Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 8


Anto yang tadinya memperlajari cara pembuatan manusia membuatnya jadi terdiam terlalu lama katena tidak mengira kalau caranya seperti itu. "Aku harus melakukan hal lain jika pikiranku ingin teralihkan!" Anto jadi seriis sekali ingin melupakan hal itu. Anto jadi teringat pesan Ayahnya tentang pintu di dekat pintu keluar. “Jika ingin mengalihkan perhatian, sebaiknya ke sana saja” Bicaranya lalu berdiri lemudian berjalan menuju pintu yang di kasi tau Ayahnya.


Sesampainya di pintu depan rumahnya, Anto berbelok ke kanan jalan ke pitu itu.Pintu di sana terlihat biasa saja tidak ada yang istimewa 'KLAK!' Anto membuka pintu kemudian melihat tangga yang mengarah ke bawah. “Tangga!” Pikirnya saat melihat anak tangga yang menuju ke bawah. Anto munuruni anak tangga itu dengan pelan. Sesampainya di lantai paling bawah Anto tidak menyangka sama sekali akan ruangannya akan seluas itu, karena tahu kalau di rumahnya ada gambaran ruang bawah tanah yang pernah di dapatnya melalui Skil Study nya kemarin.


“Wah… Bukunya banyak sekali, ini semua komik dan novel!!” Anto jadi gembira saat melihat rak yang penuh dengan berbagai macam buku termasuk pengetahuan lainnya. Anto masuk ke dalam ruangan itu dan melihat sekitarnya yang banyak sekali buku lalu berbalik melihat ke tempat dia masuk. “Tapi kenapa hanya ada satu pintu saja? Seharusnya Ayah membuat pintu yang kedua untuk menutupinya di dekat tangga masuk ke ruangan ini.” Komen Anto saat tidak melihat pintu di akhir tangga. “Mm... Biarlah, ini juga bukan urusanku!” Anto melangkah lagi ke dalam dengan pelan sambil melhat ke sekitarnya yang luas dan terisi oleh buku saja.


Anto berkeliling melihat semua buku yang ada dalam ruangan itu. Ruangan yang  sangat besar sekali dan buku yang banyak sekali. Anto berhenti melihat setelah pikirannya teralihkan dari hal sebelumnya, dengan merasa senang dengan mendapat pengetahuan baru dari buku yang akan segera di bacanya itu. “Cukup luas, untuk ruang tersembunyi." Anto dengan santai menikmati mrlihat banyak buku yang di sana "Sangat banyak sekali bukunya. Untung saja aku sudah bisa membaca.” Ucapnya dengan jalan lagi di ruangan itu dengan santai. Anto berhenti beberapa langkah saat melihat ke saah satu rak buku.


“Mm…. itu kan buku komik yang pernah aku baca kemarin.” Anto berhenti di salah satu rak buku, saat melihat buku Interstellar Adventurer di rak itu. “Ruangan ini juga sangat besar, ini mirip dengan seluruh perkarangan rumah ini." Anto mengingat saat menggunakan Skilnya mmperlajari struktur rumahnya. Anto mendekat ke rak itu dan melihat ternyata ada seri lainnya dari buku itu. “Ini kan buku selanjutnya, sebaiknya aku mulai saja.” Dengan raut wajah bahagia sekali saat melihat buku lanjutan dari Interstellar Adventurer dan seperti menemukan harta karun di ruang bawah tanah rumahnya.


Setelah itu Anto membaca  buku itu di ruangan tersebut pada tempatnya setelah selesai dia dapat langsung mengembalikkannya ke tempat semula. Anto membaca satu persatu buku secara berurutan, baik komik maupun buku novel ataupun buku pelajaran yang ada dalam ruangan itu selama dekat dengan rak yang dekat.


***


Di dalam ruangan itu Anto cukup lama sekali tidak keluar dengan masih menikmati membaca buku di sana. 'KRUUUKKK!' perut Anto berbunya yang mendakannya dia sudah mulai lapar. “Hmm… Sepertinya aku harus keluar.” Ucapnya sambil menaruh buku terakhir yang di pegangnya. Anto menjadi semakin berbeda dengan Anak seusianya karena jauh lebih semakin tenang. Anto yang sedikit demi sedikit menumbuhkan jiwa mental kuatnya masih tidak menyadari apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri. Anto yang sudah di lantai atas melihat ke depan pintu rumahnya yang masih seperti biasa sebelum dia masuk ke ruang bawah tanah tadi.


