Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 48


“Ingatanku saat ini, semakin lama semakin pulih.” Ucap Andri yang masih berbaring dengan tenang “Ini hal yang baik buatku…” beranjak duduk “ Tapi, kenapa aku punya gadis sebanyak itu!?” Andri yang bingung dengan ingatannya sendiri sambil merenungkan semua ingatanmya yang masih samar-samar “Huh!” Saat melihat Bibi pelayan datang padanya.


“Tuan muda, Anda di panggil nona muda!” Bibi itu dengan sopan memanggil Andri yang sedang duduk.


“Kenapa Maria memanggilku?” Tanya Andri dengan sopan pada bibi pelayan.


“Nona membuatkan tuan muda makan malam!” jawab pelayan itu dengan suara yang tidak beraturan dan bingung.


“Maria memasak!” Andri yang sedikit bingung “mana mungkin.” Sambil memandang Bibi yang terlihat kasihan padanya “Ada yang aneh? Apa yang di masak maria?” Merasa ada sesuatu di dapur “Bibi, apa Maria bisa memasak?” Tanya Andri dengan suara sopan pada Bibi pelayan.


“kalau itu…!!” Bibi pelayan itu tidak mejawab pertanyaan Andri, malah mengalihkan pandangannya dari Andri yang menatap dengan tajam.


Andri menatap Bibi pelayan dengan sangat tajam karena tidak menjawab pertanyaannya.


“Bibi, kenapa bibi tidak jawab?” Tanya Andri yang masih menatap dengan tajam.


Namun, setelah beberapa menit, Bibi pelayan tidak menjawab pertanyaan Andri dan terus mengalihkan pandangannya dari Andri.


“Bibi, pasti ada Sesutu di ruang makan, kan?” Tanya Andri suara sopan dan juga menatap Bibi pelayan dengan tajam.


Bibi pelayan yang sedang bingung dan juga gugup yang memalingkan wajah dari Andri mulai gematar dengan tatapan Andri.


“Bibi! apa yang di masak maria?” Tanya Andri dengan sopan sekali lagi tana tatapan tajam dengan suara lembut.


“Saya tidak tau tuan muda!” Jawab bibi pelayan dengan sangat gugup dan gemetar juga terlihat kasihan.


“Mmm…” melihat Bibi pelayan yang mengalihkan pndangan lagi “Apa yang di masak maria?” Pikir Andri yang masih bingung dengan masakan Maria hingga membuat Bibi pelayan tidak mau menjawabnya.


Selama 10 menitan lebih Andri terus menatap Bibi pelayan di tempatnya duduk dengan tajam.


“Kenapa Bibi lama sekali!” teriak Maria yang tiba di ruang keluarga dengan wajah sangat marah dan kesal.


“Maaf nona muda!” Bibi pelayan minta maaf pada Maria dengan suara sopan dan lembut.


“Ayo kemari!” Maria langsung jalan Andri kemudian menariknya dengan paksa.


“Tunggu Maria!” Kata Andri sambil melepas tangannya dari Maria yang terlihat sangat kelas dan marah pada Bibi pelayan.


“Ada apa?” tanya Marya yang masih kesal dan marah.


Andri tidak melanjutkan kata-katanya, saat melihat Maria yang sedang melihatnya dengan sangat kesal dan marah, meski bukan padanya.


“Ada apa?” Tanya Maria lagi yang masih kesal dan marah.


“Tidak jadi, mari ke ruang makan.” Ajak Andri dengan santai sambil berusaha bersikap tenang di dekat Maria yang sedang marah dan kesal.


Tanpa Maria menjawa, dia langsung menarik tangan Andri.


“Aku tidak bisa memberitahunya.” Pikirnya dengan tersenyum palsu pada Maria yang sedang kesal da marah.


Maria mengajak Andri ke ruang makan, setelah sampai disana, Andri langsung di dudukkan di kursi terdekat. Setelah itu, Maria jalan ke dapur, setelah keluar dia membawa makanan yang begitu besar dan tinggi.


“Apa ini?” Saat Andri kaget melihat tumpukan makanan yang sangat besar dan tinggi setelah Maria meletakkan di depannya “Maria, apa ini?” Tanya Andri dengan sopan dan menelan ludah saat melihat makanan yang besarnya memenuhi meja makan.


“Itu makanan yang kubuat untukmu.” Jawab Maria yang terlihat senang setelah membawakan Andri makanan tersebut.


Makanan yang buatan Maria sungguh tinggi dan besar  di atas meja, membuat Andri kaget dan tidak tau harus berbuat apa. Andri menatap makanan itu yang terlihat tidak bisa di makan.


“Apa ini bisa di makan?” Tanya Andri saat sedikit takut dengan makanan yang tidak tau apa bisa di makan.


“Tentu saja bisa.” Jawab maria dengan penuh harapan pada Andri untuk makan masakan buatannya.


