Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 77


Momo memeriksa keadaan Siska yang pingsan secara tiba-tiba.


“Tidak ada apapun, tapi ada beberapa emosi takut senang, bahagia, dan lainnya. Semua emosinya bercampur aduk hingga meluap. Mungkin ini penyebab dia tiba-tiba pingsan.” Momo memberi tau keadaan Siska yang tidak terjadi apapun padanya.


“Kenapa dia begitu stress?” Tanya Nana dengan santainya, meskit tidak terlihat peduli pada Siska namun dia sangat mengkhawatirkannya.


“Seharus kamu bukan Tanya aku, tapi Tanya dia.” Jawab Momo sambil memberi kode mata ke arah Lala.


Nana yang menydari kode yang di maksud Momo, melihat ke Lala yang diam saja melihat ke arah Siska yang masih pingsan. Momo dan Nana menatap ke arah Lala yang masih diam saja dan terus melihat ke arah Siska yang terus pingsan.


“Tunggu sebentar!” Kata Lala pada Momo dan Nana yang terus menatapnya tanpa melihat ke arah mereka.


“Hm!” Mereka sedkit kaget dengan kata-kata Lala yang tiba-tiba.


Nana dan Momo memperhatikan Lala yang berjalan mendekati Adiknya yang pingsan. Momo yang melihat itu, menyingkir dan membiarkan Lala melihat Adiknya yang pingsan. Setelah itu, Lala langsung duduk di samping Siska. Lala memegang kening Siska kemudian langsung mengalirkan sebuh energy pada Siska, dan dalam beberapa saat Setelah mengalirkan energy, wajah siska tadi ada bgitu banyak sekali beban, kini membaik Setelah Lala mengalirkan energy nya.


“Jika dugaanku benar, Adikku mengalami sesuatu yang Aneh di dunia yang kubuat itu.” Kata Lala menjelaskan sambil melepas tangannya dari Siska.


“Apa maksud Kakak?” Tanya Marya yang tadi hanya memberhatikan kesembuhan Siska.


“Mudah saja, dia keluar terlalu cepat dari dunia itu.” Lala mengingatkan Marya yang sudah tau maksud darinya sambil berbalik melihat ke arah Marya “Nah Marya! Berapa lama kamu menyelesaikan dunia itu?” Tanya Lala pada Narya yang sedkit penasaran.


“Aku menyelesaikannya dalam waktu sepuluh tahun.” Jawab Marya dengan niat membunuh pada Lala yang begitu kuat “Tapi, itu juga merupakan hal yang menyenangkan.” Jawab Marya dengan sangat jujur sekali sambil melepas nias membunuhnya pada Lala.


Lala tidak berkata apa-apa lagi setelah Marya yang terlihat sangat menyeramkan. Lala tau apa yang di alaminya akan di dapat oleh Marya, namun dia tidak menyangka bahwa Marya sangat berbakat sekali dan merasa jauh lebih baik darinya, saat meraa sangat tertekan dengan nia membunuh Marya yang lebih kuat darinya.


“Andaikan Marya yang selamat dari kejadian itu, seberapa kuat dia sekarang ini.” Pikir Lala yang masih merasakan ketajaman niat membunuh Marya.


Tapi saat mereka sedang asik berbicara, satu persatu para pelayan bangun dari dunia ilusi yang di buat Lala. Setelah mereka bangun, mereka semua tampak berbeda sekali dan menjadi lebih dewasa.


“Bagaiamana?” Tanya Lala dengan tegas pada semua pelayan yang sudah bangun dan kemali ke posisi mereka masing-masing


Mereka hanya  tersenyum pada Lala yang sedang serius, setelah banguan dari dunia ilusi dan berbbaris dengan rapi.


“Hah! Sepertinya kalian juga keluar dengan lancar.” Kata Lala dengan tidak percaya, sambil melihat ke arah adiknya yang sangat berbeda sekali dengan yang lainnya.


Semua pelayan tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi. Mereka bingung dan tidak tau harus melakukan apa. Semua pelayan menatap ke mereka bermepat secara bergiliran yang terlihat bagitu khawatir akan sesuatu.


“Biar ku jelaskan.” Tiba-tiba Marya bicara saat melihat semua pelayan yang kebingungan sekali “Setelah kalian masuk dunia ilusi, Siska masuk yang terakhir. Tapi, Siska sadar hanya dalam kurang satu detik pun.” Marya menjelaskan dengan singkat apa yang sedang terjadi “Tapi tenang saja, Sekarag dia sudah tidak papa.” Kata Marya dengan senyum di wajahnya.


Pelayan yang mendengar penjelasan Marya merasa lega sekali saat mengetahui tidak ada yang terjadi.


“Entah kenapa, semua kejadian yang tidak masuk akal selalai terjadi di sekelilingnya.” Kata Nana pada semua orang di ruangan itu.


“Hm! Apa maksudnya?” Tanya Marya dengan serius dan juag tertarik mendengar cerita dari Nana.


