
Dia terus memephatikan No 2 yang sangat sopan padanya. keduanya tidak ada yang bicara sama sekali, terutama Ibu itu tidak merespon Anto hingga tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. “Masuk!” suruh Ibu dengan terlihat kesal pada No 2 ke dalam mobil.
“Aku?” Tanya No 2 padanya dengan sopan.
“MASUKLAHHH…!” teriak pada No 2 dengan kencang sekali untuk ketiga kalinya hingga jadi pusat perhatian banyak orang lgi. No 2 yang tidak tahu maksud dari perkataan Ibu itu hanya bisa menurutinya saja. Setelah itu No 2 pun jalan ke bagian belakang lalu masuk ke dalam mobil yang di ikuti oleh Fuka kemudian masuk duluan setelah No 2 membuka pintu mobil. Saat No 2 dan Fuka di dalam mobil, Fuka terus melihat keluar dari lalu melihat ke Anto, lalu melihat keluar lagi. Setelah itu mobilnya jalan. “Pakai sabuk pengamanan.” suruh Ibu itu pada No 2 yang duduk saja tanpa pakai sabuk pengaman. No 2 lalu melihat ke sebuah sabuk pengaman di dekatnya meski tahu tapi tidak pernah menggunakannya. No 2 pun mengambilnya lalu melihatnya kemudian memakai sabuk pengaman itu. Sedangkan Fuka diam saja dan tidak mengenakannya supaya tidak di curigai.
Di sisi lain Fuka memikirkan sesuatu dengan terus melihat ke luar, membuat hingga No 2 yang di dekatnya jadi penasaran tapi tidak menanyakannya sama sekali. “Kak…!” panggil Fuka hingga melihat ke arahnya namun masih berpikir saja. “Tidak jadi saja…!” dengan senyum pada No 2. No 2 hanya heran saja tingkah Fuka yang seperti itu. Di sisi lain, Ibu itu melihat dari ceriman di dalam mobil pada No 2 yang tersenyum sendiri lalu melihat ke jendela.
***
Setelah cukup lama bermobil, No 2 dan fuka sampai di daerah perumahan yang cukup jauh dari tempatnya berbelanja tadi. “Keluar dan bawa semua masuk ke dalam dapur.” suruh Ibu itu dengan menatap penuh penasarn pada No 2 yang masih di dalam mobil tanpa bicara sama sekali. No 2 hanya mengangguk lalu membuka pintu mobil dengan di ikuti Fuka keluar dari tempat yang sama. Saat sudah di luar, No 2 melihat rumah yang cukup besar di arena perumahan itu meski tidak seperti di masa depan. Setelah melihat beberapa saat, mobil itu masuk ke dalam rumah dan parkir di dalam. Setelah itu Ibu itu keluar lalu melihat No 2 dan yang masih diam di tempatnya lalu menatapa tajam hingga No 2 jalan ke bagasi mobil dengan cepat. Setelah No 2 mengambil beberapa barang lalu mendekat ke Ibu itu yang masih menatapnya. No 2 hanya diam saja dengan sedikit canggung saat di sampingnya karena terus di tatap. Ibu itu perlahan jalan lalu No 2 mengikuti saja di sampingnya. No 2 masih di sebuah perkarangan rumah yang cukup besar dan membuat No 2 sempat terdiam melihat rumah yang baru pertama kali di lihatnya masih dalam keadaan utuh.
“Kak…!” panggil Fuka tapi hingga No 2 melihat ke arahnya, namun Fuka malah diam saja tidak tidak lanjut lagi bicaranya.
“Andri!” panggil Ibu itu pada No 2 hingga melihat. No 2 yang mendengar nama Andri jadi bingung dan tahu kalau Ibu di depannya itu salah orang. “Kenapa masih di sana… masuk!” minta Ibu dengan sangat penasaran dengan tingkah No 2 yang berbeda. No 2 pun jalan lagi masuk ke samping Ibu itu yang sudah di dekat pintu masuk rumah.
