Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 256


Setelah beberapa lama makan, Hana perlahan terlihat ngantuk lalu tiba-tiba tertidur dengan sisa makanan yang masih ada. Semua orang yang di sana melihat semua kejadian itu, tapi tidak ada yang bicara sama sekali. “Sepertinya dia tdak tahu sama sekali.” dengan tetap senyum Anto melihat ke Hana yang tidur di meja makan. Setelah itu Anto membuka portal di dekatnya yang dapat di lihat bagian dalamnya. Anto kemudian melayangkan Hana, lalu menerbangkannya ke dalam portal lalu menaruhnya di atas ranjang. Setelah Anto menutup kembali portal yang di buatnya dan tetap tenang masiki fi lihati banyak orang di sana. “Meski baru pertama kali ku buat portal ini, ternyata bisa juga.” dengan tenang sambil menekan menu makanan di meja. Setelah itu Anto memesan banyak sekali dengan tenang menunggu di kursinya.


Saat menunggu Anto terus di lihati oleh para pelanggan dengan melirik dan juga ada yang melihat dengan terangan terangan. Tapi Anto sama sekali tidak peduli dengan hal itu dan melihat keluar dari jendela. “Dunia sudah berapa banyak yng berubah?” Tanya Anto dalam hatinya sambil melihat ke luar. “Apa ada yang masih menderita lagi di luar sana. Akan ku lihat setelah memesan makanan untuk mereka.” dengan tenang menunggu dan masih memikirkan orang lain di negara lainnya yang belum di kunjunginya. Saat menunggu Anto menutup matanya lalu merasa dirinya melayang di udara dan juga bisa melihat seluruh Bumi dengan jelas sekali. Anto bisa merasakan banyak orang yang menderita dan juga merasakan kota yang di tinggalinya aman-aman saja. Anto mencari orang yang kesusahan di belahan bumi yang belum di jelajahinya dan menemukan banyak sekali yang masih tidak selamat.


Di sisi lain, Anto dapat memahami perasaan orang-orang yang sedang menderita di belahan negara lain yang belum ada penyelamatnya. “Perasaan ini sama seperti saat menggunakan bahasa alam… Rasanya sangat nyaman dan menyakitkan juga…” dengan perlahan membuka matanya dan merasa kembali seperti semula. Saat sudah membuka matanya, Anto melihat di depannya sudah ada banyak sekali  makanan yang sudah di sediakan di atas robot terbang yang membawa nampam dengan bersama seorang gadis Maid yang bisa saja terlihat ramah padanya. Anto kemudian membuka dimensinya lalu menerbangkan semua makanan itu ke dalam dengan gadis itu melihat terdiam. Setelah itu Anto memesan lagi banyak sekali makanan dengan menekan menu di depannya yang masih menyala. Gadis Maid tadi hanya diam saja di tempat lalu beberapa robot datang lagi dengan membawa pesanannya. Anto langsung menerbangkannya ke dalam dimensinya saat semuanya sudah sampai.


Semua orang hanya melihat saja apa yang di lakukan Anto termasuk gadis Maid yang menemani para robot itu itu. “Ano… apa makanannya masih banyak?” Tanya Anto pada Maid yang menemani robot pengantar makanannya. Gadis Maid hanya terdiam melihat apa yang di lakukan Anto tadi dan tidak memperhatikan Anto sama sekali yang bertanya padanya. “Pemisi… apa kamu mendengarku?” Tanya Anto pada Gadis Maid yang masih diam saja melihat ke lubang dimensi yang di buatnya. Anto kemudian berdiri di depan Gadis itu sambil tersenyum. Gadis Maid reflesk melihat ke Anto yang sedikit tinggi darinya. “Apa ada masih banyak makanan?” Tanya Anto padanya dengan ramah dan sopan. Gadis itu hanya mengangguk saja dengan singkat. “Aku mau pesan semuanya, boleh?” Tanya Anto dengan sopan padanya. Gadis Maidmengangguk lalu Anto duduk kembali sambil menuutup dimensinya. “Aku akan tunggu di sini. Buat semua makanan ini, berapa kredit yang harus ku bayar?” Tanya Anto sambil melihat ke Gadis Maid. Gadis itu malah terdiam saja sambil melihat ke Anto yang hanya senyum padanya.


