Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 29


Anto dan Trex saling serang dengan kekuatan masing-masing. Trex mengunkan seburan api seperti Naga sedangkan Anto menggunakan senapan mesin yang menembak dengan sangat cepat sambil menghindari semburan api Trex itu. Dari sisi Nina yang sangat jauh, dia melihat pertarungan yang tidak biasa di lihatnya. Baginya hanya bisa melihat semburan Api yang jelas dari Monster dan tembakan beruntun dari Anto yang terbang dengan kecepatan cepat ke arah Monster itu. “Apa ini pertarungan?” Nina yang melihat Anto bertarung dengan Trex seperti sebuah persaingan dan bukan saling membunuh. Trex dan Anto bertsrung dengan sangat sengit sekali hingga banya sekali dataran yang rusak dari pertempuran mereka berdua.


"Kenapa Trex ini hanya menyemburkan api? Apa dia punya rencana lain?" Anto yang masih betraung sambil menembak dengan senapannya. "Hm! Perisai beruntun." Anto yang melihat serangan ekor Trex itu. Serangan ekornya itu membuat Perisai yang di buatnya hancur hingga mengenainya. 'UHUK!!' Anto terkena serangan ekor Trex dan terpental sangat jauh sekali hingga berhenti dan menempel di dalam batang pohon. “Adeh... Sakit!” Anto masih sehat dan segar bugar meski sudah kena serangan tadi. “Trex nya pintar. Dia mengunakan semburannya sebagai pengalihan, lalu menggunakan ekornya untuk menyerang.” Anto yang beranjak berdiri dan juga membuat senajata baru setelah senapan hancur kena serangan Trex. Kali ini dia menggunakan sebuah pisau sebagai senjatanya. Anto menerjang lagi trex ke depan, lalu tiba di dagu dan dengan tangan kirinya dia memukul Monster Trex itu hingga terjatuh. Setelah jatuh, Anto langsung terbang lebih tinggi, lalu terjun ke bawaha sambil mencoba menusuk Trex itu dengan pisau. Tapi, Trex itu langsung menghalangi dengan ekornya, untuk menahan serangan Anto.


Anto terpental beberapa meter setelah gagal melakukan serangan pada Trex itu. Trex itu bnagun dengan cepat setelah jauh. 'Rrgh!!' Trex itu mengaung pada Anto yang membuatnya jauh dan sempat membuat serangan padanya. “Kau cukup hebat untuk seukuran manusia?” Trex itu memuji Anto.


“Eh!” Anto sedikit kaget dengan Trex yang bicara padanya. “Kamu bisa bicara! Tidak kusangka seekor DINOSAURUS bisa berbicara.” Repon Anto sambil melayang di depan Trex tanpa ada raa takut sama sekali.


“Kamu tahu DINOSAURUS?” Tanya Trex dengan yang kaget dengan perkataan Anto.


“Tentu saja. DINOSAURUS adalah pelajaran sekolah di Dunia kami.” Jawab Anto dengan jujur pada Trex yang bertanya padanya. “Di Planet Bumi, kalian di sebut DINOSAURUS.” Anto menjelaskan dengan detail. "Sudahlah, mari kita lanjutkan." Ajak Anto yang mulai bersiap menyerang. Saat Anto melihat, Trex itu mengeluarkan air mata. "..." Anto tidak mengerti dengan situasi yang di hadapinya sekarang. "Bagaimana NAVI?" Tanya Anto yang tidak mengerti sama sekli dengan alur yang terjadi.


"Jangan tanya aku." Jawab NAVI yang juga tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Setelah itu, Anto melepas semua posisi siaganya dan melihat Trex yang meneteskan air matanya terus menerus.


“Bumi.” Trex itu masih menetaskan air mata. “Aku sudah lama hidup disini. Ras ku di habisi. Akhirnya ada seorang dari kampung halamanku. Aku sangat senang sekali.” Kata Trex di depan Anto dengan suara yang sedih sambil menetaskan air mata. Anto sedikit kaget dengan apa yang terjadi pada Trex itu. Anto berhenti jadi waspada malah tidak mengerti degan apa yang di rasakan oleh Trex.


