
“Apa yang harus kulakukan?” Pikir Andri yang bingung sambil menatap Siska yang berharap menerimanya. “Paman! bisa memberiku waktu. Aku juga sudah di tawari oleh Mama untuk menikah sama Maria juga!” Sambil menundukkan kepala dengan tulus. “Jadi aku butuh waktu untuk menjawab. Selain itu, seharusnya laki-laki yang melamar bukan gadisnya.” Bangun Andri sambi bicara menjelasakan jawaban pada paman dan Siska yang terlihat senang.
“Akan ku tunggu kamu melamarku.” Respon Siska dengan wajah ceria dan juga kecewa yang tidk di sadari oelh Anto sama sekali.
“Baiklah, paman akan memberimu waktu selama 7 hari, paham?” Dengan suara tegasnya dan nada mengancamnya pada Andri yang bicara.
“Tujuh hari! Hmm…!! Apa yang harus kulakukan!” Tanya Andri yang masih belum menjawab ayahnya Siska. Anto melirik ke Pamannya yang masih menatapnya dari tadi.
“Kamu paham!” Pamannya menekan Andri dengan wajah seramnya.
“Ya.” Jawab Andri dengan pasrah dan tidak bisa menghindar . “Sepertinya aku tida bisa melarikan diri.” Andri yang sedih dalam hati.
“Kalau begitu Papa pergi dulu.” Papanya Siska memunculkan tombol di tangannya yang entah dari mana munculnya, lalu menekan tombol di tangannya kemudian menghilang. Tanpa menunggu Andri dan Siska merespon, dia sudah jauh pergi meninggalkan mereka berdua.
“Kamu senang sekarang?” Tanya Andri pada Siska yang masih berdiri di depannya.
“Aku sangat senang.” Jawab Siska sambil memeluk Andri di depannya dengan penuh semangat.
“Hah... apa yang di pikirkannya?” Anto yang bertanya-tanya sambil melihat matahari yang mulai terbenam.
“Mari kita masuk.” Ajak Siska pada Andri yang sudah selesai memeluknya. Andri tidak menjawab, dan hanya tersenyum senang saat melihat Siska yang bahagia tersenyum padanya dengan sangat ceria sambil melihat Siska yang membuka gerbang teleportasi untuk dua orang.
“Ada apa denganku?” Pikir Anto yang tida mengerti dengan dirinya sendiri saat melihat Siska yang tersenyum tulus “Apa ini perasaanku!?” Andri yang bingung sambil melihat Siska yang jalan duluan ke portal. “Mungkin ini, keinginanku” Guman Andri yang terus kepikiran sambil mulai melihat ke langit.
“Ada apa di langit?” Tanya Siska yang masih ceria sambil menatap Andri yang melihat langit. Anto melihat balik ke Siska yang belum masuk ke portal.
“Tidak ada apa-apa!” Jawab Andri sambil tersenyum pada Siska. Siska menatap Andri dengan penuh penasaran sambil menatapnya dengan tajam. “Sudah! mari masuk. Aku sudah lapar!” Ajak Andri sambil berjalan ke portal cahaya putih duluan meninggalkan Siska yang masih di atap rumah. Siska mengikuti Andri yang sudah menghilang dari portal. Saat sampai Andri dan Siska langsung diam saat sampai di ruang keluarga saat melihat begitu banyak gadis pelayan berdiri.
“Kamu sudah sampai Andri!” Bicara Mamanya dari belakang. Andri dan Siska berbalik cepat
“Nama! Bibii!” Sapa bersamaan Andri dan Siska saat melihat Mama Maria.
“Ma, apa ini?” Tanya Andri dengan penuh percaya diri dan sangat penasaran dengan Maid yang ada di sekeliling ruang keluarga. Mamanya menatap Andri yang serius sekali.
“Ini semua pelayan pribadi untuk kamu” Jawab Mamanya dengan penuh senyum di wajahnya. “Semuanya ada 30 Maid yang siap melayani kamu setiap hari.” Tambah perkataan Mamanya dengan santai dan biasa saja.
“Hah!!” Andri bingung dengan semua kejadian di dekatnya yang tidak di sangkanya sama sekai. “Tapi ma! Kapan aku minta begitu banyak pelayan?” Tanya Andri yang tidak tau apa-apa dan hanya bisa megeluh saja.
“Kamu tidak memintanya, tapi Mama berikan padamu sebagai pemuas nafsumu.” Jawab Mamanya dengan penuh percaya diri sambil menatap Andri yang sangat tidak paham sama sekali dengan situasi yang sedang terjadi. “Dan juga ini bukan dari Mama saja, sebagiannya dari Papanya Siska.” sambil menunjuk Siska di dekatnya yang memperhatikan dengan senyum di wajah tidak peduli.
Anto diam saja mendengar Mamanya bicara dan tidak di pedulikan sama sekali. “Apa semua laki-laki harus punya pelayan pribadi!” Guman Andri dengan suara kecil yang tidak mengerti sama sekali dengan situasi di sekitarnya.
“Tentu saja, semua laki-laki di dunia ini harus punya pelayan pribadi." Jawab Siska di dekatnya yang ternyatan mendengar gumanan Andri. "Tenang saja kamu tidak perlu bertanggung jawab jika mereka hamil.” Tambha Siska yang tersenyum pada Andri yang tidak di mengertinya. “Mereka akan merawat bayi tersebut.” Siska menambahkan lagi perkataannya. “Benarkan semuanya?” Tanya Siska pada Maid yang sedang berbaris rapi di ruang keluarga.
