Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 302


“Sepertinya kita akan bersama-sama, tapi ku rasa kita tidak berdua saja.” respon No 2 sambil melihat ke pemuda yang terlihat seumuran dengan sahabatnya itu yang diam saja dengan serius, tidak jauh dari mereka berdua. Mereka berdua melihat ke pemuda itu yang terlihat tenang dan juga tidak takut sama sekali pada No 2 dan sahabatnya.


“Sarman, ternayata itu kamu.” kata sahabatnya saat melihat pemuda itu yang masih tenang. Pemuda itu malah terlihat kaget saat mendengar sapaan sahabatnya itu. “Lama tak bertemu.” dengan tenang menyapa padanya. No 2 hanya melihat saja dan tidak bicara setelah melihat sahabtanya itu menyapanya dengan suara ramah. “Seperti yang ku duga, itu memang kamu. Kamu saja yang berani bertindak seperti itu.” tambah sahabatnya dengan tenang saja. Tapi No 2 kemudian menarik sahabatnya tiba-tiba dan di depan sahabatnya tertancap sebuah pedang yang cukup dalam sekali.


No 2 kemudia melangkah ke depan sahabatnya dengan mentap tajam pada pemuda yang tiba-tiba menyerang itu. “Sepertinya dia bukan lagi temanmu.” kata No 2 dengan tenang saat melihat pemuda itu masih sama ekspresinya. “Jangan mengira kalau dia sama seperti mu yang di segel ingatannya. Dia sangat buruk sekali sifatnya.” dengan sangat serius dan tajam mengatakan itu pada sahabatnya sendiri. Sahabatnya malah diam saja, sementara itu No 1 tahu kenapa dirinya yang lain itu terlihat seperti itu.


“Meski ini hanya ingatan, tapi ini cukup menyakitkan hati.” komen No 1 mengingat dirinya yang lain pernah di khianati oleh temannya sendiri.


“Maaf, tapi aku tidak suka pada orang yang selalu di puji terus selain diriku.” kata pemuda itu dengan tenang dan tidak terlihat takut sama sekali. “Aku sudah bersusah payah membuatmu melupkan segalanya, tapi tidak ku sangka kamu punya teman yang akan membantumu mengingat segalanya.” dengan tenang sekali mengatakan itu pada sahabat No 2.


“Yang bodoh itu kamu. Kamu kira aku tidak tahu semua yang kamu rencakan itu.” respon sahabat No 2. No 2 segera  berbalik melihat sahabatnya itu ternyata senyum saja dan juga tidak terlihat tersakiti. “Kamu mirip dengan teman dari sahabatku ini.” sahabatnya berhehti bicara sambil melihat ke No 2. “Sahabatku ini pernah di hianati oleh temannya sendiri dengan memanfaatkan segala yang di milikinya. Kamu juga tidak jauh beda sama dengan orang itu. Oleh sebab itu aku sengaja membuatmu menang dan mengulur waktu sebanyak mungkin sampai sahabat terpecayaku ini sampai di Dunia ini.” timbal sahabatnya yang ternyata telah memikirkan itu jauh-juah sebelum No 2 sampai di Dunia itu. No 2 yang mendengar itu tidak menyangkan ada seseorang yang mirip dengan temannya itu.


No 2 juga tidak menyangkan kalau sahabatnya itu akan setia menungggunya. “Ku kira kamu akan butuh hiburan, ternyata kamu malah sudah bikin hiburan sendiri.”  respon No 2 mengatakan itu pada sahabtanya yang berkata seperti itu tanpa ragu sama sekali.


“Aku juga butuh sesuatu yang bisa ku manfaatkan bukan!” timbal sahabatnya dengan senang sambil melihat ke No 2. “Mari bersenang-senang saja.” ajak sahabatnya duluan lari meninggalkan No 2 dengan lari seperti manusia biasa tanpa kemampuan apa pun. No 2 yang melihat itu lalu mengejar  dengan terus berlari di padang pasir yang luas dan gelap. Sementara itu, pemuda yang di abaikan oleh No 2 dan sahabatnya malah hanya  melihat saja apa yang di lakukan keduanya lalu terbang mengikuti yang berjara beberapa meter saja. Setelah beberapa meter lari, di depan mereka ada sebuah monster yang berlarian dengan sangat cepat ke arah mereka. “Mari kita lihat siapa yang bisa menghindari paling banyak dari para monster itu.” ajak sahabatnya berkompetisi.


