
Anto yang masih dalam situasi yang membingungkan baginya, hanya bisa terpaksa berbohong pada semua orang tenang apa yang sedang di lakukannya di depan OrangTua angkatnya. “Anto!” Panggil Mama nya dengan suara kecil dan juga terdengar sedih. “Apa kamu akan benar-benar pergi?” Tanya Mamanya dengan masih tertunduk tanpa melihat ke arah Anaknya. Anto melihat ke arah Mamanya yang bertanya dan terdengar serius.
“Bagiamana jawabnya?” Anto yang masih belum kepikiran untuk menjawab pertanyaan Mamanya. “Sudahlah.” Anto yang mulai mempersiapkan dirinya untuk bicara. “Ma, aku cuma pergi menyelamatkan semua orang yang ku sayangi. Saat ini, tempat dia berada sedang dalam keadaan yang sangat sulit, juga sepertinya ada beberapa masalah yang belum bisa di selesaikan di sana, sekaligus saat ini tida bisa di jangkau oleh siapapun kecuali diriku dan saat ini, mereka masih dalam keadaan lemah. Tapi, hanya aku yang bisa ke sana dengan sangat cepat dan membantu mereka.” Anto menjawab dengan tenang sambil berusaha menjelaskan alasannya pergi meinggalkan Planet Aqua. “Sebenarnya tadi aku pergi tanpa pamitan sendiri. Tapi, mereka menarikku saat aku hendak balik pergi.” Anto dengan santainya mengatakan kejujurannya pada semua orang di ruangan itu. Semua orang diam saat mengetahui itu, terutama Mama nya yang masih tertunduk. “Apa sebaiknya, tidak mengatakannya?” Anto yang merasa bersalah atas hal yang telah di lakukannya.
“Kamu pergi sendiri?” Momo tiba-tiba mengeluarkan auranya, yang membuat Anto sedikit bergeming takut. Anto dengan pelan melihat ke belakang tempat Momo berdiri, lalu berbaling dengan cepat saat melihat Momo yang terlihat menyeramkan sekali saat menatap Matanya. Anto langsung diam saat Momo yang melihatnya dengan sangat tajam sekali dan juga terlihat marah padanya.
“Gawat, ini sudah berlebihan.” Anto yang mulai merasa akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkannya. Momo menatap ke arah Anto yang masih sudah membalikakkan badannya setelah melihat sekali.
“Bisa bawa kami sekalian?” Tanya Momo dengan suara sangat mengancam sekali. Anto dengan cepat mengangguk pada Momo yang meminta dengan suara yang begitu menakutkan. “Baguslah.” Ucap Momo dengan suara yang sudah kembali normal setelah memaksa Anto untuk bicara dengan jelas.
Semua orang melihat ke arah Anto yang terlihat menurut, saat Momo meminta dengan menakutinya dan juga mengancamnya. “Kenapa kalian melihat ku begitu?” Tanya Anto pada semua orang termasuk Mama nya yang terlihat aneh saat melihat ke arah dirinya. Mereka tidak ada yang menjawab, hanya diam saja melihat Anto yang masih tenang saja meski di lihati dengan aneh. "Momo, Lala dan Nana. mereka ini seperti sudah biasa melihat ini!" Anto yang merasa sperti itu dan juga tau kenapa reaksi mereka tiak berlebihan dengan ucapannya
“kenapa kamu takut pada mereka?” Tanya papa Lala yang melihat Anto masih seperti biasa saja. Anto melihat ke arah Papa Lala yang terlihat ingin tau.
“Hm… Entahlah.” Anto menjawabnya dengan biasa saja seolah-olah itu hal biasa baginya. “Aku tidak tau, tapi merasa harus melakukannya saja.” Anto menambahkan dengan biasa saja dan masih tetap dengan ekpresi yang sama. “Mungkin hanya rasa kasih sayang saja.” Anto dengan terus terang dengan ucapannya. Semua orang menatapanya lagi sama seperti sebelumnya. “Apa aku bicara berlebihan lagI?” Anto yang mulai merasa terlalu di perhatikan oleh semua orang di ruangan itu.
Saat Anto dalam tengah kebingungungan, Lala tiba-tiba memeluknya dari belakang dengan sedikit gemetar yang bisa di rasakan oleh Anto. “Kumohon berhenti mangatakan itu mulai sekarang.” Kata Lala dengan suara yang sedih sekali, yang membuat Anto tidak mengerti maksud dari perkataannya. Anto yang mendengar Lala dengan suara sedih, merasa iba dan tidak berkata apa-apa lagi dan membiarkan dirinya di peluk begitu saja.
“Ha... Kenapa ini terjadi terjadi. NAVI, apa ada sesuatu yang salah dengan diriku?” Tanya Anto yang tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi padanya.
