Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 157


Suci dan Luna yang sudah kembali dari tempat Dewa tadi, kini tiba di tempat semula sebelum Suci masuk. “Huh… Aku merasa tidak ingin kembali menemui Ayahmu itu.” Bicara Suci pada Luna yang ada di sampingnya. Tapi, Luna tidak merespon sama sekali perkataan Suci dan diam saja. Mereka diam di tempat mereka dan tidak bergerak untuk beberapa saat. “Namaku Suci, panggil Suci mulai sekarang dan kamu dalam pengawasanku.” Suci tidak berbalik saat memperkenalkan dirinya. Tapi, Luna masih diam saja tidak meresponnya. Karena tidak di respon, Suci berbalik melihat ke Luna yang diam dan dia melihat Luna melihat sana sini dengan cepat. “Apa yang kamu lakukan?” Tanya Suci pada Luna yang seperti itu.


luna langsung melihat ke Suci yang bertanya padanya. “Tidak, hanya saja Dunia ini terlalu kecil.” Jawab Luna dengan santainya saat melihat sekitarnya. Suci melihat sekitanyanya yang memang semua tempat itu ilusi yang di ciptakan oleh Hero, tapi Suci tidak menyangka kalau Luna tidak punya pengetahauan dasar sama sekali, mengenai Dunia yang di jaganya itu.


Luna yang telah menjawab Suci diam lagi dan memerphatikan sekutarnyayang tanpak berbeda dari Duni atas sana. tapi, Suci diam membiarkannya. “Aku ingin Tanya! Apa yang kamu pelajari dari Dunia Dewa itu?” Tanya Suci pada Luna yang ada di dekatnya. Luna langsung berpikir sebentar.


“Yang ku pelajari! Seingatku tidak ada sama sekali. Selama ratusan tahun ini aku tidak pernah melakukan apa pun dan hanya berkeliling terbang sana sini saja dan tidak melakukan hal lian lagi.” Jawab Luna dengan tanpak biasa saja. Suci yang melihat itu paham sekarang kenapa dia tidak cocok sekali sebagai malaikat. Rasa ingin tahunya itu di miliki oleh seorang Manusia dan biasanya Malaikat hanya memiliki ketaatan pada pencptanya. Karena Luna merupakan seorang yang lahir antara Dewa dan Manusia, tidak aneh jika memiliki sifa manusia dan umur panjang. Tapi, Suci merasa kasihan pada Luna yang terlahir sebagai Malaikat ras tertinggi di Dunianya, namun tidak memiliki teman seumurannya yang menemaninya bermain. Dan di saat yang bersamaan juga, kerena polosnya itu dia tidak memahami arti sebenarnya dari kehidupan yang dia jalani itu.


“Begitu ya. Ikut aku, akan ku ajak kamu menemui seseorang yang mungkin kamu butuhkan untuk situasi ini.” Ajak Suci dengan jalan duluan.


“Siapa?” Tanya Luna pada Suci yang ikut berjalan di sampingnya dengan cepat.


“Orang yang paling membuatku nyaman sejak dulu.” Jawab Suci dengan wajah senang. Setelah itu Luna melihat ke Suci yang tersenum tanpa di sadarinya sama sekali. Suci yang di lihat itu, mengalihkan padangannya ke arah lain. “Apa tidak ada hal yang ingin kamu tanya selama jelan ke tempatnya?” Tanya Suci padanya Luna yang mengikutinya. Luna terdiam dan tidak bertanya apa pun. Luna tersenyum lalu menggelng meski tidak di lihat oleh Suci.


-Hm… Kamu membawa malaikat yang aneh kali ini. Entah apa yang akan di lakukannya- Ajak System bicara sambil melihat ke Luna yang ada di sana yang senyum sendiri.


“Aku sungguh ingin mengajaknya. Kamu tahu kan kalau aku masih trauma pada mereka berdua. Mungkin karena akan sulit bicara pada mereka berdua, setidaknya aku punya seseorang yang akan menyatukan kita. Kamu paham kan maksudku.” Respon balik Suci dengan serius sekali dengan mengingat semua kejadian yang telah di alaminya itu.


-Begitu ya. Tapi, untungnya Dewa tidak bisa membaca isi pikiranmu, jika tidak Dewa itu akan tahu tujuanmu yang sebenarnya-  Timbal lagi System. Suci melihat ke Luna yang ada di sampingnya yang melihat lurus saja. Tapi, saat luna melirik dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Saat sudah cukup jauh, luna melihat ke sebuah pintu asing baginya.


