
Sementata itu Anto yang masih di dalam lautan spritulanya merasa aman dan nyaman sekali tapi tidak berani membuak matanya. “Kak!” panggil suara yang tidak asing di dekat telinganya. Anto perlahan membuka matanya lalu melihat ke suara di sampignya. Saat melihat dia mirip sekali dengan Hilmi namun dengan versi remaja yang masih terlihat sama dan sekarang lebih cantik lagi. “Selama malam.” Setelah itu BIDADARI nya menutup matanya sambil tersenyum pada Anto.
Anto hanya tersenyum dengan itu. Anto pun jadi ikut tidur lalu saat membuka matanya dia sudah ada di ruang uks lagi dan juga di saat yang bersamaan NAVI langsung terbentuk. “Apa itu?” Tanya Anto langsung pada dirinya sendiri karena merasa lebih baik sekarang dan juga ingin tahu apa yang di lihatnya tadi itu. Anto yang bangun juga, langsung melihat ke sekelilingnya yang sudah ada kepala sekolah di dekatnya bersama dengan dokter yang di bangunkan Anto sebelumnya. Kepala sekolah malah melihat ke Anto yang sedang berbaring.
“Kamu siapa?” Tanya kepala sekolah pada Anto dengan wajah sangat ingin tahu sekali pada Anto. Anto pura-pura diam dan tidak berkomentar sama sekali dengan apa yang akan di lakukannya. Anto kemudian melibat ke dokter ingin melibatkannya supaya kepala sekolah tidak bertanya padanya lebih jauh lagi. Anto kemudian melihat lagi ke kepala sekolah
“Maaf, kakek siapa?” Tanya Anto dengan polosnya meski itu semua hanya pura-pura saja. Kepala sekolah terlihat tenang karena Anto tidak bisa menebak apa isi otaknya karena wajahnya selalu tanpak sama saja. Sementara itu Dokternya malah tersenyum dengan pertanyaan Anto yang seperti itu pada kepala sekolah.
-Tidak ada perubahan apa pun pada Dunia ini! apa mungkin itu BIDADARI yang lain? tapi kenapa bisa ada di dalam dirimu?- NAVI yang tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. -Yang tadi itu cuma kebetulan saja atau memang ada hubungannya dengan dunia yang sedang terjadi atau cuma di kasi penglihatan oleh dirimu dari masa depan- NAVI yang sama sekali tidak mengerti dengan semua itu.
“Sudah NAVI, jangan pikirkan itu karena waktu yang akan menjawabnya. Jangan menganggap dirimu kalah. Kamu kira hanya dirimu yang kesal dan terima begitu saja. Aku juga tidak terima kalah oleh diriku yang lain. Tapi harus ku terima karena kita beda pengalaman dan bukan pengetahuan. Jadi meski kita ingin menang darinya itu mustahil kecuali kiita sudah hidup selama beberapa tahu.” Anto yang menangkan NAVI dengan caranya sendiri. NAVI yang mendengat itu hanya bisa diam saja tidak merespon karena yang di katakan Anto itu benar sekali menurutnya.
Sementara itu, semua orang yang ada di uks diam di luar uks Run datang. “Permisi!” Izin Run yang datang ke ruang uks untuk melihat ke adaan Anto. Anto melihat ke Run yang datang seperti itu.
“Run, kamu di sini.” Sapa Anto dengan senyum di wajah nya. Run hanya membalas tersenyum dari jauh sambil melihat ke Anto. “Run, siapa kakek ini?” Tanya Anto dengan pura-pura tidak tahu sama sekali. Run yang mendengar itu jadi tidak mengerti dengan Anto yang bertanya seperti itu padanya. Namun setelah beberapa lama mencerna, dia paham maksud kode dari Anto.
“Dia kepala sekolah ini.” Jawab Run dengan suara kecil dan mengikuti Anto berekting dengan serius sekali. Anto yang mendengar itu langsung melihat ke kepala sekolah dengan sangat gugup sekali meski hanya ekting saja. Anto kemudian tersenyum pada kepala sekolah denga tidak berani berkata apa-apa.
