
Anto tidak berkutik dengan perkataan NAVI yang seperti itu padanya. Anto terdiam memikirkan apa apa yang akan di lakukannya setelah ini. “Apa yang harus ku lakukan?” Tanya Anto pada dirinya sendiri yang masih diam menunggu pesananannya datang. Anto jadi teringat dengan para BIDADARI nya yang hidup di Dunia itu yang sepertinya tidak ingin mengganggunya sama sekali. “Selama ini aku selalu melibatkan diriku ke masalah semua orang. Apa sebaiknya aku diam saja melihat kali ini?” Anto yang masih tidak tahu dengan isi hatinya.
“Hah… ini tidak ada habisnya jika ku diam saja. Nanti saja ku pikirkan. Lebih baik bertanya pada Run saja.” Dengan terus diam di tempatnya. Di sisi lain, Anto sering mengingat saat di lihati oleh para siswa sekolahnya. Dan juga masih terus berusaha melakuan sesuatu pada dirinya supaya bisa melakukan sesuatu pada dirinya yang masih belum tahu cara mendiamkan dirinya dalam ikut campur urusan orang lain,.
-Ada satu hal lagi. Kapan kamu akan ke Planet Icarus menjemput mereka?- Tanya NAVI pada Anto yang diam saja dari tadi. Anto jadi terinngat dengan BIDADARI nya yang di sana menunggu dirinya pulang.
“Mm… Kalau itu, ku rasa malam ini jemput mereka.” Jawab Anto dengan singkat dan masih memikirkannya terlalu belum matang. Setelah itu NAVI tidak bertanya lagi dan hanya diam saja saja memperhaian apa yang akan di putuskan oleh Anto.
-Lebih baik kamu jangan pergi dah. Planet itu sekarang sudah berubah dan juga tidak ada sama sekali mereka semua. Bahkan sekarang ini Planet itu sudah tidak di dekat Planet Bumi ini- NAVI memberi tahu Anto sekaligus memberi saran pada Anto mengenai pkerkataannya tadi.
“Hah! Apa maksudmu?” Tanya Anto yang tidak tahu sama sekali maksud NAVI.
-Ini kasusnya sama seperti Hilmi!- Jawab NAVI singkat. -Setelah ini sebaiknya kamu ke atap gedung sekolah saja. Biar ku perlihatakn sesuatu yang tidak pernah ada dalam pengalamanu yang sekarang. Lebih tepatnya ini mengenai para Gadis dan BIDADARI yang telah mati- Minta NAVI yang sedang serius bicara pada Anto.
Anto terdiam mendengar itu. “Sesuatu yang penting kah… Apa itu ya?” Anto jadi ingin tahu jika itu mengenai para BIDADARI nya. “Setelah sarapan NAVI, kita bicara saja nanti lagi.” Respon Anto singkat. Setelah itu seorang pegawai kantin muda yang semuran dengannya membawa makanan yang di pesan olehnya.
Anto yang tidak memperhatikan masih daim merenung dan tidak melihat Gadis itu meletakkan pesanannya. “Terima kasi telah memesan.” Dengan sopan Gadis itu tersenyum pada Anto yang tidak melihat ke dirinya. Anto cepat berbalik melihat ke sumber suata yang membuatnya sedikit kaget lalu membalas tersenyum ramah padanya. Dan setelah itu Anto melihat ke makanan di depannya yang terlihat enak sekali tanpa melihat ke wajah Gadis itu.
“Tunggu!” Anto menghentikan Gadis itu yan g hendak mau pergi dengan terus melihat ke makanannya. “Apa kamu Siswi di sekolah ini?” Tanya Anto padanya dengan santai dan tenang. Gadis itu terdiam ke Anto yang bertanya padanya tapi tidak melihat, malah melihat ke makanan di depannya.
“Ya. Tapi aku butuh uang untuk uang bayar iuran sekolah setiap semester.” Jawab Gadis iu dengan tenang.
“Berapa yang kamu dapat dari kerja di sini?” Tanya Anto yang mulai makan perlahan dengan mempertahankan senyumnya meski palsu sekali.
“100 ribu perminggu.” Jawab Gadis itu dengan santai. Anto yang hendak menyuapi makanannya jadi terdiam kemudian melihat ke Gadis itu. Anto melihat e Gadis itu yang terlihat ceria saja dan juga tidak terbebani, namun Anto bisa merasakan kalau Gadis itu sangat kelelahan sekali.
“Apa kamu mau bekerja di rumahku membuat sarapan dan mencuci rumahku. Gaji yang ku kasi 500 ribu perminggu. Bagaimana?” Anto menawarkan ke Gadis itu dengan serius dan berbalik lagi melihat ke makanannya. “Tenang saja. Sebenanarnya orang tua ku akan pulang dari rumah sakit. jadi aku butuh pekerja baru untuk meeawat mereka berdua. Jadi apa kamu mau merawat mereka?” Tanya lagi Anto setelah menjelaskan alasannya memberi penawaran itu.
