
Run hanya diam mendengar penjelasn itu sambil terus jalan bersamanya. “Jangan khawatir, kamu sudah melihat sendiri betapa kuatnya diriku kan?” Run melihat ke Anto yang berkata seperti itu dan hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Anto melirik ke Run yang masih diam dengan menundukka kepalanya. “Aku ingin Tanya, apa kamu mau jadi Gadis Haremku?” Tanya Anto dengan malu sambil berhenti di dekat pintu gerbang rumahnya. Run langsung malu saat mendengar itu dan diam tidak menjawab lalu mengangguk kecil pada Anto.
Anto langsung jadi senang dengan itu dan tersenyum segar dan lebar sekali hingga membuatnya tidak bisa bicara sama sekali karena senang. Anto dan Run lanjut keluar dari gerbang rumah lalu, mereka berdua bejalan di tepi jalan dengan berpegangan tangan hingga di perhatikan oleh tetangga mereka sedang beraktivtias sore hari. Sepanjang jalan mereka berdua tidak ada yang bicara sama sekali dan banyak diam senang.
***
Setelah cukup lama diam saja dan tidak ada yang mulai pembicaraan, Run merogoh sakunya dengan tangang satunya. “Kak, ini!” Run menyerahkan kartu Special itu pada Anto dengan senang dan juga menundukkan kepalanya. Anto melihat lalu tersenyum sambil mengambil kartu itu yang baru di berikannya.
Anto memasukkan karu itu ke dalam penyimpanannya suapaya mudah di cari dan tidak hilang. “Jalan-jalan seperti ini mengingatkanku saat pertama kali kamu datang ke rumah.” Ajak bicara Anto dengan santai setelah menyimpan kartu Special itu. “Waktu itu tatapanmu sangat kosong sekali. Setelah itu kita jalan-jalan bersama Hilmi.” Dengan senyum Anto mengajak Run bicara. Run tersenyum saat Anto mengajak bicara dengan santai.
“Ya. Aku sangat senang bersamamu, aku tidak ingin kita berpisah.” Timbal Run dengan jelas sekali pada Anto. Anto bukannya langsung menjawab malah melihat ke Run yang berkata seperti itu di tempat umum yang tidak di sadarinya sama sekali kalau sudah berada di halte bis terbang yang masih bebrapa meter. Semua orang melihat ke Run dan Anto yang jadi pusat perhatian akibat Run berkata seperti itu. Run jadi malu sekali dan membuatnya menundkkan kepalanya dan tidak berani melihay sekitar saat menyedari kalau mereka berdua sudah ada di halte bus.
“Pacarmu sungguh berani Nak.” Puji seorang Ibu yang sedang di dekatnya. Anto langsung melihat ke orang itu yang terlihat senang dengan perkataan Run.
“Maaf Bu, dia bukan pacarku. Tapi kekasihku.” Timbal Anto dengan serius dan percaya diri sekali. Semua orang tertegun saat Anto mengatakan itu dengan sangat pecaya diri sekali. “Eh!” Anto tiba-tiba di tarik oleh Run dari halte bis yang sedang ramai oleh penumpang yang akan pergi ke suatu tempat. Run menjauh dari keramian dengan sangat cepat. “Jangan malu lah. Aku cuma mengatakan yang sebenarnya saja kan.” Anto menjelaskan dengan santai pada Run yang masih berlari kencang hingga jauh dari halte bis.
Run sama sekali tidak merespon malah terus lari jauh sekali dari halte bis. Anto diam tidak bicara sama sekali saat Run terus berlari tanpa henti. “Apa dia sungguh malu?” Tanya Anto pada dirinya sendiri saat melihat Run yang tidak meresponnya sama sekali. “Aku ingin tahu kemana dia membawaku berlarii seperti ini!” Anto terus diam dan tidak berkata apa-apa sejak berlari dari halte bis terbang. "Ayah, Ibu, semoha kalian bisa melihat anak kalian ini yang sudah punya Harem sendiri." Anto yang tidak sabar menunjukkan para BIDADARI nya pada Ayah dan Ibunya sambil terus berlari ke mana pun Run membawanya
***
Sudah 30 menit berlari, Anto masih di tarik berlari sudah jauh sekali dari rumah dan Run sama sekali tidak lelah berlari, namun secara perlahan Run mulai perlahan berlari lalu berhenti. “Kenapa kamu berhenti?” Tanya Anto dengan santainya dan juga dengan suasana hati senang. Run langsung melihat berbalik ke arahnya dengan wajah sangat malu sekali padanya.
“Ja, jangan lakukan itu di depan umum!” Timbal Run dengan malu sekali. Anto tetap tersenyum dan senang dengan hal itu.
“Aku sudah cukup senang hari ini. Sekarang mari kita pergi, ini sudah sore.” Ajak Anto dengan santai sambil melihat ke Run. Run mengangguk sambil malu dan belum bisa bicara sama sekali. “Sayangnya kita sudah terlalu jauh dari halte bis, aku juga tidak membawa ponselku.” Anto jadi berpikir bagaimana caranya ke alamat rumah sakit itu.
“A, aku bisa terbang, kita bisa ke sana dengan cepat.” Bicara Run dengan malu dan menyarankan. Anto hanya tersenyum dengan memgang erat tangan Run yang tidak di lepasnya sama sekali.