“Sepertinya Ayah dan Ibu akan sangat terkejut sekali dengan perubahanku yang terjadi pada hari ini." Guman Anto sambil lanjut jalan pelan ke ruang makan untuk segra makan. "Tapi aku tidak akan pernah berubah sedikitpun. Meski sudah terlihat sangat berbeda, aku akan selalu menjadi anak mereka.” Ucap Anto sambil melangkah dengan sedikit cemas dan juga khawatir dengan perktaaannya sendiri yang tidak akan terwjud.


Anto berhenti jalan dan melihat ke jam dinsing di sekitar rumahnya yang menunjukkan waktu sudah siang. Bukan itu yang di lihat Anto, dia jadi berpikiran luas dan memperhatikan banyak hal sekrang dari sebelumnya. "Rasanya sangat berbeda sekali dari sebelumnya. Apa ini yang namanya perubahan terlalu cepat?" Tanya Anto yang masih mergukan dirinya dan juga tidak percaya dirinya akan berubah drrastis dalam setengan hari saja.


“Entah kenapa rasanya seperti sudah lama sekali sejak aku di rumah, rasanya seperti bertahun-tahun saja.” Pikir Anto saat berhenti berjalan melihat bagian dalam rumah yang terlihat bebeda dari pandangannya. "Buku bisa mengubahku. Sungguh aneh sekali." Ucap Anto yang mulai lanjut jalan lagi ke ruang makan. Dengan pelan, Anto berjalan ke ruangan makan dengan menikmati pemandangan rumahnya yang sudah sangat berbeda baginya, meski sudah tinggal lama.


“Semua buku di ruang bawah tanah, hari ini akan kuselesaikan baca semua jika bisa dan besok jalan-jalan sendiri. Tidak! Akan Ku buat itu terlebih dahulu. Rencana besar ini ada setelah membaca dan memahami begitu banyak komik pasti akan ku coba sekarang, jika tidak nanti malah akan terlena dengan jalan-jalan itu.” Dengan masih pelan berjalan menuju ruang makan. Di sisi lain, Anto juga memahami hal lain dengan pandangannya yang sudah berbeda. “Sekarang ini, terasa sangat jelas sekali kasih sayang OrangTua padaku. Aku sangat beruntung sekali mempunyai kedua orang tau seperti mereka.” Anto meneteskan air mata sambil mengingat jelas keseharian yang dia lakukan di rumahnya samil jaln.


Anto berhenti jalan sambil melihat ke air matanya yang berjatuhan tanpa ia sadari setelah mengingat semua kenangannya di rumah itu. "Ini sungguh sangat hangat sekali rasanya mempunyai kebahagiaan seperti ini” Sambil membiarkan air matanya keluar dan terus  lanjut jalan dengan mengingat kenangan bersama orangtuanya.


Setelah berjalan beberapa meter, Anto sampai di ruang makan. Saat sampai di ruang, Anto tidak langsung duduk, melainkan menuju kulkas. Anto membuka kulkas itu, kemudian mengambil makanan yang di simpan orang tuanya dan langsung menggunaka Skilnya untk mempelajari resep makanan di pegangnya. Setelah memplajari, Anto duduk di dekat kulkas dan tidak duduk diatas meja. Tanpa melakukan apapun lagi, Anto menyantap makanannya tanpa terburu-buru.


***


Setelah cukup lama makan, Anto selesai. Anto membersih semua bekas makanannya, ke atas meja makan Anto jalan lagi ke ruang bawah tanah untuk lanjut belajar hal ainnya yang belum selesai. “Akan Ku baca lagi.” Dengan tenang berjalan ke ruang bawah tanah di rumahnya.


***


Waktu berjalan cepat sekali dan waktu sudah mendekati malam hari. “Tinggal 3 buku lagi.” Ucapnya sambil menggunakan Skilnya pada ketiga buku itu sambil mengembalikannya ke tempat semula. “Akhirnya selesai juga." Anto merasa lega sambil menaruh buku terakhir di raknya semula. "Seharusnya Ayah dan Ibu akan pulang sebentar lagi, sebaiknya aku naik ke atas.” Dengan pelan melangkah naik ke atas rumahnya. “Ouch… Sepertinya kaki Ku kelelahan” Anto yang baru menyadari sakit kakinya. "Aku tunggu di sopa saja smabil istirahat." Anto jalan naik tangga sambil menahan rasa sakit di bagian kaki dan lututnya karena seharian tidak duduk saat membaca.


