Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 106


Kedua OrangTua Nia dan Nina menatap ke Nia yang masih melihat biasa saja yang terlihat jelas kebohongan


yang di certikannya. “Nia, kamu sudah terlalu jauh bohongnya. Kamu kira kami tidak menyadarinya.” Nina dengan sedikit mengeluh dengan tindakan Nia yang tidak biasa. “Mungkin kamu tidak menyadarinya, tapi selama ini dia selalu membiarkanmu membohongi dirinya. Karena semua perkaataanmu itu akan dia turuti. Paham.” Nina menjelaskan kenapa Nia selalu mendapatkan hal yang di inginkan dari Anto.


Kedua OrangTua Nia menjadi bingung saat melihat Anaknya yang terihat lesu saat Nina setelah berkata begitu. “Apa maksud kalian ini?” Tanya Papa Nia yang terlihat bingung setelah Nina yang menasehati Nia. Nina melihat ke arah Kedua OrangTua Nina. Kedua OrangTua Nia melihat dengan ke arah Nina yang sepertinya mengetahui sesuatu.


“Apa ku ceritakan, ya?” Nina yang masih kebingung dengan apa yang akan di lakukan dengan pertanyaan Papa Nia. Nina berpikir sebentar lalu mulai diam.  “Kapan kalian tau anak kalian berubah keperibdiannya?” Tanya Nina dengan terang-terangan pada Kedua OrangTua Nia. Kedua OrangTua Nia  melihat ke arah Nina yang bertanya pada mereka dengan biasa saja.


“Tung…!” Nia yang mau menghentikan kedua OrangTuanya untuk menjawab, tiba-tiba di tarik oleh Nina sambil menyumpal mulut Nia dengan tangannya.


“Tenang saja, lanjtutkan saja dan serahkan Adik ini padaku.” Kata Nina yang dengan terus bertahan dari Nia yang memberontak berusaha menghentikan kedua OrangTuanya untuk menjawabnya. Kedua Orangtua Nia merasa sangat bingung sekali dengan situasi yang aneh sekali dan baru sekali di temuinya. Mereka tidak tau harus berkata apa saat melihat Anak mereka di hentikan dan di sumpal oleh Nina di deoan mereka sendiri. Mereka malah merasa heran dengan kedua Anak yang terlihta akrab sekali, seperti pertengkaran untuk Adik Kakak yang ingin memperebutkan rahasia kecil-kecilan dari masing-masing.


Kedua OrangTua Nia masih belum menjawab, malah melihat kedua Anak yang terlihat saling bertengkar tapi hanya untuk hal biasa saja. “Hm… Kira-kira kapan ya, Ma?” Tanya Papa nya yang sepertinay tertarik dengan kelanjutan situasi ini sambil bertanya pada Istrinya.


Istrinya sedikit kaget dengan pertanyaan Suaminya yang di timpahkan padanya. “Kalau itu…” Istrinya yang berusaha mengingat. “ Ah, waktu itu, pas Anak laki-laki bertarung dengan Kultivator di langit itu.” Mama nya dengan terus berusaha mengingat. “Waktu itu, Anak ini lagi sedih tapi, tiba-tiba terlihat senang di wajahnya. Saat melihat Anak bertarung dengan para kultivator, dia tiba-tiba senang entah kerena apa. Padahal waktu itu dia sangat sedih sekali saat tidak di belikan makanan yang di sukainya.” Jawab Mama Nia yang sudah ingat. Nia tidak bisa berkutik lagi dan hanya diam saja sambil membiarkan dirinya di sumpal mulutnya dan tidak memberontak lagi.


“Nia, apa yang sebenarnya kamu lakukan?” Tanya Nina dengan telepati.


“Hehe… Aku baru sadar saat saat itu. Aku juga beum sempat ceritakan semuanya.” Nia menjawab dengan biasa saja sambil masih di bungkam mulutnya. “Lagian juga, saat itu aku masih dalam keadaan llinglung dengan kenyataan yang ada. campuran ingatan yang tiba-tiba masuk ke dalam tubuhku membuatku bingung dengan situasi yang sedang terjadi, apalagi itu membautku semakin penasaran.” Nia menjelaskan kenapa dirinya tidak sadarkan diri waktu itu.


“Begitu. Sepertinya keadaan kita berbeda sekali, aku dapat ingatanku saat tidur dan dengan mimpi sangat panjang sekali.” Nina menceritakan sedikit tenatng bagaiman dia mengingat semua kejadian masa lalunya. Mama dan Papa Nia melihat ke arah Nia dan Nina yang terlihat seperti bicara sesuatu meski tanpa saling pandanga tau meihat satu sama lain, mereka berdua terlihat akrab sekai dan terlihat saling menyayangi satu sama lain.