"Aku tidak tahu harus bilang apa, NAVI Bantulah, apa pun itu." Minta Anto yang sama sekali tidak tahu harus bagaimana dengan situasi yang di gadapinya sekarang ini.


"Kenapa tidak ajak saja ke Bumi, apa susahnya." NAVI langsung menyarankan tanpa memikirkan perkataannya.


"Mengajak Trex ke Bumi?" Anto melihat ke Trex yang sangat besar dan akan menghcncurkan peradaban sekarang. “Tapi, sudahlah." Anto yang setuju dengan pendapat NAVI meski sulit di percaya Trex akan mau ikut ke Bumi.  "Kalau gitu, gimana dengan ikut aku ke Bumi?" Tanya Anto yang tidak tahu harus pada pada saat itu.


"Bisa kah?" Tanya Trex langsung pada Anto yang di depannya. Untung Anto pakai Topeng dan tidak kena wajahnya oleh air liur Trex. "Maaf!" Trex langsung minta maap pada Anto yang terkena air liurnya yang keluar.


"Sebelum itu, bagaimana kamu bisa di sini?" Tanya Anto pada Trex sambil menghilangkan air liur yang ada di seluruh tubuhnya. “DINOSAURUS tidak punah di zaman itu. Bumi makin lama menarik saja.” Anto yang sangat penasaran sekali hal yang baru pertama kalinya Anto temukan.


Trex itu diam dan membersihkan air matanya, setelah lebih baik dia melihat ke Anto. "Bisa ceritanya lain kali. Hari ini sudah cukup bagiku." Kata Trex sambil melihat ke Anto yang masih tenang dan tidak terganggu oleh apa pun.


"Kalau gitu, ikut aku sekarang. Jika kamu ingin ikut ke Bumi." Ajak Anto yang sabar menunggu cerita dari Trex. Tanpa menunggu jawaban dari Trex, Anto terbang melayang ke tempat Nina berada.


"Baiklah." Jawab Trex dengan rasa senang yang terbendung sambil mngikuti Anto yang terbang ke suatu tempat. Siska dari jauh yang memperhatikan pertempuran yang telah terhenti di tengah-tengah.


“Apa yang terjadi!?” Siska bingung dengan pertarungan yang tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Siska yang tadi bisa melihat semburan dan kekuatan yang tidak di ketahuinya, sekarang telah terhenti sepenuhnya hingga membuat dia penasaran dengan situasi di sana. "Apa aku ke sana saja?" Siska yang tidak tahu harus bagaimana. Saking gelapnya, Siska tidak bisa mengetahui sepenuhnya dari situasi yang sedang terjadi di sana.Dengan memberanikan diri, Siska terbang ke arah Anto bertarung. Namun, saat terbang, Siska melihat Trex yang mengejar tadi berlari ke arahnya dan bahakan lebih cepat dari sebelumnya. Siska yang melihat itu berheni lalu berbakik dengan sangat cepat. Namun, sia-sia Trex itu sudah di belakangnya. "Mustahil!" Dengan wajah pucat Siska berusahamelarikan diri karena tkut sekali.


"Putri berhenti!" Panggil suara yang tidak asing baginya. Siska yang melihat itu, langsung terbng ke arah Anto yang di lihatnya tanpa memperhatikan Trex yang ada di dekat Anto. Siska langusng memeluk Anto karena takut. "Tenanglah, aku di sini." Anto membalas memluk Siska yang takut. "Padahal dia lebih tua dariku. Tapi, sifatnya seperti anak-anak sepertiku." Anto yang entah kenapa merasa senang dengan Siska yang di dekatnya.


"Kalian sudah selesai?" Tanya Trex pada Anto dan Siska. Siska membuka matanya dari pelukan Anto. Siska langusng terdiam dengan Trex ada di dekatnya 'WAAA......!!' Siska sangat kaget sekali dengan Trex yang di dekatnya itu. Tapi, Anto langsung mengalirkan sesuatu pada tubuh Siska yang membuatnya merasa lebih nyaman dari pada sebelumnya.


