
Setelah cukup lama bercerita, No dan Ram mulai terlihat biasa saja di dekat No 2 saat bicara satu sama lain meski Ram sepertinya tidak sadar sama sekali akan hal itu. Di sisi lain saat mereka bicara yang lainnya perlahan membuka mata mereka. “Sudah berapa lama di sini?” Tanya sahabatanya yang terlihat lebih baik dari sebelumnya pada No 2 dan Eam yang masih terlihat bicara satu sama lain.
Ram dan No 2 segera melihat ke sumber suara yang memanggil mereka dan berhenti bicara satu sama lain. “Kakak!” panggil Ram dengan suara kecil dan biasa saja dengan terlihat senang yang dapat di lihat daro ekspresi wajahnya.
Kakaknya malah terlihat heran dengan perubahan adiknya yang terlihat normal saat di dekat No 2. “Kamu sudah selesai. Jangan pikirkan itu, ini hanya beberapa menit saja.” jawab No 2 dengan tanpak biasa saja tapi sahabatnya malah terlilhat tidak percaya dannjuga dengan memberi sebuah kode.
Sahabatnya itu tidak merespon dan mengerti maksud dari No 2. “Pembohong. Dari cara bicaramu itu pasti sudah berjam-jam.” timbal sahabatanya dengan mata yang tidak percaya sama sekali, sekaligus memerika sesuatu pada No 2. No 2 masih terlihat sama ekpresi dan tidak berubah sama sekali.
“Kata siapa aku bohong. Aku tidak pandai berbohong tahu.” timbal No 2 dengan ekpresi sama saja. Sahabatnya tidak langsung merespon melainkan melirik ke Ram yang terlihat menikmati pertunjukan yang sedang terjadi di dekatnya itu.
“Kamu kira aku bohong. Aku tahu semua tentangmu.” dengan menatap tajam dan tidak percaya saa sekali dengan No 2 yang terlihat alami sekali ekspresinya. “Mata itu tidak pernah berubah saat kamu berbhohong dan itu yang selalu ku tahu.” dengan tenang mengatakan itu pada No 2. No 2 malah langsung tidak senyum, lalu melihat ke langit seperti ada sesuatu. “Ada apa?” Tanya sahabatnya melihat No 2 tidak senyum sama sekali dengan melihat ke atas dengan serius sekali.
“Lebih baik kalian tidak lihat saja. Nanti saja lihatnya." dengan wajah serius mengatakan itu. Sahabatanya hanya diam saja melihat ekspresi No 2 yang seperti itu. Dari penglihatan No 1 itu merupakan tangan aura yang sangat besar sekali, yang baru saja menghantam tempat mereka berada dan juga membuat semua robotnya jadi rusak parah, tapi itu dengan cepat di perbaiki olehnya tanpa menyentuh mereka sama sekali, meski perbaikannya lambat. Setelah penyerangan itu, sebiah portal raksasa terbentuk di langit yang terlihat luas sekali.
“Siapa yang menyerang tadi?" Tanya No 1 satu yang melihat bekas telapak tangan yang cukup dalam dan masih membuat pelidung yang di buat No 2 jadi retak sedikit. No 1 melihat ke langit yang memperlihatkan sebuah portal yang cukup besar sekali. “Tangan tadi sepertinya cukup kuat, tapi siapa yang berani menyerang seperti itu?” Tanya No 1 yang masih tenang saja dan tidak takut sama sekali dengan apa yang di balik portal besar situ. Setelah itu No 1 terus melihat saja dan dari portal itu yang mulai keluar banyak sekali orang yang terlihat kuat sekali dengan membawa senjata mereka masing-masing. Di sisi lain No 2 tanpa menyentuh apa pun memperbaiki semua robot elemen itu dan kali ini dia membuatnya sedikit berbeda dari sebelumnya (upgrade). “Sepertinya ini bukan lagi pertempuran melainkan peperangan.” dengan tenang No 1 mengatakan itu yang melihat masih banyak keluar manusia dari portal dan juga melihat ke robot elemen yang sedang terbentuk banyak sekali. Setelah cukup lama portal terbuka, banyak sekali manusia yang datang dengan melayang dan juga banyak sekali robot yang sudah di buat No 2 yang terbang dan bersiaga. Setelah itu portalnya perlahan menyusut menjadi kecil lalu keluar seseorang yang terlihat muda dan juga berwibawa sekali keluar. “Sepertinya ini pemimpinnya.” dengan tenang No 1 mengatakan itu saat melihat orang itu terlihat percaya diri sekali. Orang itu terbang menuju ke depan lalu dari portal juga keluar empat orang yang terlihat muda yang mengawal orang itu, yang ikut terbang di sampingnya.
