
Mereka berdua langsung tenang setelah melihat hal yang tida di duga mereka berdua. Mamanya tersenyum dan tidak marah sama tindakan mereka berdua, tapi malah senang dan juga terpancar wajah bahagia di wajahnya. “Maaf!” Anto langsung minta maaf pada Mama Rein sambil menundukkan kepalanya dengan tulus.
Semua BIDADARI yang melihat itu langsug ikut menundukkan kepalanya bersamaan pada Mama Rein. Mama nya yang meliha itu terdiam dan tidak bereaksi sama sekali. Cukup lama Anto dan BIDADARI nya menundukkan kepala dan tidak ada yang berani melihat ke wajah Mama Rein sebelum mereka di maafkan. “Fiuh… Kalian berhentilah.” Mama Rein dengan suara lembutnya menyuruh semua orang keculai Rein yang mengangkat kepalanya sejak awal dan tidak ikut meminta maaf. Anto dan yang lainnya mendengar itu, bangun dan melihat ke Mama Rein yang terdengar tulus.
Saat semua orang melihat, ternyata Mama Rein itu tidak marah sama sekali dengan hal yang di lakukan tadi. “Ano, apa tente nggak marah soal tadi?” Tanya Anto dengan terus terang. Mama Rein tersenyum padanya.
“Tante nggak marah sama sekali. Malah penasaran dengan apa yang kalian ributkan.” Jawab Mamanya dengan suara halus dan lembut. Anto yang mendengar itu merasa tidak enak dengan semua kelakuannya tadi dan tidak berani berkata apa-apa untuk membalas perkataan Mama Rein. Semua orang jadi terdiam dan tidak ada yang berani bicara. “Baiklah, mari kita pindah tempat dari sini.” Ajak Mama Rein dengan sopan dan juga rama pada Anto dan lainnya.
“Kemana?” Tanya Anto yang ingin tahu pindah ke mana. Mama Rein tidak langsung menjawab, malah mengajak mereka. Anto yang di ajak bersama para BIDADARi nya mengikuti dari belakang ke mana Mama Rein berjalan. Bahkan Rein juga ikut mengikuti dati samping Anto. “Kita ke mana ini?” Tanya Anto pada Rein yang ada di sampingnya.
“Entahlah. Sudah lama dan tidak ku ingat sama sekali.” Respon Rein singkat sambil melihat sekelilingnya. “Tapi, rasanya ini tidak asing.” Tambah Rein sambil lihat kiri kanannya dengan wajah bahagia yang di sembunyikannya rapat-rapat dari Mamanya.
“Oh ya, udah berapa lama kalian saling kenal?” Tanya Mama Rein pada Anto yang ada di belakangnya.
“Baru sehari.” Jawab Anto singkat dan dengan sangat jujur sekali. Mama Rein langsung melihat ke Anto yang biasa saja dan terlihat tidak percaya dengan apa yang di katakan Anto padanya.
“Tidak Ma. Kami udah saling kenal sejak 3 tahun lalu di jalan.” Rein berusaha meyakinkan Mamanya yang masih penasaran dengan Anto yang masih biasa saja dengan perkataan Rein. Mamanya melihat ke Rein yang tampak jujur dan alami saat bicara.
“Jadi, siapa di antara mereka yang pacarmu?” Tanya Mamanya dengan terus terang sambil melihat ke-13 BIDADARI milik Anto. Anto yang medengar itu langsung melihat ke Mama Rein
“Mereka bukan milik Rein, tapi mereka semua Istriku.” Anto merespon lebih cepat dan juga menatap dengan tajam pada Rein yang di sampingya. Rein yang melihat batapa tajamnya tatapan Anto tidak bisa berkata apa-apa pada orang yang sangat cemburuan dan juga marah apabila miliknya di kira milik orang lain.
“Tidak ada satu pun dari mereka yng pacarku. Malahan mereka semua adalah Istrinya.” Rein menambahkan sambil melirik ke Anto. Mamanya malah melihat ke Anto yang biasa saj dan juga terlihat tidak peduli.
