Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 149


Anto berjalan dengan pelan sambil menikmati angin segar yang ada. Tapi, Anto yang melihat sekitarnya seperti taman, merasa tempat dia jalan itu bukan taman dan merasa seperti dalam ilusi. Tapi, karena tidak ingin tahu tentang itu, lebih baik dia diam dan tidak menyelidiki apa pun yang ada di sana. Dengan perasaan sedikit senang, Anto yang jalan-jalan terus tersenyum. “Jalan-jalan ini pernah ku rasakan saat masih kecil. Tapi rasanya berbeda saat sendiri.” Anto tersenyum dengan mengingat kejadian saat bersama Ayahnya di Bumi.


-Ya. Kurasa rasanya sedikit berbeda saat sendiri- Respon balik NAVI dengan mulai mengambil wujud peri dengan senyum di wajahnya lalu berdiri di pundak Anto yang terlihat menikmati jalan jalan itu. NAVI melihat kiri kana dan juga tidak menyelidiki tempat itu, dia ingin menimkati tempat itu sebagai jalan-jalan yang menyenangkan. NAVI melihat kiri kanannya dengan penuh perhatian hingga melihat sebuha pintu yang tanpak biasa saja. -Coba lihat ke sana!- Tunjuk NAVI ke sebuah pintu berdiri jauh dan terdapat sebuah pohon di belakangnya.


Anto yang di suruh, berhenti dan melihat ke sebuh pohon dan ada pintu di dekatnya. “Pohon? Pintu?” Anto melihat ke sana dengan mengamati dari jauh. Sherly dan Riana yang mengikuti cukup jauh, memperhatikan Anto yang sedang melihat ke sebuah pohon. Mereka berdua berhenti dan melihat Anto yang berjalan ke pohon itu.


Riana melihat ke pohon dengan cukup penasaran. “Apa ada sesuatu di pohon itu?” Tanya Riana pada Kakaknya. Sherly juga melihat ke sana dengan penuh penasaran.


“Hm… Seingat Kakak tidak ada." Respon Sherly sambil melihat ke Anto yang jalan ke pohon itu dengan pelan. "Tapi, dalam legenda di katakan ada sebuah pintu di sana yang cuma bisa di lihat oleh mereka yang mempunyai kekuatan yang sangat besar. Dan di katakan itu, jalan menuju Dunia para Dewa dan Dewi.” Respon Sherly dengan berusaha mengingat. Saat mereka bicara, Anto berhenti di depan pintu yang mereka tidak lihat sama sekali.


Sherly dan Riana mengikuti terus Anto hingga tiba tiba melihat dia menghilang di dekat pohon itu dan membuat mereka jadi aget dan tidak bisa berkata apa-apa. “…!!” Riana dan Sherly terdiam saat tidak melihat. Riana meliha sana sini menari Anto yang tiba-tiba hilang, tapu dia tidak melihatnya sama sekali. “Kakak kemana dia pergi?” Tanya Riana yang tidak melihat lagi Anto. Sherly tidak merespon malah diam saja. "Kak!" Panggil Riana saat tidak mendapat respon dari Kakaknya. Tapi, karena setelah beberapa saat tidak mendapat respon, dia melihat ke Kakaknya. Saat melihat Kakaknya, malah terlihat sangat kosong sekali tatapannya dan terlihat seperti mati dan membuat dirinya kaget saat melihat Kakaknya yang pertama kali menunjukkan raut wajah itu padanya.


“Legenda itu benar Riana.” Bicara Sherly dengan wajah kosongnya itu dan terlihat sangat mati sekali emosinya. Riana yang kaget dengan ekspresi Kakaknya itu tidak bisa berkata apa-apa dan tidak menyangka itu benaran bahkan hingga membuat Kakaknya jadi sangat iri sekali.


Sedangkan Anto yang ada di balik pintu sedikit bingung dengan apa yang di lihatnya di balik pintu itu. “NAVI, ini di mana? rasanya bukan bagian tempat tadi deh.” Anto yang melihat seperti di taman, tapi bukan tempat tadi bahkan pintu tadi juga hilang. NAVI belum merespon malah melihat sekitarnya dengan sangat serius dan juga terlhat penasaran dengan yang di lihatnya itu.