“Aku tidak tau. Aku sendiri bingung juga.” Jawab NAVI yang ternyata ikut memperhatikan semua aktivitas di ruangan itu. “tidak ada data tenatng perasaan di sini.” NAVI menambahkan denga biasa saja dan juga terdengar sedikit penasaran maksud dari Lala yang memeluknya tiba-tiba.
NAVI tidak berkomentar saat Anto berkata begitu padanya. “Eh!” Anto yang merasa ada sesuatu di belakngnya, hingga dia berusaha melihat ke belkangan saat merasa ada sesuatu yang menarik Lala. Saat melihat sedikti, ternyata Momo sedang menarik Lala yang sedang memeluknya dengan paksa hingga terlepas pekukannya dan kemudian Momo yang memeluknya kali ini. “ini?” Anto sendiri yang tidak tau dengan yang sedang terjadi.
“Ini giliranku.” Kata Momo yang sudah memeluk Anto. Lala tidak berkata apa-apa hanya merasa kesal saja pada tindakan Momo yang menariknya dengan paksa. Anto tidak bisa berkutik saat momo memeuknya dengan sangat erat sekali.
“Hm!” Nana yang memegang tangan kirinya di dekat Momo. “Sebenarnya kalian kenapa? Dari tadi kalian seperti mencemaskan sesuatu, tapi itu seutau yang lain yang lain! Apa yang kalian bertiga cemaskan?” Anto yang tidak tau kenapa dia bisa di perhatikan begitu dan juga manjakan dengan jelas sekali. Mereka tidak ada yang menjawab, malah hanya memeluknya dan juga Nana memgang tangan Anto dengan penuh rasa takut yang bisa bisa di lihat dari wajahnya. "Aku paham. Aku tidak akan melakukan hal yang gila." Kata Anto yang tidak mendapat respon dari Nana, Momo dan Lala yang sepertinya mencemaskan sesuatu dari dirinya.
Setelah berkata itu, Momo mulai melonggarkan pelukannya dan mulai melepas pekukannya dan juga Nana ikut melepas tangan Anto yang sudah di pegangnyya dengan penuh rasa takut. Lalu Momo membalikkan bada Anto dengan cepat yang membuat Anto sedikit kaget. “Sepertinya kamu sudah tau kalau kami dari masa depan.” Kata Momo pada Anto yang di lihaitnya dengan penuh rasa kasi sayang pada Anto. Anto tidak langusng menjawab dan hanya diam saja sambil melihat ke arah Momo yang menatapnya dengan sedikit serius dan senyum kecil padanya. Anto sedikit menganggu sebagai jawaban atas pertanyaan Momo.
“Ya. Aku tau sekali.” Jawab Anto dengan kata-kata setelah mengangguk dan dengan serius menjawabnya. “Sudah lama sejak aku tau kamu dan mereka berduan dari masa depan.” Anto menambahkan sambil tersenyum pada Nana dan Lala yang meliha ke arahnya dengan penuh penasaran padanya. “Aku hanya menunggu kalian bertanya saja.” Kata Anto dengan santainya.
“Aku senang.” kata Nana dengan suara lembut pada Anto yang sedang di lihatinya dengan sedikit penasaran dan juga sikap yang berbeda sekali dari sebelumnya. Seteha berkata begitu, Nana memegang tangan Anto lagi. “Bisa aku ikut?” Tanya Nana dengan suara lembut yang juga memohon pada Anto yang senyum kecil pada Anto.
Anto melihat ke arah Nana yang terlihat tulus padanya."Ha... Aku tida menolak permintaannya ini. Apa aku terlalu baik atau polos?" Anto yang tidak tau kenapa dirinya bisa begitu baik pada semua Gadisnya “Ya. Aku ingin kalian menemaniku selamanya, di kehidupan ini dan kehidupan selanjutnya.” Anto menjawab dengan suara lembut dan juga terdengar tulus dan serius. “Selain itu, aku tidak tau apa yang harsu kulalukan jika sendiri saja yang bahagia kan.” Anto dengan santainya becara terus terang pada semua orang yang ada di ruangan itu. "Jika memang ada kehidupan selanjutnya, pasti aku akan ingat semua pengetahuan yang ku punya saat ini." Anto dengan sangat serius sekali saat mengatakannya. Nana, Momo dan Lala terlihat lebih cerah sekarang setelah Anto mengatakn itu pada mereka dengan sangta serius sekali dan juga masih terlohat agak meragukan perkataan Anto.
Ruangan itu menjadi lebih hidup dari sebelumnya setelah Nana bertanya itu dengan tulus pada Anto.ruanga keluarga menjadi sedikit tenang dengan penuh kebahagiaan. Namun itu belum semuanya selesai, karena masalah yang sebanranya masih berjalan di ruang keluarga itu yang mebelibatkan OrangTua Marya, Siska dan Lala yang masih belum selesai. Anto berbalik melihat ke arah OrangTuanya dan juga kedua OrangTua Siska dan Lala.
Next Chapter