Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 193


Beberapa jam berlalu Anto masih tidur dengan nyenyak di panggung dengan Hologram yang masih memutarkan cuplikan Petualangannya di Duni lain. Anto yang tidur perlahan bangun danmmelihat ke ke langit yang sudah hampir sore. “Sepetinya aku tertidur!” Anto perlahan bangun lalu meregangkan badannya kemudian melihat ke Hologran yang masih stabil memutarkan petualangannya. Anto melihat NAVI yang menjaga hologram itu tetap memutarkan cuplikan itu. “NAVI, terima kasih.” Anto langsung mengatakannya saat melihat NAVI melayang di dekatnya.


-Santai saja. Lagian ini sangat menarik juga. Ku serahkan selanjutnya padamu. Aku akan menikmatinya dari dirimu- NAVI perlahan menghilang dari hdapan Anto. Anto hanya tersenyum saja saat NAVI perlahan menghilang. Anto kemudian melihat ke cuplikan itu.


“Nah, sampai mana putara cuplikan kali ini!” Anto melihat ke cuplikan dirinya yang sudah berada di Dunianya sendiri yang sedang menyelamatkan Gadis di pohon itu. “Sepertinya NAVI banyak menskipnya!” Anto yang melihat waktu sudah siang hari mejelang sore. Anto tahu tidak mungkin dia akan memperlihatkan semua cuplikan petualangannya selama 1 tahun penuh di Dunia lain. Anto melihat ke Hologramnya yang menampilkan dirinya yang bicara sama Gadis yang sama persis dengan di tolongnya dan juga bisa di dengar jelas oleh semua orang, semua perkatan mereka.


Anto melihat ke para teman sekolahnya yang dari berbagai arah sedang sangat menyimak cuplikan itu dengan sangat baik. “Baiklah tinggal beberapa menit lagi akan ku selesaikan. Saat ini mereka tidak boleh mentahui alamat rumahku.” Anto melihat ke Hologram yang menampikan dirinya lagi memunculkan adik Gadis yang menyamar itu. “Sudah saatnya.” Anto berdiri, lalu membuat dirinya pucat, kemudian dari hidungnya keluar darah, setelah itu membuat dirinya jadi panas dingin dan membuat dirinya memuntahkan darah dan lalu mematikan Hologramnya saat dirinya akan memasuki portal dan membat dirinya jadi lemas dan terjatuh. “Ini sudah cukup menurutku. Aku harus tahan sebentar saja.” Anto yang sengaja membuat dirinya jadi seperti itu. Semua orang langsung melihat ke Anto yang memuntahkan darah di atas panggung setelah Hologramnya mati. “Maaf, aku sudah tidak sanggup lagi memutarkan cuplikannya.” Anto dengan perlahan berdiri dari tempatnya. Semua orang terdiam.


“ANTOOOO….!” Seseorang berteriak lalu terbang mendekat ke arahnya. Anto melihat ke sana dan melihat Run yang sedang mendekat ke arahnya. "Apa yang kamu lakukan?” Tanya Run yang sedih saat melihat Anto yang sangat pucat sekali saat sudha di dekatnya. Run langsung memegang Anto dengan sedih.


“Diamlah. Ini hanya bohongan. Nanti bisa ku sembuhkan. Aku tidak ingin melanjutkan pemutaran itu.” Anto langsung menjelaskan situasinya pada Run yang sangat khawatir sekali padanya dengan bicara sangat kecil. Run langsung terdiam saat mendengar itu dan jadi merasa lebih baik. “Cepat bawa aku menjauh dari sini. Kalau bisa minta izin pulang sekali.” Suruh Anto dengan suara kecil sambil di papah berdiri oleh Run.


“KEPALA SEKOALH… SAYA AKAN MEMBAWANYA PULANG!” Run langsung mengangkat Anto layaknya seorang Putri lalu terbang tanpa berkata apa pun, meski kepala sekolah tidak merespon. Kepala sekolah diam saja tidak berkata apa pun.


“Tunggu!” Seorang Siswa terbang dan Anto melihat ke Siswa itu yang sangat tidak asing sekali. Anto bertemu lagi dengan orang yang hampir menabrak Kakek itu. Anto dan Siswa itu saling lihat dengan tajam dan menusuk satu sama lain. “Run, jangan bawa dia ke mana pun.” Pelajar itu mengingatkan dengan jelas sekali. Semua orang yang ada di sana melihat ke mereka bertiga.


“Apa yang kamu inginkan?” Tanya Anto dengan biasa saja dengan tatapan tajam. Siswa itu melihat ke Anto dengan tajam juga.