“Siapa yang membuat peraturan bodoh ini” Pikir Andri dengan jelas sekali sambil melihat ke Mamanya dan Siska yang menunggu jawaban. “Apa yang akan kulakukan dengan ini semua?” Guman lagi Andri di dekat Siska.
“Mudah saja." Jawab Siska hingga, Andri sedikit kaget. "Gunakan mereka semua setiap hari!” Bicara Siska yangn mendengar gumanan Andri lagi. Andri tidak tau harus bicara apa lagi setelah mendengar perkataan Siska.
“Oh ya! mereka semua masih perawan. Jadi, pastikan untuk melakukan dengan pelan-pelan.” Mamanya mengingatkan Andri sambil tersenyum padanya.
“Ini semua ak…” Andri tiba-tiba mengingat sesuatu. “Ini!” Sambil menatap Mamanya dan Siska yang masih melihatnya “Ma! Apa Mama tau berapa gadis yang kumiliki saat ini?” Tanya Andri pada mamanya degan wajah serius. Mamanya melihat ke Andri termasuk Siska yang sedang serius.
“Apa maksudmu?” Tanya Mamanya balik setelah mendengar perntayaan Andri.
“Bukankahkah, aku sudah menjelaskan kalau aku punya gadis!" Andri mengintakna Mamanya. Mamanya mengangguk saat mengingatk hal tersebut. "Nah, jumlah mereka semua ada 70 orang.” Andri yang menjelaskan dengan sangat serius. “Aku tidak mau mereka semua jadi pelayanku, aku tidak butuh pelayan.” Dengan tegas Andri mengatakan apa yang harus di katakannya. Setelah mengatakan itu, Mamanya menatapnya dengan tajam tanpa senyum dan Siska ikutan juga menatap Andri dengan sangat tajam.
“Kalau begitu tambahkan mereka semua dalam haremmu! bagaimana?” Tanya Mamanya dengan sangat tajam dan mengancam. Ansri terningat lagi dengan ekpresi itu sama persis dengan ancama dari Papa Siska.
“Sepertinya, aku tidak bisa lari lagi!” Andri dengan sakit hati yang di paksa untuk menikahi semua pelayan. “Kalau Mama tidak keberatan!” Bicara Andri membalas perkataan Mamanya dengan suara kecil dan pasrah. Setelah itu Mamanya tersenyum senang dengan perkataan Andri. ”Dengan ini! Aku sudah punya 102 gadis di haremku!” Andri yang merasa sangat bersalah dan juga terbebani.
“Kalau begitu Bibi, aku juga termasuk juga?” Tanya Siska pada mamanya Andri
“Tentu saja, sekarang kita aka jadi keluarag!” Jawab Mamanya Andri dengan singfkat/ “Sekarang kamu harus panggil aku Mama, bukan Bibi lagi, paham?” Menambahkan perkataannya dengan sedikit serius.
“Siska mengerti Ma!” Respon Siska tanpa ragu dan langsung memanggilnya dengan sebutan Mama. Anto yang di sana, amalh samikn bingung sekali dan tidak percaya dengan semua hal yang di sini sangt tidak di duganya sama sekali.
“Hah... Aku tidak paham apa yang ada di dalam pikiran para wanita!!” Andri yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi di sekitaranya.
“Baik para gadis, ikuti aku!” Ajak Siska setelah menjawab mamanya dengan santai dan ceria
“Baik!” Jawab serempak para gadis pelayan pada Siska. Setelah itu Siska membawa mereka ke ruangan yang Andri tidak tau
“Kalau begitu mama pergi dulu!” Sambil melambaikan tangan pada Andri yang di tinggal sendirian di ruang keluarga. Setelah semua orang pergi Andri kemudian duduk ke sopa melayang. Di sana Andri berbaring sambil memikirkan semua yang barusan terjadi.
Sementara itu di dapur. “Semoga Andri suka!” Pikir Maria yang sedang memasak makanan untuk makan malam dengan ceria di dapur.
“Putri bisakah Anda berheti memasak, biar kami para pelayan yang memasak!?” Raut wajah pelayan tua yang sangat mengkhawatirkan tingkah nona muda yang sangat energik.
“Terima kasih bibi, tapi ini aku buat untuk Andri.” Jawab Maria dengan tegas sambil terus memasak. Semua pelayan sangat khawatir dengan tingkah nona mudanya yang masih bersemangat menekan-nekan alat memasakknya. “Aku harap Andri menyukai makanan yang aku siapkan!” Dengan sangat ceria mengotak atik tombol otoamtis pembuatan makanan.
***
Setelah beberapa menit akhirnya selesai. Maria dengan puas memasak. “Sekarang semuanya sudah selesai!” Bicara sendiri dengan sangat puas yang bagaiga. Semua pelayan sangat terkejut dengan makanan yang di buat nona mudanya. “Bibi! panggil Andri!” Menyruh Bibi pelayan untuk memanggil Andri. Pelayan mau tidak mau harus mematuhi majiakannya. Semua pelayan tampak ketakutan dan merasa sdih di saat yang bersamaan, karena masakan Maria yang tidak sangguo di lihat mereka.
NEXT Chapter