Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 231


Setelah beberapa saat Haruna kembali Normal, bersamaan dengan hilangnya cahaya di seluruh tubuhnya. Anto pelahan memuka mata setelah selesai mentrager semua pengalamannya itu. “Itu semua pengetahuan tentang sihir, teknik pedang, tombak, kapak, panah, dan Skil yang lainnya. Mungkin kamu akan kesulitan dalam menggunakannya dan juga sulit untuk pertama kalinya. Mungkin sebaiknya kamu coba saja dulu.” Anto menjelaskan dengan serius apa yang telah di tranfernya itu. Namun di sisi lain Haruna sama sekali tidak memperhatikannya karena terlalu sibuk mencerna. Setelah beberapa saat Haruna langsung mengangkat tangannya yang membuat Anto bingung dengan kelakukannya itu. “Haruna, apa yang kamu lakukanya?” Tanya Anto yang ingin tahu apa yang sedang di lakukan Haruna.


Haruna menurunkan tangannya lalu melihat ke Anto. “Tadi aku coba Skil Halilintar terkuat yang ku jatuh kan di laut, di dekat kampung halamanku dan terus membayangkannya menyambar ke sini. Tapi sepertinya itu tidak berhasil.” Jawab Haruna dengan biasa saja. Anto yang mendengar itu jadi sedikit kaget dan jadi tenang karena Skli it tidak aktif. Anto mantik napasnya karena tidak menduga kalau Gadis yang di sukainya langsung mencoba salah satu Skil tingkat tinggi yang paling berbahaya.


“Haruna, kamu tahu kan Skil itu membutuhkan banyak Mana yang banyak untuk mengaktifkannya dan sangat berhaya. Kenapa kamu malah membuat bencana besar dengan Skil tinggakt tinggi itu?!” Tanya Anto dengan langsung menasihatinya dengan serius atas kelakuannya yang sangat berbahaya itu.


“Maaf Kak, lain kali tidak akan ku ulangi. Coba lihat ini!” Haruna langsung diam sambil menunjukkan tangannya yang kosong. “Api!” Apinya langsung membesar ke udara dengan sangat tinggi sekali. Anto dan Haruna jadi terdiam dengan api yan sangat membara itu yang panjang melebihi poho di sekitarnya. Anto jadi kepikiran dengan Skil halilintar yang di aktifkan Haruna sebelumnya yang mugkin saja aktif. Dan juga Haruna tidak terlihat lelah setelah menggunakn Skil sebesar itu dan itu membuat Anto jadi heran, kenpa Haruna tidak lelah sama sekali.


“Haruna, apa ini kekuatan penuhmu?” Tanya Anto yang kaget itu. Haruna dengan w ajah kaget dan panik.  Hatuna malah melihat ke kanan dan tidak merespon. “Jangan bilang kalau ini cuma setengah saja? Atau kurang dari setengahnya!” Tanya Anto lagi. Tapi Haruna malah diam saja dan kaget dengan pertanyaan itu. Anto hanya bisa diam saja saat melihat ekspresi itu. Saat mereka sedang sibuk, para tumbuhan menggila karena mereka sangat panik sekali. Anto pun jadi penasaran dengan apa yang sedang terjadi.  Anto langsung melihat ke Haruna lagi dan menyadari kalau semua tumbuhan panik dengan sebuah sambaran yang sedang mengarah ke Anto dan Haruna. “Haruna, apa Skil Halilintar itu kamu menggunakan seluruh kekuatanmu?” Tanya Anto pada Haruna dengan sangat ingin tahu sekali.


Haruna malah diam saja dan tidak merespon, tapi dia mengangguk kecil. Anto langsung membatu saat melihat itu. Haruna menundukkan kepalanya dan tidak melihat ke Anto. “Ini gawat sekali. Halilintarnya sedang ke kita sekarang ini.” Anto mengatakan itu dengan sangat jelas dan serius sekali. ‘BLARR!’ langit langsung mendung seketika setelah cerah seperti itu. Anto dan Haruna pun tahu kalau itu bukan pertanda baik. “Haruna kamu segera batalkan Sihirnya!” Minta Anto dengan sangat serius sekali. Haruna malah terdiam dan membatu. Anto langsung tahu kalau itu tidak berguna sama sekali.


Anto tahu kalau Haruna tidak bisa membataslkan itu karena suah telat sekali. “Maaf…!” Haruna langsung meminta maaf dengan raut wajah sedih. Anto hanya bisa tersenyum dengan paksa saat melihat itu. Anto yang melihat itu jadi tidak tega untuk memarahinya, tapi di sisi lain dia sama sekali tidak bisa menghentikan sambaran Halilintar yang mengarah ke mereka itu.