"Tenang Putri. Dia tidak sejahat itu." Anto yang terus menenangkan Siska yang tkut denganTrex tapi tidak pingsan sama sekali karena Anto terus menenangkan dengan suatu energi. Siska melihat ke Anto yang masih mengenakan topengnya masih tidak percaya. Tapi, Anto melepas topengnya di depannya sambil tersenyum pada Siska. Siska yang melihat itu, percaya pada Anto meski ragu-ragu. “Perkenalkan dia Ni… Siska.” Anto yang hampir keceplosan saat memperkenalkan Siska.


“Dia keturuanan manusia penjajah! Kenapa dia bersama mu?" Tanya Trex pada Anto saat melihat Siska.


"Trex, apa maksudmu?" Tanya Anto yang tidak mengerti maksud Trex.


"Namaku Lia, buka Trex." Lia langsung marah saat Anto memanggilnya begitu.


"Maaf, aku baru tahu." Dengan sopa Anto langusngminta maap pada Lia. "Lia itu nama manusia." Anto yang merasa kalau Lia itu hanya memberi dirinya sendiri nama. "yang tadi itu, apa maksudnya?" Tanya Anto lagi.


"Ha... Seperti yang ku bilang, Dia keturunan para penjajah dari Dunia Immortal." Jawab Lia dengan penu rasa marah.


"Bisa ceritakan sedikit?" Tanya Anto pada Lia dengan tulus. Lia menatap tajam ke Siska yang masih ketakutan padanya.


"Saat itu, aku masih sangat muda dan tidak sekuat sekarang. Entah dari mana sosok Manusia melayang tiba-tiba membunuh kedua OrangTua ku dan membatai Ras ku. Bahkan penghuni asli dari Planet ini di bantai habis olehnya. Saat itu, aku berhasil selamat karena bersembunya di salah satu mayat penduduk Asli Dunia ini. Penghuni Dunia sangat baik sekali menerima kami saat itu. Tapi, seorang datang lagi Manusia yang entah dari mana bersama mahluk aneh yang tidak ku ketahui. Keduanya melawan manusia yang membatai hampir semua Ras ku. Pertarungan itu berlangusng selama 10 tahun dan aku menyaksikan semua itu dengan mata kepalaku sendiri." Lia terdiam sebentar dan menteskan air mata. "Kedua orang yang melawan Imorrtal itu kalah. Manusia yang menoba melawan itu kalah dan mahluk yang tidak ku kenal itu terluka parah. Aku mencoba menyelamatkan Mahluk aneh itu, tapi dia malah memberiku sebuah pengetahuan tentang Kultivasi dan Planet Bumi Kampung halamannya dan Hewan yang di kenal Anjing itu si seret oleh Kultivator itu entah ke mana." Lia terdiam lagi sambil melihat ke Anto yang nymak dengan serius dan juga wajahnya yang tampak peduli. "Dan dari sana aku belajar Kultivasi dan mencoba memimpin Rasku yang hampir musnah. Tapi, setelah 10 tahun, orang itu kembali lagi menyerang kami. Tapi, saat itu kami semua melawan hingga kami semua banyak yang mati. Pada Akhirnya kami kalah dan aku sebagai pemimpin merasa sangat bersalah dengan dirku yang lemah saat itu. Krena diriu saja yang selamat meski sangat terluka." Kali ini Lia melihat ke Siska yang terdiam dan tercengang dengan cerita Lia.