Selama beberapa saat, Gadis itu terus melihat ke Anto yang mulai makan dan tidak mengerti tujuan yang sebenarnya meski dia tahu kalau yang di katakan Anto tulus dan tidak ada maksud lain, meski tujuan dia yang sebenarnya bukan itu.“Tapi, aku masih bisa sekolah kan?” Tanya Gadis itu pada Anto dengan cukup percaya diri saja meski masih ada keraguan dalam dirinya.
“Aku mau Tanya sama bibi dulu.” Gadis itu langsung bergegas meninggalkan Anto yang ingin menjelaskan pada bibi kantin yang ada di sana. Anto berbalik melihat ke Gadis itu yang terlihat buru-buru lalu berbalik lagi melihat ke makanannya
“Sepertinya Gadis itu butuh uang sekali. Hm… Sebaiknya ku lihat saja apa yang akan di lakukan oleh Gadis ini.” Anto terus makan dengan pelan menikmati hidangan itu. Anto terus menunggu di meja makannya dengan terus makan. Setelah beberapa saat, Gadis itu kembali ke Anto dengan terlihat cukup ceria.
“Aku mau bekerja untukmu.” Bicara Gadis itu dengan sangat yakin sekali.
“Baiklah, sepulang sekolah nanti tunggu di depan gerbang. Sebelum itu, apa kamu bisa memasak?” Tanya Anto lagi meski sudah setuju.
“Ya. Selama ada bahan makanannya. Aku bisa memasak sesuatu yang baru.” Jawab Gadis itu dengan sangat yakin sekali. Anto hanya tersenyum lalu lanjut makan dan tidak memperhatikan sama sekali.
“Baiklah seperti yang kukatakan tadi, nanti sepulang sekolah tunggu aku di derbang keluar.” Setelah itu Anto lanjut makan lagi. Gadis tadi itu terdiam setelah Anto mengatakan itu dan tidak bertanya lagi.
“Mana pesanananku?” Tanya seorang pelajar yang duluan datang dan belum di layani oleh Gadis itu. Gadis itu mendekat ke sana dan Anto terus makan saja dan mengabaikan apa yang dia lakukan. Pelajar itu tidak marah dan hanya bertanya saja, namun sepertinya ada kendala dalam pesanannya dan Gadis itu berusaha menjelaskannya. Anto jadi tenang karena tidak ada kegaduhan yang terjadi di sana.
“Siswa ini sangat berbeda dengan siswa lainnya. Entah kenapa rasanya dia mirip denganku dalam berbagai aspek. Dan juga, Mana kuat ini pasti membuktikan dia jenius sebenarnya. Hanya saja, aku merasa kalau petumbuhannya masih bisa bertambah kuat, tapi belum menemukan cara yang cocok untuk melakukan itu. Yah… meski ini hanya firasatku saja.” Anto yang terus makan dan juga menyelidik tentang pelajar itu. Anto tidak komen lagi dan lanjut makan.
***
Setelah beberapa lama makan, Anto selesai dan kini mulai beranjak berdiri pergi meninggalkan kantin. -Apa yang akan kamu lakukan?- Tanya NAVI yang diam saja dari tadi. Karena dia terus Anto bicara sama Gadis itu.
“Tidak ada, aku akan masuk kelas. Ini sudah sanga telat dan jam pertama hampir selesai.” Jawab Anto dengan santai. Anto terus jalan dan NAVI tidak bertanya lagi. Dlam perjalanannya, Anto jadi teringat pesan NAVi untuk tidak ikut campur lagi dengan masalah orang lain. “Apa aku ikut saran NAVI. Jika aku bisa hidup damai di sini, kenapa juga harus melibatkan diri dalam masalah. Mungkin karena aku terbiasa membawa diriku ke dalam masalah, ingin diriku jadi yang selalu jadi penengah. Mungkin.” Anto yang merenungkan dirinya sambil terus jalan ke gedung kelasnya.
“Sebaiknya aku siap-siap juga. Aku sudah menemukan Gadis baru lagi.” Anto yang mengingat sedikit pada Gadis yang di minta jadi pembantunya meski itu bukan tujuan utamanya. “Ayah Ibu, kurasa kalian akan melupakan pertemuan kita kemarin, itu yang ku rasakan.” Anto yang merasakan itu dengan sangat jelas sekali kalau perasaannya itu.
“Tunggu!” Panggil seorang yang tidak asing di dengar oleh Anto. Anto berbalik, melihat ke suara yang memanggilnya. “Siapa namamu?” Tanya Gadis pelayan tadi yang terlihat lelah karena berlari ke Amto. Anto terdiam dengan hal itu dan belum merespon sama sekali dengan perlahan berbalik melihat.