
"Awan! Kenapa?" Tanya Anto yang bingung melihat awan yang sangat gelap sekali di bawhanya. Awan yang seharusnya ada di atas langit, tapi kini ada di bawahnya dan itu sangat gelap sekali. Tapi pas, Anto mengingat-ingat lagi, dia memang melihat kegelapan saja di bawahnya saat melompat dari tebing di langit itu. Di saat memikirkan itu, Anto sudah sangat dekat dengan awan. 'BLUS!!' Anto memasuki awan gelap dan sangat tebal sekali itu dengan menutup matanya. Anto yang merasa tidak terjadi apa pun membuka matanya lalu berbalik melihat cahaya matahari yang mulai redup tertutup awan. "Kenapa Dunia ini seperti ini? Apa yang terjadi dengan Dunia ini" tanya Anto pada NAVI saat cahaya sudah tidak terlihat lagi di matanya.
-Awan ini di buat memisahkan Dunia atas dan bawah. Mungkin- Timbal NAVI yang tidak yakin dengan apa yang dikatakannya itu benar atau salah. -jangan pikirkan ini dulu, aku lebih khawatir tentangnya- NAVI yang memberi kode pada Anto yang mengarah pada Nina yang masih tidak bangun sama sekali. Anto langsung bertindak dengan cepat pada Nina setelah NAVI mengingatkannya kalau Nina terus bersama terjun selama beberapa jam.
"NAVI, buat kapsul tidur 2 buah. Sepertinya kita tidak akan sampai permukaan dalam waktu yang singkat. Akan lebih baik jika kita menunggu sambil tidur." minta Anto sambiil memegang erat Nina supaya tidak terpisah. Saat Anto memegang erat Nina, sebuah cahaya putih muncul di depannya. NAVI sedang membuat sesuatu dari cahaya itu. Cahaya itu semakin tebal, dan semakin terang setiap detiknya. Dan di saat cahaya itu semakin terang, Anto sudah menembus awan gelap itu. Tapi Anto tidak dapat melihat dengan jelas karena cahaya di depannya itu membantunya menutup mata sekalius tangannya membantu menutup mata Nina.
Seetelah beberapa saat, sebuah kapsul kotak ikut jatuh ke bawah. -Cepat masuk- Kata NAVI sambil menubuka pintu di depan Anto. Tanpa ada pertanyaan, Anto masuk ke dalam kapsul itu. -Aku akan memasuki mode hibernasi jika kita menggunakan alat tidur seperti ini dan akan bangun setelah sampai permukaan. Jadi kemungkinan saat kita tiba, sudah ada mosnter yang menunghu kita dan juga mungkin bisa mempercepat Nina bangun. Jadi jika sudah sampai sebaiknya kamu bersiap, karena kita tidak tahu apa yang ada di bawah sana." NAVI menjelaskan dan memperingatkan dengan jelas dan juga singkat. Anto yang sudah paham langsung berbaring sambil memeluk Nina.
Saat sudah di dalam kapsul yang hanya berisikan 2 orang saja, Anto memgang tangan Nina. "Selamat malam Nina." Ucap Anto dengan lembut. Setelah itu, NAVI menutup kapsul Anto dengan kaca bening meski tetap gelap saat melihat keluar. Setelah Kapsul di tutup, Anto dan Nina tertidur dan NAVI memaski mode hibernasi. Tanpa ada yang tahu kapan kapsul itu akan tiba di permukaan. Setelah itu, kapsul itu meluncul jatuh semakin cepat ke bawah tanpa ada pengawasan sama sekali.
***
Waktu berlalu, kapsul itu sudah sampai di permukaan tanah, lalu kapsulnya terbuka. Anto pelan membuka matanya dari dalam kapsul dan melihat tidak ada matari di atasnya, lebieh tepatnya, tidak ada sama sekali cahaya yang masih ke bawah sana. "Gelap!" Anto yang melihat gelap sekali di langit yang ada bintang dan juga bulan yang indah. Anto duduk di kapsul sudah mendarat lalu melihat sana sini yang dirinya tanpaknya, dirinya berada di entah berantah dan juga ada banyak pohon tinggi di dekatnya. "NAVI, apa terjadi sesuatu seblum aku bangun?" Tanya Anto sambil melihat sekeliling yang banyak sekali pohon yang sangat besar dan tinggi yang tidak masuk akal sama sekali.
