Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 158


Anto masih saja menatap ke Suci yang di pegangnya dengan tajam, sementara Suci terus memegang wajah Anto berusaha menjauhkannya akrena malu dengan tatapan Anto yang tajam. “Ano, kita ada di mana sekarang?” Tanya Malaikat itu dengan santainya saat mereka berdua sedang berkelahi sendiri dan mengabaikannya. Anto yang mendengar itu, langsung melepas Suci yang di pegangnya dan melihat ke malakat itu dengan biasa saja dan tidak tertarik. Dia melihatnya dengan sedetail mungkin dari atas bawah, dari depan ke belakang.


Setelah melihat detailnya dia berhenti dan kembali ke tempatnya. “Bagaimana Kak? Apa sesuai dengan selera Kakak?” Tanya Suci lagi pada Anto yang ada di sampingnya.


“Hm... Bukan gitu. Kenapa dia hanya melihat kita yang bertengar tidak ada reaksi sama sekali. Apa dia bukan manusia?” Tanya Anto pada Suci meski sudah tahu kalau Gadis di depannya itu bukan manusia karena sayapnya.


Suci malah melihat ke Anto yang terlihat heran dengan reaksi Anto yang berbeda dan tidak sesuai harapannya. “Apa kakak melihatnya sebagai manusia?” Tanya Suci pada Anto.


“Tidak. Mana mungkin manusia punya saya kecuali dia membuatnya sendiri.” Respon Anto dengan santainya sambil tetap melihat Gadis itu.


“Kak, tadi kan sudah ku bilang, kalau aku membawanya dari Dunia pawa Dewa. “ Suci mengulang lagi perkataannya. Setelah itu, Anto mulai melihat ke Gadis yang di bawa Suci itu, meski sudah dari tadi melihatnya dengan sangat penasaran.


“Ne, apa yang kamu inginkan?” Tanya Anto langsung pada Gadis itu yang diam saja meski melihat mereka berdua dari tadi berantem.  Gadis itu malah berpikir saat Anto menanyakannya itu padanya. “Kenapa dia seperti ini?” Tanya Anto pda Suci yang melihat Gadis di depannya yang sedang berpikir.


“Entahlah, hanya saja dia begini jika di Tanya sesuatu yang tidak di pahami.” Respon Suci yang mengingat dengan jelas reaksi ini sebelumnya saat di Tanya. Anto melihat ke Luna yang di depannya yang sama sekali masih berpikir dan tidak meresponnya sama sekali.


“Hah… kalian berdua istiraha dulu saja.” Ajak Anto masuk yang tidak bisa berbuat apa-apa pada Gadis itu. Suci dan Luna masuk mengikuti Anto dari belakang ke dalam ruang keluarga. Anto yang masuk langsung duduk di sopa dengan santainya . “Aku ingin nonton TV, tapi nggi bisa nyambung ke Duniaku. lain kali ku buat perangkat tambahan internet yang bisa tersambung ke Dunia manapun.” Dengan raut wajah serius Anto bepikir sambil melihat TV di depannya yang hanya pajangan saja. Selain itu, Suci duduk sopa juga tapi di sisi lain juga Gadis itu malah berdiri di dekat Suci.


Suci menepuk sopa itu memberi kode Luna untuk duduk. Tapi Luna sama sekali tidak mengerti dengan kode yang di berikan padanya. “Hah… Duduk sini.” Ajak Suci sambil menarik tangan Luna yang masih berdiri di dekatnya. Luna yang duduk di dekat Suci tidak berkata apa-apa dan mulai menghilangkan sayapnya dengan perlahan. “Kenapa kamu tidak melakukan nyadari awal?” Tanya Suci sambil melihat ke Luna dengan serius. Luna malah terdiam saat melihat Suci yang menatapnya dengan terus terang.


“Aku meniru apa yang kamu lakukan itu.” Luna mengingatkan Suci yang serius sekali manatapnya.


“Apa yang kamu bilang?” Tanya Anto saat mendengar itu perkataan itu. Suci melihat Anto yang tanpaknya kagetnya.


“Aku meniru apa yang di lakukannya.” Ulang lagi perkataannya dengan singkat. “Sejak dulu aku selalu bisa meniru seperti itu. Bahkan aku bisa membuat apa yang bisa di lakukan orang lain.” Luna menjelaskan dengan jujur sekali bahkan Anto sendiri yang jujur tidak akan langsung mengungkapkan.


-Gadis itu terlalu polos- Bicara NAVI tiba-tiba membuat Anto jadi kaget sekali. Suci dan Luna jadi ikut kaget sedikt dengan Anto yang tiba tiba kaget juga.


