
Semua orang melihat ke arah pintu yang di buka secara kasar. Mereka bertanya-tanya siapa yang datang dengan sombong dan juga di kawal oleh sepulah pengawal.
“Kenapa kalian tidak menyambut koki ini?” Seorang pria gendut yang berpakaian seperi koki dengan suara yang sangat sombong sekali dan juga kesal pada semua koki yang di lihatnya.
Semua orang di dapur tidak mengerti dengan semua yang terjadi.
“Kamu siapa?” Tanya Koki pria yang sebelunya marah pada Lala dengan tegas sekali.
“Seret dia.” Orang sombong memerintahkan pengawalnya dengan tegas.
Satu pengawal datang menghampiri koki itu dengan tatapan mengancam.
“Kemari!” Pengawal menarik tangan koki itu dengan paksa.
“Siapa kalian?” Tanya Lala dengan suara lembut.
Orang sombong itu langsung diam dengan suara Lala yang begitu merdu. Semua pengawal juga melihat ke arah Lala yang memanggil. Si gendut langsung terpana oleh kecantikan Lala yang begitu menawan dan terlihat polos.
“Kamu, ikut aku ke kamar malam ini.” Ajak gendut dengan senyum mesum dan juga menjijikan.
Lala langsung merasa sangat kesal akrena tidak di respon, apa lagi meminta melakukan yang tidak tidak. Lala yang merasa kesal mendekati pria gendut.
“Hei!” Lala langsung memukul wajah orang sombong itu hingga terpental ke tembok.
Semua orang langsung terdiam saat Lala memukul orang itu cukup jauh. Para pengawal yang dari tadi diam, mulai berdatagan secara bersamaan kemudian menyerang Lala dengan sangat kuat. Namun Lala tidak menghindar malah langsung membalas memukul dengan sangat cepat hingga mereka semua langsung tumbang bersamaan.
“Sampah.” Lala menatap semua pengawal dan orang sombong itu dengan dingin dan mengancam.
“Dasar jalangggg!!” Orang sombong itu bangun dari tembong tempat ia berbaring.
Lala langung menatap dingin ke arah orang itu dan mulai berjalan pelan ke arahnya.
“Beraninya kamu!” Sambil menunjuk ke Lala yang medekatinya “Kamu tidak tau diapa aku?” Dengan terus memegang wajahnya yang sakit dan hidung yang mengeluarkan darah.
“Masih bisa berdiri!” Lala memukul lagi dengan menahan diri pada wajahnya hingga terpental lagi.
“Aaaahhh!!” Berteriak kesakitan dan bngun lagi.
Karena takut, orang sombong itu berlari meninggalkan Lala yang menatap dengan sangat menakutkan dan ingin menghajarnya.
“Aku harus kabur!” Berlari sekuat tenaga untuk menghindar dari Lala “Pintu itu.” Melihat secarah harapan.
Namun, saat sampai di depan pintu, Lala malah menghentikan nya dengan menarik kembali kemudian melemparnya ke belakang hingga ke dinding tembok yang sedikit retak karena lemparannya. Semua orang sangat takut pada Lala yang sangat menyeramkan, termasuk para koki sebelumnya yang memuji Lala juga sangat gemetar melihat Lala yang brutal sekali.
“Hei bangun?” Lala memerintahkan dari jauh sambil tersenyum padanya dan dengan tanagn mengepal.
“Tolong ampuni aku…!” Dengan suara gemetar memhun ampun pada Lala.
“Tidak.” Kemudian Lala memukul orang itu dengan sangat brutal sekali hingga dia tidak sadarkan diri.
Setelah memukul hingga tidak sadarkan diri, barulah Lala berhenti memukul.
“Sangat lemah sekali kan?” Tanya Lala pada koki yang marah padanya dulu sambil tersenyum dan juga darah yang ada di seluruh tubuhnya yang terlihat menyenangkan sekali bagi Lala.
“Kenapa kalian diam saja, seharusnya kalian senang kan.” Lala yang mengeluaran hawa membunuh pada semua orang di dapur.
Semua koki yang ketakuta berusaha tersenyum sambil gemetar melihat Lala yang begitu menyeramkan. Para pengawal yang sebelumnya sangat arogan, kini taku pada Lala sambil tetap berdiam diri di tempatnya.