Pemuda itu berhenti di barisan terdepan dengan keempat orang yang berpenampilan beda mengawalnya. Pemuda itu kemudian melihat ke No 2 dan juga lainnya yang tenang saja dan tidak terlihat takut sama sekali di balik pelindung yang di buat No 2. Pemuda itu lalu melihat kepada pengawalnya lalu perlahan terbang ke bawah, mendekat ke No 2 dan lainnya sendiri tanpa di ikuti oleh keempat orang itu. No 2 hanya melirik saja dengan masih berbicara sama yang lainnya. Saat orang itu sudah beberapa meter di atas No 2 dan lainnya, dia berhenti saat merasa ada sesuatu di bawahnya yang keras sekali. No 2 kemudian melihat kepadanya dengan ingin tahu apa yang di lakukannya. “Apa yang terjadi?’ Tanya sahabatnya pada No 2 yang melihat ke orang itu yang berdiri di atas pelindungnya.
“Cuma orang iseng yang sedang naik pelindung ini.” jawab No 2 degan tenang dan tidak takut sama sekali sambil melihat terus ke pemuda itu yang menyentuh pelindun itu tanpa ragu sama sekali.
“Dia tanpan, terlihat tenang, kuat, dan aneh." jawab No 2 dengan melihat pada orang itu. Di sisi lain No 1 yang melihat itu baru tahu kalau ternyata pelindung yang dirinya yang lain itu kedap suara dan tidak dapat mendengarkan orang lain yang ada di luar dan juga yang dalam tidak dapat mendengar orang yang di luar. Arina terdiam memikirkan perkataan No 2 yang kurang jelas seperti itu.
“Sepertinya dia Rama pengeran yang mau ku nikahi itu.” timbal Istri sahabatnya dengan tenang dan terlihat mengingatnya dengan jelas sekali dan membuat No 2 tidak menyangka mengerti perkataannya itu. Sahabatnya yang mendengar itu melihat ke Istrinya yang mengatakan itu dengan jelas sekali bersama No 2, meski beda tujuan melihatnya. “Tunggu! Aku tidak menyukainya, jangan lihat aku seperti itu. Aku juga di paksa menikahinya.” dengan berusaha menjelaskan pada kedua orang yang terlihat mengintrogasinya. No 2 dan sahabatnya saling lihat lalu melihat lagi ke Arina dengan ekpresi masih sama.
“Kakak, jangan seperti itu!” minta Ram yang di dekatnya yang melihat semua kejadian itu, di sisi lain Arma dan Arrmi malah mengangguk-ngangguk setuju dengan perkataan Ram. No 2 dan sahabatnya itu jadi kewalahan kalah suara dan kebanyakan mendukung Arina. Setelah itu No 2 langsung melihat ke atas lagi pada pemuda yang menecoba memukul pelindungnya dengan sangat keras sekali.
Sahabatnya mengalihkan penglihatannya ke No 2 yang melihat ke atas lagi. “Kali apa yang terjadi?” Tanya sahabatnya melihat ke No 2 yang tenang saja.
“Dia mencoba memukul pelindung yang ku buat itu, tapi itu usaha yang sia-sia saja karena sulit menembusnya.” jawab No 2 dengan tenang dan santai.
“Kakek, jangan meremehkannya. Dia itu jenius yang mampu memecahkan apa pun dengan usahanya sendiri. Dia mungkin saja bisa memecahkan pelindung yang kakek buat ini.” timbal Arina dengan terlihat percaya diri sekali mengatakan itu pada No 2. No 2 dan sahabatnya melihat lagi ke Arina yang mengatakn itu seperti memujinya.
“Arina, apa kamu menyukainya?" Tanya sahabtanya yang terlihat cemburu dengan perkataan Istrinya itu. No 2 malah melihat ke sahabatnya yang langsung ke intinya itu.
“Tidak.” jawab Arina dengan santainya dan cepat. “Aku bahkan tidak mengenalnya sama sekali sifatnya itu, meski dia jenius. Aku hanya mendengar rumor dan mengetakan itu pada kakek dan tidak ada maksud lain sama sekali.” Arina terlihat berusaha meyakinkan suaminya itu yang terlihat curiga sekali padanya.