Nina tidak langung menjawab, malah tersenyum dengan lebar sekali. “Aku memang sudah kenal lama sekali dengan Nia dan bahkan dia salah satu dari Istri suamiku.” Jawab Nina dengan biasa saja sambil melepas bungkaman mulut Nia. Papa dan Mama Nia langsung terdiam seperti mendengar kabar yang tidak di duganya sama sekali. “Ada apa dengan kalian?” Tanya Nina yang pura-puran tidak tau kenapa Mama dan Papa Nia terdiam begitu. Mama dan Papa nya masih diam saja dan tidak berkata apa-apa. Nina tersenyum licik pada Nia. “Nia apa yang terjadi?” Tanya Nina pada Nia dengan pura-pura sedikit bingung dengan kedua OrangTua Nia.


Nia hanya terdiam tidak berdaya dengan perkataan Nina padanya dirinya sendiri yang mengatakan kebenaran pada Kedua OrangTuanya. Nia bergemetar sekali yang bisa di rasakan oleh Nina dengan jelas sekali. “Nia, apa maksudnya itu?” Tanya Mama nya yang terlihat kaget sekali dan juga bingung mau berkata apa pada Anaknya sendiri. Bahkan Papa nya juga kaget sekali saat mendengar perkataan Nina yang tidak terdengar masuk akal sekali. Nia tidak menjawab malah diam saja sambil mengalihkan pandangannya. Nina tersnyum lagi pada Nia yang mengalihkan matanya ke arah lain.


“Hm… Biar ku jawab.” Kata Nina dengan santainya dan juga seperti menginginkan sesuatu terjadi. “Sekitar 16 tahun yang lalu, aku bertemu dengan Nia dengan keaadaan yang sangat menggenaskan sama sekali yang di selamatkan oleh Suamiku. Tangan dan kaki di potong dan hampir di perkosa. Suamiku menyelamatkannya, yah meski bukan Suamiku saat itu.” Nina menjawab dengan sangat lancar sekali dan tidak memperdulikan Nia yang sepertinya tidak pernah menceritaknnya sama sekali. Nina melihat ke arah Papa dan Mama Nia yang terlihat sangat bigung sekali. karena cerita yang tidak karuan yang di dengarnya. Padahal anak mereka masih berusia 8 tahun dan tidak mungkin mempunyai suami, apalagi pernah di mengalami hal itu. ‘Krughh!!’ tepat saat itu, Nina berbunyi perutnya.


“Sudah, sebaiknya kita makan saja.” Ajak Nia dengan cepat duluan mengambil makan setelah Nina melepaskan dirinya. Nia mengabaikan Nina dan kedua OrangTuanya sendiri hanya untuk tidak membahas lagi perkataan Nina sebelumnya. “Nanti ku jelaskan, cepat lakukan seuatu pada Mama dan Papa ku.” Nia dengan terus makan sambil telepati minta bantuan sama Nina yang hanya melihat saja dan hanya memperburuk situasi.


“Aku harus bagaimana?” Tanya Nina dengan senyum dan terdengar pura-pura. Nia hanya sedikit kesal dengan tindkan Nina yang terlihat jelas sekali bohongnya. “Baiklah, akan ku bantu. Coba lihat ke mereka berdua.” Nina meminta sesuatu pada Nia untuk melihat OranTuanya sendiri. Nia sedikit di lirik dengan cukup tajam sambil senyum padanya. Dan lalu Nia melihat ke arah Mama dan Papa nya.


Mama dan Papa nya melihat alik ke arah Anak mereka yang melihat sambil tersenyum. Mereka berdua heran dengna anak mereka yang melihat Anak mereka. “Ada ap…!” Papa Nia hendak bicara tiba-tiba terdiam termasuk Mama nya. Mereka berdua terlihat sangat linglung sekali dan tidak bisa bicara apa-apa. “Eh… Ayo makan, kamu lapar tadi.” Ajak Papa Nia pada Nina dengan santainya dan sudah melupakan hal barusan.


“Ya, terima kasih.” Respon Nina dengan sopan dengan mulai mengambil kotak makanan yang telah di sediakan oleh kedua OrangTua Nia. Mama Nia juga mulai menyerahkan minuman yang di ambil dari tas yang di bawanya. Nina dengan senang hati menerimanya sambil melihat ke arah Nia yang melirik ke arahnya..


“Kenapa kemu menghilangkan ingatan itu?” Tanya Nia pada Nina dengan terus makan dengan telepati.


“Biar lebih mudah. Selain itu, kamu juga bisa mengembalikan ingatan itu jika kamu mau kan.” Nina mengingatkan dengan terang-terangan. Nia tidak membalas lagi, hanya melirik sebentar ke Nina yang sedang makan dengan santainya.


Next Chapter