Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 257


Anto terus melihat ke gadis Maid yang masih lelah, tanpa bertanya apa pun padanya dan menunggu apa yang ingin di lakukannya. Setelah beberapa saat gadis Maid itu terliha baikan, lalu keduanya saling tatap di tempat. “Jadi, apa yang dia inginkan?” Tanya Anto dalam hatinya sambil melihat ke gadis Maid itu.


“Ano…!” Gadis itu ragu mau mengatakan apa, tapi Anto tetap sabar menunggu di tempatnya. “Ini…!” Gadis itu langsung menyerahkan sebuah gelang padanya. Anto melihat ke gelang yang tidak asing itu baginya. Anto hanya diam saja dan tidak mengambilnya sama sekali. Gadis itu terus menundukkan kepalanya dengan terus menyerahkan gelang yang di pegangnya pada Anto. Namun Anto bukannya mengambilnya malah diam saja membiarkan gadis mengulurkan tangannya terus. Setelah beberapa saat Gadis Maid melihat ke Anto yang diam saja dengan tetap tersenyum padanya. Saat di lihat Anto terlihat biasa saja dan tidak melakukan apa pun.


“Aku tidak bisa mengambilnya karena sudah ku berikan.” Jawab Anto setelah gadis Maid itu melihat ke arahnya. Gadis Maid terdiam saja mendengar Anto yang seperti itu. Selama beberapa saat tidak ada yang bicara dan gadis Maid itu masih mengulurkan tangannya pada Anto dan tidak berani bangun. “Hah... Ikut aku!” Anto langsung memegang tangan gadis itu lalu membuat portal di depannya. Tanpa menunggu respon gadis Maidnya Anto langsung masuk ke dalam portal dengan membawa gadis Maid itu. Saat sampai di baliknya Anto langsung menutup portalnya lalu melepaskan tangan gadis Maid itu.


Anto dan gadis itu sampai di reruntuhan kota yang sangat banyak sekali monsternya. Gadis itu langsung jatuh melihat banyak sekali monster di sekitarnya  yang terlihat ganas dan tinggi-tinggi. Setelah beberapa saat, gadis itu merasa ada angin sepoi-poi di seluruh tubuhnya yang nyaman sekali, meski memakai baju. “Sadarlah, monsternya sudah mati.” minta Anto pada Gadis Maid itu dengan terang-terangan padanya. Setelah Anto mengatakan itu, gadis Maid melihat ke para monster, namun ternyata sudah menjadi beberap potongan yang tidak di sadarinya sama sekali kapan itu terjadi. Gadis itu melihat ke sana sini dengan sangat biasa saja saat mosnternya sudah mati dan juga tidak terlihat takut sama sekali melihat semua itu. Setelah itu gelang yang di bawa gadis itu perlahan bersinar lalu di depannya langsung muncul sebuah tanda telapak tangan. “Coba sentuh itu!” minta Anto dengan senyum pada gadis itu. Tapi bukannya langsung menekannya malah dia jadi ragu dengan hal itu dan diam saja melihat ke Anto. “Jika kamu ingin seperti robot yang lain, sentuh dan jadilah penyelamat dari para manusia.” dengan senyum mengatakna itu pada Maid yang terlihat tenang itu. Tapi gadis Maid itu bukannya menjawab, tapi malah diam saja cukup lama hingga Anto berhenti senyum. “Apa kamu tidak ingin menjadi robot yang lainnya?” Tanya Anto pada gadis Maid itu dengan tenang sambil terus meyakinkannya, meski tidak tahu akan berhasil.


Gadis Maid itu mengubah tatapannya pada Anto dengan sangat serius dan tajam sekali. Anto tenang dan tidak menanggapi apa pun dengan tindakannya. “Apa kamu kenal dengan kakekku yang tadi?” Tanya Gadis Maid itu tanpa ragu sama sekali. Anto kemudiantersenyum padanya setelah bertanya seperti itu.