"Setelah kejadian itu, aku bersembunyi untuk menyembuhkan diri. Waktu terus berlalu, aku tidak tahu berapa lama aku menyembuhkan diri dan saat itu. Setelah aku pulih total, aku keluar dari persembunyianku dan melihat matahari lagi. Setelah 10 tahun berlalu, tiba-tiba awan gelap menutupi Seluruh Dunia. Matahrai tidak bisa ku lihat setelahhnya. Setelah awa gelap itu menutupi Dunia ini aku terus berusaha mencoba mengancurkan awan-awan gelap itu, tapi itu sia-sia karena aku sangat lemah. Dunia ini jadi gelap gulita dan tanpa ada penerangan sama sekali." Lia terdiam sebentar sambil melihat k langit. "Dalam gelapnya Dunia,mahlu di sini mengalami banyak kematian karena kekurangan Sinar matahari. Ribuan tahun berlalu, hewan mulai hidup lagi dan mulai berevolusi di kegelapan dan menjadi mahluk yang tidak normal. Mereka jadi haus darah dan tidak hidup lagi. Mereka jadi binatang tak berotak. Selain itu Penduduk Asli Dunia ini, hidup lagi tanpa punya perasaan sama sekali dan menghujani dunia gelap ini dengan katkutan. Tapi, setelah sekian lama, merek tidak pernah uncul lagi." Lia tidak melanjutkan lagi ceritanya dan di amleihat ke arah Anto.


"Jadi apa selamjutnya?" Tanya Anto yang masih pensaran sama lanjutan cerita Lia.


"Jangan tanya lagi, kita istrahat di suatu tempat dulu." Ajak Lia yang sepeertinya tidak mau melanjutkan ceritanya sama sekali. Anto terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa dengan Lia yang tidak ingin lanjut cerita.


"Meski semua ceritanya di potong-potong, itu adalah kejadian yang nyata. Tapi, banyak sekali rahasia yang tidak dia sebutkan. Seperti lorong Bumi." Anto yang tidak bisa memaksa Lia menceritkan semua kisah yang pernah di alaminya. Dan Anto juga mengerti dengan orang yang baru di temui, pasti dia tidak akan mencertikannya secara lengkap. "Aku mengerti, kalau gitu kita pindah temapt dari sini. Apa kamu tahu di mana tempat yang aman dari sini?" Tanya Anto yang sudah paham sekali dengan situasi yang sedang terjadi.


"Ya. ikuti aku." Ajak Lia sambil duluan berlari meninggalkan Anto. Anto melihat Lia yang meninggalannya duluan, lalu melihat ke Siska yang takut pada Lia.


"Siska, tenang saja. Lia tidak berbhaya sama sekali. Mungkin dia akan waspada sama kamu yang keturunanan Immortal yang dia maksud, tapi tenang saja. Aku akan menjagamu." Anto tersenyum pada Siska yang takut dengan Lia. Siska yang melihat Anto yang percaya diri dengan perkataannya, hanya bisa percaya apa yang di katakannya dan mengangguk sebagai jawaban. Anto yang sudah dapat respon dari Siska langsung mengejar Lia yang sudah hilang dari pandangan mereka.


***


Anto terbang sekitar 30 menit ke arah Lia berlari dan Lia sudah menunggu di sebuah tempat yang cukup bagus di sebuah tebing tinggi sekali hingga menembus awan gelap itu. "Selamat datang." Dengan suara sopan pada Anto Lia menyambut Anto dan Siska. Anto melihat Lia yang masuk ke dalam gua besar dan luas itu.


"Sangat luas sekali di dalamnya, tapi ini hanya untuk satu orang saja." Anto yang sudah tahu kalau tempat iitu hanya untuk Lia saja.


"Tenang saja." Kata Lia sambil menunggu di luar tebing. Setelah berkata itu, tubuh Lia mengecil hingga seukuran tubuh manusia.


"Kamu bisa mengecil." Anto yang baru peratama kali melihat hat itu.


“Ya.” Jawab singkat Lia. Siska menjaga jarak dari Lia dengan terus bersembunyi di balik Anto. Anto yang melihat itu tidak bisa berkata apa-apa dan hanya bisa membiarkan Siska seperti itu. Setelah itu, Anto mengumpulkan cahaya di depannya lalu membuat kotak yang sama seperti sebelumnya. Siska yang melihat itu langusng mengambil kotak di tangan Anto.


