
“Kakak sudah janji sama Siska, Kenapa Kakak berbohong?” Tanya Siska yang sangat marah pada Kakaknya.
“Janji?” Lala yang bingung “Selama ini Kakak memang selalu menepati janji. Terus janji apa yang Kakak belum tepati?” Tanya Lala pada Adiknya dengan suara lembut.
“Kakak akan menikahi orang yang sama denganku.” Ucap Siska dengan sangat jelas pada Kakaknya.
“Itu saja?” Tanya Lala lagi dengan senyum pada Siska.
Siska hanya mengangguk pada Kakaknya sebagai jawaban.
“Kita kan memang menikahai orang yang sama. Tapi Aku sudah menyukainya sebelum kamu.” Ucap Kakaknya pada Siska yang mulai tidak mengerti lagi dengan perkataan Kakaknya.
“Hah!” Siska sangat bingung dengan perkataan Kakaknya.
Kakaknya tersenyum kecil sambil tidur lagi.
“kakak!!” Siska menggoyangkan tubuh Kakaknya lagi.
Tapi Lala membiarkan Siska terus menerus menggoyangkan tanpa memperdulikannya. Setelah beberapa saat yang cukup lama, Siska menyerah dan membiarkan Kakaknya tidur.
“Apa maksud kakak?” Tanya Siska denagn suara kecil sambil berbaring di kamar Kakaknya.
Setelah beberapa lama, Siska ikut tertidur di samping Kakaknya.
“Hm!” Lala mengintip Siska yang sudah diam dan tidak mengganggunya lagi “Ya ampun!” Lala tersenyum kecil pada Adiknya yang tidur di dekatnya dengan wajah lugu.
Lala yang melihat pemandangan itu merasa sangat bahagia.
“Ini dariku.” Ucap Lala dengan suara kecil sambil mebgalirk sebuah energy pada Siska. Kemudian setelah Lala ikut tidur di samping adiknya sambil memeluknya.
***
“Mmm!” Siska yang menggaruk perutnya.
“Bangun kalian berdua. Ini sudah siang!” Suara seorang dengan suara tegas.
“Mm!” Lala dan Siska tidak mendengar suara Papanya yang sudah di kamar mereka dengan sangat tajam sekali.
“Kalian berdua…!!” Teriak Papanya lagi dengan sangat keras.
Kedua Adik dan Kakak tidak mendengar teriakan Papa mereka sama sekali hingga membuat Papa mereka menjadi sangat kesal.
“Kalian ini!” Ucap Papanya dengan sedikit kesal pada Anaknya.
Dengan menahan sabar, Papanya langsung duduk di samping tempat tidur mereka berdua.
“Hm!” Papa yang hendak membangunkan Anakknya, terdiam melihat kedua Anaknya yang tidur dengan nyenyak “Sudah lama sekali, melihat pemandangan ini.” Ucap Papanya sambil menatap kedua Anaknya yang masih tidur dengan nyenyak.
Papanya menatap mereka berdua dengan sangat senang da merasa nostalgia melihat kedua Anaknya yang tidur bersama.
“Seingatku, Aku hanya melihat pemandangan ini saat mereka lahir saja.” Sambil menekan tombol pada gelang di tangan kirinya.
Setelah menekan, sebuah bola bebenetuk bola tenis muncul di depannya. Papanya menagkap dengan sigap. Kemudian menekan lagi tombol yang ada dalam bola kecil itu, setelah itu bola itu melayang di udara dan mulai membentuk sebuah sopa panajang melayang di dekat kasur tempat Lala dan Siska tidur. Setelah terbentuk, Papanya langsung berbaring sambil menatap Lala dan Siska.
“Ini terasa nyaman, sama seperi dulu.” Mengingat kenanangan saat menjaga Lala dan Siska.
Dengan perasaan Nyaman dan senang, Papanya tertidur di sopa melayang itu dengan penuh senyum bahagia sekali.
***
“Hm!” Papa Siska dan Lala mengerjapkan matanya sedikit “Ini sudah malam.” Saat melihat jam yang sudah menunjukkan malam hari.
Setelah beberapa saat Papanya melihat sekelilingnya.
“Aku masih disini.” Gumannya saat masih berbaring di sopa sambil melihat Lala dan Siska yang masih tidur “Astaga, Aku melupakan semua pekerjaan hari ini.” Gumannya dengan rasa senang sambil beranjak bangun dari sopa.