-Tidak ada. Lihat sekitarmu- Jawab NAVI merespon Anto engan singkat. Anto langusng beranjak berdiri melihat maksud NAVI. Anto berjalan pelan pelan di tengah gelap. -Lihat bawahmu- Kata NAVI saat Anto berhenti berjalan setelah sedikit juah dari kapsul. Anto melihat ke bawah. Anto melihat gelap yang masih tidak berujung.
"Wahh... NAVI, di mana kita? sepertinya kita tidak lagi di tebing itu." Tanya Anto yang mengingat tidak ada dataran tinggi itu di sekitarnya sambil terus melihat ke bawah yang masih sangat gelap sekali.
-Lihat sendiri kapsul itu- Jawab NAVI singkat, Setelh itu Anto mendekati kapsul lalu melihat apa maksud NAVI. Saat melihat, ada banyak sekali goresan yang tajam dan juga sebuah tusukan yang terlihat dalam. -Sepertinya ada Mosnter yang lebih kuat dari Anjing yang kita temui itu- Kata NAVI sambil melihat Anto yang terus melihat dengan teliti. Saat Anto sedang melihat bagian kapsul, Anto tidak menydari Nina bangun dari kapsul tidurnya. Anto terus menyelidiki kapsul itu, sementara Nina bangun perlahan melihat kegelapan yang tidak ada cahaya sama sekali.
"Ini di mana?" Nina yang tidak tahu dirinya sedang di mana. Nina berdiri di kapsul itu melihat sekitar yang sangat gelap lalu melihat langit yang tidak ada bintang dan bulannya sama sekali. nina melihat sana sini lalu melihat ke Anto yang sedang memeriksa kapsul. Nina sedikit sedikit kaget saat melihat Anyo sedang melakukan sesuatu. "Orang ini?" Nina yang masih takut dengan Anto yang sangat kuat sekali, mengingat kejadian di laur angkasa itu. Nina melayang dengan pelan, lalu terbang pelan meninggalkan Anto yang sedang memeriksa kapsul tidur.
Anto kemudian naik bagian depan tempatnya keluar dan menemukan Nina tidak ada. Anto pun melihat sana sini lalu ke udara dan melihat Nina yang terbang dengan pelan. "Mau pergi?" Tanya Anto pada Nina yang sudah sedikit jauh terbang. Nina diam terpaku di tempatnya setelah mendengar suara Anto. "Aku tidak menyalahkan kamu pergi, tapi lihat sekelilingmu terlbih dahulu." Kata Anto dengan sopan sambil melihat ke Nina yang diam di tempatnya. "Coba lihat ini, seekor monster telah menyerang kapsul kita dan sepertinya sangat besar dan berbahaya." Kata Anto menjelaskan sambil menunjuk ke kapsul yang sudah banyak goresannya.
Anto terus melihat ke Nina yang diam di tempatnya tanpa berkata apa pun. 'BLUSH!!' Anto langsung di depan Nina dengan teleportasinya. Nina refleks mengeluarkan pedangnya lalu mengarahkannya ke Anto. Anto tetap tenang meski ada pedang terancung padanya. Dengan pelan Anto mendekati Nina yang takut padanya. "Tenang." Ucap Anto dengan lembut. Anto memegang pedang yang di ancungkan padanya lalu membuatnya lebur seperti debu. Setelahnya, Anto maju lebih dekat hingga di depannya, lalu mengulurkan jari telunjuknya ke dahi Nina. "Tranfer!" Ucap Anto dengan jelas sekali. "Aku sudah memberikan gambaran yang ku lakukan dan setelah kamu mengetahui sendiri kan." Anto menjelaskan secara singkat dan jelas.
Nina terdiam dan juga tidak berkata apa-apa sama sekali setelah mengetahui itu. “Kamu siapa?” Tanya Nina yang masih takut padanya. Anto tersenyum dengan pertanyaan Nina.
"Aku ZERO, Petualang Antar Bintang, lalu Kakak siapa?" Tanya Anto balik dengan sopan dan lembut. Nina tidak menjawab Anto malah melihat dengan teliti Anto. Ano tidak memperdulikannya dan tetap senyum saja pada Hana. "Apa Kakak lapar?" Tanya Anto lagi dengan tetap senyum. Nina masih tidak merespon juga dan hanya diam saja tidak berani menaggapi. Anto tidak bisa berbuat apa-apa dengan itu. Anto meninggalkan Nina yang sedang melayang sendiri di udara.
