
Gadis itu melihat ke Luna yang masih tidak sadarkan diri dengan merasa sedikit senang jika yang di katakan pria tadi itu benar. “Ayah, aku akan membawanya ke hotel. Aku pergi dulu. Ayah tolong bantu Ibu.” Gadis itu pamitan dengan santainya sambil mengganti pakaiannya dengan membuat cahaya di seluruh tubuhnya lalu bajunya berganti dengan yang lebih rapi dalam sekejap, Setelah itu dia memgang tangan Luna lagi, tapi malah tembus lagi. “Tadi aku bisa memgangnya, kenapa sekarng tidak bisa?” Tanya pada dirinya sendiri.
Dia jadi kebingungan saat tidak bisa menyentuhnya sama sekali. “Kamu kemari!” Panggil orang yang salah memesan sebelumnya pada Gadis itu. Tapi Gadis itu tetap diam di tempatnya. “Ambil ini.” Wanita itu membuat sesuatu di depannya sambil makan. Setelah beberapa saat, sebuah stiker kecil muncul di depannya. “Tempelkan ini di dahinya.” Wanita itu terus makan sambil menaruh stiker yang telah di buatnya. Gadis itu bukannya mendekat, malah melihatnya saja dan membuat stiker kecil itu langsung melayang dan terbang langsung ke aarhanya.
“Baiklah, sepertinya aku akan punya pengalaman baru nih.” Gadis itu merasa senang sambil menempelkan stiker itu pada Luna yang masih berdiri tegak dengan tatapan kosong. Setelah itu, terjadi sesuatu pada Luna yang terlihat sedikit bercahaya lalu mati setelah beberap detik dan matanya langsung terpejam. Gadis itu langsung memgegang tangan Luna yang sudah bisa di sentuh. “Bisa!” gadis itu merasa senang sambil mengangkatnya dan mulai menggendongnya. “Tapi…” Gadis itu melihat ke luar yang masih banyak sekali Monster yang berdatangan menghampiri para pembersih yang sedang berusaha menagngkap mereka.
“Sedikit ramai. Apa aku teleport saja?” Gadis itu jadi terlihat bingung saat melihat masih banyak Monster yang berdatangan seperti itu. “Sepertinya harus.” Gadis itu yang tidak bisa berbuat apa-apa saat melihat keramaian di luar sedang mengurus para Monster yang datang dan langusng di tangkap begitu saja oleh petugas kebersihan. Gadis itu membuat portal di depannya lalu masuk dengan pelan dan tiba di sebuah gedung yang sangat tinggi. Saat sampai mereka berdua langsung jalan ke pintu. “Sepi, di mana petugasnya?” Tanya gadis itu yang tidak menemukan siapun di dalam sana untuk chek in.
Dia melihat sana sini tapi masih tidak menemukan siapa pun. “Hm… Sepertinya mereka semua libur. Apa sebaiknya aku bawa ke rumah Kakek saja.” Gadis itu langsung membuat portal untu kedua kalinya lalu langsung masuk dan tiba di sana. Saat sampai, dia melihat banyak sekali orang sedang berjemur di sana di dekat kolam.
“Ana! Kenapa kamu di sini?” Tanya Seorang pemuda tampan di sana yang sedang berjemur matahari dan di sampingnya ada perempuan yang mengelilinginya. Gadis itu tersenyum dan sudah terbiasa melihat itu.
“Ini Kakek.” Sambil melihat ke Luna yang ada di gendongannya. “Aku mau minta tolong Kakek buat sadarkan dia.” Dengan senyum di wajahnya.
“Bukannya kamu bisa pergi ke pusat rumah sakit buat meminta bantuan mereka.” Jawab Pemuda yang di panggil Kakek itu santainya.
“Tidak mau. Nanti mereka malah langsung memulangkannya. Aku ingin tahu apa aku bisa bertemu dengan ZERO jika aku Tanya padanya.” Timbal balik Ana dengan sopan.