Sedangkan dokter itu malah tertawa kecil dengan tingkah Anto yang seperti itu. “Kepala sekolah, karena ada tugas di ruangan, sebaiknya bapak pergi dan dan kerjakan itu.” Minta Dokter itu dengan sopan pada kepala sekolah. Kepala sekolah langsung berbalik dari tempatnya dan melewati Run keluar dari ruang uks itu tanpa merespon sama sekali.
Setelah kepala sekolah keluar, semunya jadi hening tidak ada yang bicara sama sekali. “Bu, gimana keadaan Kakak?” Tanya Run langsung pada dokter uks itu. Dikter itu langsung merubah wajahnya jadi serius sambil melihat ke Run.
“Hm… sepertinya mudah menemukan ini. Bentar ku keluar dulu.” Run membawa daptar itu ke luar kemudian menutup pintunya. Setelah beberapa saat Run kembali masuk ke dalam dengan wajah senang. “Aku dapat Kak. Mungkin besok akan tiba di rumah.” Run memberi tau kalau sudah memesan obat yang baru di kasi. Anto hanya tersenyum membalas meski dia tidak tahu di mana Run memesan obat itu.
“Kalau gitu kita tunggu saja.” Timbal Anto dengan tenang sekali. Sementara itu dokternya malah terdiam dengan perkataan Anto dan Run yang tanpak biasa saja. “Maaf dok, kami sepertinya mengagetkanmu, tapi ini sudah biasa bagi kami berdua.” Anto langsung menjelaskan dengan singkat saja.
NAVI yang melihat itu langsung terbang ke dokter itu dengan pelan lalu melayang di depan dahinya. Setelah itu NAVI langsung memegang dahinya lalu membuat mata dokter itu jadi tampak kosong sebentar setelah itu matanya jadi normal lagi kemudian NAVI berhenti menyentuhnya. -Aku menghilangkan ingatan yang di dengarnya tadi itu. Tadi Dunia terhenti sebentar- NAVI memberi tahu apa yang di lakukannya. Anto tidak kemontar dan hanya diam saja mengerti maksud NAVI.
“Aku sudah merasa baikan, apa aku bisa keluar dok?” Tanya Anto pada dokter itu dengan sopan. Tapi bukannya langsung merespon malah dokternya tanpak bingung dengan apa yang telah terjadi. Anto yang tidak mendapat respon langsung turun saja dengan masih ada rasa sakit meski tidak terlalu sakit. Sementara itu Run melihat ke dokternya yang bingung sekali dengan apa yang sedang di lakukannya. Saat sampai di dekat Run, Anto langsung menarik tangannya mengajak Run keluar dari uks itu. Anto tetap memegang Run saat jalan di koridor.
-Rasanya banyak halangan di sekitarmu yang membuat kamu sulit jadi untuk menonjol- Bicara NAVI yang duduk di atas kepala Anto. Anto diam saja tidak menanggapi. -Jadi kamu mau ke mana dengan mengajak Run seperti itu?- tanya NAVI pada Anto yang jalan tanpa tujuan sama sekali. Setelah NAVI bertanya itu Anto tiba-tiba terhenti di tempatnya.
“Run, apa ada tempat nyaman di sini?” Tanya Anto yang ingin tahu. Run memikirkan itu selama beberapa saat. Anto yang menunggu tetap memegang tangan Run yang sedang memikirkan jawaban yang akan di kasi pada Anto.
“Aku tidak tahu seperti apa selera Kakak, tapi akan ku ajak ke taman di sekolah ini kalau mau!” Jawab Run setelah mikir cukup lama karena tidak tahu seperti apa selera Anto. Anto hanya tersenyum mengangguk sebagai jawaban.
Setelah itu Run menarik tangan Anto dan memimpin jalan ke taman yang di maksudnya. “Run, seperti apa rumah di Planet lain itu?” tanya Anto memulai pembicaraan untuk mencari tahu detail saja. Run langsung melihat ke Anto yang bertanya dengan santai. Run tesenyum membalas sambil menjawanb dengan santai dan menikmati obrolan yang di mulai oleh Anto.
***