Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 161


Anto terdiam sebentar saat mengetahui itu. “Mungkin, kurasa kita kunjungi saja dulu. Jika memang dia sungguhan tidak mau, kita bisa cari dari negeri lain yang bisa memimpin negeri ini.” Respon balik Anto sambil terbang lebih tinggi. “Kalau gitu, di mana dia?” Tanya Anto saat sudah beberapa meter jauh hingga bisa melihat selutuh negeri yang sedang kacau itu.


-Bagian utara, dekat sana ada sebuah gubuk tua dan di sana dia tinggal bersama seseorang- Jawab NAVI setelah di Tanya seperti itu oleh Anto. -Dia hidup seorang diri. Aku tidak tahu apa dia punya kekeasih atau tidak, tapi sebaiknya kamu tidak datang dengan normal kepadanya- NAVI memberi saran dengan santainya setelah itu diam dan menunggu keputuan Anto. Anto terdiam dan belum terbang ke sana dan masih berpikir.


“Hah… Tidak ada gunanya di sini.” Anto mengubah setelah pakainnya jadi serba hitam dan mengenakan topeng. Kemudian dia terbang ke sana dengan sangat cepat sekali hingga tiba dengan kurang dari 10 detik saja. “Dia di sana!” Anto melihat remaja itu sedang memotong kayu dengan sebuah pedang dan bukan kapak. Remaja itu berhenti memotong kayunya dan langsung melihat ke Anto yang lumayan jauh dia melihat. “Hm!” Remaja itu langsung menjatuhkan pedangnya saat melihat ke Anto, seperti tidak percaya dengan apa yang di lihatnya itu.


-Ekspresi apa itu?- Tanya NAVI yang sepertinya tidak mengerti juga. Remaja itu langsung melambaikan tangan pada Anto yang sedang melayang. Anto melihat ke belakang, melihat apa ada seseorang selain dirinya. Tapi, tidak ada siapa pun yang melayng di sana keculai dirinya. Anto berbalik melihat dan menemukan remaja itu menunjuk ke arah dirinya yang memberikan kode memanggilnya.


Anto masih melayang sambil melihat lagi Status dari Smarti Luis. “Statusnya memang tidak masuk akal sejak awal, tapi tidak ku sangka dia juga bisa menemukanku secepat ini.” Anto langsung terbang mendekat ke Remaja itu dengan pelan dan tidak buru buru.


-Aneh! Kenapa dia bisa bahagia seperti itu?- Tanya NAVI yang memperhatikan juga. Anto yang mendengar itu tdak komentar dan terus terbang ke arah Remaja itu. Setelah beberapa detik, Anto sampai di dekat remaja itu. Anto yang terbang kemudian mendarat di tanah tanpa ragu sama sekali. Remaja itu terlihat sangat senang sekali saat melihat Anto di depannya.


Anto berjalan pelan sambil melepas topengnya tanpa ragu lalu tersenyum pada remaja itu.  Saat sampai di dekat, remaja iu lengaung mengubah posenya jadi pelayang profesiaonal. “Selamat datang di rumahku yang mulai ZERO dan NAVI.” Remaja itu dengan senyum sangat ramah sekali menyambut Anto. Tapi di saat yang sama juga mereka berdua kaget dengan sapaan itu yang terlihat bahagia sekali dengan apa yang di lakukan remaja itu. “Namaku Smarti Luis. Aku pelayang generasi yang ada di Dunia fantasy ini, menyambut Tuanku.” Remaja itu dengan sangat hormat memberi tahunya pada Anto.


-Analis!- NAVI langsung menganlisisnya dengan cepat dan tentunya dia kaget saat melihat hasil analisisnya dan juag terlihat tidak menduga sama sekali. -Begitu ya. Luis, aku ingin meminta bantuanmu apa boleh?- Tanya NAVI pada Remaja itu dengan santainya setelah kaget.


“Ya, yang mulia selama saya bisa melakukannya.” Jawabnya dengan penuh harapan dan hirma. “Tapi, bisakan kalian membantuku menyembuhkan adikku yang sakit dan juga membawanya bersama kalian?” Tanya Remaja itu yang terlihat memohon.


-Tentu saja, akan kulakukan apa pun permintaan pelayan setiaku, tapi akan ku pastikan terlebih dahulu- Jawab NAVI dengan santai dan juga terdengar sopan padanya. -Kalau gitu, mari kita lihat dulu adikmu- Ajak NAVI dengan sopan. Luis tersenyum dan juga terlihat lebih cerah sekali.


