Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 229


Setelah mengenakan pakaian serba hitamnya Anto merasa tidak memakai apa pun namun nyaman sekali. Anto kemudian menghilangkan topengnya membuatnya jadi pnutup telinganya. “Pakaian ini belum ku pelajari sama sekali untuk saat ini. Apa aku pelajari sekarang saja?” Tanya Anto yang sama sekali belum pernah mempelajari cara membuat pakaian itu sambil memegangnya. Tapi Anto tidak mempelajarinya untuk saat ini. “Dimensi Penyimnan!” Setelah mengatakan itu, sebuah lubang seukuran pintu masuk terbentuk di depannya. Anto kemudian masuk ke dalam sana. Saat di dalamnya itu semuanya bewarna putih semua dan banyak sekali robot, kapal terbang, senjata yang tidak terhitung oleh mata yang di lihatnya. Saat di dalamnya ada sebuah robot seperti helm terbang ke arahnya dengan sangat cepat sekali.


‘Salam Master!’ Dengan sangat sopan menyambut Anto. “Berapa banyak robot, kapal dan senjata yang sudah siap di pakai?” Tanya Anto pada robotnya. Robot itu langsung menampilkan laya di depan Anto yang menampilkan semua jenis produksi robot, senjata, dan kapal terbangnya. [Robot Tingat Rendah: 150 Triliyun. Robot Tingkat Menengah: 200 Triliyun. Robot Tingkat Atas: 500 Triliyun. Kapal Terbang Perang: 999 Triliyun. Senjata: Selalu di produksi. Jumlah masih bertambah dan belum dalam terhitung]. “Semoga saja ini cukup untuk menyelamatkan Duniaku, meski banyak kerusakan yang terjadi dan akan memakan waktu menyelamatkannya.” Anto mengatakan nya sambil melihat lagi daptar yang ada di layar.


[Robot Pemusnah: 1 Miliyar. Kapal Penyelamat: 1 Miliyar. Robot Pembantu dan Pendidik: Selalu di buat jumlah masih bertambah] Anto merasa senang dan juga khawatir kalau semua itu masih kurang. “Aku perlu bertambah kuat juga supaya tidak mengandalkan senjata ini saja. Status!” Anto melihat semua statusnya yang semua rata 150 semua. “Level  150, semua stat 150 juga, Skil cuma Study yang tertera meski aku punya Skil lainnya yang ku pelajari dan dapatkan di sini.” Anto kemudian menekan tombol lain di atas layarnya yang berpindah ke bagian misi. “Misi utama menyelesaikan Dungeon ini dengan melawan bos dan tidak tertera menyuruh membunuhnya. Berarti ada cara lain selain membunuhnya. Misi sampingan mengantar pulang bangsawan Elf dan Bangsawan lainnya yang ke temui. Tapi sejauh yang ku temukan cuma Haruna saja.”


“Mungkin yang lainnya ada di benua Iblis ini. Setelah keluar dari sini akan ku cari mereka dengan bantuan teman tumbuhanku. Mereka pasti tahu bangsawan yang ada di pulau ini atau ras yang tertangkap ada di Pulai ini.” Anto yang sangat serius sekali dengan apa yang di lakukannya. Setelah itu Anto keluar dari Dimensi Penyimpanannya, yang di mana di sana adalah pabrik miliknya yang membuat berbagai macam senjata dan bantuan yang di pelukan untuk Dunianya sendiri.


Saat sudah di luar ternyata sudah ada Haruna menunggunya di sana dengan pakaian seragam yang sangat cocok sekali dengan dirinya yang selalu rapi. “Kak aku sudah siap.” Dengan lembut bekata oada Anto sambil tersenyum. Anto membalas tersenyum ramah padanya. "Kak, au mau ytanya sebelum kita keluar dari kota ini! Apa Kakak tahu lawan Kakak di sini?" Tanya Haruna yang ingin tahu bos Mnster yang akan di lawan Anto itu.


"Aku tidak tahu, yang jelas untuk kelua dari Dungeon ini aku harus mengalahkannya, bukan berarti membunuhnya. Jika ada cara lain menyelesaikan Dungeon ini, makan akan ku pilih cara damai saja." Jawab Anto dengan yakin. "Jadi kenapa kamu berta nya seperti itu?" tanya Anto pada Haruna yang ingin tahu kenapa dia bertanya seperti itu.