“Jangan terbang. Nanti kita tidak bisa pegangan tangan seperti ini.” Respon Anto dengan santai dan juga sangat tidak mau. Dan di saat yang bersamaan Anto teringat dengan cara lain. “Mungkin bisa!” Anto tersenyum sambil memuncukan layar Status pribadinya yang kini telah menjadi banyak hal. Layar Status pribadinya kini sudah jadi ponsel pintar dan bisa terhbungung dengan internet secara bebas di mana pun, asalkan Dunia itu punya internet juga. “Run, apa ada aplikasi memesan taxi online atau sejenisnya?” Tanya Anto yang menampikan layar Status Pribadinya.
Run melihat ke layar Status yang berbeda sekali dengan yang di milikinya. “Ini bukannya Status Game, kenapa ini beda?” Tanya Run yang baru lihat layar Status itu dan juga jadi penasaran dam juga kaget sekali.
“Ini ku buat waktu kecil. Dulu tidak lengkap seperti ini. Bisa di bilang ini versi lengkap dari System para Player yang sekarang. Coba lihat ini!” Anto menampilkan layar Status Playernya yang sudah melebihi batas dan tidak terukur levelnya {STR --, AGI --, VIT --, INT --, DEX --, LUK -- dan Skil Uknown} bahkan Skilnya pun jadi tidak bisa di baca sama sekali.
Run sangat kaget melihat kedaa Layar Status itu dan lagi kini juga malah semakin tambah kaget dengan kekuatan Anto yang sesungguhnya selama ini. “Jangan kaget. Semua ini ku perorre dari hasil kerja kerasku memecahkan batas manusiaku dan juga karena keinginanku.” Anto menjelaskan dengan biasa saja seolah-oleh itu bukan hal besar yang dapat di ukur. Run malah terdiam dan tidak berkata apa-apa. “Jika kamu mau, aku bisa ajarkan beberapa Skil seperti dulu, tapi kali ini dengan sangat cepat sekali. Misalnya!” Anto langsung menyentuh kening Run dengan tangan satunya kemudian mentranfer gambaran Skil yang di ajarkan pada Run dengan cepat. “Coba gunakan itu.” Senyun Anto menyuruh Run yang masih dalam kekagetannya yang masih berlanjut.
Run melihat ke Anto yang berkata seperti itu. Kemudian melepas tangannya dari Anto. “Creation!” Run langsung mengaktifkannya tanpa ragu, namun yang terbentuk malah sebuah cayaha putih di tengannya kemudia keluar sebuah tanah dari cahaya itu, lalu mainan, foto dan hal-hal tidak berguna laiannya yang membuat Anto tidak mengerti kenapa dia mengeluarkan benda-benda seperti itu. Run yang tidak focus sama sekali tidak bisa mebayangkan apa yang ingin di wujudkannya. Karena masih kaget dan juga dalam kondisi yang masih belum menerima sepenuhnya kekuatan Anto yang sudah melebihi standar mahluk hidup.
“Sepertinya aku berlebihan memberi tahunya!” Anto yang sudah tahu kalau Run masih sulit mencerna dan menerima hal yang tidak masuk akal itu, diam saja melihat dan tidak melakukan apa pun. Namun karena Run terlalu lama seperti itu, Anto Kemudian memgang tangannya lagi dan membuat Rrun jadi menghentikan pengaktifan Skilnya, lalu Anto mengalirkan kekuatannya pada Run yang memuatnya tenang dalam beberapa saat. “Jangan terlalu pikirkan itu. Aku juga tidak peduli dengan kekuatanku itu. Sudah ku katakan padamu kan, kalau aku cuma ingin banyak Gadis di sisiku. Kekuatanku itu hanya untuk melindungi kalian saja.” Anto menegaskan dan mengingatkan Run yang sudah tahu dari menonton perjalanannya di Dunia lain tujuan sebenarnya dari petualangannya itu.
“Ta, tapi… Apa itu masuk akal karena cuma hal itu!” Timbal Run yang tenang dan bisa berpikir jernih.
“Tidak ada yang tidak mungkin di Dunia ini, selama ada yang bisa memahami arah kerjanya suatu masalah. Dunia lain juga memiliki masalahnya sendiri seperti yang kamu lihat dalam petualanganku sebelumnya. Sebentar lagi, aku akan berpetualang di Bumi ini juga, untuk membantu orang yang bisa ku raih denga tanganku ini.” Anto bicara cukup panjang pada Run. “Perkataanku tadi mungkin tidak dapat di pahami karena aku mejawabnya di bagian tengah saja. Sudah cukup saat ini, Nanti kita bahas lagi, sekarang bisa kamu pasangkan aplikasi seperti yang ku minta! Aku hanya ingin melihat kedua OrangTua ku dulu dan masih tidak ingin membahas yang lain.” Anto dengan santainya membuat semuanya jadi berubah. Run tidak bisa bertanya dan memperjelas perkataan Anto tadi yang sepertinya sangat melenceng dari jawaban yang di inginkan. Tapi, Run hanya mengangguk dan akan menunggu penjelasan dari Anto lain kali.