
Di ruang keluarga, Anto melihat sekeliling yang sangat gelap sekali. Selama itu suasana di ruang keluarga sangat hening sekali, karena Anto tidak melakaukan apapun. 'Waa….' Anto tiba-tiba menangis sedih sekali di ruang keluarga. “Seandaianya aku tidak menggunakan skil ini, apa ini tidak akan terjadi!” Sambil mengusap air matanya dan kepikiran penyebab terjadinya perubahan dalam keluarganya. Anto terus menangis sambil mengusap air matanya yang keluar.
"Kenapa aku bisa sesedih ini?" Tanya Anto yang pada dirinya sendiri sambil mengusap air matanya "Apa aku masih belum menerima kepergian mereka." Tanya Anto pada dirinya lagi. "Sungguh anah rasanya, meski hanya akan di tinggal sebentar saja." Kata Anto yang masih kepikiran dengan dirinya sendiri dengan sedih. Dalam kesedihannya, Anto masih berdiam diri di sopa dan terus menerus membersihkan air matanya dengan tidak melakukan apa un lagi
***
Waktu berlalu Anto yang ada di ruang keluarga masih sedih meski air matanya sudah tidak keluar lagi dan tidak tahu waktu yang telah berjalan di ruang si sana. “Air mataku tidak keluar lagi!” Anto melihat ke jam yang sudah menunjukkan pukul 3:40. “Aku tidak tidur semalaman." Dengan masih mengusap air matanya yang sudah tidak keluar lagi. "Menangis itu bikin semua jadi lebih baik.” Ucapnya dengan suara kecil sambil berusaha menstabilkan dirinya.Setelah beberapa saat, Anto mulai tenang dan masih sedikit sedih. Akibat dari sedihnya dan tidak tidur semalaman membuat matanya merah dan kantung matanya hitam sekali dan sangat jelas.
“Jika terus seperti ini senyumku akan hilang juga.” Sambil memperbaiki posisi jadi tidur di sopa. Setelah berbaring Anto memejamkan matanya, namun dia tidak tidur di sana. Anto hanya dia saja dan tidak melakukan apa pun. Anto yang sedih bangun lalu mengambil remot TV nya kemudian menyalaknnya lalu berbaring lagi sambil menonton meski tidak menimatinya. Meski Anto menonton, dia tidak peduli dengan apa yang di siarkan TV nya, Anto masih banyak pikiran yang balum dia lupakan.
***
Anto menonton TV selama 2 jam penuh hingga matahari muncul. Anto yang sedih masih diam di tempatnya dengan mata mata merah dan juga kantung mata yang gitamn akibat berjaga dan sedih. “Sudah pagi ya.” Anto yang melihat ke arah jam yang sedikit berdring memberi tanda waktu sudah pagi. Anto yang berbaring turun dari sopanya lalu jalan ke dekat jendela kemudian membuka gorden.
Ruangan itu langsung di sinari matahari dan membuat Anto mengusap matanya akibat kena lansung pancara matahri. “Jika Ayah dan Ibu di sini, apa yang akan mereka katakan pagi-pagi.” Sambil memandang taman di luar rumahnya. "Selama ini, Aku selalu bangun pagi dan selalu menemukan Ayah dan Ibu di ruang makan, jadi siapa ya yang mengurus semua ini?” Tanya Anto yang tidak melihat ada siapa pun di rumahnya selama bersama Ayah dan Ibunya. "Sebaiknya aku pergi cuci muka dulu." Jalan menuju ke kamar mandinya.
Saat sampai di sana, Anto langsung membuka keran air dan memasuh wajahnya dengan cepat kemudian mengeringan dirinya dengan handuk yang sudah tersedia di sana untuk dirinya sendiri. “Selama lima tahun ini aku Cuma melihat Ayah dan Ibu di rumah, tapi siapa yang merawat ini semua?” Anto yang bertanya-tanya siapa yang merawat yang tanaman di rumahnya, sedangkan dia tidak tau orang lain kecuali orang tuanya yang di rumah "Apa mungkin, Ayah dan Ibu yang merawat ini semua?" Anto yang mulai tenang dan berusaha mengalihkan perhatiannya ke hal lain sambil keluar ke ruang keluarga lagi.
