Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 110


-Sebelum tiba di Planet Icarus-


Dalam portal, perjalanan ke Planet Icarus, Anto melayang di dalam portal  dengan posisi tidur pulas tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi di dekatnya. “Bangun, bangun!” Anto yang di goyangkan tubuhnya beberapa kali oleh Lala. Anto yang tadi tidur nyenyak, kini pelan membuka matanya sambil melihat sekitarnya.


“Ada apa?” Tanya Anto yang masih belum bangun sepenuh dan tetap dengan posisi melayangnya dan masih menutup matanya.


“Aku mau makan.” Minta Lala pada Anto dengan sangat jelas sekali. Anto tidak merespon, malah memiringkan badannya.


“Belum lama kan sejak kita masuk , kenapa kamu lapar lagi.?” Tanya Anto yang malas bangun. Lala tidak menjawab malah diam saja dengan kesal pada Anto. Anto yang tidak d repson melihat ke Lala dengan etap dalam posisi tidurnya. “Gimana jika kamu bertanya apa saja dan akan ku jawab kalau bisa, sebagai ganti makanan yang kamu minta.” Anto yang sepertinya malas untuk masak. Lala langsung memalingkan wajahnya ke arah lain setelah Anto berkata begetu padanya.


“Kenapa dia tidak mau?" Lala yang merasa sedikit kecewa dengan Anto. "Tapi, pertanyaan ini lebih penting dari makanan." Lala yang mulai berubaj pikiran. "Apa yang akan ku tanyakan?” Lala yang memikirkan sesuatu. Saat Lala memalingkan wajahnya, dia melihat ke Siska yang sedang nobrol dengan Gadis Maid engan penuh tawa dan senyum di wajahnya. “Siska, kemari!” Panggil Lala dengan halus. Siska yang di panggi melihat ke Kakaknya.


Siska yang ngobrol sama Maid berhenti bicara saat Kakak nya memanggil. “Apa Kak?” Tanya Siska. sabil menoleh.


“Apa ada yang ingin kamu tanyakan?” Tanya Lala. “Apa pun, dia janji akan menjawab apa pun itu.” Lala yang menawarkan Adiknya sendiri. Siska langsung ke Kakaknya tanpa berpikir panjang dan di ikuti yang lainnya.


“Apa benar?” Tanya Siska pada Anto. dengan wajah ceria. Anto mengangguk singkat sambil terus tidur melayang. “Aku sudah dengar dari kakak, kalau kamu punya tujuan. Aku masih belum percaya dengan apa yang di katakannya. Aku kamu mengatakan semua tentang kebenaran yang kamu sembunyikan dari kami." Dengan serius Siska menatap ke Anto. Anto yang mendengar Siska bertanya itu bangun dari tidurnya, lalu melihat ke semua orang yang sudah ada di dekatnya.


“Hah… Baiklah.” Jawab Anto saat sudah bangun. “Aku tidak mati yang di masa depan itu, malahan sekarang dia ada di masa ini.” Anto menjawab, tapi bukan itu yang di maksud Siska. Tapi, di sisi lain, Lala kaget sekali dengan apa yang di dengarnya. “Lala, Momo, Nana, kalian semua mengira aku pasti mati kan! Tapi, aku tidak akan mati sebelum aku bahagia. Gimana, puas dengan jawabannya. Aku mau lanjut tidur dulu.” Anto langusng tidur setelah merespon Siska dengan jawaban yang tidak di pahami Siska sama sekali.


Lala yang kaget dengan perkataan Anto hanya bisa diam saja dan dengan di penuhi rasa penasaran yang kuat maksud Anto. “Apa itu?” Tanya Marya. Anto bangun lagi setelah Marya berkata begitu. Semua orang melihat ke depan lorong portal yang mengarah ke Planet Icaeus saat seekor ikan Hiu muncul entah dari mana. Semua orang tidak kaget sama sekali dengan apa yang di lihat mereka, malah merasa itu hal biasa saja.


“Kalian menjauhlah!” Anto langsung maju ke depan tanpa di ketahui semua Gadisnya. Anto yang bangun beebeda ekpresi wajahnya dan bukan seperti biasanya. Anto mulai membuat senjata senapan di tangannya. “Kita bertemu lagi." Sapa Anto pada Hiu yang lebih kecil dari sebelumnya yang tidak tampak mengancam sama sekali. "Entah bagaimana aku selamat waktu itu, tapi kali ini aku tidak akan lengah.” Anto langsung tesenyum pada Hui di depannya yang berwarna biru dan bermata merah yang sangat jelas sekali.