”Benar yang di katakan Rein. Kami semua adalah Istri dari Anto Tante.” BIDADARI yang dari dunia lain merespon dan menegaskan lagi. Setelah itu, semua BIDADARI yang lain mengangguk stuju dengan pendapatnya. Mama Rein sangat kaget sekali dengan jawaban semua BIDADARI yang tidak di duganya dan berhenti di tempat.
Saat Mamanya Rein masih sedikit kaget ‘TAP!’ tiba-tiba Mama Rein terhenti bergerak keculai Rein dan lainnya. Setelah Mama Rein terhenti, Anto mengubah wajahnya dengan cukup serius. “Rein, kami akan pergi saja.” Bicara Anto dengan serius sambil memulihkan semua kerusakan yang di lakukannya. Rein melihat ke Anto yang tampak serius sekali. “Kami seharusnya tidak ada di sini.” Dengan tenang Anto tersenyum pada Rein yang sepertinya masih ingin mereka tinggal sebentar lagi.
Anto tidak langsung merespon dan diam saja. “Dengar ya, aku masih ingin pergi ked Dunia lain yang lebih jauh lagi dan juga sangat melihat seperti apa kehidupan di Dunia yang berbeda.” Anto menjelaskan dengan singkat, padat dan jelas. Rein yang mendengar itu terdiam lalu melihat Rein yang masih biasa saja saat mengatakan itu.
Rein tersenyum ke Anto. “Sepertinya kita tidak mungkin bertemu lagi. Kalau gitu, bolehkan aku jadi Petualang AntarBintang juga?” Tanya Rein yang jadi serius sesaat setelah beberapa detik terakhir. Anto yang mendengar itu sedikit kaget dengan permintaan Rein.
“Boleh saja sih. Tapi kamu tahukan kalau itu seperti kontrak IBLIS yang akan mengikatmu selamanya?” Tanya Anto yang mulai bersikap serius dengan Rein yang seperti itu.
“Aku tahu. Makanya aku ingin tahu seperti apa kehidupan yang di jalani oleh Petualang AntarBintang seperti mu.” Respon Rein yang juga serius dengan perkataannya. Anto tidak bisa berkata apa-apa lagi dengan Rein yang serius itu. Anto yang melihat keseriusan Rein, mulai berpikir sebentar lalu melihat ke Rein.
“Karena aku temanmu, boleh aku minta sesuatu?” Tanya Anto sebelum menyebut permintaannya. Rein terdiam dan tidak langusng merespon sambil mempertimbangkannya.
Setelah beberapa saat “Baiklah. Asal bisa ku penuhi saja.” Jawab Rein yang masih agak ragu dengan permintaan Anto yang mungkin saja sangat berlebihan dan tidak bisa di penuhinya.
Anto mengangguk. “Cuma satu hal saja yang ku minta. Aku ingin kamu menikahi semua Hero yang terpanggil ke Dunia itu. Bagaimana?” Tanya Anto setelah menyebutkan permintaan yang mungkin saja berhasil dan kemungkinan
besar akan gagal. Rein yang mendengar itu malah terldiam sambil menatap Anto yang meminta itu.
“Apa kamu serius minta itu?” Tanya Rein pada Anto yang tampak biasa saja saat di lihatri begitu.
“Ya. Sangat amat serius.” Jawab Anto sambil menegaskan. Rein langsung terdiam dan tidak berkata apa-apa. Dia berpikir dengan tenang. Setelah beberapa saat, Rein melihat ke Anto.
“Aku setuju dengan hal yang kamu minta.” Jawab Rein dengan senang dan juga terlihat mudah baginya. Anto yang melihat kepercayaan diri Rein tersenyum lagi dan sepertinya akan melakukan hal lain lagi.
“Kalau gitu satu hal lagi yang kamu harus lakukan dan juga itu sangta mudah dari tugas yang tadi.” Bicara Anto lagi setelah Rein setuju dengan permintaannya yang pertama. Rein yang mendengar itu terdiam dan tidak menyangka akan dapat hal lain lagi yang mungkin berat kali ini.
Next Chapter