“Maaf.” Dengan cepat Anto meminta maaf. “Kenapa kamu bisa bangun?” Tanya Anto yang tidak tahu kenapa NAVI bisa bangun.


-Aku mengatur waktu tidurku ku sih. Anggap saja time sleep- Jawab NAVI dengan santai setelah tidur dengan waktu yang telah di aturnya. -Dari pada mengurusku, lebih baik kamu lihat mereka saja- NAVI memperingatkan dengan senang. Anto langsung memperhatikan mereka setelah NAVI memperingatkan dengan cepat.


“Kakak cuma kaget dengan perkataannya saja. Jika orang lain tahu, pasti akan ada keributan dengan kemunculan jenius sepertinya.” Dengan wajah serius menjelaskan. “Untungnya tidak ada orang lain lagi di sini selain kalian berempat saja.” Anto yang mulai mengubah wajahnya jadi lega. Suci jadi senang dan tidak khawatir lagi.


-Wao, kamu berhasil- Puji NAVI yang melang-layang melihat ke kepala Suci. -Ternyata, dia sudah memakai System BIDADARI itu- NAVI yang melihat System sedang duduk di bahu Suci.


“Peri itu maksudmu?” Tanya Anto yang melirik ke bahu Suci yang melihat seseorang duduk.


-Ya. Tapi tenang saja, dia tidak bisa melihatku. Tapi kita bisa melihatnya dengan jelas. Usahakan jangan terlalu melihatnya- Dengan senang NAVI memperingatkan Anto.


“Tenang saja, aku tidak akan melakukan hal ceroboh.” Respon Anto dengan santai. “Kalau begitu sebaikanya kita mengajarimu beberapa hal.” Anto melihat serius ke Luna. Anto menarik napasnya lalu menghembuskannya dengan perlahan. “Siapa namamu?” Tanya Anto dengan serius.


“Namaku Luna.” Jawab singkat dan tidak mengatakan hal lain lagi.


“Luna, apa kamu mau merasakan apa itu cinta?” Tanya Anto dengan terus terang. Luna malah diam dan tidak mengerti, lalu matanya tiba tiba terbuka lebar dan mengangguk seakan akan teringat sesuatu. “Aku bisa memberikanmu mimpi panjang mengenai cinta, tapi ingatanmu yang sekarang akan ku kunci terlebih dahulu. Bagaiamana?” Anto memperjelas sebelum melakukan.


“Aku mau. Mama pernah bilang kalau cinta bisa mengubah seseorang, tapu karena tidak tahu cinta aku tidak mengerti maksud Mama. Ku mohon tunjukan aku apa itu cinta.” Luna dengan cepat mendekat ke Anto lalu memberi hormat layaknya ke raja. Anto malah kaget dengan hal itu dan terdiam tidak langsung menjawab.


“O, okel, cepat ikut aku ke kamar.” Ajak Anto yang sedikit kaget. Suci pun juga tidak menduga sama sekali dengan hal itu malah merasa aneh dengan yang di lakukan Luna. Anto memimpin jalan keluar, namun dia berhenti tepat di jalan masuk. “Sherly, Riana, kalian di sini. Kenapa kalian di sana?” Tanya Anto saat melihat mereka yang hendak lari bersembunyi namun ketahuan sama Anto.


Mereka tidak merespon dan melihat pelan ke arah Anto dengan tatapan takut sambil tersenyum. “Siapa kedua orang baik itu.” Bicara Luna dengan terus terang. Suci tidak berani menatap mereka dan Anto melihat ke Luna yang berkata seperti itu.


Anto melihat ke Luna yang sepertinya tertarik pada mereka berdua. “Apa maksudmu?” Tanya Anto yang ingin tahu dan tidak paham maksud Luna.


“Bagaimana ya. Aku tidak tahu cara menjelaskannya, hanya saja mereka punya cahaya di sekeliling tubuhnya.” Jawab Luna dengan bingung. Anto yang mendengar itu jadi tidak tahu harus berkata apa dan hanya bisa diam saja merasa Luna melebihi ekspetasinya.


“Sudah ku duga, ada sesuatu yang harus kamu pahami. Jika tidak, kekuatan yang kamu miliki itu akan jadi bumerang buatmu. Jadi sebelum itu,apa yang kamu lihat dariku? apa aku sama seperti mereka berdua?” Tanya Anto yang sedikit penasaran tentang hal yang di maksudnya itu. Luna melihat ke Anto yang sama dengn detail.


Next Chapter