“Pemenangnya akan mentraktir makan seharian.” timbal No 2 dengan senang juga mendengar ajakan itu. Sahabatnya hanya menganggguk lalu mereka berhenti di dekat para monster yang sedang berlarian ke arah mereka. "Sebaiknya kemu jelaskan mosnter apa mereka!" minta No 2 pada sahabatnya yang masih menunggu menunggu mosnter itu di tempat mereka masing-masing.


“Apa yang kamu lakukan?” Tanya No 2 padanya dengan tenang saja. Pemuda itu malah diam saja dan tidak merespon melainkan menatap tajam ke sahabatnya. No 2 segera melihat ke sahabat di sampingnya yang terus melihat ke pemuda itu juga. “Sepertinya dia hanya mencarimu. Apa kamu pernah melakukan sesuatu yang buruk padanya?” Tanya No 2 dengan tenang dan juga bisa di dengar olehnya.


Sahabatnya segera melihat ke No 2 yang bertanya itu padanya. “Mana mungkin. Malah dia yang membuat diriku merasa buruk di depan banyak orang.” jawab sahabatnya dengan tenang juga. “Malah dia sekarang terlihat aneh bagiku.” tambahnya sambil berbalik melihat ke pemuda itu yang masih melayang dengan terlihat sombong. No 2 kemudian juga berbalik lagi melihat pada pemuda itu. “Mari kita pergi!” ajak sahabatnya sambil lari duluan meninggalkan No 2 yang masih melihat pada pemuda itu. No 2 segera menyusul lagi sahabatnya yang berlari tanpa tujuan sama sekali dan hanya lari saja.


Di sisi lain pemuda itu terus terbang mengikuti mereka berdua yang berlari lurus saja. Setelah beberapa mter lari di gurun yang kosong dan hanya kegelapan malam saja, No 2 melihat ke pemuda itu yang terus mengikuti lalu melihat lagi ke sahabatnya. “Apa kamu yakin akan membiarkan ini?” Tanya No 2 pada sahabtanya yang tidak tersenyum dan hanya terlihat tenang saja. Sahabatnya tidak langsung merespon dan hanya diam dengan terus berlari saja.


“Kita biarkan saja. Dia hanya ingin mengganggu kita saja. Lagian dia sangat mirip sekali dengan temanmu yang ku lihat di cuplikan di Dunia kita itu. jadi aku sama sekali tidak bisa mempercayainya.” jawab sahabatnya dengan tenang saja. No 2 yang mendengar itu hanya bisa diam dan tidak bisa berkata apa-apa dengan respon sahabatnya yang terlihat kecewa sama seperti dirinya yang pernah mengalami hal yang sama.


“Jadi apa yang kita lakukan kalau seperti ini?” Tanya No 2 mengalihkan pertanyaan suapaya lebih mengarah pada kompetisi mereka berdua. Sahabatnya memikirkan hal itu sambil terus lari dan tidak memperhatikan hal lainnya.


“Bagaiaman kalau kita ke tempat monster yang lebih berbahaya saja. Mungkin dia tidak akan mengikuti.” Jawab sahabatnya itu dengan tenang saja.


“Kalau gitu mari pergi ke sana saja.” timbal  no 2 setuju dengan saran sahabatnya itu. Setelah itu sahabatnya berbelok ke kanan lalu terus berlari lagi dan tidak mengajak No 2. No 2 segera mengikuti ke mana sahabatnya itu  lari dengan tenang dan tidak melihat ke pemuda yang juga masih terus mengikuti mereka. Sementara itu dari No 1 yang hanya dapat melihat saja, merasa ada yang salah dengan pemuda yang di lihatnya itu