“Hari ini aku akan tinggal di rumah.” Ucap Papanya yang masih bahagia sekali sambil membuka portal.
Beberapa menit setelah Papanya keluar, Siska mengubah posisinya dan juga mulai bnagun.
“Aku lapar.” Ucap Siska yang masih belum menyadari dirinya tidur dengan sangat nyenyak di kamar Kakaknya.
Siska bangun kemudain beberapa kali mengerjapkan matanya.
“Ini bukan kamarku?” Siska yang sedikit bingung “Ini di mana?” Guman Siska yang matanya masih belum melihat terlalu jelas.
Beberapa kali Siska melihat ke sana kemari setelah matanya mulai melihat dengan jelas.
“Ini kamar Kakak! Kenapa aku bisa di sini?” Tanya diri sendiri sambil berusaha mengingat “Hm?” Gumannya sambil memikirkannya sambil melihat ke Kakaknya yang masih tidur di dekatnya.
“Hm! Siska?” Ucap Lala yang mulai bangun “Kamu sidah bangun?” Tanya Lala pada sambil bangun dan duduk di dekatnya.
“Ya Kak.” Jawab Siska sambil melihat Kakaknya yang mengsap matanya dengan pelan.
“Hoam!!” Lala menguap sambil menutup mulutnya “Ayo kita sarapan!” Ajak Lala pada Adiknya yang masih tidak ingat.
Setelah mengatak itu Lala turun dari kasurnya dengan pelan. Kemudian menguap beberpa kali setelah turun dari kasurnya.
“Kenapa masih di sana? Ayo kita sarapan!” Ajak Lala dengan penuh senyum dan ceria dari Lala.
Siska tida menjawab Kakaknya, Siska hanya melihat Kakaknya yang membuat portal kecil setelah menekan beberapa kali tombol di pergelangan tangannya.
“Kakak duluan.” Ucap Lala meninggalkan Siska yang masih di atas kasur.
Siska masih diam seperti memikirkan sesuatu dengan tenang dan serius.
“Kenapa Aku tidak ingat? kapan Aku tidur disni?” Guman Lala yang masih tidak mengingat sama sekali.
Dengan perasaan yang masih bingung, Siska turun dari kamar Kakaknya kemudain langsung masuk ke dalam portal yang di buat Kakaknya. Setelah Siska masuk ke dalam portal itu, Siska sampai di ruang makan. Saat sampai, Siska Papa dan Mamanya di sana sedang makan bersama saling tersenyum riang dan penuh canda tawa, dan juga Lala yang ikut dengan penuh perhatian dengan orang tuanya.
“Kapa aku melihat pemandanga ini?” Siska yang tidak pernah melihat sekeluarganya berkumpul makan bersama di rumah.
Dengan penuh percaya diri, Siska bergabung di meja makan. Siska yang di terima dan juga sangat senang, dan ikut mulai bicara sam jedua orang tuakanya yang selalu sibuk dengan pekerjaan mereka dan hanya sesekali mereka bisa pulang dan makan bersama meraka.
***
“Pa! Kapan kita bisa seperti ini lagi?” Tanya Siska dengan sangat antusias dan juga masih ingin di manja.
“Siska!” Lala memanggil Adikknya dengan penuh senyum dan menggeleng saat Adiknya melihat.
Siska yang paha maksud Kakaknya langsung diam dan tidak bicara dan senyumnya muali sedikit hilang.
“Maaf Pa, Ma.” Dengan suara kecil dan juga senyum di wajahnya denga menahan perasaannya.
Papa dan Mamanya langsung melihat ke arah Siska yang tersenyum, namun sedih.
“Kenapa kamu minta maaf? Papa juga berpikir untuk selalu pulang cepat sekarang.” Kata Papanya dengan penuh senyum pada Siska yang masih canggung dengan perkataannya.
“Mama juga lo.” Sambil tersenyum pada Siska.
“Benarkah?” Tanya Siska yang mulai ceria kemabli dan juga sangat senang dengan perkataan kedua orang tuanya.
Papa dan Mamanya mengangguk sebagai jawaban. Sementara itu Lala tersenyum senang melihat pemandangan Papa dan Mama nya yang seperti itu.
“Terima kasih, Sayang. Kuharap kamu bisa mengingatku” Lala yang memikirkan Andri yang entah di mana sambil melihat kebahagian di meja makan dan sesekali mejawab pertanyaan Kakak dan kedua orang tuanya yang bertanya padanya dengan tulus.
NEXT Chapter