
“Nek, ikut Lala ke sana!” Ajak Lala pada Nenek itu dengan sopan sambil menjulurkan tanganya.
Tanpa mnejawab Nenek itu langsung mengikuti Lala dan memgang tangan Lala. Saat Lala sampai di dekat petugas itu, Petugas itu menatap Nenek yang di bawa Anto dengan sangat tajam.
“Ada apa?” Tanya Lala pada Petuagas yang menatap nenek itu terus menerus.
“Tidak ada, mari ikut saya.” Dengan tetap bersikap proesional dan mengajak Lala menuju Kendaraan yang di sewakan.
Lala dengan senyum kecil sambil memgang tangan Nenek berjalan mengikuti petugas yang masuk ke dalam toko mengantar mereka.
“Tunggu disini.” Kata petugas saat berhenti di salah satu ruangan yang cukup besar.
Lala memgangguk sambil melihat banyak orang di dalamnya.
“Ini berada di satu toko. Sepertinya toko ini Cuma ada satu dan pintu masuknya banyak.” Lala yang melihat sekeliling begitu ramai “Meski sudah terbiasa di bumi melihat ruangan di dalam ruangan, tetap saja sungguh mengagumkan di Planet ini yang hanya mempuanyai Gurun di luarnya.” Dengan seksama memperhatikan orang yang berjalan dan sambil melihat petugas yang sedang menjelaskan tentang kendaran.
“Maaf membuat menunggu.” Petugas perempuan lain datang ke Lala dan Nenek “Saya akan membantu Anda mencari kendaraan yang Anda inginkan.” Ucap dengan formal pada Lala.
Lala mengangguk sebagai jawaban.
“Kalau begitu, Kendaran seperti apa yang Anda cari?” Tanya petugas denagn sopan.
“Seperti apa yang aku harus cari?” Lala masih memikirkannya.
Selama beberapa saat Lala terdiam saja, dengan terus berpikir.
“Aku tidak terlalu pandai soal beginian, waktu di bumi saja aku memakai apa aja yang ada di dalam garasi.” Pikir Lala yang tidak bisa menentukan kendaraanya sendiri “Ada yang rekomndasi?” Tanya lala dengan soapn dan juag tidak tau harus berbicara apa.
“Ada. Mari ikuti saya.” Ajak petugas dengan sopan pada Lala.
Petugas itu membuka sebuah portal kecil yang memuat tiga orang masuk. Petugas itu dengan hormat menyilahakn Lala dan Nenek duluan masuk ke dalam portal. Tanpa menunggu lebih lama, Lala dan Nenek mauk ke dalam portal. Saat sampai ada begitu banyak sekali kendaraan di dalamnya.
“Ini adalah rekomndasi kami.” Sambil menunjukkan sebuah kendaraan yang berbantuk bundar seperti bola besar yang di simpan dalam sebuah dimensi dan hanya bisa di sentuh jika sudah di setujui.
“Bisa kami melihat dalamnya?” Tanya Lala dengan sopan pada petugas itu.
“Tentu bisa.” Jawab Petugas itu dengan sopan dan mulai menekan tombol di dekat Kendaraan buat itu.
“Tunggu!” Suara seseorang menghentikan gerakan petugas itu yang hampir menekan tomnol di dekat kendaraan.
Lala melihat ke arah asal suara itu. Sekitar lima orang laki-laki sedang berjalan ke arahnya dengan sangat sombong sekali.
“Saya mau pakai kendaraan ini.” Dengan suara sombong pada Petugas perempuan itu.
“Sombong juga.” Pikir Lala dengan senyum dikit pada Laki-laki yang datang mendakat padanya.
“Hei, mau ikut mala mini?” Tanya Orang itu dengan nada sombong pada Lala.
“Ngapain?” Tanya Lala dengan suara lembut.
Semua laki- laki itu langsung tertegun dengan Suara Lala yang begitu merdu.
“Hm! Mata mereka sungguh jahat sekali mendang istri orang.” Lala yang sangat kesal sekali dengan pandangan dari lima orang yang melihatnya dengan ingin memekannya.
Dengan berusaha tetap senyum, Lala berusaha bersikap sopan sekali.
“Kita bersenang-senag gimana?” Tanya laki paling depan dengan sangat sombong sekali.
“Tidak.” Jawab Lala singkat sambil tersenyum.
Semua laki-laki itu menjadi tidak senang dengan Lala yang berkata begitu.
