamar mandi menaruh ember, setelah itu Anto masuk ke gudang dan menaruh kembali tombak yang di pakainya tadi.
Anto yang sudah selesai meninggalkan bayangan itu dengan pelan dan suasana senang. Anto jalan ke ruang keluarga, namum tidak di ikuti oleh bayangan itu. Anto jadi merasa lega karena tidak terlalu berlebihan, meski dia tida sadar kalau kelakuan itu terlalu sangat berlebihan. Saat sampai di ruang keluarga, Anto teringat dengan kertas yang di tinggalkan oleh kelima tamunya yang menyuruhnya untuk menulis email mereka. Anto keluar dari ruang keuarga lalu jalan di ruang tamu. Sesampainya di ruang tamu Anto langsung melihat ke meja dan menemukan kertas itu di sana. "Aku harus segera membuat Aplikasi kotraktor dulu. Seberntar lagi juga pergi!" Anto yang mengingatnya dengan jelas tujuannya.
"Status!" Anto kemudian membuka Statusnya lalu melihat ke status pribadinya lalu membua folder aplikasi di sana. Anto melihat ke aplikasi akselarasi. "Akselarasi aplikasi uji coba yang mirip seperti Skil pelambat waktu. Tapi seperti sudah saatnya mengembangkannya secara manual." Anto membuat wajahnya jadi serius. "Aku tidak tega membuat apa pun termasuk aplikasi kalau ku tinggal begitu saja. Rasanya tidak enak saja membuat sesuatu yang baru kalau ku tinggal yang lama." Anto yang masih tidak tahu kalau itu adalah sifat bawaan yang tidak akan pernah berubah samapi kapan pun di dunia mana pun kecuali terpaksa. Anto tidak lanjut memikirkan itu dan mulai lagi fokus ke tujuan awalnya
Anto duduk di sopa ruang tamunya, lalu menyimpan kertas email di invetory miliknya. Setelah Anto mulai memfokuskan diri masuk ke dalam Inti Jiwanya untuk memulai pengembangannya. Anto tidak butuh waktu lama untuk Anto masuk ke dalam inti jiwa setelah bisa sejak pertama kali masuk. Saat Anto di dalam inti jiwanya Anto mulai melalakukan coding tanpa mengetik untuk mengembangkan aplikasi akselarasinya. Anto menambhkan banyak fitur baru pada aplikasinya untuk mencapai tujuan yang di inginkan dari aplikasi itu.
***
Setelah menghabiskan waktu dua jam lebih, Anto selesai mengembangkan fungsi baru dari aplikasinya. Bukan itu saaj yang di kembangkanya, Anto juga mengembanglan sedikit System yang di buatnya. Setelah selesai mengembangkan apa yang di inginkannya, Anto keluar dari inti jiwanya dengan tenang. Saat sudah di luar Anto menarik napasnya dalam-dalam. “Status!” Anto melihat menu pada System pribadinya yang masih seperti biasa dan tidak ada perubahan. Anto kemudian membuka invetorynya. Anto melihat sana sini melihat apa Gadis yang mengawasinya itu ada di sekitarnya. Anto mnutup matanya lalu menyebarkan Mana di seluruh ruang tamu. Setelah beberapa saat, Anto tahu di Mana Gadis itu.
Anto tahu kalau Gadis itu ada di bayangannya sedang bersembunyi. Anto tetap dengan ekspresi menutup matanya lalu berpura-pura terhempas ke sopa. Anto kemudian langsung bangun lagi denga cepat seolah-olah supaya di lihat seperti tidur duduk. "Sepertinya aku ngantuk!" Anto kemudian meregangkan badannya lalu melihat sana sini. Anto kemudian berbaring dengan pelan. Anto menjaga matanya terbuka dengan tetap melihat ke depannya. "Status!"