Selama beberapa saat Anto mulai merasa baikan dan tidak sedih dengan memikirkan itu. Meski matanya sudah kembali normal, kantung mata Anto masih hitam dan dia tidak menyadari itu sama sekali karena tidak pernh melihat dirinya di cermin. Saat sampai di ruang keluarga, Anto langsung duduk hendak menonton TV lagi. “Permisi” Panggil seseorang dari depan pintu rumah.
"Siapa yang datang?" Tanya Anto yang tidak tau siapa yang datang. "Kenapa mereka bisa membuka gerbang rumah?" Tanya Anto pada dirinya sendiri. Tanpa pikir panjang lagi Anto langsung jalan ke depan pintu rumahnya. dengan jalan pelan. Sesampainya di depan pintu rumah Anto tidak keluar dan tetap di dalam. “Siapa?” Tanya Anto yang belum membuka pintunya dengan sopan dari dalam rumahnya.
“Ada paket.” Jawab orang di luar rumah dengan sopan.
"Paket?" Anto yang sedikit bingung dengan kurir yang tiba-tiba datang ke rumahnya “Dari siapa?” Tanya Anto balik dengan sopan.
“Tidak ada tanda pengirimnya, mohon segera di terima.” Jawabnya orang di luar dengan sopan. Anto tidak langsung jawab dan menunggu terlebih dahulu. Anto berjalan mendekat ke pintu rumahnya.
“Mencurigakan!” Anto yang sedikit mengintip dari lubang kuci pintunya "Tidak ada yang aneh!" Pikir Anto saat tidak melihat sesuatu yang mencurigakan da luar “Bisa masukan surat tanda terimanya lewat celah di bawah pintu?” Tanya Anto tanpa ragu sambil melihat reaksi dari pengirim paket dari dalam rumahnya meski hanya sedikit.
“Tunggu sebentar.” jawab pengirim paket dari luar dan tapa ada keraguan.
"Sepertinya kurir asli." Pikir Anto yang sudah tidak curiga lagi pada kurir di luar rumahnya. Anto yang tidak curiga lagi, menunggu kurir paket itu memberikan tanda terima dari paketnya. Setelah beberapa saat, ada sebuah kertas di bawah pintu rumahnya. "Terima kasih, dan tunggu sebentar. Saya mau lihat dan menanda tanganinya." Kata Anto pada Kurir di luar yang seperinya sedang menunggu.
"Baik" Jawabnya dengan sopan pada Anto yang di dalam rumah. Setelah itu, Anto mengambil kertas di lantai. Anto tidak menemukan siapa pun yang mengirim paket itu dalam tanda terima itu.
“Apa ini?” Tanya Anto sambil melihat selembar kertas yang di lihatnya cuma sebentar. “Sudahlah, tanda tangani saja!” Sambil masuk kembali ke dalam rumahnya. “TUNGGU SEBENTAR, SAYA AMBIL BOLPOIN DULU.” Teriak Anto yang ada di pertengahan jalan di dalam rumahnya. Tanpa ada terdengar jawaban. Anto langsung mencari di mana polpen di taruh di ruang keluarga tapi tidak menmukan satu pun.
“Di mana mencarinya?” Tanya sambil keluar dari ruang keluarga. “Aku belum sekolah jadi mana mungkin aku punya bolpoin." Anto berpikir di mana mendpat bolpoin. "Kamar Ayah dan Ibu.” Ucapnya saat mengingat kedua orang tuanya. Anto yang sudah tau harus ke mana, dengan cepat berlari menuju kamar Ayah dan Ibunya.. Sesampainya, Anto berdiri di depam pintu kamar OrangTua nya, Anto hanya berdiri saja di luar. “Selama ini, aku tidak pernah masuk ke kamar Ayah dan Ibu sebelumnya.” Gumannya berdiri di depan kamar orang tuanya.
'KLAK!' Dengan pelan Anto membuka pintu kamar Ayah dan Ibunya. Anto melihat ke lamat itu yang biasa saja dan juga tidak banyak parabotan di sana. “Ruangan yang sederhana sekali, tidak jauh beda dengan kamarku. Hanya saja ini kamar Ayah dan ibu ini lebih luas dan juga tidak punya barang seperti di kamarku.” Pikir Anto sambil melihat sekeliling kamar oarng tuanya.
