
“Tentu saja dia akan baik-baik saja. Tapi jika anak kita yang satunya bangun, jangan perlakukan berbeda dengan yang saat ini. Dan jangan lupa ajarkan pada Anto yang sekarang itu tentang dirinya yang satu di dalam dirinya itu.” dengan serius memperingatkan pada Istrinya. Istrinya hanya tersenyum mendengar itu, setelah itu Ayahnya memegang kepala Anto sambil memasukkan lagi jiwa mereka ke dalam Anto. Setelah No 2 merasa di tarik sesuatu. Saat melihat, dia langsung dapat menggerakkan tubuhnya sendiri, No 2 melihat ke Ayahnya lalu membalas pelukan Ibunya dan tersenyum.
Ayah dan Ibunya terdiam melihat sesuatu yang tiba-tiba berubah dari anak mereka. “Apa ini benar kalian?” Tanya Anto dengan suara sedih, meski No 2 tahu kalau itu mereka. Ayahnya hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu sedangkan Ibunya kaget mendengar suara itu dan memeluk semakin erat.
“Ya… ini Ibu jangan sedih… Kami akan selalu bersamamu…” Jawab Ibunya dengan suara lembut dan sedikit sedih. Tanpa sadar No 2 menetaskan air mata, lalu Ayahnya membersihkan dengan lembut sambil tersenyum padanya. Anto hanya tersenyum lalu membuka dimensinya dan mengeluarkan tabung yang di dalamnya ada Bayi yang di selamatkannya.
“Rawat dia…” minta No 2 yang matanya merasa berat lagi. Setelah itu No 2 tidak bisa lagi menggerakkan tubuhnya dan hanya bisa diam saja. Ayahnya lalu memegang tabung yang sama ukurannya dengan Bayi itu dengan erat. Saat no 2 sudah terputus konesksi dengan tubuh utamanya, dia hanya bisa menonton saja dan tidak bisa biara pada siapa pun kecuali pada dirinya sendiri. “Ternyata aku masih bisa emosional ya…” Dengan senyum mengatakan itu meski tidak di dengar oleh siapa pun kecuali No 1 yang hana bisa melihat saja sejak awal. Di saat yang sama juga, terdengar suara gemuruh di luar yang sangat kencang sekali. Surya dan Istrinya yang mendengar itu lalu berlari keluar dari bangunan itu. Saat sampai di luar ternyata ada sesuatu yang melayang di langit dan itu sangat besar luas dan besar sekali. “Kota!” No 2 langsung sadar melihat kota yang di lihatnya itu sangat luas sekali. Tapi merasa tidak asing juga. “Kenapa kota ini ada di sini?” Tanya pada dirinya sendiri karena dirinya tidak menduga itu sama sekaki.
No 1 juga tidak menduga sama sekali dengan kemunculan kota luas itu. Setelah itu tiba-tiba semuanya terhenti lagi di saat kota itu jucul. No 1 dan No 2 hanya diam saja melihat semuanya terhenti lalu secara perlahan waktu seakan-akan berjalan sangat cepat sekali dan setelah itu jadi gelap sekali di akhirnya. No 1 dan No 2 tidak kaget kali ini dan hanya memperhatikan dengan deg degan. “KAKAK BANGUN… INI SUDAH PAGIII…!” teriakan itu terdengar sangat jelas sekali di dekatnya. Setelah itu perlahan semuanya terang setelah mendengar suara itu. No 1 dan No 2 jadi dapat melihat sekelilingnya dalam sekejap ‘Ini di mana?’ Tanya No 1 dan no 2 secara bersamaan meski tidak dapat saling tahu kecuali No 1 yang tahu no 2.