“Tadi aku melihat orang yang mirip dengan Kakak di pasar tadi sedang berlari ke arah benda ini, mungkin Ibu ini menganggap kalau dirimu Anaknya.” bicara Fuka dengan jelas saat sedang jalan menuju pintu rumah itu. No 2 tidak merespon sama sekali dan hanya diam saja. No 2 juga jadi kepikiran bagaimna bisa Ibu di dekatnya itu tidak bisa membedakan anaknya sendiri dengan orang lain. Saat sampai di dekat Ibu itu, dia langsung membuka pintu dan masuk duluan lalu No 2 menyusul bersama Fuka masuk ke dalam rumah.
“Taruh di meja makan sana.” suruh Ibu itu pada No 2 yang tenang saja. No 2 mengangguk lalu memindai sebentar mencari tahu lokasi ruang makan. Setelah memindai beberapa saat, kemudian No 2 lanjut jalan masuk ke dalam rumah yang cukup luas di area tengah. No 2 terus masuk ke dalam bagian rumah dengan membawa barang bawaannya sambil di temani Fuka. “jangan lupa yang lainnya!” Ibu memperingatkan No 2 yang masuk. No 2 berbalik melihat lalu tersenyum pada itu di saat yang sama juga mengangguk. Setelah itu No 2 lanjut jalan lagi ke dalam rumah menuju ruang makan.
“Kenapa Kakak mau melakukan ini?” Tanya Fuka pada No 2 yang membantu Ibu itu dengan tulus. No 2 terdiam dan tidak langsung merespon.
“Apa maksud Kakak?” Tanya Fuka yang ada di sampingnya. No 2 tidak langsung menjawab dengan terus melihat bagian dalamnya dengan sedikit penasaran.
“Nggak tahu juga, tapi rasanya pernah melihat ruangan di suatu tempat. Mungkin saat masih kecil.” Jawab No 2 dengan melihat kesana kemari di ruang makan itu.
“Benarakan?” Tanya Fuka yang tidak terlalu percaya. No 2 jalan masuk lebih dalam lagi lalu langsung ke meja makan tanpa merespon sama sekali. No 2 menaruh semua barang yang di bawanya lalu melihat lagi ruang makan itu. Setelah itu dia melihat ke sebuah retakan di lantai.
“Aku ingat… di sini ruangan aneh yang tidak rusak sama sekali di masaku. Ruang makan ini masih sama seperti saat ku lihat… pantas saja rasa tidak asing.” dengan senyum mengingat masa lalu.
“Benarkan?” Tanya Fuka yang tertarik dengan cerita No 2 dan juga sedikit penasaran.
“Ya. Setelah kematian kedua orang tuaku, aku cari makan setiap malam seperti saran Ibu dan Ayah dan tidak melakukannya saat siang hari. Aku berpindah tempat dari tempat lain hingga sudah 6 bulan jalan sendiri dan cari makan sendiri. Aku makan rumput, mosnter bagian yang tidak rusak, buah dan masih banyak lainnya. Tapi anehnya kenapa aku tidak keracunan jika di pikir-pikir lagi tidak masuk akal aku bisa hidup sampai sekarang, bahkan mengulang ke masa ini.” tambah Anto dengan mengingat kenangan buruknya di masa sendiri.
“Maaf Kak, aku tidak tahu kalau Kakak menderita sebanyak itu.” dengan canggung meminta maaf pada No 2.
“jangan pikirkan itu.” timbal No 2 sambil membuat dimensi kecil di sana. Anto kemudian memasukkan tangannya lalu mengambil beberapa barang dan menaruhnya di atas meja. “Huh… sudah selesai!” No 2 yang merasa lega saat sudah menaruh semua barang di atas meja.
“Kakak!” panggil Fuka tapi suara dari arah yang lain hingga membuat No 2 melihat ke sana. “Kakak sudah balik, di mana es krimnya?” Tanya gadis yang mirip sekali dengan Fuka. No 2 terus melihat ke gadis itu karena mirip sekali dengan Fuka. Fuka juga penasaran kenapa dirinya ada di sana. Gadis itu mendekat ke No 2 dengan pelan lalu tiba-tiba menyentuh dahinya. “Hmmm… Kakak baik-baik saja, tapi rasanya ada yang beda sama Kakak…!” pikir gadis itu yang terlihat penasaran pada Anto di depannya.