Dengan pelan Anto masuk ke dalam kamar orang tuanya. “Permisi, apa anda sudah selesai?” Tanya kurir yang menunggu di luar rumahnya dengan suara terdengar kecil sekali.
“Terima kasih.” Ucap kurir paket di luar pintu itu “Dimana saya harus meletakkan barang ini?” Tanya orang di luar dengan sopan pada Anto yang masih di dekat pintu.
“Taruh saja di luar, di dekat pintu, jangan taruh di depan gerbang rumah.” jawab Anto dengan sopan pada kurir itu.
“Oh, baik.” Jawab Kurir paket dengan sopan pada Anto yang ada di dalam rumah. Setelah itu, kurir kembali ke gerbang rumah kemudian mengajak beberapa orang membawa kardus yang begitu besar dan di taruh di depan rumah Anto saat mereka sampai. “Saya sudah taruh, kalau begitu kami Permisi” Ucap salah satu orang yang mengantar barang itu dengan sopan.
“Terima kasih atas kerjanya.” Kata Anto sambil melihat lagi dari lubang kunci.
"Sama-sama." Jawab salah seorang petugas kurir paket dengan sopan.
“Hei, suaranya seperti anak kcil saja.” Salah seorang berbisik di depan rumahnya dengan keras sekali.
“Diamlah, aku juga bingung.” Jawab orang lain di dekat pria yang bertanya tadi sambil melihat balik ke ruamh Anto.
“Apa yang kalian katakan tidak salah sih, kalau aku anak kecil.” Anto yang terus melihat empat orang laki-laki berpakaian sama pergi meninggalkan rumahnya. “Apa yang dikirim orang-orang itu?” Tanya diri sendiri dengan sedikit rasa keluh. Anto yang melihat mereka sudah pergi dengan mobil terbang mereka, berhenti melihat dari lubang kunci. Setelah kurir pergi, Anto langsung membuka pintu rumah dan melihat kardus yang begitu besar di depan rumahnya.
“Tingginya!” Anto yang kaget saat melihat kardus yang sangat tinggi di dekat pintunya (Dari mata anak kecil itu memang tinggi). “Bagaimana cara membawanya masuk? tinggiku saja sekitar 86 cm!” Pikir Anto yang terus memandangi kardus tinggi itu dengan sedikir bingung cara membawanya masuk. Anto memandangi cukup lama kardus itu dengan memekirkan bagaimana cara memasukannya ke dalam rumah.
“Ini tidak akan mudah." Guman Anto yang tidak tahu harus bagaimana dengan paket itu."Sebaiknya aku minta tolong pada tetangga saja.” Pikir Anto yang tidak mempunyai pilihan lain sambil melihat ke rumah tetangga di sebalah rumahnya. Dengan pelan, Anto keluar memakai sandal kemudian langsung berjalan menuju gerbang rumahnya. “Sangat sepi sekali orang di sini.” Ucap Anto saat sudah di luar gerbang yang tidak ada banyak orang.
Anto melihat ke sana-kemari mencari bantuan dari orang yang bisa membantunya. "Itu!" Saat melihat seseorang di berjarah sekitar 100 meter dai rumahnya “PAMANNN...!” Teriak Anto memanggil tetangganya yang agak jauh. Paman itu melihat ke sana kemari mencari sumber suara yang memanggilnya. Paman itu melihat ke arah Anto yang melambaikan tangan padanya. “TOLONG PAMANNN...!.” Anto terus melambaikan tangan pada paman itu.
Orang itu menghampiri Anto dengan cepat saat Anto bereriak. Dia hanya memakai pakaian dalam saja, bgaian atas. Saat sampai, Paman itu terlihat garang dari dekat dan juga tegas pada Anto yang ada di depannya. “Nak ada apa?” Tanya orang yang berotot besar dan yang hanya memakai pakaian dalam saja.