“Kalian bawa sampah ini.” Lala menujuk orang yang telah di pukulnya “Jangan tunjukkan lagi wajahnya di depanku, kalau tida…!!” Lala dengan menyeramkan mengingatkan sambil meremas pisau dpaur yang di pungut di lantai “Paham?” Tanya Lala dengan sangta menyeramkan.
Semua pengawal takut dan hanya mengangguk sebagi jawaban pada Lala. Setelah semua pangawal membawa tuannya pergi dari dapurm dan pergi entah kemana setelah melewati pintu tempat masuknya tadi. Selain itu, Lala langsung mengubah ekpresinya dengan wajah polos dan mudah bergaul dengan semua orang.
“Huh! Akirnya selesai juga.” Dengan wajah ceria Lala tersenyum pada semua orang di dapur.
Semua orang masih takut pada Lala yang masih ceria saja dan tidak seolah-oleh terjadi semua barusan itu.
“Sepertinya aku terlalau berlenihan.” pikir Lala yang tau akan kelakuannya yang sangat berlebihan pada semua orang “Bisakah kalian tenang sedikit. Aku hanya memukul bajiangan ini saja, tidak ada yang lain.” Kata Lala pada semua oarng di dapur yang masih ketakuta padanya.
Semua orang masih diam saja dan tidak berani berkata apa-apa dengan ucapan Lala. Setelah cukup lama tidak ada respon sama sekali, Lala diam saja tanpa tersenyum di tematnya karena masih di takti oleh semua orang.
“Hah! Ini sangat menyusahkan.” Lala yang dengan jelas mengucapkan dengan jelas sambil berjalan ke arah dapur hamzan.
Lala tidak peduli dengn tatapan semua orang padanya dan hanya melakukan apa yang menurutnya benar. Saat sampai di dapurnya, Lala langsung duduk di kursi yang ia duduki sebelumnya. Lala di tinggal sendiri di dapurnya dan tidak ada yang berani mendekatinya. Lala tidak merasakan sama sekali kesusahan, meski di hindari semua orang.
“Hm!” Lala yang melihat koki yang marah sbelumnya pada Lala menghampiri nya.
“Terima kasih.” Dengan sopan pada Lala mengucapkannya.
“Sama-sama, tapi jangan gugup begitu, Aku tidak akan menghajarmu kok.” Ucap Lala dengan riang dan juga sangat berbeda dengan perbuatannya yang begitu menyeramkan sebelumnya.
Koki itu tetap mematung di dekat dapur Lala seperti menunggu sesuatu.
“Kenapa masih berdiri?” Tanya Lala karena melihat koki itu terus beriri di tempatnya.
“Siapa kamu?” Tanya koki itu dengan canggung dan juga memberanikan diri.
“Hm! Aku Lala.” Jawab singkat Lala dan juga duduk dengan santainya seolah-oleh tidak ada yang terjadi.
Koki itu kaget dengan jawaban Lala dan juga sangat bingung dengan situasi yang terjadi barusan. Bukan hanya satu koki yang bingung, semua orang di dapur yang mendengar itu juga merasa bingung sekali.
“kalau begitu kenapa kamu memasak?” Tanya Lagi koki itu dengan grogi dan juga penasaran.
“Kenapa? Bukankah sudah jelas. Tentu saja kan, buat di makan. Apa lagi masakan itu di buat untuk di makan.” Lala menjawab Pertanyan koki itu dengan lancar.
Koki itu semakin bingung dengan jawaban Lala yang masih tidak di mngertinya.
“Hah!” Sedikit mendesah saat melihat koki itu yang kebingugungan “Apa jawab itu yang kamu ingingkan?” Tanya balik Lala dengans senyum kecil.
Koki itu mengelengkan kepalanya sekali.
“Aku baru sampai di taman dan ingin mencari temanku. Tapi aku di kira koki yang tersesat olehnya, makanya di tarik ke sini dan di suruh masak.” Jawab Lala denagn sangat jelas pada koki itu yang tidak paham dengan situasi yang di hadapi Lala.
Next Chapter