Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 251


Semua orang hanya terdiam saja dan tidak berkata apa-apa melihat apa yang di atas mereka semua. Saat kapal itu terlihat sepenuhnya dan dimensinya tertutup, tiba-tiba ada lingkaran cahaya yang keluar dari kapal itu dengan sangat cepat, lalu semua orang di sinari oleh cahaya  itu (Kapal alien). Setelah itu perlahan mereka semua melayang termasuk Anto di tarik oleh cahaya itu. Tidak ada yang panik saat di tarik, malah mereka semua hanya melihat ke Anto saja. Semakin atas, tarikan nya semakin kuat sekali meski mereka tidak merasakan. Setelah beberapa saat di layangkan, sebuah cahaya sangat menyilaukan mengarah ke mata mereka semua, hingga mereka semua menutup matanya.


Setelah beberapa saat mereka perlahan mereka membuka mata. Semuanya terdiam melihat banyak sekali robot di dekat mereka dan juga mendapat diri mereka berada di ruang yang sangat luas dengan robot berbaris rapi sekali. Ruangan itu di isi oleh begaia macam jenis robot yang tidak mirip sama sekali dengan milik Hana. robot yang di sana sangat besar dan bervariasi bentuknya. Roboy yang ada di dalam kapal dalam itu adalah robot penghancur yang di simpan di salah satu kapal yang di miliki Anto dan masih banyak variasi dari robot penghancur lainnya. Semua orang yang di sana muncul di antara barisan robot yang rapi. Mereka semua hanya melihat dengan kagum apa yang di depan mata mereka semua dan tidak ada yang bicara sama sekali dengan apa yang mereka lihat.


Saat semua orang sedang memperhatikan robot dalam kapal, beberapa robot terbang ke arah mereka. Saat sampai, semua robot itu ke samping semua orang. Hingga sati orang memiliki robot seperti Hana, tapi lebih kecil seperti bola kasti. “Robot di samping kalian akan memandu kalian ke kamar masing-masing yang telah ada. Kalian bisa meminta apa pun pada robot kecil itu.” Dengan tenang menjelaskan. Semua hanya diam saja mendengar itu dan tidak berkata apa pun. “Apa ada yang ingin kalian tanyakan?” Tanya pada mereka semua, namun tidak ada yang merespon sama sekali padanya.


“ kalau gitu Hana, mari pergi ke kamarku!” Ajak Anto dengan santainya. Hana langsung jalan saja mendengarkan Anto tanpa berkata apa pun sama sekali. Tidak ada yang meminta Anto berhenti dan mereka hanya memperhatikan Anto dan Hana pergi. Setelah beberapa meter, Anto dan Hana sampai di sebuah sudut ruangan yang hanya terdapat dinding saja. Setelah beberapa saat, dindingnya terbuka secara otomatis lalu Hana dan Anto masuk ke dalamnya tanpa ragu sama sekali. Saat sudah di dalam, Anto turun dari pundak robot Hana lalu jalan ke kasur di sana. Setelah itu Anto langsung naik ke ranjang dan berbaring, lalu melihat ke Hana. “Kenapa kamu masih mengenakan robot itu?” Tanya Anto pada Hana saat sudah di dalam.


“Aku ingin melepas saat waktunya tiba nanti.” Jawab Hana dengan santai dan cepat. Anto terus melihat ke Hana yang menjawab seperti itu.


“Tapi, jika kamu tidak melepaskannya nanti kamu akan melambat pertumbuhan fisikmu!” Timbal Anto sambil berbaring melihat ke Hana yang seperi itu. Hana menggelengkan kepala robotnya lalu terdiam.


“Aku ingin menunggu seseorang tumbuh dulu lalu melepasnya.” Timbal Hana lagi dengan sangat yakin sekali. Anto sedikit bingung dan tidak tahu maksud dari Hana.


“Terserah kamu, tapi ku harap kamu menemukan orang yang kamu tunggu itu!” Balas Anto dengan tenang sambil melihat Hana. Hana berbalik memalingkan wajahnya lalu terdiam kemudian jalan keluar dari kamar Anto itu tanpa berkata apa pun sama sekali. Anto memperhatikan saja Hana yang keluar lalu melihat ke langit-langit atap di atasnya saat Hana sudah tidak ada dan dindingnya sudh tertutup. Anto terdiam sebentar dengan terus melihat ke apa yang aa di depannya. “Status!” Dengan tenang mengatakan untuk melihat lagi Statusnya, namun masih saja bertuliskan ERROR dan tidak ada yang berubah. Anto kemudian menutupnya lagi lalu melihat terus ke dpan dengan pikiran kosong. “Sebaiknya aku membaca saja!” ucap Anto dengan jelas lalu bangun dari ranjang kemudian bersandar di penbatas kasurnya.


