Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 190


Anto perlahan masuk ke dalam jalan menuju kursi mejanya dengan terus di lihat oleh semua teman sekelasnya. Anto duduk di tepi jendela dan masih saja di lihati oleh semua temannya. “Apa yang kalian sembunyikan, kenapa kalian hanya meihaku saja?” Tanya Anto dalam dirinya yang tidak mengerti dengan semua tatapan teman sekelasnya.


“Ehm!” Teman sekelas di sampingnya memberi kode pada Anto hingga membuatnya di lihati olehnya. “Berjualnglah.” Teman sekelasnya tersenyum padanya sambil memberi ancungan jempol. Anto hanya tersenyum senang dan membalas temannya itu dengan sungguh tidak mengerti sama sekali dengan hal yang sedang di maksud oleh teman sekelasnya itu.


Saat Anto tidak mengerti seperti itu, Guru datang masuk ke kelas dan membuat para pelajar melihat ke arahnya. Semuanya jadi hening saat Guru itu masuk. “Setelah pelajaran selesai kalian semua kumpulkan tugas rumah yang pernah Pak Guru kasi.” Guru itu langsung melihat ke Anto dengan tajam. Anto paham dengan tatapan itu karena tidak pernah mengantar tugasnya sama sekali sejak sekolah di sana. Anto hanya bisa tersenyum membalasnya dan tidak berkata apa-apa. "Baiklah mari kita mulai pelajaran hari ini" Ajak Pak Guru itu dengan menatap tajam ke Anto.


“Astaga Pak, jangan terang-terangan menatap  saya seperti itu. Saya akan buktikan kalau saya akan jadi no 1 di kelas ini.” Anto hanya tersenyum saat di tatap seperti itu. Di sisi lain teman sekelasnya hanya tertawa kecil saja menikmati apa yang sedang terjadi kelas mereka. “Tinggal seminggu lagi akan ada UAS dan akan ku buktikan kalau aku yang terbaik dalam segala hal.” Anto melihat ke luar jendelanya yang sepi karena para pelajar lainnya sudah masuk ke kelas masing-masing dengan perasaan kesal karena di tertawai temannya karena sebab yang dia tidak tahu.


Saat semua orang membuka buku pelajarannya, Anto malah membuka buku tugas rumah bahasa inggrisnya dan mulai mengerjakan dengan serius tugs rumahnya di saat sedang belajar. Di sisi lain, Pak Guru yang sedang mengajar melihatnya yang sedang menulis dari jauh, tetap menjelaskan dengan melihat ke Anto yang terlihat serius sekali di pandangannya dan tidak menganggunya sama sekali.


***


Waktu berlalu, jam pelajaran pertama selesai dan kini saat para siswa-siswi kelas itu mengumpulkan tugas rumah yang di berikan ke depan kelasnya. Anto juga maju yang paling terakhir memberikan tugas rumahnya yang baru saja di kerjakannya. Saat itu semua teman sekelasnya melihat ke arahnya yang maju ke depan dan tiba di depan Gurunya. Gurunya langsung melihat saat Anto menyerahkan tugas rumahnya. “Apa ini?” Tanya Gurunya pada Anto. Anto jadi bingung tidak menjawab cepat.


“Ini tugas rumah kan Pak!” Jawab Anto dengan singkat. Pak Guru itu melihat ke Anto dengan tanpak kaget. Bukan hanya Pak guru saja yang kaget, teman sekelasnya juga terlihat kaget dengan perkataanya itu. “Aku tahu reaksi ini pasti akan terjadi.” Anto tidak bisa berkata apa-apa dan hanya bisa menyembunikan dalam hatinya saat mengingat dirinya selama hampri 2 semester tidak pernah mengerjakan tugas rumahnya.


Pak Guru itu mengambil buku yang di serahkan Anto tanpa bertanya balik lagi. Anto kemudian kembali ke tempat duduknya sambil di lihat oleh semua teman sekelasnya. Mereka semua tanpak bingung dengan yang barusan terjadi dan hanya bisa melihat saja. “Karena semuanya sudah mengumpulkan tugas rumahnya, minggu depan Bapak kasih bukunya.” Setelah itu Pak gurunya jalan keluar dari kelas itu tanpa paminta sama sekali. Semuanya jadi hening sambil melihat ke Anto.