Semua orang diam menatap ke arah Nana. Nana yang selalu ceria dan juga cuek. Kini menjadi pusat perhatian. Nana yang merasa semua orang tertarik padanya dan ingin mengetahui lebih lanjut melihat ke mereka semua yang tampak sangat serius.


“Haaa…! Baiklah.” Nana yang menydari tatapan mereka semua yang ingin tau dengan maksdunya “Kalian taukan, semua orang disini selalu terlibat dengannya.” Kata Nana dengan santainya.


“Jujur saja, bukan dia yang melibatkan diri, tapi kita yang melibatkannya dalam urusan kita. Dia hanya terbawa arus mengikuti langkah yang menurutnya benar sekaligus memberikan kita solusi yang paling efektif buat menyeleasikan masalh yang ada di sekitar kita. Dan di saat yang bersamaan, dia juga membawa takdirnya dan takdir kita secara bersamaan.” Nana menceritakan pengalamana yang di dapatnay dengan sangat serius.


Semua orang merasa sangat tertekan dengan perkataan Nana dan juga meraa bersalah. Momo, Lala, Marya dan semua pelayan tidak bisa mengelak dari pernyaatn Nana yang masuk akal sekali bagi mereka.


“Maaf saja, tapi aku tidak berpikiran begitu.” Kata Siska secara tiba-tiba dengan sangat jelas sekali di dekat Lala yang sedang di sampingnya.


“Siska!” Lala kaget sekali dengan Siska yang tiba-tiba bangun.


“Kenapa begitu kaget?” Tanya Siska yang terlihat begitu berbeda sekali Setelah bangun.


Semua orang melihat ke arah Siska yang bangun. Namun, dengan sikap yang berbeda sekali.


“Nah Lala!” Panggil Siska dengan menyebut nama Kakaknya.


Semua orang kaget dengan tingkah Siska yang sangat berubah hingga membuat Lala langsung menjauh dari Siska. Semua orang langsung waspada pada Siska yang berubah sekali dan terlihat sangat menyeramkan.  Semua orang sangat waspada sekali sambil mengambil posisi bertarung. Para pelayan juga siap bertarung dan tidak ada keraguan dalam diri mereka semua. Siska yang terlihat biasa saja saat mereka semua bagitu waspada tersenyum sedikit.


“Sepertinya kalian sangat waspada sekali.” Kata Siska dengan senyum dan tidak merasa takut dengan semua orang yang sedang bersiap menyerangnya.


“Siapa kamu?” Tanya Nana dengan tegas pada Siska yang sangat berbeda sekali dan tetap menjaga posisinya.


Siska tidak menjawab pertanyaan Nana, Malah melihat ke arahnya dengan begitu penasaran. Lalu melihat ke arah Momo dan Lala secara bergiliran.


“Hm! Kalian bertiga mempunyai system yang kubuat! Apa kalian BIDADARI ku?” Tanya Siska pada Lala, Momo dan Nana sambil menatap ke arah mereka bertiga.


Mereka bertiga kaget dengan perkataan Siska yang terlihat sangat santai sekali dengan ucapannya mengenai system yang mereka punya. Mereka bertga menjadi semaki waspada pada Siska. Saat mengetahui itu.


“Kalian tidak usah waspada begitu. Lihat baik-baik siapa aku?” Kata Siska dengan sangat jelas sekali pada semua orang di ruangan itu dan dengan suara ramah.


Semua orang saling melihat sambil melihat gerak-gerik Siska yang terlihat berbeda sekali. Mereka semua masih bingung dan tidak tau apa maksud dari Siska. Siska yang menyadarai kalau mereka semua tidak paham maksudnya memikirkan sesuatau sambil melihat ke arah Lala yang snagat waspada sekali.


“Ehm!" Siska menurunkan kewaspadaannya pada semua orang "Apa kamu Lala?” Tanya Siska pada Lala yang masih waspada dengannya dan tetap berada di posisinya.


Siska yang melihat ke arah Lala dengan senyum dan tanpa niat jahat sama sekali. Lala tida tau harus malakukan apa, mengangguk sebagai jawaban ats pertanyaan Siska.


“Adeh...! Jadi kamu yang membuat dunia ilusi itu?” Tanya lagi Siska dengan sedikit penasaran sambil menggelengkan kepalanya merasa khawatir dan juga susah.


Lala menganguk lagi dan terus waspada pada Siska.


“Jangan pernah buat lagi dunia yang seperti itu, paham. Itu sangat berbahaya sekali.” Kata Siska yang sangat khawatir sekali pada Lala dan juag dengan sikap ramah padanya.


“Siapa kamu?” Tanya Lala dengan tetap tenang dan waspada pada Siska.


“Hm…!” Siska melihat ke Lala dan semua orang yang masih waspada padanya “Ha...! Aku Anto, dari dunia yang kamu buat.” Jawab Anto dengan santai sekali.


Next Chapter