“Itu” Anto menunjuk pada kardus yang tinggi dan sedikit besar. “Apa bisa bantu aku memasukannya ke dalam rumah?” Tanya Anto dengan senyum dan tidak takut pada paman di depannya. Paman itu diam saja saat Anto memimta bantuannya. Dia mengira ada masalah besar hingga dia di panggil dan berlari dengan cepat. Dan tidak menduga akan di minta bantuan hanya mengangkat kardus besar
“Kamu tidak takut padaku?” Tanya paman itu dengan wajah yang terlihat garang pada Anto. Anto melihat dengan bingung dan juga sepertinya melupakan sedikit tentang kesedihannya.
“Takut! aku tidak takut." Jawab Anto dengan ekpresi biasa saja pada Paman itu. "Paman akan membatuku kan?” Tanya lagi Anto dengan sopan pada orang itu. Paman yang melihat ke Anto yang terlihat biasa saja dan tidak takut padanya melihat dengan ekpresi sama saja. "Bagaimana?" Tanya lagi Anto dengan masih sopan saat Paman itu diam saja tidak merespon. “Kenapa lama banget jawabnya?" Tanya Anto yang saber menunggu sambil melihat ke wajah Paman itu yang menyeramkan. "Tapi, jika aku yang dulu, pasti takut.” Pikir Anto saat melihat paman itu yang masih menatap Anto dengan ekspresi sama dari awal.
“Baiklah” Dengan ekspresi sama menanggapi Anto yang tidak ketakutan sama sekali padanya. Setelah mendapat persetujuan, paman itu kemudian masuk ke halaman ruamh Anto dengan pelan dan langsung mendekati kardus di depan pintu rumah Anto. Anto mengikuti dari belakang dengan sopan. Saat sampai di dekat kardus itu, Paman itu langsung mengangkat kardusnya. Paman itu menggunkan kekuatan ototnya hingga terlihat sekali. Beberapa kali Paman itu mencoba namu kardusnya tetap saja tapi tidak bisa bergerak sedikit pun dari tempatnya. Anto yang melihat itu mendekati paman itu dengan santainya yang dari tadi hanya melihat saja.
“Paman sangat lemah sekali dan hanya punya otot sebagi pajangan saja.” Ucap Anto dengan sopan pada paman itu. Orang itu merasa kesal pada Anto yang mengejeknya dengan terus terang dan juga dengan adab sopan mengataknnya. “Kalau begitu, akan ku minta bantuan pada tetangga yang lain, Paman tunggu di sini.” Minta Anto dengan sopan sekali pada Paman itu. Setelah itu Anto jalan ke gerbang pintu rumahnya.
“Entah kenapa aku merasa kesal sama anak ini.” Paman itu merasa kesal saat mendengar Anto yang berbicara begitu, dengan gaya yang terlihat sopan padanya. Paman itu, melihat Anto yang teriak-teriak beberapa kali dari depan pintu gerbang rumah Anto sambil menunggu bantaun yang di cari Anto. Setelah beberapa lama menunggu empat orang datang pada Anto secara bersamaan.
'Eh!' Secara bersamaan semua orang saat saling menatap seprti saling kenal. Empat orang dewasa dengan berbagai perawakan berkumpul dan membuat suasan menjadi canggung di gerbang rumah Anto. “Hm! apa mereka saling kenal!” Anto yang melihat ke empat orang di dekatnya saling melihat beberapa kali. Anto tersenyum saat melihat itu. “Ada apa dengan kalian? kenapa kalian saling melihat begitu?” Tanya Anto yang pura-pura tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi.
Mereka saling memandang lagi dan tidak menjawab pertnyaan Anto. Malah saling diam saja. “Paman-paman, kalau tidak di jawab! Cepat bantu aku, itu!” Sambil menunjuk pada kardus yang besar dan tinggi dan pada paman berotot yang sudah menunggu.
Ke empat orang itu tidak berkata apapun dan langsung jalan di temani Anto ke kardus besar dan tinggi itu. Saat sampai kelima orang itu saling lihat lagi. Kemudian mereka berlima membagi bagian masing-masing, lalu mengangkat secara bersamaan kardus itu. Setelah di angkat bersmaan, masih saja terasa berat hingga mereka semua meringis keberatan. “Sebentar, aku buka pintu dulu” kata Anto sambil berlari ke pintu rumahnya yang di tutupnya. Setelah itu mereka membawa masuk kardus itu ke dalam rumah Anto, dengan terletih-letih dan juga berusaha menahan beratnya kardus itu.