Para pelayan sangat terlihat kaku saat melihat Andri yang sedang terpojok, dan tidak tau harus melakukan apa.


“Huh…!” Andri bangkit dari tempat duduknya “Maria, bisa panggilkan Siska kesini?” Berusaha untuk mengalihkan perhatian Maria yang menatapnya terus menerus.


“Buat apa memanggilnya?” Dengan tatapan kesal pada Andri yang mengabaikan makanannya.


“Itu…!” sambil mengalihkan pndangannya dari mata Maria yang melototinya “Karena aku tidak mungkin menghabiskan makanan ini sendiri.” Dengan ragu-ragu Andri mengatakan pada Maria yang masih melototinya.


Maria melototi Andri yang terlihat bingung di matanya.


“Baiklah.” Jawab Maria dengan kesal sabil meninggalkan Andri yang sedang duduk.


“Bibi, pastikan dia masih disini.” Marya menatap bibi pelayan dengan tatapan mengancam.


Setelah itu, Maria meninggalkan ruang makan. Selama beberapa saat suasana di ruang makan sangat hening tidak ada yang berkomentar.


“Bibi, kenapa maria memasak?" Tanya Andri dengan sangat kesal.


Bibi pelayan tidak menjawab dan hanya diam saja. Andri tidak mamarahi bibi pelayan yang tidak menjawabnya, hanya saja merasa sangat kelas dan marah dalam hati.


“Hah…” mendesah “Biar aku yang memasak!” kata Andri sambil ke ruang dapur “Kalian berdu bawa makanan itu.” perintah Andri pada dua pelayan di dekatnya.


“Baik!” jawa dua pelayan laki-laki.


Andriberjalan di ikuti oleh kedua pelayan ke dapur.


“Kalian buang itu.” Andri memberi perintah pada pelayan itu.


Kedua pelayan itu membuang makanan yang di masak Maria ke sebuah libang hitam di dekat dapur. Semua makanan yang telah di buat Maria hilang di telan oleh lubang hitam di dalam lubang sampah. Setelah semua di buang, Andri langsung ke dapur setelah semua makanan Maria di buang dan sampai di sana, Andri merasa sangat tidak asing saat berdiri di antara tombol yang berkelap-kelip.


“Entah kenapa, aku pernah merasa ini terjadi!” Andri yag bingung melihat sekeling.


Kedua pelayan di belakangnya tampak bingung melihat tuannya yang terlihat bingung di mata mereka.


“Tuan muda! Apa tuan muda bis memasak?” Tanya salah satu pelayan dengan sopan.


Andri melihat pelayan yang bertanya padanya “Hm…” memegang dagunya “Entah kenapa aku merasa tidak asing sama dapur?” Ucap Andri pada pelayan di dekatnya itu “Apa itu aneh?” Tanya Andri pada pelayan itu yang bingung dengan dirinya sendiri.


“Apa tuan muda pernah memasak?” Tanya pelayan satunya dengan sopan.


“Rasanya aku bisa, mungkin.” Dengan ragu untuk percaya diri mengantakan ya.


Kedua pelayan itu menjadi ragu saat melihat Andri yang menjawab dengan jawaban seperti itu “Semoga saja tidak terjadi hal buruk!” Kedua pelayan itu bersamaan mengkhawatirkan sesuatu sambil menatap Andri.


“Ada apa?” Tanya Andri saat kedua pelayan itu melihatnya terus menerus.


Kedua pelayan itu mengelengkan kepala mereka bersamaan.


“Kalian perhatikan aku!” Andri menyruh kedua pelayan itu memperhatikannya dengan wajah tegas.


“Baik.” Jawa kedua pelayan itu dengan tegas disaat yang bersamaan khawatir.


Andri mulai menekan salah satu tombol, namun sesaat setelah menekan tombol, Anto merasa semua tombol itu, dia tau bagaiaman cara menggunakannya. Dengan sangat gesit dan cepat Andri menekan tombol di depannya.


“Apa ini?” Kedua pelayan di belakang Andri sangat terkejut dengan Andri yang menakan banyak tombol dengan sangat cepat dan tepat.


Kedua pelayan itu sangat takjub dengan Andri yang begitu lihai menekan tombol dapur. Kedua pelayan memperhatikan dengan sangat cermat, hingga mereka lupa bahwa Andri telah memasak begitu banyak makanan. Andri sendiri yang asik dengan menekan tombol juga terbawa arus yang masih senang menekan tombol di dapur. Beberapa menit berlalu, baru Andri tersadar kemudia berhenti.


“Kenapa tuan muda berhenti?” Tanya salah satu pelayan yang sedang melihat kagum pada Andri.


Andri tidak menjawab pertanyaan pelayan itu, tapi memperhatikan sekitanya yang sudah ada ribuan makanan. Kedua pelayan yang ingung dengan sikpan tuannya juga mulai melihat sekitar. Betapa terkejutnya mereka saat, melihat ribuan makanan di dapur yang sangat banyak.


NEXT Chapter