-Mau bahan apa?- Tanya NAVI dengan biasa saja.
"Mie instan." Jawab Anto singkat. Anto mendarat di dekat kapsul lalu mengeluarkan kekuatannya. Kapsul itu bercahaya putih lalu semakin kecil hingga membentuk sebuah alat masak air otomatis. Anto menjetikkan jarinya lalu 2 buah Mie instan sudah ada di tangannya. Dan air juga sudah selesai di panaskan olehnya. (memanaskan air sangat mudah baginya, hanya butuh satu detik bagi petualang bintang). Nina yang melihat itu, tidak mengerti sama sekali dengan sikap Anto dan tetap melayang.
Nina melihat sekitar yang sangat gelap sekali dan dia menjadi takut untuk pegi dari sana, apa lagi saat ini, dia sendiri dan bersama orang yang di takutinya. Nina terlihat bingung tidak tahu harus melakukan apa pada situasinya sendiri. Nina hanya bisa memperhatikan Anto yang membuka sesuatu yang tidak di kenalnya dan menaruhnya dalam sebuah mangkuk yang tidak di ketahuinya. "Apa kamu mau?" tanya Anto sambil menyeduh Mie instan itu. "Jangan diam di sana, mari turun. Aku tidak akan melakukan apa pun." Ajak Anto yang tidak tau cara menenangkan Gadis secara langsung. Anto yang masih menunggu Mie nya matang dan juga Nina menghampirinya. Nina sama sekali tidak beranjak saat meliriknya. Nina masih melihat sana sini yang gelap sekali bahkan tidak ada sedikit pun cahaya yang terlihat di langit. Anto yang melirik Nina akan berbalik melihat dan dia dengan cepat melihat lagi ke mie nya yang akan segera di siapakanua. "Maaf, aku sengaja membawa mu ke sini. Jujur saja, aku tidak tahu apa pun dengan Dunia ini. Aku hanya ingin satu hal saja, jelaskan seperti apa Dunia ini dan aku akan membawa mu ke mana kamu inginkan, termasuk memulangkanmu." Kata Anto sambil mulai menuangkan bumbu-bumbu Mie di mangkuk. Nina yang melalyang perlahan turun sedikit jauh dari Anto. Nina diam saja saat sudah di bawah. Nina terus waspada pada Anto dan menjarak sekali. "Padahal aku tidak bohong, tapi ku rasa aku belum di percaya sama sekali." Lirik Anto pada Nina yang jauh sekali darinya.
Sesekali Nina melihat padanya sambil memperhatikan sekitarnya. "A, apa kamu janji?" Tanya Nina pada Anto. Anto melihar ke Nina yang bertanya balik setelah beberapa lama diam.
"Ya, aku janji." Jawab singkat Anto sambil tersenyum. Anto merasa lega dengan tanggapan Nina. "Kalau gitu, sebaiknya jangan diam diri di sana. Kemari kita makan bersama." Ajak Anto sambil melihat Nina yang tidak jauh dari. Tapi Nina sama sekali tidak mendekat ke Anto. mue instan yang sudah siap, salah satunya di ambil oleh dirinya lalu satunya di layangkan ke Nina yang jauh dan tidak mau mendekatinya. Saat sampai di dekatnya, Nina diam dan tidak berani mengambil makanan yang di layangkan padanya. "Meski kamu tidak lapar, sebaiknya kamu makan ini." Kata Anto yang sudah tau kalau Kutivator itu bisa hidup tanpa makan sedikit pun, meski dia kurang takin karena tidak tahu apa itu benar-benar di perlukan.
Nina yang melihat makanan di depannya terlihat ragu sekali mengambil makanan itu. Tapi karena Anto yang punya kekuatan begitu besar, dia merasa harus mengambilnya supaya tidak terjadi apa pun pada dirinya. "Pertanyaanku sebelumnya... Siapa namamu?" tanya ulang Anto pada Nina. Nina tidak langsung merespon malah terlihat menimbang apa akan menjawabnya atau tidak sama sekali.
“Nama… Namaku Siska!” Dengan agak ragu mengatakannya pada Anto (Nama samarannya Nina ialah Siska untuk saat ini. Sampai di Chapter yang belum di tentukan). Anto yang medengar itu melihat ke Nina yang memperkenalkan dirinya dengan nama palsu, namun Anto tetap diam tidak melawan. Anto malah merasa senang dengan perkenalan Nina pada nya meski itu nama samaran.