***


Beberapa jam berlalu, Anto hampir selesai membaca semua buku yang di pungutnya itu. “Tinggal 9 buku lagi.” dengan terus lanjut ambil buku selanjutnya hingga yang terakhir. Setelah semua bukunya di baca, Anto kemudian melihat ke kasurnya yang banyak sekali komik yang sudah selesai di bacanya. “Cukup banyak juga, semuanya sudah ku baca. Mungkin di luar sudah malam.” Ucap Anto sambil melihat ke langit-langit atap kapal buatannya.


“Sudahlah, sebaiknya ku mulai sajalah.” Anto melihat ke komiknya lagi lalu membuka dimensinya lalu memasukkan kembali semua buku yang telah di bacanya itu. Setelah itu dia duduk bersila di ranjangnya dengan tenang.  Anto kemudian menutup matanya dengan memfokuskan diri. “Pertama merasakan Mana dalam dirimu sendiri. Lebih tepatnya supaya bisa merasakan Mana itu sendiri. Dalam dunia kulivator itu sangat penting supaya bisa mendapatkan keabadian. Tapi dalam dunia kutivator itu di sebut dengan sprtitual dan buka Mana. Semoag saja Mana dan Spritual ini sama-sama energinya, tapi di simpan dengan cara yang berbeda saja.” Anto mencoba mencerna hasil dari belajar praktik menggunakannya. “Dalam kasusku, aku sudah bisa mengeluarkan Mana, tapi belum bisa merasakan yang di udara dan hanya merasakan dalam diriku.” Anto yang perlahan menarik napasnya supaya bisa merasakan Mana yang ada di luar, seperti Mana yang di rasakan dalam dirinya.


Saat memfokuskan diri, Anto merasa tenang dan berusaha menemukan Mana di sekitarnya. Beberapa lama berlalu, Anto masih duduk bersabar merasakan Mana di sekitaranya. “Aku merasa terbang… Bukan, ini melayang… Tapi ini belum pasti, aku merasa ada badai, air, api… tapi perasaan apa ini?” Tanya Anto yang bingung sendiri dengan apa yang di rasakannya itu. “Rasa ini bukan di kamarku… Tapi jika ku buka mataku…” Anto jadi ragu karena takut berada di entah apa tempatnya. Setelah beberapa saat khawatir sendiri, Anto merasakan guncangan, namun dia merasa tidak akan terkena dampaknya.


Meski merasa takut membuka matanya, Anto perlahan membukanya. Beberapa kali Anto mengintip dulu dan tidak menemukan keanehan apa pun, lalu perlahan membuka mata sepenunya. Saat melihat ternyata dirinya berada dalam sebuah kegelapan yang tidak di ketahuinya yang sangat gelap sekali. “Ini dimana?” Tanya Anto dengan santainya tapi suaranya tidak keluar sama sekali. Anto terus melihat sana sini namun tidak menemukan apa pun sama sekal kecuali kegelapan. Anto perlahan bangkit dari duduknya, tapi merasa kakinya tidak ada, Anto juga mulai meraba, namun hasilnya sama sama tidak ada yang di rasakannya. Anto jadi panik dengan terus menenangkan pikirannya supaya tidak terjadi apa-apa padanya. Anto kemudian mencoba merasakan kaki, tangan dan seluruh anggotan badannya yang lain, tapi itu sia-sia karena tidak ada yang di rasakannya sama sekali.


“Gawatttt!… ada yang salah denganku… Aku tidak tahu dimana dirku, apa aku sudah mati?” Tanya Anto yang panik dengan terus menenangkan diri karena sebab mencari tahu dirinya yang tidak punya anggota badan sama sekali. Setelah beberapa lama menenangkan diri, Anto jadi lebih tenang. Anto kemudian melihat sana sini lagi mencari tahu lokasinya dengan pasti. Tapi itu sia-sia saja karena semuanya hanya kegelapan saja. “Sepertinya aku tidak bisa keluar, tapi aku tahu kalau diriku masih hidup, entah bagaimana aku mengetahuinya yang jelas aku masih hidup.” dengan yakin sekali Anto percaya dengan yang di rasakan dirinya. “Jadi tempat apa ini?” Tanya Anto yang bingung. “Ini bukan akhirat juga…!” Anto jadi kepikiran sendiri di mana dirinya sedang berada.


Anto mencoba ingat-ingat apa ada kejadian di dalam komik dan novel yang pernah di bacanya, namun hanya satu hal saja yang ada dalam pikirannya, yaitu ruang spiritual saja, tapi tidak yakin karena dalam kegakapan itu tidak seperti ruang spirtual. “Ku rasa ini bukan ruang spiritual, itu yang ku rasakan tapi juga ini merupakan tempat terdalam dari ruang spiritual… Ini sunggu aneh! Kenapa aku bisa tahu?” Tanya Anto lagi yang bingung sendiri dengan penemuannya itu yang bisa merasakan semua itu dengan sendirinya meski baru pertama kali. Anto yang bertanya pada diri sendiri, langsung meraasa di jawab oleh sesuatu dan juga itu terasa akrab sekali.