
-Abad-21! Modern! Negara Z! Bukannya itu…- NAVI tidak melanjutkan perkataannya dan diam mengamatai lagi.
“Kakak! Ada apa?” Tanya salah satu bocah pedang itu dengan suara khawatir padanya.
-Kakak tidak papa- Jawab NAVI sambil dengan tulus. Anto yang lagi sibuk ikut mendengar perkataan NAVI dan bocah pedang itu.
“Woi, matikan suarau jika bicara sama kedua bocah itu. Lihat ini!” Minta Anto yang dari tadi ,adih mencerna dan ingin melanjutkan teleportais ke Dunia yang lain.
-Oke oke- Jawab NAVI singkat dan paham. Setelah itu mereka berduantidak berkemunikasi semetara.
“Baiklah, aku sudah tahu yang harus ku lakukan. Boleh pinjam bajumu?” Tanya Anto pada Remaja itu dengan sopan. Remaja itu malah bingung dengan permintaan Anto . “Biar ku jelaskkan.” Anto yang melihat ekspreis itu merasa harus menjelaskannya sendikit. “Aku butuh itu sebagai kordinat Dunia yang akan kita masuki. Dengan menggunakan sebuah alat atau benda yang datang dari zaman dan tempat tersebut, aku bisa membuat lubang teleportasi yang menuju ke tujuannya, meski kita dari zaman yang berbeda.” Anto menjelaskan secara singkat, padat dan jelas. Setelah Anto selesai menjelaskan, yang kaget ialah BIDADARI yang sepertinya baru tahu ada teori seperti itu.
“Anu…!” BIDADARI baru Anto menarik tangannya bajunya Anto yang melihat ke sana bingung dan juga tidak bisa bicara dengan tingkahnya yang masih malu padanya. “Aku ingin mempelajarinya?” Tanya dengan ragu dan juag sedikit malu sambil menundukkan kepalanya. Anto yang meliah itu tersenyum lalu memegang pundak BIDADARI nya itu.
BIDADARI nya langusng melihat ke Anto saat pundaknya di pegang. “Sekalian saja kamu yang memulangkan mereka.” Suruh Anto dengan tersenyum. “Biar ku ajari caranya sekarang juga.” Anto langsung menaruh jarinya di kening BIDADARI nuya itu. “Ttranfer!” Ucap Anto dengan sangat jelas sekali. Jari yang sudah selesai mentranfer, langsung menariknya. “Siap kan. Kamu sudah di ajarai cara menggunakan sihirkan?” Tanya Anto saat sudah selesai melepas jarinya. Dia menganggu singkat. “Coba lakukan dengan teori yang ku bagi tadi.” Suruh Anto singkat.
BIDADARI nya mengguk lalu mulai menutup matanya, tapi itu cuma berlangsung kurang dari 1 deik lalu membuka matanya lagi. Dia diam dan tidak melakukan apa pun. “Baju!” Mintanya singkat dengan menundukkan kepalanya. Anto yang sedikit lupa tentang baju itu teringat lagi dengan rmaja tadi. Anto langusng berbalik melihat ke remaja itu.
“Sini!” Minta Anto dengan sedikit mengancam kali ini. Remaja yang melihat tatapan Anto yang menyeramkan terpaksa dengan cepat membuka bajunya. “Ini!” Anto memberikan baju yang di berikan remaja itu pada Istrinya dengan sangat ramah dan senyum. Semua orang yang melihat itu, tidak tahu harus berkata apa pada Anto yang seram saat meminta itu.
Tapi sebelum sempat di ambil Istrinya itu. “Aku mau!” Anto yang mau menyerahkan baju itu, malah di tarik sama BIDADARI nya yang lain yang di dekatnya dengan menatapnya dengan tajam dan tidak seperti yang satunya. “Ajari aku juga.” Mintanya dengan sangat tajam pada Anto.
