Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 244


“Terima kasih mengkhawatirkan aku. Tapi kamu lihat dulu dirimu sendiri.” Dengan senyum mengatakannya. Gadis itu malah terdiam dengan perkataan Anto dan juga heran dengan kelakuan Anto saat itu. Anto kemudian melihat ke Mosnter yang sekitar 50 ekor yang lumayan besar dan tinggi sedang berlari ke arah mereka. Anto kemudian mengeluarkan api sebesar monster itu sebanyak 50 juga. Gadis itu terdiam melihat kejadian itu dan tidak berkata apa-apa. “Bakar!” Bola api itu langsung melesat ke para Mosnter yang sedang ke arah mereka. Saat sihit api sudah sampai di mosnternya, para monster langsung  berteriak karena terbakar oleh apinya.


Anto hanya terdiam saja melihat semua Mosnter itu terbakar hingga hangus akibat sihir api yang sangat panas. Sementara itu gadis itu jadi terdiam dan melupakan sakit di kakinya melihat semua Monster itu terbakar hingga hangus dan melihat ke Anto yang tenang, santai dan tidak terluka apa pun. Anto kemudian berbalik melihat ke gadis itu yang masih diam di tempat dengan banyak darah yang mengalir. “Kamu baik-baik saja kan?” Tanya Anto dengan santai seperti di Dunia lain dan masih lupa kalau dirinya kembali ke masa anak kecilnya.


Gadis itu tidak langsung menjawab karena kejadian itu, Anto yang tidak di respon mendekat ke gadis itu lalu langsung jalan ke bagian kaki gadis itu yang terluka. Setelah itu Anto menyembuhkannya. Setelah menyembuhkanya Anto kemudian berdiri lalu mendekat ke wajahnya dan duduk di dekatnya. Gadis itu lalu duduk secara pelan di dekat Ano tanpa berkata apa-apa. Anto kemudian menyentuh tangan Gadis itu lalu membuat seluruh tubuh Gadis itu bercaya dan membuat gadis itu jadi tenang. “Salam kenal, namaku Anto.” Sambil melepas tangannya dari gadis itu.


Anto tersenyum pada Gadis itu dengan tenang sekali. Tapi gadis itu malah melihat lagi ke Anto dengan penasaran padanya. “Kamu siapa?” Tanya Gadis itu yang sudah tenang. Anto hanya tersenyum membalas.


“Tadi kan sudah ku perkenalkan diri. Namaku Anto, kalau kamu siapa?” Jawab Anto lalu Tanya balik pada gadis itu.


Gadis itu tidak langsung menjawab malah diam saja sambil melihat ke Anto. “Hana, aku Hana.” Jawab singkat Hana dengan penuh penasaran.


“Hana ya... nama yang bagus dan cantik." puji Anto dengan tulus. "Aku tahu kamu penasaran, tapi kita harus pergi dulu dari sini." ajak Anto sambil berdiri duluan lalu mengulurkan tangannya pada Hana. Hana memegang tangan Anto, lalu Anto kemudian membantu Hana berdiri, setelah Hana berdiri Anto tersenyum padanya. "Apa kamu cari makan?” Tanya Anto padaHana. Hana hanya mengangguk sebagai jawaban singkat. “Apa kamu bersama suatu kelompok?” Tanya Anto pada Hana. Hana hanya mengangguk saja. “Mari kita ke sana, tapi sebelum itu…” Anto membuat dimensi penyimpanan di dekatnya. Anto kemudian mengambil berbagai macam makanan yang sudah jadi di sana lalu melayangkannya di depan Hana. “Kita makan dulu sebelum pergi ke sana." Dengan tetap senyum mengatakannya. Anto kemudian duduk lagi kemudian menaruh semua makanan itu.


"Mari duduk." ajak Anto yang duduk duluan. Hana tidak merespon tapi perlahan duduk sambil melihat terus ke Anto tanpa senyum dan penuh tanda tanya sekali. Anto tidak peduli Hana menatapnya, dia duluan mengambil makanan di depannya itu yang sudah tersedia. Anto makan secara perlahan dengan di temani Hana yang masih melihat saja. "Mau sampai kapan melihat saja, ambil salah satu porsi itu." Suruh Anto pada Hana. Hana tidak merespon malah tangannya saja yang bergerak mengambil makanan dan matanya terus melihat ke Anto. "Ini pertama kalinya aku di lihat seperti ini, rasanya kurang enak." Anto yang terus makan sambil melirik ke Hana yang perlahan mulai memasukkan sendok makanan ke dalam mulutnya. Anto yang melirik ke Hana, melihat Hana terdiam setelah mencicipi makanan itu dan mulai makan lahap tanpa sadar. "Tenang saja, aku punya banyak makanan untuk kelompokmu itu.” Anto mengingatkan dengan tenang.