“Ikan apa itu?” Tanya Lala pada Anto yang mendekatinya. Anto melihat ke Lala yang tidak ada ekpresi takut sama sekali dengan apa yang di depannya itu.


“Aku tidak tahu." Jawab singkat Anto sambil mleihat ke Lala yang tampak biasa saja. "Yang jelas, Ikan itu pernah membuatku terluka sampai membuatku hilang ingatan.” Jawab Anto sambil mulai membidik. ‘DOR!!’ Anto menembak sekali ke Ikan itu, tapi Ikan Hui tidak terluka sama sekali. “Ikan Hiu ini pernah menipuku sekali dengan berpura-pura lemah.” Anto yang mengingat saat dia melawannya di portal lain. “Aku tidak tahu, mahluk macam apa dia. yang jelas dia selalu tenang dan tidak bertindak gegabah dan juga pandai berekting jadi lemah, seperti yang klain lihat tadi." ANto yang sudah menunjukkan dai tembakannya kalau Hiu itu tidak terluka sama sekali. "Oh ya, sebaiknya kalian mejauhlah.” Minta Anto dengan serius sekali.


“Tidak mau!” Bicara Nana sambil mendekat ke sampaing Anto. Anto sedikit kaget dengan tindakan Nana yang seperti itu dan juga dengan wajah serius sambil tersenyum.


“Aku juga.” Momo juga ke samping Anto. Lala yang melihat Nana dan Momo seperti itu merasa senag sekali. tapi, Anto mlah menunjukkan ekpresi berbeda sekali dengan adanya dukungan dari Nana dan Momo termasuk Lala. Tapi, di sisi lain, Anto tidak menunjukkan ekpresi senang dengan bantuan dari mereka bertiga.


“Apa yang kamu pikirkan?” Tanya Lala pada Anto saat Anto yang masih membidik. Anto melirik ke Lala, lauu tersenyum padanya. Anto menggelengkan kepalanya lalu fokus lagi pada senapannya dan terus membidik ke Hiu itu.


“Itu bukan sesuatu yang perlu kamu pikirkan sekrang, tapi ada saatnya aku harus bertindak sendiri.” Jawab Anto dengan teka teki. “Sebaiknya kalian jangan ikut melawan, ini pertempuran yang tidak kalian bisa menangkan sekarang.” Suruh Anto dengan senyum di wajahnya yang terpancar sangat jelas sekali.


“Apa maksudmu?” Tanya Lala dalam hatinya yang tidak paham sama sekali dengan tindakan Anto yang sekarng ini, saat ekpresi yang berbeda dari sebelumnya. Meski tidak paham, Lala tidak mengikuti perkataan Anto, malah bersiap betempur dan di ikuti oleh Nana dan Momo. Lala melihat ke Anto yang terlihat masih diam dengan situasi yang di lihatnya itu. “Sepertinya ada sesuatu yang tidak kuketahui sejak kembali dan tidak selalu sama kejadiannya. Masa depan yang ku ketahui sama sekali tidak ada di Zaman ini. Apa Dunia ini sudah berubah drastis begini!” Lala yang tidak paham dengan sikap Anto yang berubah sama sekali dan juga seperti tidak mengenalnya sama sekali dan juga degan apa yang sudah terjadi.


“Lala! Apa ada yang menggangumu?” Tanya Nana dengan telepati yang ada di sampingnya.


“Hm! Tentu saja dia Anto yang di Zaman sekarang. Bukan yang di Waktu kita itu. Dia yang sekarang lagi masa pertumbuhan dan masa mencari jati dirinya yang sesungguhnya.” Jawab Nana dengan lacar sekali. Lala melihat ke Nana yang biasa saja saat menjawabnya.


“Bagimana man kamu tahu?” Tanya Lala lagi yang sudah paham maksud Nana, tapi masih tidak puas dengn jawaban itu.


“Itu... Karena aku juga sama seperti itu." Jawab Nana sambil tersenyum dan melihat ke Lala. "Saat ini, dia punya banyak sekali masalah, yang telah di terimanya dan juga telah hadapinya hingga membuatnya berubah. Terutama sifatnya yang di milikinya itu berpengaruh besar atas lingkungannya.” Nana menambahlna dengan lancar juga  penuh percaya diri.


“Dia sudah sudah terpngaruh oleh lingkungan yang seperti itu sejak kecil. Anto pernah pernah memberi tahuku.” Respon Lala dengan serius. “Tapi yang sekarang ini yang tidak ku mengerti?” Tatap Lala ke arah Anto yang dari tadi melihat ke Hiu itu. Anto masih tersenyum sambil membidik dari tadi.