"Salam kenal Kak Siska." Anto menyapa Nina dengan sopan, lalu lanjut makan. Nina tidak berkata apa pun sambil melihat Mie yang di buat Anto. Nina melirik Anto yang mulai makan dengan pelan. Anto yang melirik ke Nina yang mencicipi Mienya yang terlihat seperti baru pertama kali baginya untuk memakannya. "Meski cuma Mie instan, ku rasa para kultivator tidak pernah merasakannya." Pikir Anto yang melihat reaksi Nina yang terlihat suka. Setelah melihat reaksi Nina, Anto melanjutkan makannya. "Bagaimana?" Tanya Anto pada Siska yang menikmati makanannya, meski dia tidak bisa melihat ekpresi Nina yang memakai cadar.
"Ini enak." Jawab Nina sambil menaruh bekasnya yang sudah sangat bersih. Anto yang mendengar itu langusng melihat ke Nina. Anto tidak menyangka mie instan yang di buatnya akan habus dengan sangat cepat sekali. Anto tidak berkata apa-apa, hanya sedikit keget dengan cepatnya Siska selesai makan. Anto lalu berdiri sebelum Mie nya habis di makan. Anto mengambil alat pemanas air yang di buatnya, lalu mengubah bentuknya lagi menjadi sebuah kubus kecil. Nina melirik apa yang sedang di lakukan Anto itu. Anto menaruh kubus itu di permukaan. Setelah menaruhnya, Anto menekan tombol di atas kubus. Setelahnya, kubus itu bercahaya terang dan kurang 5 detik sebuah tenda muncul di dekatnya.
Saat di dalam Nina langsung terdiam di depan pintu masuk. "Apa ini?" Tanya Nina yang melihat banyak sekali energy spritual di dalam tenda itu. Nina melihat sana sini dan semua benda di dalamnya mengandung kekuatan spritual. "Master!" Kata Nina yang tidak tahu harus berbuat apa dengan sesutau yang tidak pernah di alaminya sama sekali. Perlahan Nina di masuki oleh energi spritual itu ke dalam dirinya. "Perasaan ini! kekuatan spiritual!” Kata Nina yang bisa merasakan padatnya spirtual di dekatnya meski masih di depan pintu masuknya, yang juga perlahan masuk ke dalam dirinya.
"Kamu masuk? Ku kira kamu tidak mau masuk." Kata Anto yang sudah berganti pakaiannya dengan pakaian biasa, meski dari pandangan Siska itu pakaian yang asing baginya. Nina terdiam melihat ke Anto yang ada di depannya yang terlihat sangat muda sekali. "Kemari." Ajak Anto dengan sopan pada Nina yang masih di dekat pintu masuk rumahnya. “Ini rumahku. Lebih tepatnya tiruan dari rumahku di Bumi. Dan semua ini hanya tiruan dari rumahku saja.” Anto menjelaskan sambil jalan duluan ke dalam rumahnya setelah berganti pakaian. Nina yang di depan pintu mengikuti Anto jalan sambil melihat ke sana sini dengan jeli. Anto melirik ke Nina yang terus melihat tiruan dari rumahnya itu. "Entah apa yang menarik di sini, tapi bagi orang baru. Ini mungkin sangat menarik." Pikir Anto yang yakin sekali dengan dirinya. Anto terus jalan ke ruang makan tanpa memberi tahu itu ke Nina. Saat mereka sampai, Anto angsung masuk lalu berhenti saat di dekat meja makan. "Kakak bisa tunggu di sana, sambil makan buah." Kata Anto sambil menunjuk ke meja makan. Nina terus jalan dan tidak memperhatikan Anto di depannya, lalu Anto di tabrak Nina yang terus jalan hingga jatuh. Saat jatuh Nina di atas Anto sambil melihat ke wajahnya yang diam saja. "Bisa kamu bangun?" Tanya Anto dengan sopan lalu tersenyum pada Nina
Nina langsung bangun setelah Anto memintanya. Anto perlahan bangun dan melihat ke Nina. "Maaf!" Dengan suara sopan Nina meminta maaf pada Anto. Anto hanya diam saja mendengar itu dari Nina.
