
Setelah itu No 2 yang di layar terdiam sebentar. “Sementara kalian memikirkannya mari kita tonton petualang seorang pemuda jenius dari kalian yang sedang berpetualang di tempat yang berbahaya… kalau gitu selamat menonton!” setelah itu dirinya menghilang yang kemudian memperlihatkan dirinya yang lain sedang terkurung di kegelapan di tampilkan dalam layar. Kali ini yang di tampilkan ialah sebuah kisah masa lalu dari Anto yang sedang berada di jurang itu. Cuplikan itu di mulai dari No 2 yang berusia 10 tahun terlihat jelas penjelasannya di layar. No 2 itu berada di sebuah kelas dengan terlihat tenang dan tidak ada siapa pun.
“Anto! Mari main.” ajak seorang pada No 2 yang sedang duduk saja dengan tenang dari dekat sebuah pintu yang terbuka lebar. No 2 mengangguk lalu berjalan ke temannya yang memanggil tanpa ragu sama sekali. “Katanya ada VR yang baru liris di toko, mau coba?” Tanya kawannya itu dengan senyum ceria saat No 2 sudah di dekatnya.
“Boleh saja, tapi kalau kalan kamu yang traktir makan siang.” timbal No 2 dengan santainya. No 2 jalan duluan lalu temannya ikut di samping dengan sejajar.
“Tidak boleh, siapa pun yang kalah harus mentarktir apa pun seharian.” tambahnya dengan sangat yakin teman No 2 yang terlihat ceria sekali.
“Aku pasti tidak akan kalah. Aku sudah menang darimu sebanyak 101 dengan kalan 50 dan seri 50 kali.” timbal lagi No 2 dengan pecaya diri sekali.
“Heh! Aku menang dari sebenyak 110 kali dengan kalah 60 kali dan seri 76 kali, mana mungkin aku kalah.” timbal temannya dengan percaya diri sekali. Setelah itu keduanya diam dulu dengan wajah percaya diri akan menang. Setelah itu layarnya gelap kemudian nyala lagi dan kali ini No 2 terlihat sedih di kelasnya. Sementara itu temannya yang tadi hanya bia diam saja di dekatnya dan tidak terlihat ceria sekali. Tidak ada yang bicara lalu No 2 mulai tersenyum pada temannya yang ada di dekatnya.
“Mau melakukan sesuatu?” Tanya No 2 padanya dengan tenang dan terlihat baik-baik saja. Temannya tidak tersenyum sama sekali malah terlihat tegar sekali. “Au ingin bicara sesuatu di sini boleh?” Tanya No 2 pada temannya yang sepertinya diam saja tidak merespon meski tadi mengajaknya makan. Temannya tidak merespon dari tempat dudknya dan hanya menampakkan wajah sedihnya. Setelah itu No 2 masih tidak bicara lalu dia menunjukkan layarnya pada temanya itu. Temannya itu kaget melihat pejelasan di sana. No 1 juga malah lebih kaget lagi dengan semua itu. “Kedua orang tuaku tidak mati, mereka di jebak oleh seseorang dan sekarang ini dalam masalah dan mereka sepertinya di gunakan sebagai alat saja. Tapi aku tidak mengetahui kebeberadaan mereka sama sekali saat ini.” dengan tenag No 2 membocorkan semua itu pada temannya. Bukan hanya pada temannya saja, tapi dia membocorkan dirinya sendiri ke seluruh Dunia dengan terang terangan yang di lihat dari layar di langit meski itu kejadian di masa lalu. “Aku akan memutuskan hubungan dengan dirimu mulai dari sekarang karena aku tidak ingin melibatkan kamu dalam masalah keluargaku, tapi bukan berarti aku tidak ingin bantuanmu. Malah aku sangat mengharapkan bantuanmu melakukan sesuatu untuk di depan semua orang.” dengan tenang mengatakan itu.
Temannya itu malah terdiam dan tidak langsung merespon. Dia melihat terus ke No 2 yang tenang dan juga terlihat serius. “Aku mengerti.” jawabnya dengan singkat sekali. “Ku kira kamu tidak akan membiarkan aku membantumu dan akan menendam masalah ini selamanya.” tambahnya lagi dengan mulai tersenyum pada No 2. No 2 masih tenang melihat temannya yang mulai terlihat normal.
“Mana mungkin aku mau menyimpan ini selamanya, malah aku ingin mengungkapkanya bersamamu. Karena hanya kamu satu-satunya sahabat yang ku percaya saat ini untuk membantuku menyelesaikan masalahku.” timbalnya dengan jelas sekali sambil tersenyum dan serius.