“Tentu saja aku sangat mengenalnya. Dia yang tidak ingin menyelamatkan manusia yang lainnya, namun malah membawa robot itu pergi.” Jawab Anto dengan tenang dan serius. “Kamu tahu… aku tidak membuat robot itu untuk pribadi, melainkan untuk menyelamatkan umat manusia dari kepunahan." dengan tenang menjawab. "Kamu tahu, kota yang kalian tinggali itu hanya untuk satu Negara saja, tapi untuk yang berada di tempat seperti ini belum ada namanya kehidupan seperti di kota yang kamu tinggali itu.” Anto mengubah raut wajahnya jadi sedih. Gadis itu terus melihat ke Anto yang seperti itu denga tatapan serius sekali. “Di sini tidak akan ada monster lagi. Kamu pikirkan tawaranku barusan. Dan jika kamu tidak memilih untuk jadi penyelamat, dalam 20 menit kamu akan di teleportasikan dari tempat ini ke kota tadi.” Dengan tenang Anto mengatakan itu pada gadis Maid itu. “Kalau gitu sampai sini dulu, aku mau pergi mencari manusia lainnya.” pamit Anto drngan jalan meninggalkan gadis Maid itu.


“Kamu ingin imbalan…! kalau gitu berikan aku imbalan setelah kamu hidup dengan nyaman di kota di bawah pengawasanku itu.” Jawab Anto dengan serius sekali pada gadis Maid. Anto kemudian jalan meninggalkanya tanpa melihat ke arahnya sedikit pun dan merasa kecewa karena menanyakan apa yang akan di dapat dari menyelamatkan manuisa lainnya. Gadis yang mendengar perkataan itu dari Anto langsung terdiam tidak bisa berkata apa-apa sama sekali dengan tindakan Anto sama sekali.


Setelah beberapa langkah Anto berhenti jalan lalu melihat ke sebuah rumah yang tidak ada atapnya. Anto lalu jalan ke sana dengan pelan. Saat sampai di sana Anto langsung membuka pintu yang sudah rusak lalu air mata keluar. Anto melihat di depannya ada seorang Ibu dan Bayi yang sedang di peluknya terlihat kurus dan sangat tidak berdaya sekali yang sedang berbaring dilantai yang banyak lumutnya. Anto kemudian menghapus air matanya, sambil melalayangkan Bayi dan Ibu itu yang sudah tidak berdaya lagi. Anto kemudian menerbangkan keduanya keluar dari rumah itu, lalu membuat rumah itu langsung jadi debu yang tertiup angin dalam sekejap. Setelah tidak ada apa pun di sana dan hanya ada lahan kosong Anto kemudian membuka tanah di depannya untuk di jadikan kubur. Saat tanhanya sudah jadi, Anto memasukkan Ibu dan Bayi itu ke dalam lubang kubur yang di buatnya.


“Maaf agak lama datang ke belahan pulau ini…” Dengan sopan Anto meminta maaf pada ibu dan anak itu yang sudah berbaring di dalam tanah. Anto kemudian perlahan menimbun tanah ke dalam lubang secara perlahan, tapi berhenti setelah menimbun sedikit tanah. Anto melihat Bayi itu bergerak sedikit kemudian menerbangkannya ke pelukannya. Anto kemudian memeriksa dan ternyata menemukan Bayi itu masih hidup dan kondisi sangat kristis sekali. Setelah itu Anto kemudian menerbangkan lagi Ibu yang hampir di kuburnya itu, lalu memerikanya tapi itu sudah terlambat karenaa dia tidak bernyawa lagi. Anto kemudian mengebalikannya ke dalam tanah. Setelah itu menutupnya dengan tanah.


Setelah itu Anto membuka dimensinya dengan cukup besar lalu keluarlah beberapa robot terbang ke arahnya. Setelah itu robotnya  mengerumuni bayi itu dan membukungkusnya dengan tabung yang di beri oksigen dan vitamin. Setelah semuanya selesai Anto kemudian melihat ke kuburan yang sudah rata. Anto kemudian menambahkan sebuah batu lalu dituliskan makan ibu. Setelah semua itu selesai, Anto kemudian melihat Gadis Maid yang terus memperhatikan diri sejak menyelamatkan bayi dan ibu itu cukup dekat. “Kenapa kamu menangis?” Tanya Anto padanya dengan nada biasa saja.


Gadis itu tidak langsung merespon malah dan diam saja melihat entah kemana dengan meneteskan air mata. “Kenapa… kenapa…. kamu mau melakukan hal ini?” Tanya gadis itu dengan meneteskan air mata. Anto hanya diam saja tidak langsung merespon sama sekali. Anto terus menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu apa yang di inginkan gadis di depannya itu sambil memasukkan bayi itu ke dalam dimensi untuk di rawat oleh para robot.