Setelah itu Anto membuka lagi invetorunya dengan posisi tidur di sopa. Anto melihat invetory nya berisi Hp dan kertas itu saja. Anto kemudian memilih item kertas, lalu menu pilihan muncul antara keluarkan dan pakai stelah memilih item. Anto langsung memilih pakaia tanpa pikir panjagn lagi. Setelah memilih pakai, kertas tadi melebur hilang entah ke mana. System pribadi Anto mulai membuka sendiri ke bagian email dan juga langsung mengupload sebuah file yang beukuran 10 kb pada kelima email yang terulis pada kertas tadi itu. Anto dengan tenang menunggu dan tidak melakukan apa pun. Setelah terupload dan siap di kirim Anto merasa senang. "Aplikasi Iblis. Lumayan juga. Untung saja aku mengaturnya untuk hal seperti ini!" Anto yang merasa ide menambahkan sedikit fitur pada systemnya merupakan hal yang tepat. Anto ternyum senang mengingat saat membuat coding system tambahan pada systemnya sendiri. Anto kemudian langsung mengirim email itu yang telah selesai.
Saat sudah terkirim systemnya menutup sendiri, lalu Anto bangun dari berbaringnya, lalu meregangkan tubuhnya sebentar. "Sekarang tinggal keputusan mereka saja yang perlu ku tunggu." Anto yang diam tanpa ekpresi setelah meregangkan tubuhnya. Anto melihat langit-langit atap rumahnya yang masih menyala lampunya. "Akan aneh anak umur lima tahun pergi ke luar angkasai." Anto yang merasa senang secara tiba-tiba sambil tersenyum. Tentu saja Anto sampai lupa kalau dirinya sedang di awasi oleh Gadis itu meski sudah mengetahuinya. Namun raut wajah Anto seketika berubah jadi lesu dan terlihat sedih setelah mengingat tidak boleh terlalu senang. "Semoga saja dia tidak berpikiran aneh tentangku!" Anto yang berharap tidak pernah melakukan kecrobohan seperti itu lagi. Anto melihat lagi lurus lagi. Saat ini Anto memikirkan bagaiman cara supaya bisa keluar angksa tanpa di ketahui oleh Gadis itu. Anto terus memikirkanya dengan serius.
Anto mencoba cari tahu dengan cara mengingat ke komik dan novel yang pernah di bacanya, mencari ide yang tidak terduga sama sekali, dan itu ternyata cukup berguna sekali. Anto merasa senang dan tetap menjaga ekspresinya supaya gadis itu tidak ciriga padanya. "Status!" dua layar di depannya muncul dan Anto melihat pada keduanya. Anto menghilangkan Status Player lalu melihat ke Status pribadinya. Anto kemudian menarik rambutnya sehelai dengan menggunakan pengendaliannya lalu menaruhnya di depan layar kosong. Setelah rambutnya tertelan system dan menghilang layar Anto berubah dan menampilkan golongan darah ukuran dan lain-lain yang berkaitan dengan kondisinya saat ini.
"Buat cloning!" Setelah itu layar Anto menutup dan Anto diam tetap seperti semula. "Cloning ini akan menggantikan aku hidup di Dunia ini, meski hanya sebentar saja." Anto yang merasa lega dan juga merasa persiapannya sudah siap. “Aku lapar.” Ucapnya sambil memprtahankan ekpresinya. Anto kemudian berdiri lalu langsung jalan. Bayangan mengikuti dari belakang dan Anto diam saja dengan ekpresi yang sama. "Sepertinya masak pun akan di awasi, semoga aku bisa kabur tepat waktu." Anto terus jalan dengan ekpresi yang sama sampai di ruang makan. Saat sampai di ruang makan Anto langsung jalan ke dapur.