"Jangan pikirkan itu, aku tahu kamu kagum dengan hal yang belum pernah kamu lihat di dalam sini. Kamu bisa lihat semaumu dan boleh mengambil barang apa pun di sini. Atau kamu berkeliling saja sendiri. Tapi perhatikan jalan saja supaya Kakak tidak menabrak lagi." Minta Anto yang tidak marah sama sekali dengan tindakan Nina padanya. Anto malah dengan sopan memberikan apa pun yang di inginkannya. "Sudah ya, aku mau masak dulu." jalan Anto sambil meninggalkan Nina yang diam setelah meminta maaf.
-Kamu yakin dengan hal ini?"-Tanya NAVI pada Anto yang berjalan ke dapur.
"Yakin apa?" Tanya Anto yang tidak tahu maskud NAVI.
-Membiarkannya sendiri- NAVI memerjelas maksudnya dengan cepat merespon. Anto tidak langsung membalas.
"Ya. Entah kenapa, ku rasa dia tidak akan melakukan hal buruk." Jawab Anto dengan santai dan yakin. NAVI tidak merespon lebih lanjut dan merasa mengerti perkataan Anto. "Saat ini aku mau makan sebanyak mungkin karena sudah lama sejak aku makan kan. Yah... sekalian saja mengakrabkan diri, termasuk mencari tahu kenapa diriku tertarik tiba-tiba dan juga punya perasaan yang aneh." timbal Anto dengan yakin sekali dengan terus jalan ke dapur. Sesampainya di dapur, Anto langsung menggunakan kekuatan kinetik nya mengendalikan semua alat memasak yang ada di sana.
***
Setelah memasak lebih dari 30 menit lebih di dapur, Anto selesai menyiapkannya yang banyak sekali beterbangan di udara. "Huh... Selesai juga." Ucapnya saat mellihat semua makanannnya ada ratusan dan melayang di udara dengan kekuatannya. "Mari kita makan." Dengan wajah senang Anto menerbangkan ratusan makanan yang terbang menuju ruang makan. Saat sampai ruang makan Nina sudah ada di sana dan juga sudah melepas cadar di wajahnya. Anto terdiam saat melihat ke Nina yang begitu cantik yang tersembunyi di balik cadar itu. "Aku tahu kamu cantik, tapi ini di luar dugaan." puji Anto pada Nina dengan terus melihat dari temoatnya berdiri. "Ini apa perasaanku saja, atau memang aku berdebar sekencang ini?" tanya Anto yang merasa aneh setelah melihat wajah Nina.
-Kamu tidak aneh... Tapi Nina lah yang membuatmu berdebar-sebar seperti itu- Jawab NAVI dengan singkat danjuga jelas. -Nina mempunyai tubuh charm. Tubuh penarik lawan jenis yang begitu kuat. Tapi kamu bisa menahannya karena ada diriku yang punya kesadaran yang masih menjaga akal sehatmu. Jika aku tidak ada, mungkin kamu sudah menyerangnya tanpa sadar meski kamu sekuat ini- Dengan serius mengatakan itu pada Anto.
"Begitu ya..." timbal Anto dengan serius. "Kakak, aku ingin minta sesuatu pada Kaka., apa boleh?" Tanya Anto pada Nina sebelum mengatakan permintaannya pada Nina.
Nina langsung terdiam kaget dengan perkataan Anto lalu melihat sana sini. "Apa... apa yang kamu minta?" Tanya Balik Nina dengan suara kecil dan juga masih takut pada Anto
"Jangan biarkan siapa pun melihat wajahmu. Jika tidak, kamu bisa membuat siapa pun jadi binatang yang akan menerjang padamu selalu." Anto memperingati Nina sambil berjalan ke meja makan. Nina diam saja di tempatnya tanpa merespon sama sekali. Saat sampai di meja makan, Anto melihat semua buah sudah habis di makan Nina tanpa ada yang tersisa sama sekal. Anto hanya tersenyum pada Nina yang sepertinya terdiam memikitnya permintaannya itu.
Anto kemudian duduk di kursi lalu menarih semua makanan itu sedikit dan sisanya masih di layangkan karena tidak cukup di atas meja. "Ba... bagaiamana kamu tahu kekuatanku?" Tanya Nina dengan cepat yang terlihat penasaran sama sekali. Anto yang melihat Nina tiba-tiba berubah jadi sedikit kaget dengan tingkahnya. Anto menghidangkan makanan di depan Anto lalu melihat padanya yang masih takut dengan dirinya.