“Eto… Tunggu!” Anto langsung menglihkan pandangannya ke arah lain saat melihat betas tajamnya tatapan BIDADARI yang baru di nikahinya. “Apa-apaan ini?” Anto yang tidak mengerti dengan tingkahnya itu. Dengan perasaan yang baru. Anto yangkaget dengan itu beberapa kali melirik BIDADARO nya yang masih terus menerus mantapnya. “Baiklalah… Akan ku ajari,tapi berhenti tatap aku seperti itu.” Minta Anto dengan mengalihkan matanya ke arah lain karena tida tahan dengan tatapan BIDADARI nya itu.
Setelah menyerahkan baju itu, dia mendekati Anto dan menunggu untuk di berikan pelajaran. Saat BIDADARI nya sudah di dekat Anto masih belum mentransfer apa yang akan di berikannya. “Sebenarnya tidak ada yang bisa ku berikan padamu, tapi bisa ku ajarkan apa ku beri pada dia.” Sambil menunjuk pada BIDADARI nya yang belum dia tahu namanya sama sekali. “Dan tentunya juga ada juga itu pelajaran yang sama dan fungsi juga sama. Bagaimana?” Tanya Anto setelah sedikit menjelaskan.
BIDADARI tersebut melihat ke pada Kakaknya yang di barisan luar. Kakaknya mengangguk kecil memberi tahu dia untuk menerimanya. “Ya. Tidak papa.” BIDADARI nya setuju tanpa banyak Tanya. Setelah itu, Anto telah yang tidak terpaksa mulai mentranfer ke BIDADARI nya.
Cukup beberapa detik saja Anto selesai mentransfer pelajaran tersebut. “Oh ya!” Anto mendekati telinga BIDADARI nya. “Nanti kamu harus membuka portal yang menuju masa.” Bisik Anto memberi tahu nya singkat. Setelah itu Anto berhenti membisisk, tapi saat melihat wajah BIDADARI nya yang sangat merah merasa ada sesuatu yang salah.
“Ya. Aku paham.” Respon BIDADARI nya dengan suara kecil dan juga malu. Anto yang melihat tingkah itu, tidak mengerti dengan perubahan yag terjadi pada nya.
-Wao!- Bicara NAVI yang mengerti dengan ekspresi BIDADARI nya. -Sepertinya kamu berhasil lagi Anto- Bicara NAVi dengan suara senang. Anto tidak merespon dan mengerti langsung saat NAVI bicara begitu padanya.
“Bisa kita mulai?” Tanya Anto pada BIDADARI nya yang memgang baju dari tadi. Dia mengangguk singkat lalu menutup matanya. Saat menutup matanya, sebuah lubang yang kecil di bawah kaki para bIDADARI muncul. Lalu lubang tersebut melebar hingga jadi lubang yang sanga besar dan menjadi lingkaran sempurna. Semua orang yang berada di tengah dapat melihat lubang gelapa yang ada di bawah mereka.
Setelah lubang gelap itu sempurna, baju yang di bawa BIDADARI Anto di lempar ke udara dan melayang. Kemudian baju itu di sobek oleh kedua pedang itu menjadi ribuan potongan yang sangat banyak, lalu ribuan potongan itu berjatuhan di lubang dan di serap oleh lubang tersebut. Beberapa saat setelah di serap, semua orang yang ada di antara luang itu melayang 1 meter di atasnya. “Semua lihat!” BIDADARI Anto menyuruhnya melihat ke bawah kaki mereka.
Semua orang takjub saat melihat sesuatu yang semakin besar dengan cepat. Tapi, saat sudah sangat dekat, mata para Hero berbinar terang melihat sesuatu yang tidak asing bagi mereka. Planet Bumi muncul di depan mata mereka sendiri. “Jangan terlalu senang dulu, nanti nangisnya. Sekarang waktunya jelaskana apa yang terjadi di masa depan yang sesungguhnya sebagai bayaran kalian pulang.” Dengan suara biasa saja Anto berbicara pada mereka semua.
Semua Hero yang tadinya hanya berharap, kini jadi kenyataan yang sangat senang. Tapi, tentunya juga harus ada bayaran dari keinginan pulang mereka. “Sebelum itu, apa itu Dunia asal kami?” Tanya Remaja yang telnjang dada dengan sangat serius sekali.
Next Chapter