Bayangan itu juga ikut Anto masuk ke dapur. Anto kemudian jalan ke kulkas dan mengambil satu daging mentah yang terkecil lalu menaruhnya di lantai. Anto melihat ke kursi di dekatnya yang sama tinggi dengan kursi di ruang makan, tapi lebih lebar sedikit. kursi itu di gunakan oleh ibunya untuk mengambil bahan masakan di lemari yang terlalu tinggi. Anto lalu menarik kursi itu kemudian meposisikan kursi di dekat daging itu, Setelah Anto ambil daging yang di amblinya lalu naik ke kursi. Setelah itu Anto taruh dagingnya di meja apur kemudian mengambil pisau di dekat daging. Setelahnya Anto mulai memotong daging dengan kasar sekali. 'BRAK!' daging itu malah mengeluarkan suara saja dan tidak terpotong. "Ternyata tidak ada tenaga sama sekali!" Anto yang tidak bisa memotong daging itu hanya bisa memikirkan cara lain. Anto jadi teringat saat dirinya hanya menggunakan sayur sebagai lauk nasi goreng dan juga ayah goreng hanya menggunakan garam dna tidak ada yang lain saat bersama Roger dan lainnya.
Anto terdiam karena tidak menamukan cara apa pun untuk memoyongnya. Anto pun turun dari kursinya dengan membawa daging besar, setelahnya Anto mendorong kursinya ke dekat kompor. Anto melihat sana sini mencari sesuatu. Anto naik ke atas kompor dengan membawa daging itu. Saat itu Anto melihat Gadis dalam bayangan itu keluar dengan sangat cepat dari bayangannya. Anto tidak peduli dengan hal itu dengan terus lanjut mengambil sesuatu. Saat sampai di tujuannya, Anto mengambil wajan bersih, kemudian langsung menaruh daging itu tanpa di potong di wajannya. Saat di lhat terlalu besar di wajannya. "Aku tahu memasak itu sulit, tapi memotong daging ini saja sangat sulit sekali. Jika ku ingat-ingat kemari saja butuh lama buat bikin nasi goreng dan ayam goreng itu! Jika ku potong daging ini akan butuh lama, mending masak begini saja." Anto yang mengingat lagi saat dirinya memasak kemarin.
Anto yang berpikir seperti tu langsung mengangkatkan wajannya lalu menaruhnya di atas kompor, lalu Anto balik lagi mengambil sendok buat mengaduknya. Anto juga mengambil minyak gorengnya di dekat kompor lalu menuangkannya ke daging yang sudah di wajan. Setelah membuangkan banyak minyak Anto kemudian lompat dari kompor ke lantai. Setelah itu Anto naik ke kursi kemudian tersenyum dan siap akan menyalakan api. 'DING! DING...!' beberapa kali bel rumahnya di bunyikan hingga Anto tidak jadi menyalakan api kompornya.
Anto pun turun dari kursinya lalu jalan keluar dari dapur. Anto tidak mencari tahu siapa yang ke rumahnya, yang jelas dia merasa heran ada yang datang jam segini. Saat sampai depan pintu rumah, Anto melihat kuci pintu rumahnya sudah terbuka. Anto pun perlahan jalan ke sana lalu melihat dari lubang kunci, mlihat siapa yang ada di depan rumahnya. Anto jadi heran saat melihat Gadis tadi yang jadi bayangan kini berada di luar dengan pakaian seragam dan bukannya pakaian hitam tadi. "Siapa?" tanya Anto dari dalam rumahnya dengan pura-pura.
"Apa kamu Anto?" tanya Gadis itu langsung pada Anto. Anto terdiam pura-pura tidak tahu. Cukup lama Anto supaya Gadis itu tidak curiga kalau dirinya sudah tahu.
"Bukan." jawab Anto serius dan juga ingin tahu kenapa Gadis baru menunjukkan dirinya sekarang. Gadis itu tidak langsung merespon malah diam saja. "Kamu mungkin salah rumah. Ini masih pagi buta, siapa kamu?" tanya Balik Anto meski sudah tahu siapa dia.