“Tu, tunggu!” gadis Maid berbalik dengan cepat dengan semua robot mengikutinya. Anto diam saja lalu duduk kembali ke kursinya kemudian melihat keluar jendela lagi dengan tenang. Setelah beberapa saat menunggu seseorang datang menghampiri Anto. Anto langsung melihat ke orang yang  terasa tidak asing dan juga sudah tua dengan di temani gadis Maid tadi. Orang tua terdiam melihat ke Anto remaja sedang senyum padanya saat melihat ke arahnya. Di sisi lain Anto langsung tahu orang yang menemuinya itu meski sudah terlihat tua. “Begitu ya… dia orang terakhir yang di pindai dan juga orang yang ku ambil kembali robotnya. Ternyata dia masih hidup dan jadi pemilik restoran ini.” Anto yang mengingat jelas orang di depannya itu. Keduanya hanya diam saja dan tidak ada yang memulai bicara sama sekali. “Apa aku bisa pesan semua makanan di sini?” Tanya Anto dengan normal saja seperti tidak mengenal satu sama lain. Orang tua itu malah diam saja tidak merespon sama sekali padanya. Anto diam menunggu tapi itu terlalu lama menunggu. “Ano… pak! apa aku bisa pesan makanan di sini atau tidak?” Tanya Anto dengan mengubah ekspresinya supaya lebih alami karena terus di lihat oleh pak tua itu. Setelah beberapa saat Pak tua itu terlihat kembali normal meski terlihat tidak yakin.


“Kamu bisa memesan sebanyak yang kamu mau bahkan sampai stoknya habis pun.” Jawab Pak tua itu dengan sedikit ragu dan juga membuat semua orang di sana terdiam. Anto pun jadi merasa aneh meski itu hanya pura-pura.


“Maaf… Aku tidak bermaksud seperti itu…” dengan sopak pak tua itu meminta maaf pada Anto. Anto pun jadi terdiam membeku dan kali ini bukan ekting. Semua orang melihat tajam ke Anto yang diam dan tidak berkata apa-apa seperti itu.


“Tunguu… jangan lakakukan ini lagi…!” Minta Anro dengan sungguh-sungguh sekali karena terus di lihat oleh para pengunjung yang lainnya. “Maaf semuanya… tapi aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi ini. Aku bukan orang jahat… jadi bisa kalian tidak melihatku dengan seperti itu.” minta Anto dengan serius sekali karena tatapa pelanggan yang terus melihat ke arahnya dengan  tajam. Tapi tatapan itu tidak berhenti sama sekali dan membuat Anto sama sekali tidak merasa nyaman sekali di sana. “Maaf pa... Tapi aku akan ke tempat lain saja…” dengan sopan Anto jalan pelan keluar dari restoran  karena tatapan semua pelanggan yang membuatnya kurang merasa nyaman. Saat sampai di luar Anto langsung jalan pergi diri restoran itu denga rasa kecewa dan tidak menduga kalau akan jadi seperti itu.


Anto terus jalan dengan sedikit orang di sana yang lewat. Anto jalan mengikuti jalan yang sedikit sepi. “Zaman sudah beda dan juga tatapan mereka tidak salah sih jika tiba-tiba ada orang tua yang meminta maaf pada remaja seperti ku.” Anto yang mengingat dengan serius sekali kejadian yang ada di restoran tadi. "Tapi tidak buruk hidup di Dunia yang seperti ini... malahan bukannya ini dunia yang ku impikan meski hanya sedikit saja yang terwujud. Nah Ayah Ibu... Bagaimana menurut kalian Dunia baru yang kecil ini?" tanya Anto dengan terus jalan sambil senyum sendiri dengan tenang melihat sedikit orang yang namun terlihat senang dan bahagia di dalam kota itu.


“TUNGUUUU…!” Minta seseorang dengan sangat keras sekali. Anto terus jalan karena mungkin bukan dirinya yang di panggil. “TNGGUUUU…!” Teriakan itu terus semakin keras dan jelas dari belakang Anto. Anto masih jalan karena masih merasa itu bukan dirinya. “TUNGUUU…!” Kali suaranya sudah terdengar keras sekali di belakangnya. Anto pun berbalik melihat ke orang yang berteriak di belakang. Saat melihat ternyata gadis Maid itu sedang berlari ke arahnya. Anto diam di tempatnya dan tidak beranjak sama sekali sambil menunggu gadis Maid di tempatnya. Saat Gadis itu sampai dia jadi terlihat sangat lelah sekali di depannya.