Saat sedang makan, pakaian serba hitam Anto mulai melapisi Anto yang di saksikan oleh Hana di depannya yang sedang makan. Pakaian lusuh dan compak camping kini telah di ganti dengan pakaian yang sangat bersih sekali. “Sepertinya pakaian ini datang di saat yang tepat.” Ucap Anto dengan tenang di depan Hana. “Sambil makan akan ku ceritakan dan jelaskan sedikit.” Dengan terus makan dan tenang mengatakannya. Hana yang tadinya makan dengan lahap terdiam sebentar lalu makan lagi dengan pelan. Di sisi lain Hana sama sekali tidak tahu tubuhnya sedang mangalami perubahan akibat makanan yang di berikan Anto padanya. Tubunya perlahan terisi oleh nutursi yang di butuhkan tubuhnya, supaya terlihat seperti gadis pada umumnya.


Anto kemudian berhenti makan lalu melihat ke Hana yang makan dengan cukup lahap. Anto perlahan menutup matanya lalu membuat tubuh Hana bercahaya tanpa di sentuh sama sekali. Setelah beberapa saat, Anto kemudian menghilangkan cahaya itu lalu membuka matanya. Anto melihat Hana sudah bersih dari kotoran yang ada pada tubuhnya meski pakaiannya belum di ganti sama sekali. Hana melihat dirinya sudah bersih sekali dari kotor di seluruh tubuhnya, lalu melihat ke Anto yang lanjut makan lagi.


***


Setelah beberapa lama bercerita dan makan Anto menyelesaikan cerita dan makannya, yang sampai di bagian mana dirinya mewarisi kota dan belajar di sana, Anto menghentikan ceritanya tepat di saat sudah masuk ke dalam kota. “Akan ku cukupkan sampai di sini. Mari ke tempat kelompokmu berada, nanti lihat seperti apa Status yang kamu miliki dan nanti ku ajarkan bagaimana mengelolanya.” Dengan tenang mengajak. Hana sedikit tersenyum dengan merasa lebih baik.


“Aku mengerti.” Timbal Hana dengan sedikit senang. Anto dan Hana kemudian berdiri secara bersamaan. “Terima kasih telah menyelamatku, aku sangat berterima kasih.” Dengan senyum mentakannya pada Anto. Anto yang mendengar itu melihat ke Hana lalu tersenyum kecil.


“Sudah jangan pikirkan itu. Kan sudah ku ceritkan tadi apa alasanku menjadi seperti ini.” Timbal Anto santai saja. “Lagian meski aku punya fisik seperti anak kecil ini, aku sudah semuruan denganmu.” Tambah Anto dengan tenang. Hana melihat ke Anto yang berkata itu dengan wajah imut sekali, membuatnya terlihat gemas di matanya. “Ada apa?” Tanya Anto pada Hana yang meliahat dengan berbeda dari sebelumnya dan tidak merespon. Hana langsung memalingkan wajahnya dan tidak merespon Anto. “Sudahlah... Hana, ada sesuatu yang ingin ku tanyakan! Tapi kamu harus jawab dengan jujur!” Dengan serius mengatakan itu pada Hana.


Hana melihat ke Anto yang seperti itu dan tidak merespon sama sekali. Anto lalu membuka penyimpanan dimensinya lalu mengambil sesuatu. Hana hanya diam saja melihat ke Anto yang berwajah serius sekali. “Ini!” Anto langsung memberikan pakaian pada Hana dengan senyum padanya. Hana malah diam saat melihat Anto yang tersemyum seperti itu. “Hana, kamu kenapa?” Tanya Anto karena Hana diam saja melihat padanya.


Hana melihat sana sini di tengah reruntuhan yang tidak ada apa pun kecuali mereka. “Ano… Itu…!” Hana bicara dengan aneh pada Anto. “A, apa itu?” Tanya Hana yang sepertinya salah bicara sambil memalingkan wajanya ke arah yang lain.


“Ini pakaian. Ganti pakaian lusuh yang kamu pakai itu dengan ini!” Dengan santai menimbal bicara. Tapi Hana hanya melirik ke arahnya dengan sedikit aneh. Anto tidak mengerti kenapa Hana jadi seperti itu padanya. Tapi tidak bisa melakukan apa pun. “Apa kamu suka padaku?” Tanya Anto lansgung dengan biasa saja. “Jika kamu suka padaku, kamu harus menungguku tumbuh 11 tahun lagi supaya bisa menikahimu.” Tambah Anto dengan tenang dan biasa saja. Hana malah diam saja tidak berbalik melihatnya. “Seprtinya aku menanyakan sesuatu yang salah deh!” Pikir Anto yang merasa seperti itu.


Hana diam cukup lama dan juga memalingkan wajah dan tidak bicara sama sekali. “Maaf, tapi aku butuh waktu menjelaskannya!” Timbal Hana setelah lama diam. Anto merasa aneh lagi dengan perkataan Hana yang seperti itu, namun merasa senang juga.


“Terserah kamu saja, tapi ambil ini dan ganti pakaianmu.” Anto terus menyodorkan paakian itu. Hana berbalik melihat ke Anto dengan senyum lebih ceria dari sebelumnya. Anto tenang dan membiarkan Hana mengambil pakaian itu. Setelah itu Anto menjentikkan jarinya lalu sebuah penyimpanan dimensi muncul di depan mereka berdua yang cukup berasr. “Kamu masuk ke dalam, dan ganti pakaian lusuh itu dengan pakaian yang ku berikan.” Minta Anto yang akan menunggu di luar.