Gadis itu diam saja tidak menjawab dan seperti sedang memikirkan sesuatu. Anto yang mengintip dari lubang kunci sedikit menjauh saat Gadis hendak akan melihat dari lubang kuci rumah. Anto segera berdiri menghadap pintu dengan tenang. "Aku di kirim oleh ayamu." Jawab gadis itu setelah beberapa saat. Anto terdiam melihat ke pintu dengan pura-pura sedikit sedih.
"Sebentar." timbal Anto lalu mendekat ke pintu rumahnya. Anto kemudian membuka pintu dengan pelan dan melihat gadis itu berpakaian seragam. Anto terus bersikap lesu dan sedikit sedih. "Apa kamu benar di suruh Ayahku?" tanya Anto dengan sedikit sedih dan menangkan diri, meski semua itu hanya ekting saja.
"Ya. Aku di minta oleh Ayahmu menjagamu mulai sekarang. Maaf baru datang ya." Dengan senyum pada Anto mengatakannya. Anto hanya mengangguk kecil pada Gadis itu. "Oh... Namaku Hilmi, panggil saja Kakak." Dengan ramah pada sambil senyum. Anto membalas senyum singkat meski hanya ekting saja.
Lalu mengangguk sedikit "Mari Kak masuk." Ajak Anto dengan mengubah ekspresi jadi sedikit senang. Hilmi itu mengangguk lalu masuk. Dia melepas sepatunya lalu akan menaruh di rak sepatu. "Maaf kak, aku tinggal ya sebentar. Aku mau masak." Jalan Anto langsung ke dapur dengan tenang sambil meninggalkan Hilmi sendiri.
"Tunggu!" Anto langsung di hentikan oleh Hilmi itu yang sedang melepas sepatunya. Anto terbalik melihat dan tidak bertanya lagi. Hilmi diam saja setelah memanggil Anto. Keduanya cukup lama diam hingga Hilmi belum selesai melepas sepatunya. "Apa kamu bisa masak?" Tanya Hilmi dengan ragu pada Anto. Anto bersikap tenang dan biasa saja.
"Tunggu!" Hilmi menghentikan untuk kedua kalinya. Anto hanya bisa berbalik melihat dengan ekspresi heran pada Hilmi yang memanggilnya. "Kamu mau masak apa?" tanya Hilmi yang sudah melepas sepatunya.
"Aku mau masak daging." jawab singkat Anto setelah itu diam saja. "Ano... Kak! Itu... Kenapa bisa rambut Kakak basah?" tanya Anto lagi pada Hilmi yang berada di depannya. Hilmi malah langsung meliaht tajam ke Anto. Anto "Maaf Kak kalau tidak sopan!" Anto langsung menundukkan kepalanya dengan cepat karena kaget. Tapi Anto yang sedang nunduk sedang banyak senyum sendiri dan sedang sangat menikmati apa yang sedang terjadi.
meski Anto tahu kalau Hilmi sedang panik karena dirinya takuut, dia tetap pura-pura dan membiarkan Hilmi kesusahan. "Jangan pikirkan rambut Kakak yang basah. Lebih baik Biar Kakak saja yang masak." Timbal Hilmi dengan cepat untuk mengalihkan pembicaraan. Anto langsung melihat ke Hilmi dengan pura-pura takut.
"Tidak mau. Aku mau masak." Timbal Anto dengan memainkan jarinya. "Aku juga bisa masak." timbal Anto dengan ngotot sekali dan berhenti memainkan jari. Hilmi terdiam saat melihat wajah serius dari Anto yang tiba-tiba berubah.
Tapi Hilmi malag melihat tajam lagi pada Anto unyuk ekdua kalinya."Tidak boleh, anak kecil itu tidak boleh dekat dengan api!" Hilmi malah lebih ngotot lagi pada Anto yang sangat serius wajahnya. Anto tetap memberanikan diri merliaht meski ketakutannya itu hanya ekting semata.
