
Setelah tiba di dekatnya, Anto mengikuti Hero itu dari sampingnya. Hero itu tidak kaget sama sekali dengan hal itu, malah dia canggu sama Anto yang ada di dekatnya. -Kenapa kamu tidak Tanya?-Tanya NAVI pada Anto yang diam seribu bahasa.
“Buat apa nanya! Dia sendiri yang harus mulai duluan jika ingin tanya.” Jawab Anto hingga membuat NAVI tidak bisa berkata apa-apa dan diam saja memperhatikan apa yang akan di lakukan Hero. Setelah merespon itu Anto diam saja dan tidak melakukan apa pun. “Kita akan segara tiba di atmosfir Bumi, besiaplah.” Anto memperingati Hero yang bersamanya. Hero yang bersamanya hanya diam saja dan mengangguk sebagai jawaban.
Mereka berdua tidak ada yang bicara sama sekali setelah Anto memperingati itu. -Tinggal 1 menit lagi kita sampai- Bicara NAVI saat Anto sudah bisa melihat pintu rumah Hero itu.
“Kita akan tiba 1 menit lagi.” Bicara Anto dengan santa memperingati Hero. Anto melirik sedikit setelah berkata itu dan melihat betapa senangnya Hero saat melihat pintu rumahnya sendiri. Anto tersenyum kecil saat melihat itu. “Siapa namamu?” Tanya Anto sebelum tiba di rumah Hero.” Anto mulai mengajaknya bicara dengan santai dan biasa saja meski dengan menjaga wajah tetap dingin.
Hero tidak langsung merespon dan terus melihat ke depan pintu tumahnya yang akan segera tiba. “Namaku Rein.” Respon singkatnya dengan terus melihat ke rumahnya.
“Sepertinya hanya itu saja yang bisa dia katakan. Ku rasa tidak bisa lagi mengganggunya.” Anto yang melihat Rein tidak peduli saat dia mengajak bicara, tidak marah dan malah merasa senang dan juga tidak menyalahkannya dengan sikap yang di tunjukkannya. Anto yang bisa paham dengan rasa rindu yang sudah lama terasa dan juga terpendam. Anto tidak bertanya lagi dengan apa yang akan di lakukan Rein.
-Kita tiba Anto- Bicara NAVI dengan suara senang. Anto yang medengar itu berhenti melirik Rein dan melihat ke depan saat sudah sampai di ujung keluar dari lubang teleport. -Wah…!- NAVI terdengar Girang saat melihat pemandangan baru di hadapanya dan sekelilingnya.
“Ini luar biasa sekali.” Anto yang juga menikmati hal barunya dengan senang. Pemandangan di luar rumah Rein yang tidak di duganya sama sekali. “Sepertinya semuanya sudah sampai.” Bicara Anto saat melihat semua BIDADARI nya sudah berteleportasi ke tempatnya. Anto melihat ke Rein yang mulai meneteskan air mata dan yang juga ikut senang dengan hal itu. “Kalau gitu, saatnya kami pergi.” Pamit Anto sambil melihat Rein yang senang. Rein yang mendengar itu langsung melihat ke Anto yang mulai menyapa para BIDADARI nya.
“Tunggu!” Dengan cepat Rein menghentikan Anto bersama Kekasihnya. “Mari makan dan minum dulu.” Ajak Rein dengan penuh harapan dan juga tulus. Anto yang melihat ketulusan Rein merasa perlu tinggal sebentar.
“Baiklah, kami akan tinggal sebentar.” Jawab Anto sambil tersenyum dan menerima ajakan Rein. “Sebaiknya kalian ganti pakaian kalian.” Suruh Anto pada semua BIDADARI nya. Semua BIDADARI nya yang paham, langsung mengubah pakaiannya jadi seperti pakain biasa saat bepergian ke rumah temannya. Tapi, ada dua BIDADARI baru yang tidak paham, mereka jadi hanya bisa diam di tempat tanpa melakukan apa pun. “Sepertinya tinggal kita bertiga yang belum.” Bicara Anto sambil mendekati kedua BIDADARI nya. Anto menglurkan tangannya tanpa bicara pada Kedua BIDADARI nya, BIDADARI nya meraih tangan Anto. Setelah itu, Anto langsung membuat gelombang pakaian pada dirinya termasuk BIDADARI nya secara bersamaan. Kurang 10 detik, pakaian mereka bertiga sudah jadi biasa saja.