“Begitu ya,. Sudahlah, kita sudah sampai.” Suci berhenti di sebuah pintu yang terbuka dengan bicara sendiri. Sebelum masuk, Suci jadi kepikiran sesuatu. “Jika ku ingat, mereka berdua tidak pernah makan selain dari masakanku. Apa yang mereka takutkan sampai tidak pernah makan dari sini?” Tanya Suci yang teringat dengan kedua Saudari itu hanya makan dari masakannya sendiri.


“Ada apa?” Tanya Luna yang di dekatnya karena terlalu lama berdiri di luar pintu. Suci melihat ke Luna yang bertanya seperti itu dan bslik lagi mengalihkan pandangannya dengan cepat supaya tidak di lihat wajahnya. Luna hanya tersenyum tidak mengerti dengan apa yang di lakukan Suci padanya itu.


“Tidak ada, hanya saja teringat sesuatu yang menggerikan saja.” Jawab Suci dengan jujur sekali dan tidak melakukan apa pun lagi selian tidak melihat ke Luna sat merespon. “Semoga saja kamu suka saat bertemu dengannya. Mari kita masuk.” Ajak Suci dengan santainya pada Luna yang di sampingnya. Luna tidak berkata apa pun dan hanya  diam mengikuti Suci dengan tersenyum.


Setelah itu, Anto berjalan keluar dari ruang keluarga lalu mengarah ke keluar menuju pintu yang buatnya itu. Dan hanya beberapa langkah saja saat baru keluar dari ruang keluarga dia langsung di peluk langsung oelh seseorang. “Kakak!” Suci memeluk erat Anto yang baru saja keluar dari ruang keluraga dengan sangat erat.


Anto jadi terdiam saat melihat Suci yang sduah bangun dan bukannya seharusnya butuh seharian penuh untuk bisa bangun lagi dari pelajaran yang sedang di lakukannya. “Suci! Bukannya kamu harusnya bangun masih lama. Kenapa kamu bisa di sini?” Tanya Anto pada Suci yang tiba-tiba memeluknya dengan sedikit tidak mendegua.


“Apa lagi. Tentunya menemuimu.” Jawab Suci dengan terus memeluk erat sekali. Anto langsung mengelus kepala Suci yang memeluknya dengan erat sekali. Tapi, di saat yang bersamaan juga Anto melihat ke orang baru yang di depannya itu yang cantik sekali dan terlihat polos yang bersayap.


“Siapa yang kamu bawa ini?” Tanya Anto pada Suci yang masih memeluknya. Suci langsung melepaskan pelukannya saat Anto bertanya padanya mengenai malaikat yang di bawanya itu.


“Dia anggota Harem baru Kakak. Bagaimana, cantikkan?” Dengan bangga Suci memperkenalkannya dengan terus terang. Anto terdiam dengan perkataan Suci yang tiba-tiba. Apalagi membawa gadis yang tidak di kenalnya dan lagi anggota Haremnya. Anto melihat Suci yang percaya diri sekali dengan hasilnya itu.


“Ehm, Suci kamu tidak boleh membawa orang yang kamu tidak kenal ke Kakak lain kali. Kakakmu ini memang punya Harem, tapi bukan berarti mengajak sembarangan orang masuk.” Anto menasihati dengan lembut pada Suci yang terlihat senang sekali dan mengaharapkan pujian dari kerja kerasnya. Bukannya menjelaskan, Suci malah melihat Anto itu dengan tatapan jijik padanya itu dan sedikit menjauh. “Ada apa denganmu?” Tanya Anto dengan norma saja meski melihat Suci yang sudah berbeda sekali dari sebelumnya.


“Kakak, coba lihat baik-baik Gadis yang ku bawa.” Suruhnya dengan serius. Anto melihat ke sana Gadis itu dengan biasa saja. “Apa Kakak tidak terangsang saat melihatnya?”


“Uhuk!” Anto langsung batuk saat melihat Suci yang berkata seperti itu padanya dengan tanpa rasa malu sama sekali saat mengatakannya.


“Kenapa Kakak batuk. Apa Kakak sakit gara-gara Gadis barunya?” Tanya Suci yang khawati pada Anto di depannya yang terlihat tidak baik sekali.


“Suci!” Anto langsung memgang kedua lengannya kemudian menatapnya. “Apa kamu memang Suci?” Tanyanya dengan terus menatap tajam Suci.


“Jauhkan wajahmu dulu.” Suci mendorong wajah Anto yang sangat dekat sekali sambil menahan malunya itu. Tapi karena penasaran Anto tidak melepaskannya sama sekali dan malah semakin menatapnya. “Dia anak Dewa yang ku kunjungi secara tidak sengaja dan orang yang ku bawa sendiri.” Bicara Suci sambil terus mengalihkan matanya dari Anto yang terlalu dekat sekali dengan wajahnya.


Next Chapter