Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 141


Dalam perjalanannya, Anto tidak menemukan sama sekali tempat luas melainkan lorong yang panjang saja di sana.Dia terus berlari pelan dengan santai dan tidak melihat ke belakang sama sekali. “Mmm… Di mana ini?” Tanya Suci yang baru bangun sambil mengusap matanya.


“Kita ada di dalam istana, mungkin.” Jawab Anto singkat sambil terus berjalan. Saat sudah cukup lama berlari, Anto melihat sebuah cahaya di ujung lorong. “Lihat!” Suruh Anto saat sudah melihat cahaya dari jauh di ujung lorong. Suci melihat ke arah depan. Mereka berdua yang sudah hampir sampai di ujung lorong menambah kecepatan larinya. Sesampainya di ujung, Anto tidak langsung keluar, dia berhenti di tepinya ujung lorongdan melihat apa yang ada di luar lorong.


“Apa yang Kakak lakukan?” Tanya Suci yang melihat Anto mengintip dari tepi lorong.Anto tidak langsung merespon, dia ceilngak celinguk meliaht ke luar lorong dengan cepat. Lalu melihat ke Suci yang bertnaya padanya.


“Kakak lagi melihat situasi." Jawab Anto singakt. "Coba lihat sendiri, saat ini semuanya sedang sibuk dan sekarang di sini sangat sepi, jadi kita harus melihat situasi dulu sebelum bertindak. Jika kita bertindak sembarangan, kita akan di temukan oleh orang lain sebelum bertindak.” Anto menjelaskan sambil melihat keluar dengan seksama. Setelah itu Suci tidak bertanya lagi. Tapi Anto yang merasakan tepukan di punggungnya beberapa kali tapi masih diam saja dengan terus meliaht ke luar. Sekali lagi Anto masih belum melihat ke belakangnya dan tidak melihat siapa yang menepuk punggunya. “Suci, jangan ganggu Kakak, jika kamu masih ganggu, nanti kita akan ketahuan sama orang.” Anto memperingatkan Suci yang ada di pelukannya.


“Bukan aku Kak. Lihat tanganku.” Jawab Suci sambil mengangkat tangannya. Anto yang melihat tangan Suci dengan jelas, baru sadar dan tidak memperhatikan sama sekali dan juga sudah sadar dengan orang yang ada di belakangnya pasti orang lain. “Suci, sepertinya kita ketahuan. Jadi, kita akan kabur lagi dan peganglah yang erat-erat ya suapaya kita bisa kabur.” Suruh Anto dengan sopan. Suci mengangguk lalu Anto bersiap akan berlari.


“Tunggu!” Suara Gadis itu membuat Anto berhenti. Tapi bukan itu yang jadi alasannya. Gadis menggunakan bahasa dari Dunianya yang jauh berbeda darinya. Anto yang mendengar itu langsung berbalik setelah diam beberapa saat. “Kamu sia…?” Tanya Gadis saat Anto yang berbalik dengan cepat dan tanpa sadar wajah mereka terlalu dekat satu sama lain dan membuat mereka berdua terdiam


Anto yang terlalu dekat, langsung mundur dengan cepat. “Kamu siapa?” Tanya Anto balik saat Gadis yang menggunakan gaun seperti Putri dan juga bahasa dari Dunianya. Gadis itu terdiam sebentar lalu meliht ke Anto yang terlihat serius dan kaget.


"Aku Herlina Sherly, Putri kdari kerajaan ini." Jawab Gadis itu dengan jujur pada Anto. Anto terdiam dengan terus menatap Gadis itu. Gadis itu tersenyum kecil ke Anto yang melihatnya dengan cukup tenang. “Aku punya Skil yang bisa memahami semua bahasa yang ada pada setiap mahluk hidup. Jadi aku bisa memahami apa yang kamu katakan. Tapi, kamu siapa?” Gadis itu merespon lalu bertanya baik pada Anto yang masih kaget dan berusaha


menenagkan dirinya.


“Aku Anto dari Dunia lain dan dia Suci calon Istriku.” Jawab Anto dengan cepat sambil memperkenalkan Suci dengan terus terang. Gadis itu langsung melihat ke Gadis yang ada di gendong Anto yang melirik ke arahnya dengan takut melihat matanya. “Apa yang kamu lihat?” Tanya Anto lagi karena Gadis itu sangat penasaran dengan Suci yang ada di pelukannya. Putri Sherly melihat ke Anto lagi yang masih tidak kaget sama sekali dan masih terlihat tidak peduli padanya.


“Tidak ada apa-apa!” Jawab Gadis itu dengan cepat dan juga merasa aneh dengan Anto yang masih bersikap biasa saja padanya dan dengan penuh curiga. Sherly hanya bisa melihat ke Anto yang masih diam saja.“Ne, kenapa kamu ada di sini?” Tanya Gadis itu lagi pada Anto yang sudah tenang setelah beberapa saat lalu kaget dengan dirinya.