"Tidak ada apa-apa Kak." Jawab Haruna dengan terlihat normal meski Anto sama sekali tidak percaya. Namun demi kenyaman Anto tidak banyak tanya lagi. "Apa kita akan diam saja di sini?" tanya Haruna yang terus di lihat oleh Anto yang masih curiga padanya. Anto pun berhenti melihatnya dengan terpaksa


“Cetak Biru!” Setelah mengatakatan itu Anto merasakan Mananya di serap oleh tiang itu, tapi Anto tetap membiarkannya. Anto mendapat gambaran bagian gerbang luar saja, namun karena Mananya masih sedikit Anto tidak bisa menjangkau lebih luas lagi. Anto kemudian langsung meminta bantuan pada semua tumbuhan di dekatnya untuk meminjam Mana dari mereka untuk mendapat cetak biru seluruh kota. Para tumbuhan tidak ada yang merespon mereka malah langsung memberikan Anto bantuan dengan mengalirkan Mana padanya. Anto yang mendapat Mana langsung menyebarkan Mananya ke dalam seluruh kota itu.


Kurang dari satu menit, semua Mana sudah tersebar dan Anto mendapat semua cetak biru kota itu. Anto memeninta untuk tetap mengalirkan Mana mereka dengan kecil supaya lancar Anto mengompres kota itu. Para tumbuhan bingung dengan pemintaan Anto, tapi mereka tetap melakukan apa yang di mintanya. Setelah permintaannya di penuhi Anto kemudian terdiam dan menarik napasnya. “Creation!” Setelah mengatakan Skilnya, seluruh kota jadi bewarna Hijau karena kebanyak Mana dari para tumbuhan yang membantu Anto. Anto pun langsung memperkecil seluruh kota dengan sangat cepat sekali menyusutnya. Setelah jadi sekuran setengah lingkaran bola, Anto langsung membuat kaca dan membuat koat itu jadi seperti dalam kaca bening. Kota itu jadi kota yang melayang dalam kaca yang sangat kecil sekali.


Setelah itu Anto langsung membuatnya jadi tambah kecil lagi hingga jadi segenggam tangan saja. Anto merasakan para Tumbuhan kaget dan tidak menduga kalau hal itu bisa di lakukannya. Anto langsung berterima kasih pada para tumbuhan dengan sopan pda mereka karena membantunya. Para tumbuhan justru merespon malah senang melihat hal baru dan juga pertama kali mereka lihat itu. Setelah itu Anto melihat ke bekas kota itu yang jadi berlubang cukup dalam sekali. “Sepertinya ini akan jadi danau kalau di biarkan saja. Mungkin juga banyak hal baru yang akan tercipta dari tanah baru ini.” Dengan senang Anto mengatakannya sambil membuka dimensi penyimpanan lalu melempar bola kota yang di genggamannya ke dalam lubang dimensi.


Setelah itu Anto berbalik melihat ke Haruna. Tapi Haruna malah sangat kaget sekali dengan hal baru yang di lihatnya barusan itu. “Sepertinya aku berlebihan.” Anto yang hanya bisa tersenyum saja saat melihat Haruna yang kaget. “Baiklah mari kita jalan.” Ajak Anto dengan duluan meninggalkan Haruna yang masih kaget dengan tindakannya. “Ku harap kamu akan terbiasa dengan hal ini. Soalnya di masa depan nanti mungkin akan ada banyak kejutan dari diriku yang tidak terduga sama sekali.” Bicara Anto mengingatkan Haruna yang masih diam di tempatnya. “Mau sampai kapan kamu di sana, cepat jalan.” Ajak Anto yang belum terlalu jauh.


Haruna yang mendengar itu langsung berlari mengejar Anto dengan tidak berkata apa-apa. Saat di dekat Anto, Haruna hanya diam saja tidak bicara. “Haruna, aku akan membuat tanda pada dirimu supaya aku bisa menemui suatu saat nanti. Tapi itu keputusanmu sendiri apa mau atau tidaknya.” Anto terus jalan mengatakan itu dengan jelas. Haruna langsung memegang tangan Anto sambil berhenti jalan dan membuat Anto juga berhenti jalan. Anto melihat ke Haruna yang menghentikannya. Saat melihat ke belakangnya Anto melihat Haruna  sangat serius sekali.