“Petugas berapa harganya?” Tanya Dengan suara sombong sekali.
“Untuk membeli kendaraan ini harganya sekitar 999 triliyiun Rp dan jika ingin menyewanya seharga 900 triliun Rp.” Petugas itu menjelaskan dengan singkat pada lelaki sombong itu.
Lelaki itu terdiam saat selesai mendengar penjelasan dari petugas. Mereka semua saling berbisik dan seperti membicarakan sesuatu.
Semua lelaki memandang rendah langsung Lala yang hendak meminjam kendaraan itu.
“Mari silahkan lewat sini untuk registrasi.” Ajak petugas itu dengan sopan pada Lala.
Lala mengikuti jalan petugas dari belakang.
“Tunggu!” Panggil lagi salah satu lelaki itu.
Lala dan petugas itu berhenti lagi.
“Kami bilang akan menyewa kendaraan ini, jangan kasi dia.” Ucap laki itu dengan sangat somong sekali pada Lala.
Petuga itu bingung harus bagaimana, kemudian melihat ke Lala dengan canggung. Lala spontan mengangguk pada Petugas itu. Petugas itu dengan sopan mengerti dengan anggukan Lala.
“Mari ikuti saya ke ruang registrasi.” Ajak petugas itu dengan sopan pada kelima orang itu.
Para lelaki itu dengan sombong mengejek Lala yang mengalah padanya.
“Hm! Orang idiot ini.” Ucap Lala dengan santai sambil melihat kelima orang itu dengan tampang sombong meninggalkannya di dekat kendaraan yang akan di sewakan.
Nenek itu menarik baju di pinggang Lala. Lala yang merasakan itu melihat ke Nenek yang menarik bajunya.
“Nek, ada apa?” Tanya Lala dengan sopan padanya Nenek.
Nenek itu menunjuk seseorang yang tidak jauh darinya, dia seorang petugas perempuan lainnya.
“Eh!” Lala kaget saat melihat orang itu “Dia kan Mila!, Kenapa Dia di sisni? Tapi kenapa di begitu terlihat dewasa?” Lala yang agak kaget saat melihat seseorang yang memakai pakain petugas yang di kenalnya “Nek mari kita ke situ.” Ajak Lala pada Nenek di sampingnya.
Nenek mengangangguk sebagai jawaban pada Lala. Dengan senyum Lala memegang tangan Nenek itu dan berjalan ke arah orang yang di Lala.
“Permisi!” Panggil Lala dengan sopan Pada oarng itu.
“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Orang itu dengan sopan pada Lala.
“Itu, Saya mau pinjam kendaraan, bisa?’ Dengan span Lala bicara pada Petugas itu.
“Oh, Anda kan yang tadi bicara dengan kelima orang tadi.” Ucap Orang itu dengan sopan sambil tersenyum pada Lala.
“Ya, tapi sepertinya mereka sangat membutuhkan lebhi dari ku. Makanya Aku kasi saja.” Balas Lala dengan sopan pada petugas itu.
“Kamu asik juga di ajak bicara, selainkamu masih muda.” Dengan senyum petugas itu memuji Lala.
“Hehe…! Itu Saya mau pinjam kendaraan.” Ucap Lala yang sedikit senang karena di puji.
“Mari ikut saya.” Ajak petugas itu dengan sopan pada Lala.
Lala tanpa menjawab mengingkuti petugas itu, dengan pelana sambil memgang tangan Nenek di dekatnya.
“Kalian sepertinya sangat dekat.” Ucap petugas itu dengan sopan dan juga penih senyum di wajahnya.
“Apakah begitu?” Tanya Lala balik pada Petugas yang mengajaknya bicara.
“Ya. Apakah dia Nenekmu?” Tanya petugas itu sambil meniki senuah lif tranparan.
“Tidak. Aku membatunya saja.” Balas Lala dengan senyum sambil memgang tangan Nenek itu.
“Eh!” Petugas itu kaget dengan jawaban Lala “Kenapa kamu menyelamatkannya?” Tanya petugas itu dengan sopan.
“Kenapa? Bukannya seharusnya kita saling tolong menolong selagi bisa.” Jawab Lala dengantegas pada petugas itu.
Petugas itu menatap Lala dengan sangat bingung dan juga seperti tidak percaya dengan perkataan Lala yang di ucapkannya.
Next Chapter