Anto sudah lewat menaiki anak tangga dengan rasa puas lalu jalan lagi ke ruang keluarga untuk menunggu kedua OrangTua nya pulang di sana. Sesampainya di ruang keluarga Anto langsung ke sopa panjang dan langsung duduk dan melihat ke TV. “Sepertinya Ayah dan ibu akan sangat kaget sekali dengan perubahanku.” Anto yang masih merasa gelisah akan takut dengan perubhannya menyebabkan OrangTua nya jadi tidak suka padanya atau akan di jauhi olehnya.


Tidak lama setelah mengucapakan itu, di luar rumah ada motor masuk memasuki haman rumahnya termasuk seorang lagi dengan kecepatan tidak masuk akal tiba di depan rumahnya. “Kami pulang.” Terdengar suara yang sangat tidak asing bagi Anto saat sedang diam ke ruang keluarga.


“Mereka sudah pulang.” Anto yang jadi tidak tenang karena takut. Anto turun dan berusaha bersikap seperti biasanya sambil lari dengan cepat ke depan rumahnya. Saat ke depan rumahnya Anto melihat kedua OrangTua nya sudah di dalam sedang melepas se[atu mereka


“Selamat datang Ayah Ibu” Sapa Anto saat melihat Ayah dan Ibunya di dekat pintu yang sedang menaruh sepatunya di rak sepatu. Setelah ayah dan Ibunya menaruh sepatu, mereka berdua sedikit kaget saat melihat Anto yang sangat berbeda sekali untuk Anak seusianya yang mengucapkan kata tersebut dengan aara dewasa pada mereka.


Sementar itu Ibunya yang masih belum selesai melihat Anto, merasa bahagia dan juga bingung di sertai rasa khawatir pada dirinya yang terlihat sangat berubah sekali. “Apa Ibu tidak suka dengan perubahanku atau Ibu khawatir dengan diriku akan menajdi anak nakal!” Pikirnya saat melihat Ibunya yang sedang menatapnya dengan sangat berbeda sekali.


“Sudah! Ayo semuanya kita ke ruang keluarga.” Ajak Ayah dengan senyum dan wajah serius dan seperti menduga kalau semua akan terjadi. Ayah Anto menarik tangan Istrnya ke dakam dan Anto mengikuti dari belakang menuju ruang keluarga dengan mengikuti langkah Ayahnya.


"Aku merasa akan terjadi sesuatu!" Pikir Anto yang masih mengikuti Ayah dan Ibunya dari belakang dengan sedikit khawatir . Anto yang merasa sangat khawatir, hanya bisa menyembunyikannya, dari Ayah dan Ibunya. Saat semuanya telah sampai di ruang keluarga, mereka kemudian duduk di sopa masing-masing dengan santai. Anto yang sudah duduk, merasa sangta tegang berusaha santai di depan orang tuanya yang menatapnya begitu serius sekali.


“Anto!” Panggil Ayahnya yang menatap Anto dengan serius.


“Y, ya!”Jjawabnya dengan singkat dengan wajah tenang dan senyum,dan menahan rasa tegangnya.


“Apakah kamu sudah punya pacar?” Tanya Ayah dengan santai sambil menatap dengan serius. Anto dan ibunya menatap sang Ayah yang bertanya. Anto yang merasa sangat tegang mulai merasa nyaman lagi dan tidak tegang lagi, malah merasa Ayahnya itu sengaja mengajukan itu. Di sisi lain, Ibunya yang mendengar itu tidak tau harus berkata apa, saat  melihat suaminya yang bertanya seperti itu pada Anaknya sendiri.


Anto tersenyum ceria dantidak tegang sambil melihat ke Ayahnya. “Untuk sekarang sih belum Yah. Tapi suatu saat nanti pastinya ya." Jawab Anto dengan sangat lancar sekali "Dan juga, Aku ingin jadi mempunyai HAREM Ku sendiri.” Anto menambahkan kalimatnya dengan santai dan tenang pada orang tuanya.


Ibunya sangat kaget dengan respon Anto yang sangat tenang. Terlebih lagi perkataanya membuat kaget Ayah. Tapi, Anto tidak menyalahkannya ibunya yang sangat keget seperti itu. Saat menjawab dengan sangat lancar dan memhami konteks pembicaraannya.