Mereka melihat seorang gadis yang cantik seumuran dengannya yang 16 tahun dengan terlihat kesal pada Anto yang tidur di sebuah kamar. “Lima menit lagi.” jawab No 3 dengan biasa saja dan juga terdengar malas bangun. Di sisi lain gadis itu langsung mem3gang selimutnya dan menarik dengan paksa. Untungnya No 3 memakai pakaian dan tidak terlihat apa pun pada dirinya. No 3 pun melihat dengan perlahan ke suara itu lalu bangun. No 3 dan gadis itu saling tatap, lalu Anto memegang tangan gadis itu dan menariknya ke ranjang.
“LEPASKANNNNN…!” teriak gadis itu lalu mulutnya di sumpal dengan tangan No 3. Dia terus memberontak karena No 3 yang menindihnya. No 3 yang di atas hanya tersenyum saja sedangkan gadis itu di bawahnya sangat malu dengan tatapan No 3.
No 3 pun melihat ke pintu dan ternyata ada Ibunya yang memegang sendok sayuran. No 3 hanya terdiam saja melihat ke Ibunya yang terlihat menatap dengan sangat tajam padanya. No 3 pun jadi ketakutan melihat Ibunya yang seperti itu dan berhenti menindih Fuka. “Aku tahu kalian berdua sudah besar… Tapi jangan kelewat batas…!” Bicara Ibunya dengan tatapan tajam sekali. “Sekarang keluar dan makan…!” dengan tatapan sekali pada Anto. Fuka bangun perlahan lalu keluar berlari dengan cepat, tapi saat di hendak melewati Ibunya, Fuka di tarik tangannya hingga berhenti bergerak.
Fuka yang terhenti tidak berani melihat ke Ibunya. “Ibu…Biarkan Fuka pergi!” minta Anto dengan sedikit takut dengan tatapan Ibunya. Ibunya malah terus melihat dengan tajam sekali.
“Keluar…!” dengan sangat serius sekali ibunya mengatakan itu pada Anto. No 3 tidak bisa berkutik dengan suara Ibunya dan hanya bisa mengangguk saja. Setelah Ibunya jalan meninggalkan Anto di dalam kamarnya dengan membawa Fuka. Anto yang di dalam kamar hanya bisa tersenyum saja dan tidak berkata apa-apa sama sekali.
“Untung saja pergi…” No 3 merasa lega dengan semua itu lalu terlihat serius. “Status!” ucapnya dengan jelas lalu muncul sebuah Status yang bertuliskan ERROR dan tidak bisa di lihat sama sekali. “Ini masih sama saja sejak terakhir kali… Ibuku bilang ada diriku yang lain di dalam diriku yang membuatku tidak bisa menggunakan kekuatanku sendiri, tapi apa ini tidak berlebihan sampa-sampai Statusnya seperti ini juga.” pikir No 3 yang tenang saja. “Aku iri melihat yang lain menggunakan kekuatan mereka dengan bebas… Kapan ya aku bisa menggunakan kekuatanku?” Tanya Anto yang masih tenang di tempatnya. No 3 diam saja dengan penuh harapan berhapa bisa segera menggunakan kekuatannya. Sedangkan No 2 dan No 1 yang mendengar itu tidak bisa berbuat apa-apa karena dia tidak kepikiran hal ini akan terjadi dalam hidupnya.
“Jadi ini awal mula ku kepikiran buat bikin System pribadi, meski hanya sebuah pikiran yang kacau.” pikir No 1 dengan tenang melihat No 2 dan No 3 yang telihat tenang namun merasa tidak berguna sekali. Setelah diam cukup lama, No 3 berjalan ke lemari di dekatnya lalu mulai mengganti pakaiannya. Setelah beberapa saat mengganti pakaian dengan sebuah seragam, No 3 keluar dari kamar itu. Saat di luar kamarnya No 3 hanya jalan saja di lorong dan tiba di sebuah pintu setelah beberapa meter jalan. No 3 langsung masuk ke sana dan tiba di ruang makan. Di sana sudah ada Fuka dan kedua orang tuanya yang sedang mengobrol.