“Kenapa kamu menyembunyikannya?” Tanya Pelajar itu padanya dengan sopan dan juga tajam padanya. Anto yang di Tanya seperti itu menjadi kesal tiba-tiba yang tidak tahu apa sebabnya.


“Aku ingin menemukan OrangTua ku dulu. Jika mereka mengetahui dia diriku saat ini, akan sulit bagiku jadi hidup normal. Selain itu apa mau mu?” Jawab Anto dengan tajam dan bertanya balik tujuan dari Siswa itu menghentikan mereka berdua.


“Tujuanku! Tidak ada. Aku ingin melawanmu saja.” Jawab Siswa itu dengan tajam padanya. Anto terdiam dengan tambah kesal saja. Semua orang yang melihat di bawah sana jadi penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.


“Setelah Ujuan Akhir nanti, akan di adakan seleksi partisipasi kejuaran Dunia di antara pemuda terkuat dan berbakat dari berbagai sekolah. Di sana kita buktikan diri kita dan juga biarkan seluruh Dunia tahu.” Siswa itu menjelaskan maksud dari tujuan menemuinya.


“Kamu bilang tidak ada tujuan. Aneh!” Timbal Anto yang teringat perkataan Siswa itu. “Baiklah, aku setuju dengan itu. Tapi tentu saja aku yang akan menang, kamu tahu itu kan?” Timbal Anto yang sanati dan tajam menjawab Siswa itu.


“Aku tidak peduli itu. Aku hanya ingin melawan orang yang bisa mengalahkanku. Aku hanya ing! DUK!” Siswa itu di tending oleh Run sebelum selesai meresponnya. Anto melihat ke Run yang melepasnya sendiri dengan melayangkan dirinya dan juga membuat Anto melayang dengan angin.


Semua pelajar laget hingga Guru-Guru terbang mendekat ke Anto dan Run yang masih melayang. “Apa yang kamu lakukan?” Tanya Anto pada Run dengan telepati yang mendendang Siswa tadi. Run malah melihat ke arah dirinya denga tajam lalu mendekat. Selain itu para Guru sampai di dekatnya bersama kepala sekolah. Anto melihat ke Siswa tadi yang terjatuh ke panggung dengan sedikit luka.


“Kepala sekolah izinkan saya membawanya pulang istirahat!” Minta izin Run dengan tulus sekali. Kepala sekolah dan guru lainnya hanya melihat saja. Run bukannya minta maaf malah minta izin pulang


“Kamu bodoh atau gimana sih?” Tanya Anto pada Run dengan telepati. Run yang mendengar itu langsung memukul Anto yang sedang pura-pura saja.


“Tidak ada yang boleh pulang selama jamsekolah belum berskhir, tapi ku izinkan karena sebagai Kepala sekolah.” Respon Kepala sekolah dengan suara tulus dengan ekspresi masih sama saja dan tidak ada yang berubah. Anto dan Run melihat ke Kepala sekolah termasuk Guru lainnya. “Yang bisa ku katakan hanya Selamat Datang kembali.” Kepala sekoalh berbalik terbang meninggalkan Anto dan Run.


Anto sedikit tidak menduga kalau kepala sekolah juga tahu dirinya yang menyelamatkan Dunia itu di masa lalu. Para Guru jadi terlihat bingung dengan apa yang di lakukan kepala sekolah dan seperti baru pertama kali melakukan itu. “Run, mari pulang!” Ajak Anto yang membuat portal di dekatnya sambil memberi tahu Run. Run mendekat ke Anto lalu memepahnya sambil melayang kemudian perlahan mendekat ke portal.


Selain itu, banyak pelajar di bawah sana yang sangat bngung dengan apa yang terjadi barusan. Siswa yang di tendang Run melihat ke Anto dengan tajam dan senyum. Semua orang melihat ke Run dengan sangat marah, tapi Run tidak peduli sama sekali dengan hal itu. Run langsung masuk ke dalam portal yang di buat Anto. Sesampai d balik portal, Anto langsung membuat dirinya jadi lebih baik dengan menyembuhkannya. “Kenapa kamu melakukan itu?” Tanya Run pada Anto yang sedang menyembuhkan dirinya dengan santai.


Anto hanya tersenyum sambil melihat ke Run yang sedih dan masih memapahnya. “Belum saatnya aku membuka diriku pada Dunia luar. Aku harus menemukan Ayah dan Ibuku dulu dan memberikan hadiah besar ini pada mereka berdua.” Anto tersenyum pada Run yang bertanya seperti padanya.