"Mudah saja, kamu saja menarik perhatianku saat pertama kali bertemu dan itu membuatku sangat aneh. Tapi bukan itu yang membuatku tertarik sama kamu. Entah kenapa aku dan Kakak pernah merasa akrab gitu. Di sisi lain, Kakak itu punya tubuh charm yang membuat lawan jenis selalu menatap dengan aneh bukan, jika Kakak tidak menutup wajah, maka Kakak merasa selalu di perhatikan oleh lak-laki bukan!" Jawab Anto dengan biasa saja. "Kakak pasti merasakan hal yang sama baru-baru ini kan. Bahkan mungkin sejak masih kecil." Tambah Anto dengan singkat dan juga menerangkan maksudnya dengan jelas.
Nina terdiam seperti mengerti maksud dari perkatan Anto. Anto tersenyum saat melihat wajah berpikir Nina yang sangat serius dan juga sudah mulai terbukan padanya, meski hanya sedikit saja. Anto melihat ke Nina yang berpikir sedikit keras lalu tersenyum. "Kenapa, kenapa kamu senyum-senyum begitu?" Tanya Nina dengan tanggap saat melihat Anto yang senyum-senyum ke arahnya.
"Tidak ada, mari kita maka saja." Ajak Anto duluan menaruh nasi di piringnya. Setelah itu mengambil beberapa lauk yang di atas meja. Kemudian Anto mengisikan piring Nina yang kosong di depannya dengan nasi saja dan membiarkanya dia memilih lauknya sendiri.
"Apa ini?" Tanya Nina pada Anto sambil melihat ke meja yang banyak makanan. Anto melihat ke Nina yang ingin tahu sekali.
"ini makanan yang akan kita makan hari ini." Jawab Anto singkat sambil mengambil seporsi lauk di depannya. Nina tidak bisa bertanya lagi dengan sikap Anto, yang baru di sadari kalau Anto berubah ekpresinya selama beberapa saat. Anto tidak memperdulikan tingkah Nina dan malah mulai makan makanan di depannya yang sudah siap. Nina hanya melihat Anto yang makan dengan sangat lahap sekali tanpa menggunakan garpu atau pisau dan malah menggunakan tangannya. Nina dengan pelan mengambil lauk yang paling kecil. Kemudian Nina mengmabil sendok di dekatnya lalu mulai makan. Namun, Nina tidak bisa melawan rasa enak dari makanan yang di buat Anto hingga lebih cepat menghabiskan mangkuk kecil itu dengan kali teguk saja.
"Coba tuangkan lauk ke atas nasi di depanmu itu dengan yang lainnya, pasti lebih enak!" Anto memberi tahu Nina yang makan dengan sangat cepat lauk sebelumnya, tanpa melihat dan hanya memperhatikan makanan di depannya saja. Nina melihat ke Anto yang terus makan dan mengambil porsi lauk lain dan di masukkan ke dalam nasi di depannya. Nina mencoba saran Anto untuk menuangkan lauk ke nasi putih di depannya. Nina juga meniru Anto memakai tangannya untuk makan makan. Saat sudah mencoba makan dengan tangannya, tanpa Nina sadari, dia lebih cepat makan dari pada Anto. Anto baru saja selesai makan 3 porsi, sedangkan Nina sudah lebih dari 10 porsi yang di makannya. Anto kemudian berhenti makan saat di mau ambil lauk di depannya sudah tidak ada, lalu melihat ke lauk lainnya yang juga tidak ada. Anto lalu melihat Nina yang ternyata sangat lahap sekali makannya. Piring kotor juga sudah ada banyak sekali di sampingnya dan Nina sama sekali tidak menyadari itu. Anto jadi bingung melihat Nina yang cepat sekali makannnya sekaligus senang saat melihat Nina yang menunjukan sebagian sifat dirinya yang asli.
Setelah melihat itu, Anto lanjut makan menemani Nina yang lebih lahap makannya dari pada dirinya. Anto menaruh porsi lauk lain yang masih ada di udara ke meja makan menggantikan lauk yang sudah di ambil. Nina yang tidak menyadari dirinya makan lebih lahap dari Anto dan hanya terpaku dengan makanan yang ada di depannya, terus makan tanpa dia sadari sudah sangat banyak sekali makanan yang di habiskannya. Anto terus menaruh makanan yang baru di depan makanan Nina yang telah habis dan Anto merasa bersyukur dengan makanan yang di buatnya tidak sia-sia.
***