“Ya, saya mengerti.” Jawabnya dengan sopan. “Mari masuk rumah saya.” Ajaknya dengan sopan sambil duluan berjalan. Anto diam saja karena tidak bisa mengikuti arah permbicaraan NAVI dan Luis. “Maaf sebelumnya, hanya ini tempat tinggal yang bisa saya temukan buat menjaga adik saya yang sakit.” Ajak bicaranya dengan sopan layaknya teman meski memperlakukan Anto dan NAVI sebagi Tuannya.


“Jangan memikirkan itu, rumah nyaman itu bukan sebuah istana. Tapi rumah itu adalah sebuah kebahaiagaan yang ada di dalamnya.” Jawab Anto meski tidak tahu apa yang di bahasnya itu. Tapi dia paham maksud dari perkataan Luis barusan itu yang merendahkan dirinya.


“Terima kasih yang mulia.” Dengan senang Luis menerima sebuah jawaban yang baik itu.


“Saya memperlajarinya dari kehidupan saya yang sebelumnya, di Dunia modern. Saya memperlajarinya dari Ayah saya untuk memperlakukan semua Petualang AntarBintang dan BIDADARI nya layaknya pangeran dan Putri besar. Semua itu sudah di ajarkan turun temurun. Mungkin sebelum era perang Dunia pertama.” Jawabnya dengan santai.


-Ehh… Lumayan lama juga. Sudahlah, bertemu dengan pelayan di sini juga tidak buruk- Senyum NAVI yang senang dengan hal itu. Setelah itu mereka tidak bicara saat sampai di depan rumah kecil itu. Di dalamnya hanya dua buah  ranjang tidur dan tidak ada yang lain selain tambahan kursi saja. ­


“Silahkan masuk Tuan Muda.” Dengan sopan mempersilah Anto masuk. Anto tersenyum di sambut meski bukan rumahnya sendiri. Anto yang masuk, langsung berjalan ke Adik Luis yang sedang berbaring di kasur. Saat sampai, Anto melihat seorang remaja laki laki juga yang semuran Luis yang sedang sangat sakit sekali. Anto yang di sana langsung melihat kondisinya yang terlihat sangat pucat dan juga tidak terlihat baik baik saja.


"Konsisi ini sudah sangat tidak biak sih. Tapi, dengan perawatannyang tepat dia sudah bisa bertehan selama ini. Sepertinya pelayan, yang tidakku tahu asal usulnya sama sekali ini, mungkin memang pelayanku." Anto mengalirkan energinya lalu menutup matanya dan menemukan masalahnya. “Hm… Ini kapan mulainya sakit?” Tanya Anto dengan sopan pada Luis.


“Sudah lama sekali, sekitar 10 tahun yang lalu.” Jawabnya singkat lalu diam saja. Anto diam saja dan tida bertanya lagi sambil melihat lagi ke Adik Luis.


-Begitu ya. Hm! Sepertinya dia bergerak, Kemari- Panggil NAVI saat melihat tangan Adik Luis bergerak sedikit. Luis langsung mendekat tanpa ragu dan Anto menyingkir dari tempatnya dengan buru buru. Setelah itu, Anto melihat saja dari samping, untuk Adik Luis yang akan sadar. Setelah itu, mata Adik Luis perlahan terbuka. Setelah terbuka matanya, Luis langsung memgang tangan Adiknya itu.


Meski terbuka, matanya terlihat kosong sekali. “Kak… Apa kamu baik?” Tanya Adiknya dengan sangat lemas sekali.


“Ya. Kakakmu ini sangat baik sekali.” Jawabnya dengan lembut. “Kamu yang tenang ya. Ada Tuan Muda di sini yang akan menyelamatkanmu.” Dengan sangat lembut sekali pada Adiknya. Adiknya sedikit keget lalu langsung tersenyum saat mendengar itu.


“Salam Tuan Muda. Maaf kondisi saya seperti ini.” Dengan sopan Adik Luis mengatakannya.


“Jangan memikirkan itu. Sekarang lebih baik kamu istirahat dan jangan melakukan hal apa pun. Kakakmu itu juga masih kuat buat jaga kamu selama ratusan tahun.” Jawab Anto dengan serius.


“Tuan Muda!” Adik Luis jadi tanpak bingung dengan perkataan Anto. Tapi, dia juga merasa senang. “Ya. Kakakku pasti akan hidup beberapa ratus tahun lagi buat menjagaku.” Timbal balik Adik Luis yang senang dengan perkataan Anto.


Next Chapter