“Kenapa kalian masih melihatku seperti itu?” Tanya Anto pada semua temannya yang melihat dengan terlihat penasaran dan tidak menduga sama sekali kalau dirinya mengerjakan tugas rumah.


“Kamu siapa?” Tanya Teman sekelasnya di sampingnya dengan nada suara serius serius sekali yang memebrikan ancungan jempol sebelumnya.


“Hah! Apa maksudmu?” Tanya Anto yang tidak mengerti maksud temannya itu. ‘KLAK!’ pintu kelas di buka lagi oleh Ibu Guru yang terlihat ceria dan canti sekali. Semua orang langsung melihat dengan senyum ceria pada Guru itu.


“Ini baru Guru yang ku suka, tapi kenapa rasanya Guru ini berbahaya!” Anto jadi melihat ke Gurunya dengan termenung sekali sambil memikirkan kenapa ada perasaan tidak enak muncul darinya. ‘Anto!’ Guru itu mulai absen tapi Anto sama sekali tidak memperhatikan dan tenggelam dalam pikirannya. ‘Anto, Anto, Anto!’ Guru itu terus memanggilnya malah tetap diam dan tenggelam dalam pikirannya.


Teman di sampingnya yang melihat itu langsung menyadarkan Anto dengan menupuk bahu Anto. Anto jadi melihat ke arahnya dan temnnya itu langsung memberikan kode untuk melihat ke depan. Semua murid di sana melihatnya dengan penasaran kenapa Anto masih diam saja. “Ada apa?” Tanya Anto dengan suara kecil. Teman sekelasnya tidak menjawab malah diam saja. ‘Anto’ Anto langsung melihat ke depan dan melihat Gurunya sedang memegang absen. “Apa Bu?” Tanya Anto yang jadi salah tingkah dengan cepat.


Semau temannya jadi mau ketawa tetapi mereka menahannya saat melihat Anto yang bertanya dengan santai dan juga tidak memperhatikan sama sekali. “Antoo…!” Bu Guru itu menggelengkan kepalanya saat melihat Anto yang seperti itu. “Ibu ulangi, seperti apa Dunia sebelum munculnya para Player dan Dungeon di Dunia ini?” Tanya Guru itu dengan terlihat serius sekali. Semua temannya langsung ingin tertawa saat mendengar pertanyaan itu karena sudah paham apa yang akan terjadi jika tidak bisa menjawabnya.


“Cuma itu Bu?” Tanya balik Anto dengan tenang. Bu Gurunya malah melihat ke Anto yang tanpak santai dan juga percaya diri.


“Kalau gitu jelaskan seperti apa kehidupan di masa itu. Seperti tingkat ekonomi, sejarahnya, tingkat sekolahnya, militernya, kedudukan pemerintahnya dan system agama yang ada pada saat itu. Apa kamu paham?” Guru itu dengan nada serius sekali melihat ke Anto dan juga terlihat kesal sekali saat mengatakannya.


“Apa ada lagi Bu?” Tanya Balik Anto dengan santai hingga membuat Gurunya terlihat kesal kali ini tapi menahannya dengan sabar.


“Antooo… Selanjutnya kamu jelaskan seperti apa kehidupan setelah kemunculan Dungeon dan juga kehidupan setelah munculnya para Playar.” Dengan nada terdengar biasa Gurunya menimpakan semu pertanyaan itu padanya.


“Apa ada lagi?” Tanya Anto dengan santainya. Guru yang tadi terlihat ceria kini menatap Anto tanpa senyum dan menahan dirinya untuk marah.


“Kalau bisa tambahkan dengan bukti nyata saat kamu menjelaskannya.” Guru itu menjawab dengan menatap Anto dengan cukup dingin dan mengancam sekali. Semua teman kelasnya malah terlihat ingin tertawa dengan semua itu, tapi Anto yang sama sekali tidak tahu kenapa dia di Tanya seperti itu hanya bisa menganggukkan kepalanya saja.


“Bu, apa lagi?” Tanya Anto lagi. Gurunya melototi dengan tajam. “Maaf Bu, ku kira ada lagi.” Dengan cepat Anto meminta maaf saat Bu gurunya sudah terlihat marah sekali padanya.


“Sebaiknya kamu cepat maju dan jelaskan di depan sekarang.” Minta Gurunya dengan sangat marah dan menahan dirinya pada Anto. Anto hanya mengangguk, kemudian dengan cepat maju ke depan kelasnya saat melihat Gurunya terlihat marah sekali padanya.