“Hah! Apa Roh itu memang punya ZERO?” Tanya Pemuda itu yang sedikit terkejut. Dia berdiri dan mendekat ke Ana. “Hm…” Pemuda itu menatap Luna cukup lama.
“Dari mana kamu mendapat Roh ini?” Tanya Seorang Gadis muda yang lebih tua darinya dengan sopan dan juga ingin tahu sedikit yang tadi ikut mendekat ke Ana.
“Aku tidak tahu. Saat ku lihat dia cuma berdiri saja di dekat rumahku lalu menolongku karena di terjang Monster.” Jawab dengan santainya sambil mengingat. Setelah itu dia tidak bertanya lagi.
“Aku tidak peduli. Aku sudah tinggal di sini selama 16 tahun dan juga pernah ke Dunia lain sendiri cari pengalaman, malah dapat sia-sia saja. Tapi jika aku pergi ke tempatnya mungkin saja aku bisa jadi salah satu orang berharga baginya.” Dengan sangat serius sekali Ana mengatakannya.
Pemuda itu malah merasa heran dengan perkataan Ana. “Hah… Kamu ini tidak paham ya. ZERO itu cuma cari seorang Wanita di semesta ini. Tentu saja dia akan menerimamu jadi BIDADARI nya. Mungkin malah dia akan senang jika kamu mau jadi BIDADARI nya.” Respon Pemuda itu. “Tapi, Gadis ini kenapa dia bisa ada di sini?” Tanya Pemuda itu yang sedikit penasaran.
“Entahlah. Coba Kakek saja yang urus. Aku mau terima jadinya saja.” Timbal lagi Gadis itu dengan santainya dan juga tidak merasa aneh saat mengatakannya.
“Aku mau periksa dulu, kamu tunngu sebentar saja..” Pemuda itu langsung mengambil Luna dari gendongan Ana. Setelah membuat portal teleporetasi di dekatnya dia langsung masuk tanpa berkata apa-apa. Di sisi lain saat mereka sedang focus ke Pemuda itu, sebuah portal terbentuk di belakang mereka.
“Apa yang kalian ributkan?” Tanya Gadis yang muncul di belakang mereka. tidak ada yang merespon dan malah diam saja. Tidak ada yang merespon karena mereka tahu jika itu di sebutkan akan terjadi keributan besar pada Dunia mereka.
“Nanti tanyakan pada Ayahmu.” respon seorang yang sedang berjemur dengan santai. Ana melihat ke sana yang tidak tahu harus melakukan apa.
“Oh ya, Ana. Apa kamu mau ikut ke Dunia lain. Kali ini cukup menarik lo. Katanya ada pria tampan di sana.” Ajak Gadis itu dengan terang-terangan. Ana malah menatap tajam ke Gadis itu. “Kali ini aku serius.” Gadis itu berusaha meyakinkan Ana.
“Sudah berapa kali kamu bilang gitu?” Tanya Ana yang sepertinya sudah mendengar perkataan itu. “1 bulan yang lalu kamu mengatakan hal yang sama. Tidak. Kamu mengatakan itu setiap bulan sampai ku pusing tahu.” Ana menatap Gadis itu dengan sangat tajam sekali.
“Haha!” Gadis itu memalingkan wajahnya dari Ana karena tidak menduga akan di tatap seperti itu oleh Ana. “Baiklah, aku permisi.” Gadis itu langsung berlari meninggalkan Ana yang melihat dengan begitu tajam. Ana hanya diam saja melihat itu sambil melihat tajam ke arah Gadis itu.
“Sepertinya kamu berhasil.” Tiba-tiba kepala Pemuda barusan muncul di samping Ana yang tidak begitu jauh. “Ayo masuk. Dia sudah sadar.” Ajak Pemuda tampan itu. Ana yang di sana langsung masuk saat portal di depannya sudah terhubung dengan ruangan di mana Luna berada. Saat sampai, dia sudah melihat Luna yang sadarkan diri dengan sedikit bingung dan juga sepertinya banyak pertanyaan yang terpancar jelas di wajahnya.
Next Chapter