"Kenapa tidak boleh? Kemarin saja aku sendiri yang masak." Timbal Anto dengan tenang dengan ekspresi mengingatnya. Hilmi terdiam sebentar setelah mendengar itu dan berhenti menatap Anto dengan tajam.
"A, apa yang kamu masak?" tanya Hilmi pada Anto yang ingin tahu.
"Itu... Nasi goreng sama ayam goreng." Jawab Anto dengan santai sekali. Hilmi jadi terdiam lagi melihat ekspresi Anto. Hilmi meliaht cukup lama ke Anto yang sedang memberanikan diri terlihat di depan matanya, meski semua itu telah di rencanakan oleh Anto.
"Janga pernah memasak lagi!" Mata Hilmi jadi menyeramkan melihat ke Anto. Anto jadi merinding meski itu hanya tatapan saja dan membuatnya mengangguk cepat. Setelah itu Hilmi melihat ke Anto denagn tersenyum. "Kalau gitu biar Kakak yang masak sekarang. Kamu tunggu saja." Dengan tersenyum meminta pada Anto. Anto langsung mengangguk. Anto diam di tempatnya dengan mulaimenundukkan kepalanya. "Di mana dapurnya?" Tanya Hilmi pada Anto.
Anto langsung menunjuk ke dalam rumahnya. Anto kemudian melihat ke Hilmi lagi dengan memberanikan diri. "Di dalam sana." Anto kemudian memimpin jalan pelan duluan meninggalkan Hilmi. Anto tahu kalau Hilmi sedang mencari cata buat memenangkan dirinya. Anto hanya tersenyum saja dengan tenang tanpa Hilmi ketahui sama sekali kalau semua kelakukannya itu hanya sebatas ekting saja. Saat sampai di ruang makan Anto langsung mengajak masuk Hilmi ke bagian dapur. "Di sini Kak." Dengan tetap canggung sedikit lalu melihat ke Hilmi dengan cara mengintip.
Hilmi langsung jalan melihat ke dapur, dia terus melihat-lihat di sana lalu berbalik melihat ke Anto. "Ini kamu yang buat?" Tanya Hilmi pada Anto sambil menunjuk ke daging yang banyak minyaknya. Anto mengangguk sambil melihat saja apa yang di lakukan Hilmi. "Hah... biar Kakak yang masak, kamu tunggu saja di ruang makan." Dengan ngeluh menyuruh Anto. Anto hanya mengangguk saja singkat sebagai jawaban lalu meninggalkan Hilmi di dapur.
Tapi Anto senang dengan hal itu. Saat sedang jalan keluar notifikasi muncul dari status pribadinya. 'Cloning Siap' Anto tersenyum sendiri dengan karena Hilmi yang tidak tahu apa-apa tentang dirinya. Anto yang sudah sampai di ruang makan langsung naik ke kursinya lalu melihat sana sini dengan tenang. "Sebaiknya nanti ku lihat, sekarang ini lebih baik buat Skil buat jaga-jaga dan beberapa alat tempur." Ucap Anto dengan tenang, setelah itu Anto bersiap mencari data menganai pembuatan alat tempur dan Skil. Anto kemudian menutup matanya mencari data yang sudah tersimpan dalam dirinya. Anto mendapat Skil alkimia dari komik yang di bacanya yang bisa membuat segala bentuk benda atau obat.
Di sisi lain Anto juga mendapat teory datangnya Skil itu, yang hanya bisa di buat melalui gerakan atau di pelajari sendiri. Anto yang sudah paham dengan teori Skil dan Alkimia membuka matanya. Anto mengangkat tangannya lalu berekspresi fokus. "Kamera Mini!" Mana berkumpul didepannya lalu mulai membentuk dan memadat. Tidak butuh waktu lama untuk Mana itu terbantuk jadi kamera kecil seperti beras. "Connet System!" Layar status pribadi Anto muncul dengan banyak sekali menampilkan hasil tangkapan kamera yang terlihat seperti beras itu. "Sudah ku duga, Skil Study adalah Skil Cheat!" Anto tersenyum tidal menduga sama sekali lagi meski sudah tahu itu. Anto kemudian menenangkan diri dengan menarik napasnya beberapa kali.