-Aku tahu lah. Tapi rasanya familiar dengan energy yang ku rasakan ini- NAVI yang mulai terbang melayang sambil melihat sana sini dengan cermat. -Hm! Ada sesuatu yang mendekat ke sini- NAVI memperingatkan dengan jelas sambil kembali ke pundak Anto. Setelah NAVI memperingatkan, sebuah pintu terbentu di dekat Anto yang sama seperti sebelumnya.


Anto sedikit menjauh dari pintu yang muncul di depannya itu. Setelah itu beberapa orang dengan sayap putih berkilauan muncul dari dari balik pintu dengan membawa sebuah tongkat dan tombok yang terlihat seperti emas. “Malaikat! Bukan, dia cuma manusia yang bersayap.” Anto yang tidak takjub sama sekali dengan hal yang di lihatnya itu.


-Kamu buta atau gimana sih?- Tanya NAVI pada Anto yang terang ternag memuji dalam hatinya yang bisa di rasakan oleh NAVI.


"Yang benar saja. Aku nggak buat lah, aku cuma memperjalas saja. Kan memang gitu biasanya. Setiap manusia yang punya sayap belum tentu bisa di sebut malaikat." Timbal Anto dengan serius dan memperhatikan malaikat yang masih keluar dari balik pintu.


-Oke, oke, kamu menang. Tapi ku rasa sepertinya ada sesuatu yang salah dengan pintu yang kita lewati itu. Tapi, kali ini ikuti saja arusnya dan usahakan tidak buat masalah di sini- Saran NAVI yang sepertinya ingin tahu apa yang akan di lakukan oleh para malaikat ini.


“Okelah, akan ku turuti.” Respon Anto dengan santainya. Setelah itu, Anto terus melihat malaikat yang sudah 10 di depannya dan di pimpin oleh seorang malaikat dengan armor lengkap yang muncul terakhir kemudian berbaris di depan Anto dengan terlihat sangat perkasa. Anto tetap tenang dan tidak berkata apa-apa. Malaikat dengan armor kengkap mendekat ke arahanya dan berhenti tepat di depannya.


“Apa kamu mengerti dengan yang ku katakan wahai manusia?” Tanya malaikat itu pada Anto. Anto diam di tempatnya dan tidak berkata apa pun.


-Lebih baik kamu diam dan pura-pura bingung- Suruh NAVI saat Anto melongo diam saja dan tidak melakukan apa pun di tempatnya. Setelah itu, Anto memegang dagunya lalu menundukkan kepalanya berpura-pura tidak mengerti bahasa Malaikat itu. Malaikat di depan itu melihat ke Anto yang terlihat tidak tahu apa yang di katakannya.


Setelah itu, bola itu tiba-tiba becahaya dengan sangat terang sekali dan setelah itu muncul sebuah layar di depannya dengan menampilkan Statusnya termasuk Skilnya yang terlah di dapatkannya meski tidak semuanya. “Apa ini?” Tanya Anto yang sangat jelas sekali pura-puranya dan tidak di ketahui sama sekali oleh malaikat.


‘WUHS!’ Sebuah pintu yang sama seperti sebelumnya terbuka di depan Anto. “Masuklah.” Suruh malaikat dengan suara dingin menyuruh Anto masuk ke dalam pintu itu. Anto tanpa ragu membuka pintu itu dan tidak berkata apa pun. Saat masuk Anto di kelilingi oleh cahaya yang sangat putih hingga dia menutup matanya. Saat membuka matanya, dia sudah kembai ke tempat semula dia masuk.


-Sepertinya itu Dunia para Dewa sebelumnya. Tapi entah kenapa tidak sesuai dengan yang ada di masa depan- NAVI menjelaskan dengan serius.


“Yahh… Meski itu Dunia Dewa aku tidak peduli sih. Lagian itu juga bukan urusanku.” Respon Anto sambil lanjut menutup Statusnya yang menurutnya tidak menarik sama sekali. Dan saat sampai hendak jalan, Sherly dan Riana berjalan ke arahanya dengan tatapan yang tidak dapat di mengertinya. "Apa yang mereka inginkan?" Tanya Anto dalam hatinya yang melihat Sherly dan Riana yang sepertinya terlihat penasaran sama sesuatu.