“Harem katamu! Jika  mau mempunyai Harem, Kamu harus hidup di zaman yang kacau." Timbal Ayahnya dengan serius sekali. "Untungnya  kamu hidup di zaman seperti itu.” Kata Ayahnya dengan tegas dan juga dengan sangat serius menatap Anto. Anto yang di dukung malah semakin tersenyum senang dengan perkataan Ayahnya sendiri


Ibunya malah terlihat tidak mengerti dengan perkataan Suaminya sendiri, hanya bisa diam melongo, saat melihat Ayah dan Anak berbicara serius begitu. “Oh gitu. Sepertinya aku punya kesempatan yang tidak terduga. kalau gitu akan Ku siapkan matang-matang. Dan dengan sepenuh hati. terima kasih Ayah telah mengingatkan.” Anto membalas perkataan Ayahnya dengan santai sekali dan dengan sangat lancar hingga tidak merasa sangat tegang sekali pada Ayah dan Ibunya.


Ibu yang tidak nyambung dengan percakapan Ayah dan Anak, hanya bisa diam dan memperhatakan Ayah dan Anak yang berbicara yang tidak di mengertinya sama sekali. Di sisi lain Anto melihat ke Ibunya yang sepertinya tidak memahami apa yang sedang di bicarakan oleh Ayahnya jadi melihat ke arahnya. “Ibu kenapa?” Tanya Anto kepada Ibunya dengan wajah riang dan senang.


Ibunya melihat ke Anto dengan biasa saja saat di tanya seperti dan juga masih terlihat cemas. “Sepertinya kamu sudah semakin remaja!” kata Ibunya dengan cemas dan juga sedikit senyum pada Anto, saat Anto bertanya padanya


“Apa Ibu tidak menyukaiku yang remaja?” Tanya Anto dengan sikap agak cemas.


“Tidak, hanya saja tubuh dan isinya sangat jauh berbeda.” Jawab Ibunya dengan wajah sangat khawatir sekali dan cemas.


“Maaf Bu." Anto langsung menundukkan wajahnya saat mendengar itu. "Apakah itu bukan hal yang baik?” Tanya Anto dengan menundukkan wajahnya.


“Tentu saja. Itu sangat berbahaya sekali. Seharusnya kamu itu remaja saat kamu sudah lebih dari umur 13 tahun ke atas, tapi kamu saat masih 5 tahunI ini mungkin akan menyebabkanmu di teliti atau di bawa ke pemerintah.” Jawab Ibunya denga  wajah serius sekali dan juag sangat cemas pada Anakanya. 'Fffpptt!' Ayah Anto hampir tertawa atas perkataan Istrinya dengan polosnya.


“Maaf Bu, Aku tak percaya sama apa yang di omongkan Ibu.” Respon Anto dengan  wajah bingung atas perkataan Ibunya sendiri dengan sangat jelas dan padat dan juga hampit ikut tertawa. Anto tidak bisa berkata apa-apa pada Ibunya sendiri yang mengkhawatirkan hal yang tidak akan pernah terjadi.


"Ehm! Sudah lah, Kamu bisa juga bercanda hingga hampir membuatku tertawa saja." Ucap Ayahnya dengan tersenyum pada Istrinya yang di kira bercanda saat mengatakan itu. Ibu yang merasa jengkel dengan perkataan Suaminya ngambek padanyan dengan memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Ayah hebat sekali bisa menaklukkan Ibnu yang mudah marah begini." Puji Anto pada Ayahnya saat Ayahnya sedang berusaha menenagkan Ibunya di depan matanya sendiri akibat kedua OrangTua nya sedang marahn sedikit. Ayahnya langsung melihat ke Anaknya yang memuji dengan tersenyum senang saat melihat kedua mereka sedang bertengkar kecil. Ayahnya langsung merasa itu kesempatan untuk mengalihkan perhatian dari Istrinya yang ngambek.


"Tentu saja Ayah hebat dong." Timbal Ayahnnya dengan cepat pada anaknya. Di sisi lain, Ibunya yang melihat Suaminya mengobrol dengan Anaknya di ruang keluarga dengan managabiakan dirinya merasa senang saat melihat anak dan Ayah terlihat akut dan senang. Ibu yang melihat Ayah dan anak yang terlibat percakapan intens di hadapannya, hanya bisa memperhatikan arah pembicaraan mereka.