
-Aku akan off- Bicara NAVI dengan sangat senang lalu mematikan diri dengan cepat. Anto tidak peduli, lalu dia mulai melihat dari mana mulainya. Anto melihat ke lubang tempat dia jatuh.
“Hah… Rasanya tidak enak di lihat sama sekali.” Anto yang sangat menyesal sekali. “Meski aku baru bangun dan belum 24 jam bangun, tapi rasanya aku masih anak kecil meski aku sebesar ini.” Anto yang baru menydari itu dan juga masih tidak percaya sama sekali kalau dirinya masih meiliki mental sebesar itu. “Tapi, aku tidak ingin main main dengan kehidupanku, meski tidak main-main di Dunia ini, tapi di Duniaku aku akan pergi ke mana saja yang ku mau meski ada yang menghalangi.” Anto yang merasa senag dengan hal itu.
Setelah diam di tempatnya cukup lama, Anto mulai masuk ke lumpur padi yang kering lalu mulai memanen dengan alatnya. Dengan pelan Anto mulai memanen padinya karena untuk pertama kalinya dia jadi petani. Anto memerlukan banyak waktu untuk memanen padinya, dengan usahanya dia terus tersenyum setiap kali memotog padinya. Setelah merasa cukup lama memotong padi, Anto meliihat ke hasil potongannya. “Haha… Baru dua meter, aku menghabiskan banyak waktu…” Anto yang masih melihat banyak sekali petakan padi yang belum di panen.
Meski begitu, Anto terus memanennya sedikit demi sedikit sambil belajar pengalaman baru. Dengan usahanya dia merasa senang meski itu bukan padi miliknya. Dengan waktu yang lama, Anto memanen padi dengan pelan, lalu dengan kecepatan sedang, dan terakhir dengan sangat cepat sekali. karena sudah mulai terbiasa dan juga staminanya tidak habis habis berkaat pemulihan abnormalnya.
***
Dari pagi hingga siang, Anto barus menyelesaiakan 1 petak sawah yang cukup luas. “Aku masih bisa lanjut.” Anto melihat ke petakan selanjutnya. Tanpa melihat ke arah lain, Anto langsung pindah ke petaka selanjutnya. Di sisi lain, Sherly, Riana, Luna dan Suci datang secara bersamaan karena tidak menemukan Anto di rumah reflika sama sekali. Mereka menemukan Anto di sawah yang sedang memanen padi dengan senyum di wajahnya dan juga keringat yang terus jatuh. Mereka tidak berkata apa-apa saat melihat Anto yang ada di sana dan hanya melihatnya berpindah ke petakan sawah lain.
Mereka berempat melayang lalu mendarat di dekat gubuk itu yang masih terbuka. “Aku akan masak. Suci bantu aku bawa padi yang di panennya beberapa kait.” Minto tolong Luna dengan senang sambil melihat Anto yang yang masih memanen. Tanpa merespon, Suci jalan ke dekat padi yang di panen Anto dan mengambilnya lalu kembali ke tempa Luna dan menjauh dari Sherly dan Riana. “Kalian maklumi saja ya. Aku tidak tahu apa masalah kalian, tapi ku rasa itu bukan sesuatu yang buruk kan.” Luna yang berusaha mengakurkan mereka berempat.
Tapi seperti itu sia-sia saat melihat ketiganya tidak ada yang meresponnya sama sekali. “Jangan pikirkan kami, lebih baik kalian saja yang masak. Aku akan melihat saja dan tidak akan mengganggu.” Respon Sherly dengan tenang dan juga tahu dia harus berusaha memenangkan hati Suci yang sudah di sakitinya itu.
Luna melihat ke Suci yang di sampingnya dan tidak melihat ke Sherly dan Riana. “Sepertinya kalian melakukan hal buruk. Tapi, usahakan cepat berbaikan. Jika tidak, Anto akan sedikit kecewa hingga ke pernikahannya.” Dengan jalan sambil menarik tangan Suci mengajaknya masuk ke dalam gubuk itu. Kedua Saudari itu hanya diam saja melihat ke Luna dan Suci yang masuk ke gubuk lalu berhenti di pintu gubuk yang sudah terbuka.
Luna dan Suci meliha sana di dalam gubuk tapi mereka tidak menemukan apa pun untuk memasak. Setelah itu Luna berbalik sendiri. “Apa kalian tahu cara buat api?” Tanya Luna pada Riana dan Sherly yang ada di sana. Sherly malah melihat ke Adiknya yang lebih tahu dari dirinya.
“Aku bisa.” Jawab Riana singkat.
Di sisi lain, Luna dan Suci membersihkan padi yang di ambilnya lalu menyiapkan tempat menaruhnya. Mereka berdua membersihkan padi itu untuk membuat nasi dengan cara mereka masing-masing. “Sherly, bisa tolong ke pasar belikan sayuran yang ada di sana.” Minta tolong Luna pada Sherly sambil meberikan padanya. Shlerly tidak langsung merespon malah diam saja.
“Ba, baiklah.” Jawabnya singkat dengan sedikit ragu dan enggan melakukannya. Sherly membuat sayap lalu terbang meninggalkan mereka berdua yang sedang membersihkan padi yang aka di jadikan nasi.
“Kenapa kamu menyuruhnya belanja di Dunia yang kosong ini?” Tanya Suci pada Luna yang ada di sana menolongnya membersihkan padi.
“Aku cuma minta tolong saja kan. Tapi dia malah yang pergi dan tidak mencerna maksudku.” Timbal Luna dengan santainya dan tidak peduli sama sekali. “Lagian dia sepertinya juga ingin melakukan sesuatu. Dari pada membiarkannya di sini, lebih baik menyuruhnya mencari sesuatu yang kita butuhkan.” Luna dengan santainya menambhakn perkataannya sambil terus membersihkan padi itu.
“Tapi, bagaimana jika dia tidak menemukannya?” Tanya Suci pada Luna yang sudah selesai membersihkan padi itu.
“Entahlah. Dia sendiri yang harus memikirkan caranya keluar dari masalahnya sendiri.” Jawab Luna sambil berdiri setelah selesai membersihkan semua padinya dan hanya tinggal Suci saja yang masih belum selesai meski tinggal sedikit.
“Aku kembali.” Sapa Riana yang membawa banyak sekali kayu kering yang di dapatnya entah dari mana. “Di mana aku harus membuat apinya?” Tanya Riana pada Luna yang sudah terihat menunggu.
“Di sana. Aku akan cari air dulu di sekitar sini. Oh ya, bantu sekalian bikin alat masaknya jika perlu dan sekalian piringnya juga.” Minta tolongnya Luna sambil membuat sayapnya lalu terbang meninggalkan mereka berdua di sana.
Keduanya tidak ada yang merespon dan malah diam saja. Saat Luna sudah terbang jauh, Suci dan Riana tidak ada yang bicara sama sekali dan suasana di sana jadi sangat canggung sekali. Suci semakin memelankan dirinya untuk membersihkan padi itu dan Riana mulai menyusun kayunya untuk membuat api. Riana juga hanya diam saja dan tidak memulain obrolan karena tidak tahu harus mulai dari mana. Tapi, dia berhenti menyusun kayu yang di bawanya itu. “Suci, maaf atas semua yang pernah ku lakukan padamu.” Dengan suara tulus Riana meminta maaf pada Suci. Suci diam saja dan tidak merespon Riana sama sekali. “Aku juga minta maaf atas nama Kakakku yang sengaja melibatkanmu.” Untuk kedua kalinya Riana memberanikan diri meminta maaf pada Suci yang berhenti membersihkan padinya.
Next Chapter