“Mari masuk.” Ajak Rein yang sangat bahagia dan tidak peduli dengan apa yang di lakukan Anto tadi. Anto yang melihat kebahaigaan Rein, tersenyum bersama para BIDADARI nya yang bersamanya saat ini. Rein membuka pintu rumahnya sambil duluan mengajak semua tamunya. Anto dan lainnya ikut masuk mengikuti. Saat di dalam rumah, suasannya tanpak biasa saja dan juga terlihat mewah untuk abad yang berbeda dari Anto.
“Mungkin saja. Di lihat dari rumah ini, bukannya tidak jauh beda dengan rumah di masa depan itu dan juga pakaiannya sama saja dengan yang sekrang ku lihat.” Respon Anto saat melihat Foto keluarga Rein yang terpajang. Rein yang sudha di dalam terlihat sangat senang sekali, tapi masih menahan emosinya karena dia sendiri sudah tahu kalau itu sangat memalukan jika seorang yang sudah dewasa menangis di depan umun. Apa lagi di depan orang yang sudah menyelamatkannya.
Rein berbalik melihat ke tamunya yang ikut masuk ke rumahnya. “Ikut aku ke ruang tamu.” Ajak Rein saat sudah di dalam. Rein memimpin jalan lalu mereka mngikuti. Tidak ada kekaguman dari wajah BIDADARI nya keculai 2 orang yang baru. hanya berjalan beberapa meter, mereka tiba di ruang tamu dan juga di saat yang bersmaan Anto teringat dengan pintu jalan yang mengarah ke pintu itu. “Ku harap kalian bisa melupakan hal sebelumnya.” Minta Rein dengan wajah yang terlihat mati lagi.
“Mustahil lah.” Respon Anto dengan biasa saja. “Itu tidak mungkin sama sekali. Jika kamu pikirkan, itu akan teringat lagi dan lagi. Tapi kami akan berusaha untuk terus mengingatnya.” Dengan santainya Anto bicara seperti itu dan tidak peduli dengan permintaan Rein.
“Ayolah, jangan kayak gitu.” Minta lagu Rein dengan wajah terlihat bodoh di hadapan Anto. “Aku baru saja kembali, kenapa kamu mau buat ini jadi kenangan buruj sih?” Bicara Rein tanpa henti pada Anto dan juga meminta dengan sabar pada Anto.
“Mustahil ku lupakan, itu sudah tertanan pada otakku bagaimana reaksi Ora…!” Anto tidak melanjutkan perkataannya dan langsung di pukul hingga jatuh oleh Rein.
“OHO… Pasti enak mengejek ya. Kamu tidak pernah mau ngalah sama sekali pada ku sejak dulu jika tidak di beri pelajaran.” Tatap Rein pada Anto yang sedang terjatuh dengan wajah kesalnya. Anto yang menerima pukulan itu terdiam dan merasa sedikit sakit tapi masih bisa di tahan.
“Ini sakit!” Bicara Anto sambil berdiri di hadapan Rein ‘BUK!’ Anto langsung memukul Rein hingga jatuh juga. Anto merasa tidak bersalah sama sekali dengan apa yang di lakukannya itu.
“Seperti kamu butuh pelajaran yang sangat menggerikan.” Bicara Rein yang masih jatuh. Rein lalu berdiri dengan pelan, lalu melihat ke Anto dengan tajam. Anto membalas dengan tatapan cukup tajam dan hingga mereka saling tatap.
Next Chapter