-Bukannya sudah jelas apa yang mereka ingin tahu- Bicara NAVI dengan wajah tidak senang. Anto langusng paham dengan maksud NAVI yang bicara seperti itu dan lalu menghilan tiba-tiba dengan kembali ke wujud astralnya.


“Apa kalian ingin kemna aku pergi tadi?” Tanya Anto pada mereka berdua.


“Ya.” Jawab Sherly dengan jelas dan tidak menutupi rasa ingin tahunya itu. Anto tidak kaget dengan  Sherly yang matanya memang penuh dengan rasa ingin tahu. Tapi dia tidak menduga Riana juga akan tertarik yang dapat di lihat dari matanya dan menunggu jawaban dari dirinya


“Hah... dari pada ku kasih tahu, lebih baik kalian alami saja.” Setelah berkata itu, Anto membuat sebuah pintu yang sama di tempat sebelumnya yang menghubungkan ke tempat tadi. “Masuklah.” Suruh Anto dengan santainya pada mereka berdua. Sherly dan Riana terdiam dengan yang di lakukan Anto meski sudah melihat beberapa kali dalam beberapa menit terakhir. Tapi, bukannya langsung masuk, malah Sherly mengubah ekspresi wajahnya seperi memikirkan sesuatu.


-Apa kamu yakin akan membawa mereka k tempat tadi?- Tanya NAVI yang melihat kejadian tadi dan sepertinya tidak ingin pergi lagi ke tempat tadi.


“Ya. Akan ku perlihatkan Dunia milik Dewa dan Dewi yang mereka percayai itu." Jawb Anto dengan santai. "Tapi, kita akan bersembunyi dan kita akan mengikuti mereka berdua di sampingnya.” Anto menambahkan perkataannya yang mengajak Sherly dan Riana ke tempat tadi. NAVI diam saja dan tidak merespon dan menunggu Sherly dan Riana yang masih diam saja.


Sherky melihat ke Anto dengan sedikit lesu dan senyum pada Anto yang bisa di lihatnya dengan jelas. “Aku cuma ingin tahu saja, aku tidak ingin pergi ke sana, karena aku merasa tidak pantas.” Timbal Sherly dengan cepat meski ingin melihat apa yang ada di balik pintu itu. Anto tidak mengeri dengan Sherly yang tiba tiba mengubah pendapatnya itu.


“Hm… Gadis ini, apa yang sebenarnya kamu ingin tahu?” Tanya Anto melihat Sherly plin plan padanya. Tapi, Anto yang melihat Sherly tidak meminta banyak padanya. tidak bisa menabak kenapa dia menolak permintaan Anto itu. Karena Sherly tidak mau, Anto berjalan lagi meninggalkan mereka berdua tanpa satu patah kata. Anto melanjutkan jalan jalan dengan di ikuti Sherly dan Riana di belakang mereka. “Bau ini?” Anto yang mencium bau yang tidak di ketahuinya. Anto melihat sana sini lagi mencari sumber bau yang di ciumnya itu. Anto melihat ke sebuh pintu yang bewarna putih dan besih dari juag dan tidak terlihat ada apa pun sapingnya kecuali sebuah pintu yang terpajang. “Itu pintu ke mana?” Tanya Anto pada Sherly yang ada di belakang dengan terus jalan menuju sebuah pintu yang tidak di ketahuinya.


Sherly melihat ke sebuah pintu yang tidak jauh dari mereka. “Itu menuju dapur.” Jawab Sherly dengan santai dan tidak terlalu memperhatikan. Anto memang menduga dirinya ada di sebuah kerajaan tapi, ini terlalu luas apa lagi semua di sekitarnya tanpak seperti pemandangan dan hanya sebuah pintu saja yang ada di setiap bagian. itu membuatnya jadi sangat penasaran dengan apa yang membuat jadi seperti itu.


Next Chapter