“Aku tahu itu. Makanya saat ini aku akan melakukan sesuatu dulu.” respon No 2 dengan singkat. “Untuk saat ini aku pasti akan di cari seseorang dan akan di bawa pergi lalu di keluarkan dari sekolah ini. Dan kemungkin kamu dan keluargamu akan di selidiki secara mendalam oleh pihak yang terkait denganku, jadi setelah kita berpisah mari tidak berhubungan selama 1 tahun penuh dan nanti aku akan menghubungi duluan dan memulai rencananya." dengan serius sekali mengatakannya. Temannya itu malah terdiam dan tidak berkata apa-apa sama sekali.
“Menilai dari perkataanmu ini, sepertinya sangat berbahaya sekali kalau sampai ketahuan bukan?” timabal dan tanya temannya dengan serius juga. No 2 mengangguk serius sekali. Temannya kemudian tersenyum dengan sedikit berkeringat. “Menarik, aku ikut dan akan menunggu kabarmu itu selama 1 tahun.” tambahnya dengan sangat yakin sekali. Setelah mengatakan itu beberapa orang datang masuk ke ruang kelas dan itu bukan siswa melainkan beberapa orang yang terlihat tegas dan di saat itulah cuplikannya di hentikan lalu di skip. Cuplikan itu kemudian di mulai dari No 2 yang sedang berada di sebuah mobil dengan seorang waita dewasa terlihat muda di sampingnya.
“Kamu tidak pernah berubah sejak kita bertemu. Apa kamu bisa menunjukkan sedikit senyum yang tidak palsu?’ minta seorang wanita di dekatnya dengan suara lembut pada No 2 yang bersandar dengan sangatnya sambil melihat keluar dari ba;ik kapal yang sedang terbang.
No 2 melihat ke wanita itu dengan sedikit senyum kecil padanya. “Maaf Bi, tapi seperti itu permintaan yang susah. Hanya saja aku masih kepikiran dan belum bisa melupakannya" respon No 2 dengan tampak sedih saat di minta seperti itu dengan senyum kecil saja. Wanita di sampingnnya melihat ke No 2 yang berwajah sepi dan tidak bicara lagi.
“Bibi paham.” responnya dengan lembut sekali. Setelah itu cuplikan terhenti lagi kemudian di skip lagi dan kini No 2 berada di sebuah kamar yang terlihat bersih sekali. No 2 mreihat sana sini lalu tersenyum lebar. Setelah itu No 2 mulai membuka layanya kemudian menekan beberapa kali hingga muncul sebuah titik-titik. Setelah beberapa saat menunggu sebuah layar menampilkan seseorang yang terlihat ceria sekali. Orang itu tampak kaget lalu melihat sana sini.
“Ayah, aku masuk kamar dulu.” minta sahabat No 2 itu yang terliah masih ceria saja setelh akget sedikit. Setelah itu dia jalan saja meninggalkan orang tuanya. “Sudah lama ya Anto.” sapanya dengan suara senang dengan masih jalan.
“Sudah lama juga sahabatku.” sapa No 2 dengan tenang. “Maaf terlalu lama, oh ya sekarang aku sudah tidak di awasi oleh barang-barang lagi makanya aku dengan cepat mengubungimu.” dengan cepat tambahnya lagi.
“Aku juga sama. Setelah kita berpisah kedua orang tuaku di naikkan jabatannya oleh seseorang, namun itu di lakukan oleh seseorang secara diam-diam untuk mengawasi mereka. Bahkan kedua orang tuaku juga terkadang membawa benda yang di berikan perusaan, tapi mereka sama sekali tidak mengetahui benda apa itu dan fungsinya.” timbalnya dengan masih jalan saja. “Selain itu, tiba-tiba setelah kamu pergi dari sekolah, ada siswa baru yang datang dan itu juga sepertinya telah di rencakan.” tambahnya lagi dengan masih jalan. “Selama di sekolah dia memang seperti murid biasa aku menjadi temannya meski aku tahu ada yang salah dengannya, tapi aku semua itu hanya pura-pura saja. Setelah 6 bulan berlalu, aku mulai meneceritakan tentang dirimu padanya dan dia sangat menyimak sekali apa yang ceritakan, setelah semua ceritanya habis dia tanpak senang. Kemudian setelah 8 bulan sekolah di sini, dia tiba-tba pamitan karena katanya orang tuanya pindah kerja ke Planet lain. Tapi aku tahu jelas kalau itu semua hanya sandiwara.” dengan tenang mentatakan semua itu pada No 2.