Setelah tenang Anto melihat ke layar yang menampikan apa yang di lihatnya. "Awasi!" semua kamera tadi langsung terbang ke tujuan Anto yang di pilihnya Kmarena itu terbang ke tempat Hilmi sedang masak. Dari berbagai sudut kamera itu bersembunyi dan terus mengawasi Hilmi yang memasak. Anto dapat melihat Hilmi yang sebenanya sangat menikmati memasaknya. Anto pun dengan tenang melihat saja dari ruang makan.
***
Setelah beberapa mengawasi, Himi selesai memasak kini sedang membawa nya ke meja makan. Anto di sana tetap pura-pura tidak melakukan apa pun. Saat Hilmi tiba, dia langsung melihat ke arah Anto dengan tatapan kalau menduga Anto cuma duduk saja di sana. "Apa kamu sudah lapar?" tanya Hilmi pada Anto dengan diam di tempatnya. Anto tersenyum pada Hilmi dengan mengubah semua ekspresi sedihnya.
"Ya kak, aku sangat lapar karena Kakak terlalu lama masak." Jawab Anto dengan tenang dan senyum. Hilmi malah heran dengan Anto yan tiba-tiba berubah dalam waktu singkat. Hilmi pun jalan ke Anto tanpa bertanya lagi. Makanan langsung di taruhkan di depan Anto yang sedang menunggu. "Apa aku boleh memakannya?" tanya Anto pada Hilmi dengan berani. Hilmi hanya mengangguk saja sebgai jawaban. Anto kemudian mencicipi sedikit daging yang matang itu. Anto terdiam sebentar setelah mencicipinya.
Anto kemudian turun dari kursinya lalu melihat ke Hilmi sambil mendongak. "Sudah ku putuskan. Kak Hilmi akan jadi bagian dari Haremaku." Anto berkata dengan serius pada Hilmi di depannya yang sedang diam meliahtnya. Tapi Hilmi seketika membeku mendengar kalimat itu dari Anto. "Bagaiman kak? Apa Kakak mau jadi Gadis Haremaku?" Tanya Anto yang sangat yakin sekali dengan permintaannya itu.
Hilmi terdiam melihat ke Anto yang sedang memandangi dengan sangat ingin sekali. "Kak Hilmi!" Panggil Anto karena diam saja tidak merespon. Anto mencoba melambaikan tangan di depan matanya, namun malah matanya sama sekali tidak mengikuti. Anto kemudian memegang tangan Hilmi lalu menariknya beberapa kali hingga Hlimi melihat padanya. "Gimana kak, apa Kak Hilmi mau jadi Gadis Haremku?" tanya Anto untuk kedua kalinya dengan sangat berani.
"Eto... Apa aku Kakak tidak salah dengar?" tanya Hilmi pada Anto dengan sangat tidak yakin dengan yang di katakan Anto padanya. Anto kemudian meminta Hilmi jongkok sebentar dengan kode membisikkan. Hilmi pun jongkok di dekat Anto.
Anto kemudian mendekatkan diri pada wajah Hilmi dengan berani dan tanpa gugup sama sekali. "Aku ingin Kak Hilmi jadi bagian dari Haremku, apa Kak Hilmi maiu?" Anto mengatakanya dengan sangat serius dan jujur sekali. Hilmi malah diam saja dan tidak merespon sama sekali. "Tenang saja Kak, meski aku masih kecil begini, aku tahu cara buat anak dengan baik." Anto menambahkanya dengan wajah serius sekali dan percaya diri sekali. Hlmi diam saja dan belum merespon perkataan Anto.