"Siska?" Anto yang tidak sempat menekan tombolnya dan malah di ambil oleh Siska. Siska dengan cepat menekan tombol yang sama seperti Anto menekan tombolnya dulu. Anto yang melihat itu tidak tahu harus bekata apa pada Siska yang sudah menekan duluan lalu masuk dulian ke tenda yang di buat Anto. "Sepertinya kamu tidak bisa masuk ke dalam." Anto yang melihat Lia terlalu lebar untuk seukuran Trex. "Akan ku buatkan yang pas untuk mu sebentar." Anto mulai mengumpulkan cahaya yang sama sperti seblumnya.


"Tunggu!" Lia menghentikan Anto yang baru mulai. Dari tubuh Siska keluar cahaya yang sangat terang sekali hingga ANto menutup matanya. Beberapa detik berlalu, cahaya itu meredup. "Bagaimana?" Tanya Lia dengan suara yangs udah beruba seperti seorang perempuan. Anto menbuka matanya yang masih buram karena cahaya yang tiba-tiba mati. Anto terdiam saat melihat Lia yang sudah berubah jadi manusia dan juga dengan pakaian lengkap seperti pakaian di bumi yang sangat cocok untuknya. "Aku cantik kan?" Tanya Lia pada Anto yang merah wajahnya karena malu di tanya yang sudah jelas sekali.


"Sangat cantik." Jawab Anto dengan jujur sambil memalingkan wajahnya dari Lia yang melihatnya dengan penuh Godaan.


"Jadikan dia Gadis harem!" Minta NAVI pada Anto dengan cepat.


"Aku paham. Aku juga kepikiran." Jawam Anto Anto yang masih di luar tenda. "Nah Lia...?" Anto yang sangat grogi mau mengatakan perasaannya.


"Ada apa?" Tanya Lia yang sepertinya terus menggoda Anto


"Apa kamu mau jadi Istriku?" Tanya Anto dengan menatap ke mata Lia dengan wajah merah sekali dan juga malu yang tidak bisa di bendung meski dia sudah menahannya. Lia melihat Anto yang menatapnya dengan sangat serius sekali dan juga tidak mengalihkan matanya sama sekali


“Fff!” Lia tertawa kecil saat Anto mengatakan itu. “Bawa aku ke kampung Bumi, maka aku bersedia jadi Istrimu.” Jawab Lia dengan wajah serius sambil menggoda Anto


“Benarkah?” Tanya Anto yang kurang percaya sama perkataan Lia yang terus menggodanya.


"Aku serius. Dan juga aku tidak keberatan jika kamu punya banyak Istri." Lia dengan sangat jujur sekali mengatakan apa yang di inginkan Anto. Setelah Lia mengatakan itu, Anto merasa sangat senang sekali dan tidak bisa berkata apa-apa dengan jawaban Lia yang terasa tidak nyata sama sekali. "Kalau gitu, aku masuk dulu." Kata Lia sambil meninggalkan Anto yang masih diam dan tidak berkata apa-apa padanya.


"NAVI, apa tadi itu nyata?" Tanya Anto setelah Lia masuk ke dalam tenda duluan.


"Ya. Sangat nyata." Jawab NAVI singkat. "Apa kamu mau biarkan mereka berdua bertemu?" Tanya NAVI saat Anto masih tidak percaya sama sekali dengan jawaban Lia. Anto yang mendengar pertnyaan NAVI langusng masuk ke tenda suapaya tida terjadi keributan.


Saat sampai di dalam tenda, untung Lia masih di dekat pintu masuk dan belum masuk terlalu dalam. "Sudah lama sejak aku melihat barang-barang dari Bumi." Kata Lia sambil memgang dinding tenda (Ingat tiruan rumah Anto yang ada di bumi). Anto yang mendengar itu sangat tidak menduga sama sekali, dan hanya bisa melihat Lia yang tersenyum saat menyentuh dinding rumahnya.


NEXT Chapter