Anto dengan pelan menurunkan senapannya lalu mleihat ke Lala. “Sebelum itu, kalian lihat ke sini.” Minta Anto pada Lala, Nana dan Momo. Mereka bertiga melihat ke Anto yang memanggil mereka, lalu melihat Anto yang sedang membuat sesuatu. Banyak cahaya yang muncul di dekatnya.


“Ini!” Lala yang merasa tidak asing dengan hal yang di lihatnya. “Tunggu!” Dengan cepat Lala menghentikan Anto. Tapi, Anto tetap diam meski Lala menghentikannya. “MARYA, HENTIKAN ANTO!” Teriak Lala pada Marya. Tapi itu sama sekali tidak membantu saat melihat Marya, Siska dan semua Maidnya tidur melayang tanpa di kerahui oleh mereka bertiga.


“Maaf ya. Sepertinya kita harus berpisah untuk sementara Lala, Nana, Momo.” Dengan tersenyum pahit, Anto pada mereka bertiga yang terlihat sedih, kesal, kaget, dan kecewa padanya.


“KENAPA KAMU BEGINI?” Teriak Nana yang terlihat sedih sambil mulai menteskan air matanya. Anto tersenyum ke nana sambil menjaga konsentrasinya.


“Bukan kah sudah jelas, aku tidak akan membiarkan kalian melawan musuh yang tidak bisa kalian hadapi. Jika kalian cukup kuat untuk bisa menghancurkan satu Planet dengan sekali pukul, maka akan ku bawa bertarung


bersamaku.” Anto yang terus membuat sesuatu. Anto diam selama beberapa saat sambil melihat ke Lala, Nana dan momo yang tidak terima sama sekali dengan apa yang di lakukannya. “Momo, kamu sedih, jangan di tahan. ingat saja bahwa ini hanya perpisahan sementara .” Anto kembali melihat ke cahaya yang di buatnya.


“Kapan kita akan pulang dan berkumpul?” Tanya Momo yang mulai meneteskan air mata.


“Secepat yang ku bisa. Selain itu, saat ini kalian sudah punya kekuatan yang bisa membatu kalian, jadi aku tidak akan khawatir dengan apa yang akan terjadi.” Jawab Anto sambil kembali melihat ke yang di buatnya. “Nana, Lala, Momo, kalian tahu betul sifatku yang asli kan. Jika kalian ingin berdiri dan membantuku di samping, cepatnya jadi kuat, maka kita akan selalu bersama.” Anto yang terus mendukung mereka bertiga sambil menenangkan mereka. “Dan satu hal lagi, jangan pernah kembali ke masa lalu seperti yang kamu lakukan ini.” Anto memepringati dengan tegas sekali.


“Tidur!” Suara Momo dengan lembut setelah Anto berkata begitu tanpa ada peringatan sama sekali darinya.


“Momo!” Nana yang melihat ke Momo dengan sangat marah, tapi tidak bisa melawan Debutf yang di berikan Momo yang sangat kuat sekali pada Nana. Lala yang hanya bisa melihat, juga mulai merasa ngantuk sekali dengan Debuff yang di lepaskan Momo. Momo yang melapalkan Skilnya, juga ikut tertidur dan dengan sengaja mendahului Lala.


“Sepertinya Debuff tidur itu masih lama akan terjadi padamu.” Kata Anto dengan tenang. “Coba lihat Hiu itu.” Minta Anto pada Lala. Lala melihat ke Hiu itu tang tetap diam dan tidak melakukan apa pun. “Entah apa yang di inginkannya, tapi yang jelas itu bukan sesuatu yang perlu kamu khawatirkan sekarang, Sekarang itu waktunya kalian memperkuat diri supaya bisa bersamaku di perjalanan selanjutnya.” Lala yang sudah tidak sanggup lagi mendengar Anto yang bicara karena kantuknya yang sudah di tahannya terlalu lama, tidak bisa di tahan.


-Setelah Kejadian-


“Saat aku bangun, kami sudah melayang di Angkasa lepas dekat Planet ini.” Lala yang selesai dengan ceritanya. Nayla dan Sofi yang tahu betul dengan maksud Lala hanya bisa diam dan tidak berkomentar dengan hal yang di ceritakan Lala pada mereka berdua. Nayla masih sedih dengan hal tersebut dan juga tidak terima sama sekali.


“Tenanglah, semuanya akan kembali seperti semula jika saat tiba.” Ucap Sofi pada Lala yang sedih dengan kepergian Anto yang tidak di ketahuinya pergi ke mana. Setelah itu, mereka betiga tidak ada yang bicara, hanya memikirkan saja cara mengahabiskan waktu yang akan di habiskan dengan cukup lama, tanpa ada Anto lagi.


Next Chapter