Haruna langsung melihat ke arahnya lalu menunjuknya. Anto tidak bisa berkata apa-apa dengan semua itu. “Apa yang kamu pikirkan hingga membuatku jadi targetnya?” Tanya Anto dalam hati tidak mengerti dengan kelakuan Haruna. Haun amalah sedih lagi dengan menundukkan wajahnya.Anto menariik napasnya dalam-dalam lalu melihat ke Haruna. “Haruna, ku rasa ini sudah saat berpisah.” Anto pun tersenyum pada Haruna yang bersedih. Haruna langsung melihat ke Anto yang berkata seperti itu. “Kekuatanku yang sekarang tidak bisa menahan Halilintar itu, jadi aku akan mati jika tersambar.” Anto dengan tersenyum menjelaskan.


Haruna pun hanya bisa diam saja saat mendengar itu. Dia jadi termenung setelah mendengar perkataan Anto tadi itu. Anto melihat di sekelilingnya saat awan gelap sedang ada petir kecil di atasnya. Anto lalu melihat ke Haruna yang menegluarkan cahaya di dekatnya. Anto melihat Haruna berubah jadi Hijau setelah mendengar itu. Para tumbuhan jadi terdiam dan tidak ribut lagi. Haruna memejamkan matanya lalu seluruh pakaiannya terlilit oleh tanaman lalu menutupi dirinya dengan banyak daun yang bercahaya hijau. Anto pun hingga menutup matanya karena sedikit silau. Anto mendengar suara Haruna dengan bahasa alam tapi dengan perasaan yang sangat mendalam sekali. Anto merasa Haruna harus melindunginya dengan semua yang di miliknya. Anto pun hanya terdiam mendengar semua itu.


Sementara  Anto yang diam saja melihat  di temani oleh para tumbuhan yang tenang sekali, menyaksikan Haruna yang perlahan keluar dari deduana dengan pakaian Hijau dan sebuah mahkota indah sekali dari kayu dan bunga.  Haruna melihat ke Anto dengan tatapan haru dan tenang. Haruna mendekat, tapi Haruna yang di dekat Anto itu seperti bukan Haruna yang asli. “Ku mohon pimjamkan kekuatan kalian.” Haruna memohon dengan sangat tulus sekali. Para tumbuhan dan Anto jadi merasa iba dan merasa harus menolong. Tapi Anto tersadar dengan cepat, namun para tumbuhan tetap memberikan Mana mereka pada Haruna. Haruna pun langsung membuat sebuah pelindung di sekeliling Anto dan dirinya. Anto jadi tertutup oleh pelindung warna hijau sekali dan juga meraskan kekuatan yang besar dari pelindung di dekatnya itu.


Anto terdiam saja, saat Haruna yang terus melihat ke arahnya dengan tatapan perhatian dan ingin melimpahkan kasih sayang pada dirinya. “Kak, aku senang Kakak baik-baik saja.” Haruna tersenyum sambil berkata itu lalu pakaiannya yang tadi berubah, perlahan mulai menghilang jadi normal lagi. Setelah itu Haruna langsung pingsan di dekat Anto dan juga seketika pelindung itu pecah saat Haruna sudah pingsan. Anto menangkap Haruna dan di saat yang bersamaan juga mendung tadi hilang dan di dekatnya ada lubang besar bundar dan mereka berdua ada di tengah-tengahnya.


“Apa yang terjadi?” Tanya Anto melihat sekitarnya yang sudah tenang sekali dan tidak ada tanda kehidupan sama sekali dari para tumbuhan. Anto melihat ke Haruna yang tertidur dengan pulas sekali. “Haruna… Siapa dirimu yang sebenarnya.” Tanya Anto sambil mengangkat Haruna yang pingsan setelah menggunakan kekuatan barusan itu. Anto kemudian menggendongnya kemudian lompat, lalu melayang di atas, setelahnya melihat apa yang sebenarnya tadi itu. Anto melihat banyak sekali lubang besar dari atas yang saling berdekatan dengan lokasi jatuhnya halilintar di atas mereka berdua. Tempat Anto melayang sekarang adalah lokasi terakhir lubang itu. “Kekuatan ini terlalu besar. Siapa kamu Haruna. Tidak mungkin kamu punya kekuatan sebesar itu, sehingga membuat kamu menahan halilintar itu dengan kekuatanmu yang sekarang.” Anto yang tidak tahu sama sekali harus berkata apa.


Saat sedang melayang, Anto merasakan ada kekuatn besar sedang terbang ke arahnya dengan lumayan cepat dengan banyak sekali aura, yang mungkin merupakan sebuah pasukan yang sangat kuat sekali dan besar. Anto yang sekarang ini belum bisa melawan, langsung terbang menjauh dari atas lubang tepat dirinya melayang. Anto mendarat di tanah lalu melihat sana sini dengan sangat cepat. Anto berhenti melihat saat menemukan semak-semak yang tidak pernah di lihatnya selama 9 tahun lebih, sejak dia  masuk ke kota yang di warisinya. Anto yang telah melihat semak-semak itu, lalu bergegas ke sana dengan cepat. Saat sampai Anto masuk ke dalamnya lalu membaringkan haruna di kasur berbulu di dalam semak-semak. Setelah itu Anto melihat keluar dari semak-semak kemudian dia membuka dimensi penyimpanannya lalu melempar sesuau ke luar yang seperti kelereng.