“Aku kabur tadi.” Jawab Anto singkat dan jujur sekali. sambil melihat ke Sherly. Sherly menatap Anto dengan heran sekali yang masih terlihat tenang dan masih baik-baik saja. Anto yang di lihati begitu mundur selangkah agak jauh dari Sherly. “Kalau begitu, kami pergi dulu.” Anto berbalik hendak lari tapi, Sherly memegang bajunya. “Ada apa?” Tanya Anto lagi karena Sherly memegang bajunya.


Anto melihat ke sekitarnya dengan teliti meski tidak menggunakan Skil deteksinya. “Aku memang ingin istirahat, tapi apa alasanmu mengajakku kemari?” Tanya Anto yang tidak paham dengan Sherly. Sherly terus menatap Anto dan belum saama sekali merespon sejak di Tanya. Beberapa saat sudah berlaly, Sherly masih diam saja tidak merespon Anto. “Woi, kamu nggak budekkan?” Tanya Anto dengan terus terang karena sudah terlalu lama diam.


Sherly langsung sadar dengan perkataan Anto yang sampai menusuk hati. “Sembarangan, aku dengarlah.” Respon Sherly dengan ketus banget.


“Salah siapa yang diam coba? Bukan aku kan, di Tanya malah diam, nggak merespon sama sekali.” Anto membalas perkataan Sherly dengan cepat sambil menurunkan Suci dari pelukannya. Suci yag di turunkan berdiri si samping Anto mendengarkan mereka berdua yang bicara. “Jadi di mana aku harus tidur?” Tanya Anto tanpa ada rasa malu sama sekali. Sherly diam dan tidak merespon lagi dan malah menatap Anto yang bertanya. “Hei, di mana aku harus tidur?” Tanya Anto untuk kedua kalinya dengan sopan.


Sherly langsung menunjuk ke kasurnya yang cuma ada satu di ruangan itu. “Pakai itu saja.” Jawabnya sambil terus menatap Anto dengan tajam.


"Y, Ya.” Jawab Anto yang tidak mengerti dengan Sherly yang menatapnya dengan tajam yang tidak di mengerti apa tujuannya melakukan itu. Meski di tatap seperti itu, Anto berjalan ke kasur yang feminin itu dan juga tidak peduli dengan penampilan kamar itu, dia hanya ingin tidur dengan nyaman dan tentrmam. Setelah beberpa langkah, Anto sampai dan langsung berbaring di kasur itu dengan penu hrasa nyaman. “Suci, kemari.” Ajak Anto saat sudah ada di kasur berbaring duluan. Suci berjalan dengan riang sekali ke arah tanpa tanpa peduli Sherly yang ada di sampingnya itu.


Sherly berlari ke kasur dan langsung berbaring di dekat Anto karena ksurnya sangat luas sekali. “Kak, aku ingin tidur lebih lama.” Dengan suara lembut Suci berbicara.


“Ya. Mari kita tidur dengan nyenyak.” Respon Anto dengan tersenyum pada Suci yang berbaring di sampingnya dengan wajah senang. Suci mengangguk lalu memejamkan matanya. Tidak butuh beberapa menit bagi Suci untuk langsung tidur, malah saat memejamkan matanya dia langsung tidur dengan wajah senang sambil memgang tangan Anto dengan erat. Anto tersenyum dengan Suci yang sangat senang sekali terlihat dari wajahnya yang terlihat ceria sekali.


“Boleh ku Tanya?” Sherly terlihat sangat serius sekali melihat ke Anto dan bukan menatapnya seperti tadi. Anto yang mendenga itu, melihat ke Sherly yang masih di tempatnya. Anto tersenyum padanya.


“Boleh, sebagai terima kasih akan ku jawab apa pun itu selama bisa ku jawab.” Respn Anto ingkat dan jelas. “Tapi, pertanyaanmu itu harus jelas dan penuh dengan rasa keinginan ketahuan dengan hatimu, bukan hanya untuk memenuhi hasratmu saja.” Anto memperingatkan dengan sangat jelas sekali pada Sherly. “Jika aku lihat dengan jelas, kamu seharusnya banyak pertanyaan kan! Kamu boleh mengajukan semua pertanyaan itu selama seharian penuh dan pasti akan ku berikan jawaban yang memuaskan. Tapi, ingat saja peringatanku tadi dan jangan melakukan hal lebih dari yang kamu tanyakan. Maksudnya, kamu harus mengerti dulu baru menanyakan pertanyaan berikutnya.” Anto menjelaskan dengan singkat dan pada pada Gadis itu yang masih diam di tempatnya dengan sangat serius sekali.


Next Chapter